Dunia Sementara Akhirat Selamanya

09 Pebruari 2009

Nizhomul Ghaib

Abu Nu’aim mentakhrij dari Ibnu Rufayl, dia berkata, "Ketika Sa’ad ra. datang ke Bahurasyair, yaitu suatu daerah lembah paling bawah sebelah barat sungai Dijlah (sungai Tigris, sungai yang melalui Baghdad) atau dekat dengan daerah Syair. Sa’ad ra. kemudian meminta dicarikan perahu-perahu untuk memindahkan orang-orang dari daerah di lembah itu ke daerah di seberang yang lebih tinggi. Akan tetapi mereka ditakdirkan tidak mendapatkan perahu atau yang sejenisnya dan mereka mengetahui bahwa perahu-perahu itu telah diambil oleh orang-orang Parsi.

(more…)

08 Januari 2009

Hikmah Awal Bulan

Filed under: Tahukah anta
 
Barangsiapa yang membereskan hubungan antara dirinya dengan Allah, niscaya Allah akan membereskan hubungan antara dia dan manusia semuanya. Barangsiapa yang membereskan urusan akhiratnya, niscaya Allah akan membereskan baginya urusan dunianya. Barangsiapa yang selalu menjadi penasehat yang baik untuk dirinya sendiri, niscaya Allah akan menjaganya dari segala bencana.
 
"Nasehat untuk diri sendiri"
07 Desember 2008

Hikmah Dibalik Pengorbanan Sang Khaliullah

Filed under: Tahukah anta

UntaJibril pun bertakbir Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar, Ibrahim pun bertakbir… Laailaha illallaahu Allahu Akbar, Ismail pun bertakbir Allahu Akbar walillaah ilhamdu.. ketika Allah telah mengganti Ismail yang sedianya akan dikorbankan dan disembelih oleh ayahnya Nabi Ibrahim dengan domba sebagai tanda bahwa Ibrahim telah lulus ujian yang berat. Kisah ini telah Allah ceritakan dalam Al Quran sebagai bukti bahwa orang-orang yang selalu mengutamakan perintah Allah diatas segalanya akan mendapat pertolongan Allah. 

"Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar, sebagai tebusan atas Ismail a.s." (surah as-Shaffat ayat 107).

Maka atas pengorbanan dan perjuangan nabi Ibrahim, Allah telah angkat Ibrahim sebagai Khaliullah (kekasih Allah). (more…)

26 Agustus 2008

Kebahagiaan Manusia

Filed under: Tahukah anta

Allahu Akbar
Pernah beberapa hari yang lalu saya mendapat pertanyaan via sms dari seseorang, yang menanyakan tentang bagaimana caranya menciptakan kebahagiaan lahir dan batin dalam diri. Saya termangu dan enggan untuk menjawabnya. Namun akhirnya saya balas juga sms tersebut. Saya hanya bilang bahwa untuk mendapatkan kebahagiaan kita mesti meletakkan tolak ukur kebahagiaan pada tempat yang benar. Jika kita salah dalam mengambil parameter kebahagiaan maka kita akan menemukan sejumlah kekecewaan demi kekecewaan. Kesalahan dalam meletakkan wujud kebahagiaan akan berakibat fatal dalam diri kita dan menjadikan diri kita menyesal di kemudian hari.

(more…)

21 Juli 2008

IBLIS DAN NERAKA

Filed under: Tahukah anta

Allah SWT berfirman:

“Bila kamu berpaling, (tidak taat kepada Allah dan utusan-Nya) maka sesungguhnya Allah tidak mengasihani orang-orang kafir” ( QS. Ali-Imran : 32 )

Yakni Allah tidak mengampuni mereka, dan tidak menerima tobat mereka sebagaimana tidak menerima tobatnya iblis karena kafir dan kesombongannya. Dan Allah menerima tobatnya nabi Adam as.

Sebelum ia bertobat, sebab dia mengakui dosa serta menyesali. Secara hakekat yang menimpa para Nabi bukanlah dosa, sebab mereka maksum (terjaga) dari dosa sebelum kenabian atau sesudahnya. Disebut dosa hanya dari segi harfiah saja, tidak dari segi hakekat. Demikianlah sehingga Nabi Adam dan Hawa as. Berdoa :

(more…)

14 Juni 2008

Beberapa Penyebab Bencana Di muka Bumi

Filed under: Tahukah anta

"Dari Buraidah r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tiadalah suatu kaum yang menahan zakat hartanya, kecuali Allah akan mendatangkan bencana kelaparan kepada mereka.” (Hr. Thabrani; at Targhib, Kanzul ‘Ummal)

Kesusahan hidup sedang melanda kita hingga tidak ada batasnya. Berbagai cara ditempuh untuk menghindarinya, tetapi tidak ada hasilnya. Siapa yang dapat menolak azab Allah yang diakibatkan oleh dosa-dosa manusia? Buatlah berjuta-juta rencana dan upaya penanggulangan, ciptakan beribu-ribu undang-undang, tetapi ketetapan yang datang dari Allah Swt. tidak akan hilang, kecuali Allah sendiri yang mampu menghilangkannya. Allah Swt. telah memberi tahu penyakit dan pengobatannya. Jika kita ingin menyembuhkan suatu penyakit, maka carilah pengobatan yang benar. Kita sendiri yang menyebabkan datangnya penyakit dan kita sendiri yang menangis karena bahayanya. Apakah kita merasa lebih tahu ?

(more…)

10 Juni 2008

Alasan Membuat Blog

Filed under: Tahukah anta

KreasiAssalamualaikum… apa kabar semuanya ?

Selamat berjumpa lagi dengan saya, hanafi. Bagaimana dengan iman kalian semua? Semoga kalian semua kawan-kawanku dan para pengunjung blog ini dalam keadaan sehat dan iman yang sehat juga ya. Wah sudah lama saya tidak bertegur sapa dengan kawan-kawan sekalian. Beberapa waktu terakhir ini saya memang sedang disibukkan dengan beberapa kegiatan, sehingga saya belum sempat untuk menulis dan meposting di blog ini. Namun pada akhirnya saya kangen juga untuk menulis. Sebab ibarat badan yang tidak pernah digerakkan untuk olah raga maka badan akan terasa kaku. Jadi jika saya tidak menulis rasanya otak menjadi beku.. emoticon. Ok. Saya tidak akan berpanjang lebar. Saya hanya akan menulis kenapa sih saya rela menulis dan meposting blog yang sarat akan muatan agama. Di blog ini ada satu komentar “apakah pernah berbuat salah (tepatnya sih “apakah hanafi pernah berbuat salah”) sampai-sampai ada yang berkomentar seperti itu dari salah seorang pengunjung blog ini. Saya jadi merasa tujuan penulisan dan penyusunan blog ini mesti saya postingkan. Sebenarnya saya pernah menyinggung hal ini di postingan “Assalamualaikum Saudaraku”.

(more…)

03 April 2008

Bahayanya Dunia

Filed under: Tahukah anta

Rasulullah Saw. bersabda bahwa pada hari kiamat sebagian orang akan dibangkitkan dengan amalan shaleh yang banyak seumpama gunung-gunung di jazirah Arab, tetapi mereka akan dicampakkan ke dalam neraka Jahanam. Seseorang bertanya, “Ya Rasulullah, apakah mereka ini orang-orang yang mengerjakan shalat?” Rasulullah saw. menjawab, “Ya, mereka mengerjakan shalat, berpuasa, bahkan tahajjud, tetapi salah satu bentuk dunia (seperti uang atau kemuliaan dunia) datang ke hadapan mereka, maka mereka terjun untuk menggelutinya (tanpa memperdulikan halal atau haram).”

(more…)

22 Maret 2008

Faedah Menahan Lapar

Filed under: Tahukah anta

Pernahkah anda suatu ketika merasakan lapar yang amat sangat? Atau anda saat ini sedang dilanda kesulitan hidup serba kekurangan sehingga terpaksa makan satu kali sehari dan anda jarang merasa kenyang dan terlalu sering kelaparan. Atau anda memang merupakan orang yang gemar berpuasa dan menahan lapar. Terlepas bagaimana keadaan anda, tahukah anda bahwa menahan lapar banyak sekali mendatangkan manfaat. Baik manfaat jasmani maupun manfaat rohani.

Imam Ghazali rah.a. berkata bahwa menahan lapar mengandung sepuluh faedah, yaitu :

Pertama, mudah memperoleh kebersihan hati, menjadi cerdas dan terbuka mata hati. Sebab apabila seseorang itu makan kenyang, maka ia akan malas dan cahaya hatinya akan hilang. Otaknya dikuasai sejenis demam yang berpengaruh ke hati. Pemikirannya menjadi lemah. Bahkan jika seorang anak-anak biasa makan kenyang, maka daya ingatnya menjadi lemah, dan daya nalarnya akan berkurang.

Abu Sualaiman Darani rah.a. berkata, “Biasakanlah dirimu menahan lapar, karena dengan menahan lapar itu nafsumu akan terkawal, hatimu menjadi lembut, dan ilmu langit akan didapat.”

Syibli rah.a. berkata, “Satu hari yang di dalamnya aku menahan lapar semata-mata karena Allah, maka dalam hari itu aku memperoleh satu pintu i’tibar dan hikmah pada diriku.” Inilah sebabnya Luqman al Hakim menasihati anaknya, “Wahai anakku, apabila perut seseorang itu penuh, maka pemikirannya akan tertidur, hikmahnya menjadi bisu, dan anggota-anggota badannya menjadi malas untuk beribadah.”

Abu Yazid al Bustami rah.a. berkata, “Lapar adalah seperti awan. Apabila seseorang itu lapar, maka awan itu akan menurunkan hujan hikmah ke dalam hatinya.”

Kedua, hati menjadi lembut dan mudah terpengaruh dzikir dan amal shalih lainnya. Biasanya, walau pun seseorang itu berdzikir dengan tawajjuh, tetapi hatinya tidak dapat merasakan kemanisan dzikir tersebut dan tidak terpengaruh olehnya. Apabila keadaan hati seseorang itu lembut, maka akan merasakan kemanisan dzikir, juga akan terasa olehnya kelezatan doa dan munajat. Abu Sulaiman Darani rah.a. berkata, “Aku merasakan ibadahku yang paling lezat ialah ketika perutku menyentuh pinggangku disebabkan kelaparan yang amat sangat.” Junaid Baghdadi rah.a. berkata, “Seseorang yang meletakkan sebungkus makanan antara dadanya dan Allah Swt., bagaimana ia akan memperoleh kemanisan bermunajat kepada Allah Swt?”

Ketiga, memperoleh sifat tawadhu dan rendah diri. Kesombongan yang merupakan puncak kedurhakaan dan kelalaian akan lenyap, karena nafsu tidak dapat dijaga ketat, kecuali dengan menahan lapar. Manusia tidak dapat melihat kemuliaan dan kehebatan Rabbnya, selama ia tidak melihat aib dan kehinaan nafsunya sendiri. Seseorang itu hendaknya sering menahan lapar, agar dapat bertawajjuh kepada Rabbnya dengan penuh semangat. Inilah sebabnya mengapa ketika Allah Swt. menawarkan kepada Rasulullah saw. untuk menjadikan bukit di Makkah menjadi emas, maka Rasulullah saw. menyatakan, “Tidak, aku ingin makan sehari dan lapar pada hari berikutnya, agar pada hari aku mengalami lapar, maka aku dapat bersabar dan meminta kepada-Mu dengan merendahkan diriku di hadapan-Mu; ketika aku makan, aku dapat bersyukur kepada-Mu.”

Keempat, mendatangkan sifat tidak melupakan orang lain yang terkena musibah kesusahan atau kelaparan. Orang yang makan kenyang, tidak akan dapat sedikit pun merasakan atau membayangkan apa yang dialami oleh orang-orang miskin yang kelaparan.

Nabi Yusuf a.s. pernah ditanya, “Khazanah bumi ada di dalam genggaman tuan, mangapa tuan masih menahan lapar?”

Beliau menjawab, “Aku takut jika perutku kenyang, lalu aku melupakan orang-orang yang lapar.”

Seseorang yang lapar dan haus maka ia dapat memperbaharui ingatannya mengenai kelaparan dan kehausan di hari Kiamat. Mudah mendatangkan rasa rakut kepada azab Allah Swt. dan mudah mengingat hari yang ketika itu ia akan merasakan kelaparan yang sangat dahsyat, lalu ia diberi makanan (buah yang penuh duri dan pahit) yang akan tersangkut di kerongkongannya serta diberi minum darah dan nanah dari luka-luka para penghuni neraka.

Kelima, yang terpenting yaitu akan selamat dari perbuatan dosa. Sebab perut yang kenyang adalah puncak syahwat, sedangkan lapar dapat menghancurkan segala jenis syahwat. Orang yang dikuasai nafsunya adalah orang yang malang. Kuda yang liar dan sulit diatur hanya bisa dikendalikan jika ia dibuat lapar. Jika ia banyak makan dan minum, maka ia sulit diatur. Demikian juga nafsu.

Seorang ahli wara’ ditanya, “Dalam usia yang sangat tua ini, mengapa anda tidak manjaga kesehatan tubuh (dengan memakan makanan yang menyehatkan badan)?” Ia menjawab, “Nafsu bergerak cepat ke arah syahwat. Aku khawatir, ia akan menjeratku dengan dosa. Sebab itulah aku lebih suka memberikan kesusahan kepadanya daripada ia menjeratku dengan perbuatan dosa.”

Aisyah r.ha. berkata, “Permulaan bid’ah kaum muslim setelah Rasulullah saw. wafat ialah makan kenyang. Apabila perut manusia penuh (kenyang), maka nafsu mereka menuju ke arah duniawi.”

Faedah yang dibahas ini bukanlah satu faedah saja, tetapi mengandung kumpulan banyak faedah. Faedah yang terendah ialah dapat meninggalkan syahwat kemaluan dan berkata sia-sia. Inilah satu-satunya penyebab manusia selamat dari mengumpat, berdusta, mencela dan mengadu domba. Apabila makan kenyang, maka hati manusia pun ingin banyak bicara. Dan ketika ia banyak bicara, maka ucapannya biasanya akan menyinggung kehormatan orang lain. Rasulullah saw. bersabda bahwa kebanyakan manusia akan masuk neraka karena menyalahgunakan ucapannya. Begitu juga syahwat kemaluan, ia akan membinasakan manusia. Hal itu sudah jelas dan tidak perlu diuraikan lagi.

Apabila perut manusia kenyang, maka sukar untuk menjaga hawa nafsu kemaluan; jika ada rasa takut kepada Allah, maka manusia akan dapat menjaga kemaluannya. Namun dosa pandangan mata akan terjadi, sedangkan Rasulullah saw. bersabda bahwa pandangan mata pun berzina, sebagaimana kemaluan berzina. Dan andai pun ia dapat menjaga pandangan matanya, namun hal itu tetap terlintas dalam fikirannya, sehingga dapat menghilangkan kemanisan bermunajat kepada Allah. Terkadang, khayalan jahat ini terlintas ketika shalat.

Pembahasan lidah dan kemaluan di sini hanya sekedar contoh. Sebenarnya, dosa semua anggota tubuh adalah berasal dari makan kenyang.

Keenam, apabila makan kurang, maka tidurpun akan kurang, sehingga memudahkan bangun malam. Seseorang yang makan kenyang, maka ia akan merasa haus, dan jika ia banyak minum air, maka ia akan tidur nyenyak. Masyaikh berkata, “Jangan banyak makan, nanti banyak minum air. Apabila banyak minum air, akan banyak tidur dan lebih lama, sehingga merugikan diri sendiri.”

Tujuh puluh orang ahli hikmah sepakat, bahwa apabila banyak minum air, maka tidur pun akan lebih lama. Dan jika tidur lebih lama, maka sebagian usianya akan habis begitu saja. Kehilangan shalat tahajjud adalah suatu kerugian yang diakibatkan oleh tidur lama. Apabila tidur lama-lama, maka badan akan menjadi lemas dan malas, dan hati akan berkarat. Jika ada isteri, maka akan terjadi hadats besar. Jika mandi besar pada masa tahajjud, maka waktu akan habis begitu saja.

Ketujuh, kemampuan untuk beribadah akan datang dengan mudah. Apabila makan kenyang, maka akan datang kemalasan sebagai pengahalang ibadah. Untuk urusan makan saja, memerlukan waktu yang lama. Jika makanan itu harus dimasak, diperlukan waktu yang lebih lama lagi. Setelah makan perlu membasuh tangan, mencukil gigi, bangun berulang kali untuk minum. Untuk hal-hal tersebut, telah menghabiskan waktu begitu saja. Jika masa-masa itu digunakan untuk mengingat Allah dan mengerjakan ibadah-ibadah yang lainnya, maka betapa besar manfaat yang akan diperoleh.

Sirri Saqti rah.a berkata, “Aku melihat al Jurjani sedang makan tepung goreng saja. Aku bertanya mengapa ia hanya memakan tepung goreng. Ia menjawab, “Setelah aku hitung waktu untuk mengunyah dan menelan setiap makanan itu, ternyata dalam waktu tersebut bisa untuk membaca Subhanallah sebanyak 70 kali. Oleh karena itu sejak 40 tahun, aku tidak makan roti lagi, karena untuk mengunyah dan menelannya, memerlukan waktu yang lama.”

Pada hakikatnya setiap pernafasan manusia adalah sangat berharga dan perlu dijaga untuk simpanan di akhirat. Caranya hanyalah dengan menggunakan masa hidup ini untuk berdzikir dan ibadah lainnya. Disamping itu apabila banyak makan, maka wudhu akan mudah menjadi batal, dan sering buang air. Akibatnya, seseorang tidak akan dapat duduk lama di dalam masjid, dan akan sering keluar masjid untuk buang air atau berwudhu. Barangsiapa biasa menahan lapar, maka mereka akan mudah berpuasa, beri’tikaf, senantiasa menjaga wudhu, menghemat waktu makan, dan untuk ibadah lainnya. Jadi betapa banyak faedahnya, dan hal ini hanya akan didapatkan jika mengurangi makan. Barangsiapa lalai dan tidak menghargai agama, maka mereka tidak akan menghargai masalah ini. Mereka berpuas hati dengan kehidupan dunia yang fana ini dan tidak mengetahui apa itu akhirat.

Kedelapan, dengan mengurangi makan, akan mendapatkan kesehatan tubuh. Kebanyakan penyakit berasal dari banyak makan. Apabila banyak makan, maka lemak akan berkumpul di dalam usus dan urat, akibatnya timbul bermacam-macam penyakit, sehingga terhalang untuk beribadah, dan hati senantiasa gelisah, sehingga menghalangi dzikir dan fikir. Di samping itu, perlu makan obat, terpaksa berpantang, harus menemui dokter, memeriksa tekanan darah, memeriksa tinja. Pendek kata, mereka akan terperangkap dalam banyak peraturan akibat banyak makan dan tentu karena masalah-masalah ini memerlukan banyak uang. Belum lagi, kesusahan dan penderitaannya. Hanya orang yang dapat menahan laparlah yang selamat dari musibah ini.

Dikisahkan, bahwa suatu ketika khalifah Harun al Rasyid rah.a. mengumpulkan empat pakar orang tabib. Yang pertama dari Hindustan, yang kedua dari Rum, yang ketiga dari Iraq, dan yang keempat dari Sawad. Dia berkata kepada keempat tabib tersebut, “Beritahukanlah kepadaku suatu obat yang tidak membahayakan sedikitpun.” Tabib Hindustan menjawab, “Menurut saya obat yang tidak berbahaya adalah Ihlailaj Aswad.“ Tabib Rum menjawab, “Saya rasa obat itu ialah Habbur Rasyadul Abyadh.” Tabin Iraq menjawab, “Pendapat saya, air panaslah yang tidak membahayakan apa-apa.” Tabib dari Sawad menjawab, “Semua itu salah. Ihlailaj Aswad akan mengacau perut, dan ia sendiri merupakan puncak dari segala penyakit (dan menurut Maulana Muhammad Zakariyya rah.a. zat itu akan membahayakan jantung) dan air panas akan mengendurkan perut.” Ketiga tabib itu berkata, “Sekarang, beritahukanlah obat apa yang tidak membahayakan sedikitpun.” Tabib dari Sawad menjawab, “Janganlah makan selama tidak sangat lapar atau sangat ingin makan. Dan berhentilah makan ketika masih ingin makan.” Maka ketiga tabib itu pun sepakat.”

Rasulullah saw. bersabda bahwa sebaiknya sepertiga bagian perut diisi dengan makanan, sepertiga diisi dengan air, dan sepertiga lagi dibiarkan kosong untuk udara. Ketika hadits ini didengar oleh seorang hakim filsafat, ia terperanjat dan berkata, “Aku tidak pernah mendengar perkataan yang demikian tepat dan baik untuk mengurangi makan, hingga hari ini, sebagaimana ucapan ini.” Tidak ragu lagi bahwa ini adalah kata-kata ahli hikmah.”

Kesembilan, mengurangi makan dapat mengurangi pengeluaran uang. Banyak makan menyebabkan banyak pengeluaran. Untuk menanggung perbelanjaan yang membengkak, terpaksa harus mencari pendapatan tambahan, baik dengan cara yang dibenarkan syari’at ataupun meminta-minta kepada orang lain.

Seorang ahli hikmah berkata, “Kebanyakan keperluanku telah aku sempurnakan dengan cara meninggalkannya. Dengan cara demikian aku merasa tenang dan tawajjuh.” Seorang ahli hikmah lainnya berkata, “Untuk menunaikan satu keperluan, jika perlu aku harus berhutang. Oleh karena itu aku berhutang pada nafsuku dengan cara memahamkan kepada nafsuku, bahwa nanti aku akan membayar hutangku itu kepadamu. Yakni keinginan nafsuku ketika itu aku biarkan sebagai hutangku padanya, dan aku akan membayarnya lain waktu.”

Apabila Ibrahim bin Adham rah.a. memerlukan sesuatu, maka ia akan memulai mengutuknya dan menghibahkan kepada kawan-kawannya, bahwa ia sudah memutuskan hubungannya dengan benda itu.

Penyebab terbesar kebinasaan seseorang itu ialah tamak terhadap dunia. Tamak berasal dari perut dan kemaluan. Kekuatan kemaluan juga disebabkan oleh ketamakan perut. Jika seseorang mengurangi makan, ia akan selamat dari musibah ini. Hanya orang yang dikaruniai taufiq oleh Allah sajalah yang bernasib baik.

Kesepuluh, mengurangi makan akan menyebabkan banyak bersedekah, mengutamakan orang lain, berkasih sayang, dan hemat makanan, karena kurang makan akan memudahkan seseorang untuk bersedekah kepada anak yatim, fakir miskin, dan yang ditimpa bencana. Inilah di antara bekal yang akan menjadi naungannya pada hari Kiamat. Rasulullah saw. bersabda, “Manusia akan berada di bawah naungan sedekahnya pada hari Kiamat. Jika seseorang banyak makan, maka setelah berubah menjadi najis (tinja), akan terkumpul di tempat busuk. Sedangkan yang tersimpan di khazanah Allah akan berguna selama-lamanya. Sedangkan yang menjadi najis akan musnah. Sabda Nabi saw. sebelumnya, yaitu manusia banyak mengatakan, “Hartaku, hartaku….. .” Padahal harta yang sebenarnya hanyalah tiga hal saja, yaitu: (1) yang telah ia selamatkan melalui sedekah; (2) yang telah habis ia makan; dan (3) yang telah dipakai sampai usang. Selain dari tiga hal itu, harta adalah milik orang lain dan ahli warisnya, dan ia sendiri tidak memilki apapun di dalamnya.

Di samping itu masih banyak keutamaan sedekah, dan sepuluh manfaat mengurangi makan telah dibahas secar ringkas. Setiap faedah itu mengandung banyak faedah-faedah yang lain. (Ihya)

Perlu diperhatikan satu hal yaitu tidak diragukan lagi bahwa semua kelebihan ini adalah benar. Barangsiapa yang diberi taufiq oleh Allah Swt. untuk mengamalkannya, tentu ia adalah orang yang sangat beruntung dan dapat menikmati kebahagiaan dunia dan agama, serta memperoleh derajat yang tinggi di sisi Allah di akhirat kelak.

Namun sangat perlu diperhatikan dan dipertimbangkan mengenai kemampuan seseorang untuk menahan lapar. Jangan sampai seperti ‘burung gagak yang mencoba menjadi itik lalu melupakan kepandaiannya sendiri.’ Ketika seseorang mencoba untuk mendapatkan yang lebih, mungkin ia akan kehilangan sesuatu. Ia mampu untuk mendapat sesuatu, walaupun dalam keadaan yang serba kurang. Oleh karena itu, walaupun harus memberi semangat kepada orang lain dalam masalah ini, namun berusahalah untuk memotivasi diri sendiri dengan mengamalkannya sebatas kemampuan. Jika orang sakit harus mengangkat beban yang berat, maka ia akan lebih cepat mati. Sedangkan kita adalah penderita penyakit rohani. Rohani kita telah dimatikan oleh jasmani dan anggota badan. Oleh sebab itu, dangan keinginan, usaha, semangat, dan kesungguhan demi kesehatan, hendaklah kita tidak sekali-kali melakukan perbuatan yang memperburuk keadaan kita, di mana hal itu sudah terjadi sekarang.

Imam Ghazali rah.a. berkata, “Hendaknya kebiasaan mengurangi makan dilakukan secara perlahan-lahan. Orang yang biasa banyak makan, kemudian tiba-tiba ia harus mengurangi makan, maka ia tidak akan dapat bertahan. Ia akan menjadi lemah dan bertambah susah. Karena itu dengan perlahan-lahan dan mudah, hendaknya perkara ini dilaksanakan. Misalnya, jika seseorang biasa makan dua piring roti, maka dari satu piring roti ia kurangi sepersepuluhnya setiap hari, sehingga ia terbiasa mengurangi separuh makanan dalam masa satu bulan (jika sukar untuk mengurangi sepersepuluhnya, maka dikurangi seperempat puluhnya)

Demikianlah manfaat dari menahan lapar, sangat besar dan sangat berfaedah. Setelah memahami perkara ini apakah kita pantas untuk berkecil hati dan putus asa serta selalu mengeluh jika di meja makan kita tidak tersedia sedikitpun makanan untuk dimakan. Mungkin setelah mempelajari dan memahami perkara ini anda akan semangat untuk berpuasa dan menahan perut anda dari masuknya makanan yang berlebihan. Serta anda menjadi lebih bersabar lagi menghadapi cobaan hidup yang serba kekurangan. Yakinlah bahwa Allah tak akan akan menyia-nyiakan kita sebagai hamba-Nya yang dikasihi. Semoga Allah Swt. senantiasa memberikan taufiq-Nya kepada kita semua sehingga kita mampu mengamalkan perkara ini. Dan semoga Allah Swt. senantiasa mengampuni saya yang penuh dengan dosa.

11 Juli 2007

Assalamu Alaikum Saudaraku Semuanya

 
Sudah tak terasa beberapa bulan saya belajar mencoba untuk menuliskan dan mempublikasikan beberapa uneg-uneg yang di dalam hati saya. Hingga akhirnya muncul beberapa tulisan saya di blog ini. Saya menyadari dengan sepenuhnya dengan menulis maka akan menyita waktu saya untuk menuangkan sekedar apa yang ada di dalam hati saya. Awal niat saya untuk mempublikasikan tulisan-tulisan tersebut sebenarnya hanyalah untuk menyalurkan semangat keagamaan saya (jika itu bisa disebut sebagai ghirah/semangat) karena semula saya tidak bisa menjumpai banyak orang untuk sekedar bicara mengenai agama di dunia nyata karena keterbatasan waktu saya dalam bekerja yang jelas menyita waktu saya. Alhamdulillah Allah Swt. Yang Maha Mulia memberikan waktu kepada saya untuk berjumpa kepada saudara-saudara muslim saya ketika saya berada di masjid atau ketika saya berada diluar kantor. Namun saya merasakan bahwa porsi waktu saya untuk berjumpa dengan saudara-saudara muslim saya masih terlalu sedikit jika dibanding dengan waktu saya bekerja. (Normalnya orang bekerja di kantor adalah 8 jam sehari, terkecuali saya, karena saya bekerja bisa lebih dari 8 jam sehari)  Beberapa kali saya menimbang dan berpikir, sampai sejauh mana kemanfaatan tulisan-tulisan tersebut dalam diri saya. Bahkan hampir-hampir saya pernah berkeinginan untuk menutup blog ini dan pernah menyampaikannya kepada seorang sahabat saya di dunia maya ini.
 
Jelas dalam menulis saya masih banyak kesalahan dan kekhilafan, karena keterbatasan ilmu dan pemahaman saya mengenai agama. Saya hanya mencoba meletakkan kembali apa yang ada di dalam memori otak saya, apa yang pernah saya dapat selama saya mendalami agama ke dalam blog ini, yang tujuan semula adalah agar saya bisa membuka dan membaca kembali jika suatu saat saya lupa. Maka demi menambah pemahaman dan pengetahuan agama saya, saya juga mencoba menampilkan beberapa tulisan yang diambil dari kitab-kitab yang sering saya baca.
 
Di dalam pengembaraan saya di dunia maya ini, saya banyak sekali menjumpai saudara-saudara muslim baik dari indonesia, maupun saudara muslim yang berada di luar negeri. Beberapa diantaranya menyempatkan untuk berkomunikasi melalui Yahoo Messanger (apa kabar Mas Fakhrur "Yusuf" Roji,Akbar Landy dan Mas Eko "okebebe", Wirda, Atik Jasmiatik, Dhini Violet-violaa? Semoga kalian selalu dirahmati Allah Swt). Saya melihat bahwa di dunia perblogeran sangatlah beragam dan sangatlah bervariasi. Judul Blog ini (Dunia Sementara Akhirat Selamanya) pun saya coba beranikan diri untuk menampilkan dan meletakkanya di atas template blog ini, (karena memang dunia ini sementara bukan?) inipun sekedar untuk mengingatkan diri saya  pribadi bahwa kehidupan dunia adalah sementara saja, dan akhirat tanpa batas. Karena saya merasa bahwa saya terlalu sering lupa dengan kehidupan akhirat yang merupakan tempat saya kembali nanti. Saya juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk saudara-saudara saya, Mas Abu Amin (Solo), Mas Abu Afif (Qatar) Mas Andika (jogja), Mbak Diah (Jerman), Zawa (Malang),Khansa (Solo), Mas Saifurrahman (Palembang), Om Jhoni  (India), Ticnube (Malaysia), Jaja (Malaysia), Mas Taufik (Bandung), Mbak Lia (Singapore), Irwan (Jakarta) Harry Fakri (Cikarang) Ghifarie (Bandung) Aditya (Jakarta) dan masih banyak yang lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu-persatu, saya masih mengingatnya di dalam hati saya, walau kita belum pernah berjumpa, tapi saya akan mencoba mengingatnya selalu. Insya Allah.
 
Saya belum bisa membayangkan jika suatu saat saya bisa berjumpa dengan saudara-saudaraku semuanya, karena keterbatasan dan perbedaan waktu dan tempat. Saya hanya berharap semoga saudara-saudaraku semuanya selalu mendapat kemudahan dan senantiasa dinaungi Rahmat oleh Allah Swt.. Mungkin jika dalam saya menuliskan apa yang saya rasakan masih terdapat banyak kesalahan-kesalahan dalam pemahaman dan kata-kata serta kalimat yang tidak berkenan saya mohon ampun kepada Allah Swt. dan mohon maaf serta keihklasannya dari saudara-saudaraku sekalian. Atau jika saya menuangkan komentar-komentar saya di blog dan situs saudara-saudaraku sekalian yang justru kadang menjadikan kesan yang tidak baik. Saya pernah menuliskan komentar yang cukup panjang di blog pak Hanafi (semoga tidak berkesan menggurui), atau bahkan di blog lain, yang saya sudah tidak ingat lagi berapa banyak komentar-komentar yang saya tuliskan dalam blog saudara-saudara saya yang lain (yang tidak saya sebutkan dalam tulisan ini). Atau mungkin saya tidak bisa menuliskan komentar-komentar saya di blog-blog saudara-saudaraku sekalian. Saya juga baru memahami ternyata bahwa dalam dunia perblogeran suatu komentar bisa menjadi ajang silaturahim antara sesama pebloger. Atau bahkan saya tidak bisa membalas komentar-komentar saudaraku sekalian di blog ini. Saya hanya berharap dengan mempublikasikan tulisan ini dapat sabagai ucapan terima kasih saya yang sebesar-besarnya terhadap saudara-saudaraku sekalian yang telah mencoba mengunjungi blog ini. Bahwa sesungguhnya saya pun manusia yang tak lepas dari kesalahan. Maka untuk itu saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.
 
Dan sekarang, Alhamdulillah saya bersyukur sekali kepada Allah Swt. karena saya berada dalam satu lingkungan tempat tinggal dimana saya bisa berjumpa dengan saudara-saudara saya yang lain dalam dunia nyata, dimana saya telah mencoba menghidupkan kembali amal masjid, karena pada saat saya tinggal di tempat sebelumya saya merasa kesulitan karena situasi dan kondisi  tempat tersebut tidak mendukung. Dalam beberapa bulan ini saya sudah mendapatkan kembali sesuatu yang saya cari. Kecintaan saya terhadap usaha atas iman dan agama telah tersalurkan. Sekarang ini tergantung saya mengusahakannya, apakah mau saya kerjakan dengan sungguh-sungguh atau tidak, sayalah yang memutuskannya. Pergolakan batin saya yang sekian lama (kurang lebih 5 bulan) dimulai ketika saya memulai menulis dan menyusun blog ini dikarenakan kerinduan saya terhadap masjid beserta amalan-amalannya, alhamdulillah Allah balas dengan menempatkan saya pada suatu lingkungan yang merupakan tantangan saya dalam mensyiarkan Islam. Perlu saudara-saudaraku ketahui saya tinggal dalam lingkungan di tengah-tengah kota Bandung, dimana masyarakat sekitar tempat tinggal saya terdiri dari berbagai macam status sosial dan kesibukan. Saya berharap tetangga tetangga baru saya mau sama-sama memakmurkan masjid sebagaimana sekarang ini mereka telah juga memakmurkan swalayan-swalayan, pasar-pasar, mall-mall, bioskop-bioskop, konser-konser, stadion-stadion. Anda bisa bayangkan jika kita yang sudah sangat terbiasa dengan tempat-tempat tersebut beralih memakmurkan masjid dengan amalan-amalan dalam islam. Coba kita berpikir sejenak jika saja masjid yang berdekatan dengan tempat tinggal kita diramaikan dan dikunjungi oleh banyak orang islam dan mereka sama-sama giat dalam memakmurkan masjid sebagaimana kita ummat islam telah mengenal dan paham dengan pusat-pusat keramaian lainnya. Jika itu benar sungguh sungguh terjadi maka islam akan terasa gairahnya. Indonesia ini adalah suatu negara dimana memilki jutaan masjid, mushola, surau dan langgar. Jika masjid-masjid tersebut saling berhubungan dan terjalin suatu ikatan maka kekuatan ummat islam akan nampak. Di kabupaten daerah asal saya, kami telah mencatat ada sekitar 2000 masjid dan musholla. Belum di daerah-daerah yang lain. Hingga saat ini saya belum mendapatkan data kongkrit berapa jumlah masjid yang ada di negara kita. Saya yakin ada jutaan masjid di negara kita. Namun kita bisa melihat kondisi dan keadaannya sekarang ini. Kecintaan kita ummat islam terhadap masjid masih jauh dan masih belum sebanding dengan kecintaan kita kepada kegiatan-kegiatan lain di luar masjid. Kita sendiri masih banyak mengalokasikan waktu kita hanya beberapa saat saja untuk memakmurkan masjid. Justru di negara-negara yang mayoritas penduduknya non muslim saya telah mendengar kabar bahwa mereka lebih bergairah dan bersemangat dalam amal masjid. Ada suatu kota di negara Perancis bahwa ummat islam disana sebagian besar telah menunggu sholat jamaah di masjid 30 menit sebelum adzan dimulai. Bahkan hari ini banyak saudara-saudara muslim kita di luar sana yang baru saja bersyahadat dan telah mengamalkan islam dengan baik. Mereka begitu bersemangat mempelajari agama barunya dan mengamalkannya dengan penuh kesungguhan.
 
Mendengar hal itu sudah sepantasnya kita malu dan melihat kembali ke dalam diri kita. Sebenarnya kita ini telah ketinggalan jauh dengan saudara-saudara muslim kita yang ada di luar negeri, yang notabene penduduknya bukan mayoritas islam. Saya pernah membaca dalam berita di internet ini, bahwa ada dua orang gadis kakak beradik belasan tahun asal Amerika Serikat yang datang kepada seseorang ustadz dan menanyakan tentang islam. Mereka rupanya telah mempelajari islam dari internet. Dan rasa ingin tahunya begitu besar sehingga mendorong mereka untuk menanyakan lebih jauh tentang islam dan ajarannya. Setelah mendengar penjelasan ustadz tadi pada saat itu mereka tanpa ragu-ragu memeluk islam dan bersyahadat di depan ustad tadi. Dan bahkan kalau anda mau menelusuri situs demi situs tentang perkembangan islam di luar negeri anda akan mendapatkan informasi bahwa islam begitu pesat perkembangannya di luar negeri. Di negeri-negeri Eropa dan Amerika islam telah menggeliat dan menampakkan wujudnya dengan bertambahnya jumlah pemeluk islam secara signifikan. Amerika adalah salah satu negara dengan perkembangan islam yang sangat pesat. Lalu bagaimana dengan islam di Indonesia?
 
Hati saya akan merasakan syukur yang mendalam ketika Allah Swt mengkaruniakan hidayah-Nya kepada saudara-saudara muslim baru kita yang ada di luar sana. Namun perasaan syukur ini juga diiringi dengan perasaan kerisauan, kenapa kita hanya mampu menjadi pendengar tentang berita-berita gembira tersebut. Justru ada pertanyaan dalam benak saya, jika saja kita turut ambil bagian dalam peranan perkembangan islam di luar negeri? Saya justru melihat bahwa di Indonesia, kita ummat islam telah banyak memperjuangkan kepentingan golongan dan saling menjatuhkan satu sama lain. Kita semua bisa melihat itu. Di dalam penelusuran saya dalam dunia blogger saja, saya menjumpai perdebatan demi perdebatan yang mengakibatkan perpecahan dan menanamkan perasaan benci terhadap satu golongan. Saya tidak akan menunjukkan beberapa blog yang saya maksud. Karena itu merupakan aib. Saya rasa tidak perlu saya menunjukkan hal itu kita semua sudah paham dan tahu bahwa kondisi ummat islam di indonesia senantiasa tak lepas dari perselisihan dan perjuangan atas satu kepentingan. Hal ini sangat menyedihkan. Rasulullah Saw. adalah orang yang pertama kali memperjuangkan kesatuan umat ini. Dahulu ketika Rasulullah masih hidup, hampir terjadi peperangan antara dua suku Anshor di Madinah yaitu suku Aus dan Kajraz. Maka Rasulullah melihat hal itu menyampaikan kalimatnya "Apakah kalian akan berperang dan saling membunuh disaat aku masih ada bersama kalian?" Mendengar teguran Rasulullah Saw. maka akhirnya kedua suku tersebut menangis dan saling berangkulan. Jika kita saat ini masih mementingkan ego dan emosional kita atas satu golongan dan kepentingan serta pendapat serta mengakibatkan perpecahan, maka sesungguhnya kita adalah orang yang telah mematahkan perjuangan Rasulullah Saw, kenapa? Karena Rasulullah Saw telah merisaukan dan mengusahakan atas umat ini agar bagaimana umat ini menjadi satu padu. Dalam menyatukan umat ini Rasulullah Saw. telah mengorbankan segalanya. Harta, keluarga dan darah telah Rasulullah korbankan untuk menyatukan ini umat. Islam adalah agama yang satu dan untuk umat yang satu. Maka jika kita masih berpegang teguh demi prinsip kita masing-masing dan saling menghancurkan satu sama lain, artinya kita telah menghancurkan perjuangan Rasulullah Saw.Dan jika kita masih saling berpecah belah dan saling membela kelompok dan golongan maka Allah Swt. mengancam kepada kita bahwa kita tidak akan dipandang oleh Allah Swt. Allah Swt. akan memalingkan muka kepada kita ketika kita memanjatkan doa kepadanya.  
 
Tulisan ini saya beranikan diri untuk saya publikasikan, karena kerisauan saya atas keadaan kita ummat islam di Indonesia. Ketika saudara-saudara muslim baru kita di luar negeri begitu cintanya mereka mengamalkan islam, kondisi kita yang lebih senior dari mereka malah menunjukkan keadaan yang sebaliknya. Mohon maaf yang sebesar-besarnya jika kata-kata saya ada yang menyinggung perasaan saudara-saudaraku sekalian. Sesungguhnya kita ini ibarat singa yang sedang tidur. Kekuatan islam di Indonesia dengan potensi jumlah pemeluknya yang besar, akan menggetarkan musuh-musuh islam jika saja kita mau bersatu dan mengamalkan islam secara baik dan benar sesuai apa yang telah dicontohkan oleh nabi kita, Rasulullah Saw. Dahulu sahabat-sahabat Nabi, telah menaklukkan negara-negara super power pada saat itu, Rum dan Kisra (Persia) hanya dengan kekuatan iman dan kesatuan hati yang mengagumkan. Bahkan Raja china telah mengatakan kepada utusan dari Kisra, agar mereka jangan sekali-kali melawan umat islam, karena mereka pasti akan kalah, selama umat islam mengamalkan ajaran nabinya dengan benar, walau raja China mampu mengirimkan bantuan pasukan dengan panjang pasukannya dari negeri Persia hingga ke China sehingga pasukan Kisra bertambah besar. Semoga ini dapat menjadi bahan perenungan buat kita semua dan bersatulah ummat islam di Indonesia dan dunia. Semoga Allah Swt. senantiasa menurunkan Rahmat dan Kasih sayang-Nya kepada kita semua.
 
Jazakallah Khoiron Katsiron.
Wassalamulaikum.. 
09 Juli 2007

Surat Rasulullah Saw. Kepada Najasyi, Raja Habasyah

Ibnul Ishaq menceritakan, "Rasulullah mengutus Amr bin Umayyah ad-Dhamri r.a. untuk membawa surat kepada raja Najasyi sehubungan dengan keadaan Ja’far bin Abi Thalib dan teman-temannya di sana. Isi surat itu adalah sebagai berikut :

        Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

        Dari Muhammad Rasulullah saw. kepada Najasyi Ash-ham raja Habasyah

        Salam sejahtera bagimu

        Aku memuji engkau kepada Allah Yang Maha Suci lagi Perkasa, dan aku bersaksi bahwa Isa a.s. adalah ruh Allah dan kalimah-Nya yang dicampakkan kepada Mariam seorang perawan suci, bersih, dan terjaga. Mariam mengandung Isa a.s. Kemudian Allah menciptakan Isa a.s. dari ruh-Nya dan ditiupkan-Nya ruh itu (ke dalam jasadnya) sebagaimana Adam a.s. yang diciptakan Allah langsung dengan Tangan-Nya dan ditiupkan-Nya ruh (ke dalam tubuhnya). Kini aku mengajak engkau (untuk menyembah) Allah Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya dan terus-menerus mentaati-Nya serta mengikuti aku. Juga engkau mempercayaiku dan ajaran-ajaran yang diturunkan-Nya padaku bahwa aku adalah utusan-Nya. Aku telah mengutus kepadamu keponakanku yang bernama Ja’far bersama serombongan kaum muslimin. Apabila mereka telah sampai ke hadapanmu, maka layanilah mereka sebaik-baiknya dan tinggalkanlah kesombongan.  Aku mengajak engkau dan seluruh tentaramu kepada (agama) Allah. Sungguh telah aku sampaikan risalah dan nasihatku, maka terimalah ajakan dan nasihatku ini!" 

        Salam sejahtera bagi siapa saja yang mengikuti hidayah

                    Surat Balasan Raja Najasyi kepada Nabi Saw.

Setelah menerima surat dari Nabi Saw. maka raja Najasyi menulis surat balasan kepada beliau sebagai berikut :

       Bismillaahir Rahmaanir rahiim

       Untuk Muhammad Rasulullah saw. dari Najasyi Asham bin Abjar

      Salam sejahtera, rahmat, dan keberkahan dari Allah semoga tercurah kepada engkau, wahai Nabi Allah. 

        Tidak ada tuhan selain Dia yang telah memberikan petunjuk kepada aku untuk masuk islam. Wahai Rasulullah, surat engkau telah sampai padaku yang mana di dalamnya engkau telah menerangkan tentang perkara Isa. Demi Tuhan Pemelihara langit dan bumi, sesungguhnya Isa tidak lebih dari apa yang telah terangkan dalam suratmu. Aku telah mengetahui tentang utusan yang engkau hantarkan kepada kami, dan mengenai keponakan engkau serta teman-temannya, aku telah melayani mereka dengan pelayanan yang baik. Oleh karena itu aku bersaksi bahwasanya  engkau adalah utusan Allah yang benar dan dibenarkan, dan aku berbai’at kepadamu juga kepada keponakanmu serta aku masuk islam ditangannya semata-mata karena Allah Penguasa alam semesta. Wahai Nabi Allah, aku juga telah mengutus kepada engkau Ariha bin Ash-Ham bin Abjar, karena sesungguhnya aku tidak berkuasa kecuali pada diriku sendiri. Tetapi jika engaku untuk menyuruhku untuk datang sendiri kepada engkau, pasti aku bersedia wahai Rasul Allah, karena sesungguhnya aku bersaksi bahwa segala yang engkau katakan itu adalah benar."  ( Hr. Baihaqi, seperti disebutkan dalam kitab al-Bidayah jilid III halaman 87)

Sumber : Hayatush Shahaabah Maulana Muhammad Yusuf al Kandhalawi Rah.a. 

02 Juli 2007

Kisah Putera Khalifah Harun Ar Rasyid

 
Khalifah Harun Ar Rasyid rah.a mempunyai seorang putera sekitar enam belas tahun. Ia sering bergaul dengan para ahli zuhud dan tokoh-tokoh agama pada masa itu. Ia sering mengunjungi tanah kuburan, duduk di tepi kubur dan berkata, "Ada masanya ketika kamu tinggal di dunia ini dan kamu sebagai tuannya, tetapi ternyata dunia tidak melindungimu dan nasibmu berakhir di kubur. Seandainya aku tahu apa yang engkau alami sekarang ini, tentu aku ingin mengetahui apa yang kamu katakan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ditanyakan kepadamu."
 
Ia sering membaca syair :
 
Pemakaman menakutkanku setiap hari dan ratapan wanita-wanita yang berduka cita membuatku sedih.
 
Pada suatu hari, anak itu datang ke istana ayahnya Harun Ar Rasyid, yang sedang duduk bersama ajudan pribadinya, para pejabat dan tamu-tamu terhormat lainnya. Sedangkan puteranya itu berpakaian sangat sederhana, dengan sorban di kepalanya. Ketika orang-orang istana itu melihatnya demikian, mereka berkata, "Keadaan anak ini menghina Amirul Mukminin di hadapan para bangsawan, jika ia dapat memperingatkannya, mungkin anak itu akan menghentikan kebiasaannya."
 
Khalifah mendengar ucapan itu, maka ia berkata kepada anaknya, "Anakku sayang, engkau telah mempermalukanku di hadapan para bangsawan."
 
Anak itu tidak berkata sepatah katapun atas ucapan ayahnya. Bahkan ia memanggil seekor burung yang bertengger di dekat situ, "Wahai burung, aku memohon kepadamu, demi Dzat yang menciptakanmu, datanglah dan duduklah di atas tanganku."
 
Burung itu terbang menghampirinya dan hinggap di atas tangannya. Kemudian anak itu menyuruhnya terbang lagi, dan burung itu pun terbang lagi ke tempat semula. Kemudian ia berkata kepada ayahnya, "Ayahku sayang, sesungguhnya kecintaanmu kepada dunia inilah yang memalukan diriku. Aku telah memutuskan untuk berpisah denganmu." Setelah berkata demikian, ia pergi hanya berbekal Al Quran saja.
 
Ketika ia memohon pamit kepada ibunya, ibunya memberi sebuah cincin yang sangat indah dan mahal, (agar ia dapat menjualnya jika ia memerlukan uang). Anak laki-laki itu pergi ke Basrah, dan bekerja bersama para buruh. Namun ia hanya bekerja pada hari Sabtu saja. Dan ia gunakan upahnya sehari untuk satu minggu, dengan menggunakan (satu danaq) seperenam dirham setiap hari.
 
Kisah selanjutnya diceritakan oleh Abu Amir Bashri rah.a., ia berkata, "Pada suatu ketika, sebelah dinding rumahku roboh dan aku membutuhkan seorang tukang batu untuk memperbaikinya. Ada seseorang yang memberitahuku bahwa ada seorang anak laki-laki yang dapat mengerjakan pekerjaan tukang batu. Maka akupun mencarinya. Di luar kota, aku melihat seorang pemuda tampan sedang duduk di tanah sambil membaca al Quran dengan sebuah tas di sisinya. Aku menanyainya, apakah ia mau bekerja sebagai buruh? Ia menjawab, "Tentu, kita telah diciptakan untuk bekerja. Pekerjaan apakah yang tuan inginkan untukku?"
 
Kukatakan bahwa aku membutuhkan seorang tukang batu untuk mengerjakan bangunan. Ia berkata, "Aku mau asalkan upahku satu dirham dan satu danaq sehari. Dan aku akan berhenti kerja dan pergi ke masjid bila tiba waktu shalat, kemudian kulanjutkan pekerjaan tersebut setelah shalat." Aku menyetujuinya.
 
Akhirnya ia ikut bersamaku dan mulai mengerjakan dinding itu. Pada sore harinya, aku kembali, dan aku sangat terkejut melihat bahwa ia telah melakukan pekerjaan seperti sepuluh orang tukang batu yang mengerjakannya. Akupun memberinya dua dirham. Tetapi ia menolak upah yang melebihi satu dirham dan satu danaq. Kemudian ia pergi hanya dengan upah yang telah disetujui.
 
Keesokan paginya, aku pergi lagi mencarinya, tetapi aku diberi tahu bahwa ia hanya bekerja pada hari Sabtu saja. Dan tiada seorangpun yang dapat menemukannya pada hari-hari lainnya. Karena aku sangat puas dengan pekerjaannya, maka kuputuskan untuk menunda pembangunan dindingku pada Sabtu depan. Pada hari Sabtu itu, aku mencarinya lagi dan kudapati ia di tempat yang sama sedang membaca al Quran sebagaimana biasa. Aku mengucapkan salam kepadanya, "Assalamu Alaikum."
 
"Wa Alaikumus Salam." Balasnya.
 
Ia bersedia bekerja lagi untukku dengan syarat yang sama. Ia pun ikut bersamaku dan mulai mengerjakan dinding itu lagi.
 
Disebabkan rasa heranku, bagaimana ia dapat mengerjakan pekerjaan sepuluh orang pekerja seorang diri seperti pada hari Sabtu yang lalu, maka akupun mengintipnya bekerja tanpa sepengetahuannya. Aku melihatnya dengan sangat takjub, bahwa ketika ia meletakkan adukan semen di dinding, maka batu-batu itu dengan sendirinya menyatu. Akhirnya aku sadar dan meyakini bahwa anak itu adalah kekasih Allah Swt. Sebagaimana hamba-hamba-Nya yang khusus saja yang mendapatkan pertolongan ghaib seperti itu dari Allah Swt.
 
Sore harinya, aku ingin memberinya tiga dirham, tetapi ia hanya mengambil satu dirham dan satu danaq kemudian pergi, sambil berkata, "Aku tidak membutuhkan lebih dari ini." Aku menunggu minggu berikutnya, lalu aku mencarinya pada Sabtu berikutnya, tetapi aku tidak berhasil menemukannya.
 
Aku bertanya kepada orang-orang. Ada seorang laki-laki memberitahuku bahwa anak itu sedang mengalami sakit selama tiga hari dan berbaring di tempat yang sepi. Kemudian aku membayar seseorang untuk mengantarkanku ke tempat itu. Setibanya di sana, ia sedang berbaring di atas tanah tak sadarkan diri. Kepalanya berbantalkan sepotong batu. Aku menyalaminya, tetapi ia tidak membalasnya. Aku berkata, "Assalamu Alaikum." lebih keras lagi. Ia membuka matanya sedikit dan mengenaliku. Aku baringkan kepalanya di pangkuanku, tetapi ia kembali meletakkan kepalanya di atas batu, dan membaca beberapa syair. Dua diantaranya masih kuingat, berbunyi demikian :
 
"Wahai kawanku, janganlah engkau terpedaya dengan kemewahan dunia. Karena hidupku akan berlalu. Kemewahan hanyalah untuk sekejap mata. Dan bila engkau mengusung jenazah ke pemakaman, ingatlah suatu hari engkaupun akan diusung ke pemakaman."
 
Kemudian anak itu berkata kepadaku, "Abu Amir! Jika ruhku telah melayang, mandikanlah aku dan kafanilah aku dengan pakaian yang kupakai sekarang."
 
Sahutku, "Sayangku, aku tidak keberatan membelikan kain baru untuk kafanmu."
 
Ia berkata, "Orang yang masih hidup lebih menginginkan pakaian yang baru daripada yang mati."
 
Anak itu menambahkan, "Kafan (lama ataupun baru) akan segera membusuk. Yang tinggal dengan seseorang setelah kematian adalah amal perbuatannya. Berikan sorban dan kendi airku kepada penggali kuburku dan jika engkau telah memakamkanku, sampaikan al Quran dan cincin ini kepada khalifah Harun Ar Rasyid. Tolonglah agar langsung ke tangannya dan katakan kepadanya, "Benda-benda itu dipercayakan kepadaku oleh seorang lelaki asing yang memintaku untuk menyampaikannya kepada engkau dengan pesan, "Wahai ayah, perhatikanlah, jangan sampai engkau meninggal dalam kelalaian dan terpedaya oleh dunia."
 
Dengan kata-kata itu di bibirnya, anak itu meninggal dunia. Saat itu barulah kusadari bahwa anak itu adalah seorang pangeran.
 
Setelah wafat, akupun memandikannya, mengafaninya dan membaringkannya dalam kubur sesuai dengan pesannya. Lalu kuberikan sorban dan lothanya kepada penggali kuburnya. Kemudia aku pergi ke Baghdad untuk menyampaikan cincin dan al Quran kepada khalifah.
 
Sungguh beruntung, setibanya aku di sana, baru saja iringan khalifah keluar istana. Aku berdiri di sebuah tempat yang agak tinggi sambil memperhatikan pawai itu. Tidak lama kemudian keluarlah satu pasukan terdiri dari seribu orang berkuda, diikuti oleh sepuluh pasukan lagi yang masing-masing terdiri dari seribu orang berkuda.
 
Diantara pasukan yang terakhir, terlihatlah Amirul Mukminin, maka akupun langsung memanggilnya dengan berteriak, "Amirul Mukminin, aku mohon kepadamu, atas nama hubungan kekeluargaan dengan Rasulullah Saw., berhentilah sebentar."
 
Amirul Mukminin berhenti dan melihat sekeliling, lalu aku maju kedepannya dan menyerahkan kedua benda amanat dari almarhum putera pangeran itu, lalu aku berkata, "Benda-benda ini telah dipercayakan kepadaku oleh seorang pemuda asing yang kini telah meninggal dunia, ia berwasiat agar benda-benda ini disampaikan langsung ke tangan tuan."
 
Khalifah memandangi cincin dan al Quran itu sambil menundukkan kepalanya dengan sedih. Aku melihat air matanya mengalir, kemudian ia menyuruh pengurus istana untuk mengantarku ke istananya. Aku tinggal bersama pengurus istana itu.
 
Setelah khalifah kembali pada sore harinya. ia menyuruh agar tirai-tirai istana diturunkan, dan menyuruh pengurus istana agar agar membawaku ke hadapannya, kemudian ia berkata, "Lelaki itu hanya akan menimbulkan kesedihan bagiku."
 
Pengurus istana menemuiku dan berkata, "Amirul Mukminin memanggilmu, namun ingatlah, jiwanya sedang bergoncang. Jika engkau ingin mengatakan sesuatu dalam sepuluh kata, cobalah mengatakannya dengan lima kata saja."
 
Kemudian ia mengantarkanku ke kamar pribadi khalifah. Kulihat khalifah sedang duduk seorang diri, lalu ia menyuruhku untuk duduk di dekatnya. Ia bertanya kepadaku, "Apakah kamu mengenal anakku?"
 
Jawabku, "Ya." 
 
Ia bertanya, "Apa saja yang ia lakukan untuk menafkahi hidupnya?"
 
Kukatakan bahwa ia bekerja sebagai tukang batu. Amirul Mukminin bertanya, "Apakah engkau juga pernah mempekerjakannya sebagai tukang batu?"
 
Aku berkata, "Ya, pernah kulakukan."
 
Amirul Mukminin berkata, "Apakah tidak terpikir olehmu, bahwa ia berhubungan keluarga dengan Rasulullah Saw.?" (Harun Ar Rasyid adalah keturunan Abbas r.a. paman Rasulullah Saw.)
 
Jawabku, "Wahai Amirul Mukminin! Pertama aku memohon ampun kepada Allah Swt. dan aku meminta maaf kepadamu, karena aku mengetahuinya setelah ia meninggal dunia."
 
Khalifah berkata, "Apakah engkau memandikannya dengan tanganmu sendiri?"
 
Aku berkata, "Ya."
 
Ia berkata, "Biarlah kusentuh tanganmu." Kemudian ia memegang tanganku ke dadanya dan mengusap-usap dadanya dengan tanganku, lalu ia membaca beberapa bait syair yang bunyinya :
 
"Wahai engkau yang menjauhkan dariku.
 Hatiku larut dalam kesedihan atasmu.
 Mataku mengalirkan air mata penderitaan.
 Wahai engkau yang jauh pemakamannya.
 Terlalu jauh. Kesedihanmu lebih dekat di hatiku.
 Benar, kematian itu membingungkan kesenangan yang tertinggi di dunia.
 Wahai anakku yang menjauh dariku.
 Engkau bagai bulan yang tergantung di atas dahan perak.
 Bulan telah menetap di kubur, sedang dahan perak menjadi debu."
 
Kemudian Harun Ar Rasyid memutuskan untuk pergi ke Basrah mengunjungi makam puteranya dan aku menemaninya. Ketika berdiri di sisi makam puteranya, Harun Ar Rasyid membaca syair berikut ini :
 
"Wahai pengembara ke alam yang tidak diketahui.
 Tidak akan engkau kembali ke rumah.
 Kematian telah merengutmu di awal masa remajamu.
 Wahai penyejuk mataku, engkaulah pelipur laraku.
 Kediaman hatiku, di kesunyian.
 Engkau telah merasakan racun kematian.
 Yang seharusnya ayahmulah yang minum di usia tuanya.
 Sungguh setiap orang akan merasakan kematian.
 Apakah ia seorang pengembara atau penduduk kota.
 Segala puji bagi Allah Yang Esa. Yang tidak mempunyai sekutu.
 Karena ini adalah bukti dari keputusannya."
 
Pada malam berikutnya setelah menunaikan kebiasaan ibadah harianku, dalam tidurku aku bermimpi melihat sebuah istana berkubah penuh nur. Di atasnya ada awan dari nur yang menaunginya. Dari awan nur itu keluarlah suara almarhum pemuda itu yang berkata, "Abu Amir, Semoga Allah Swt. menganugerahimu pahala terbaik."
 
Aku bertanya kepadanya, "Sahabatku, apa yang telah engkau alami di alam sana?"
 
Ia berkata, "Aku telah diakui di hadapan Tuhanku Yang Maha Pemurah dan Yang merasa senang denganku. Ia telah memberiku karunia yang mata tidak pernah melihatnya, telinga tidak pernah mendengarnya dan akal tidak dapat memikirkannya."
 
Abdullah bin Mas’ud r.a. berkata, "Di dalam Taurat tertulis bahwa Allah Swt. menyiapkan suatu karunia bagi mereka yang meninggalkan tempat tidurnya untuk menangis kepada Tuhan mereka (dalam shalat Tahajjud) yang tidak pernah mata melihatnya, tidak pernah telinga mendengarnya, tidak pernah terpikirkan oleh akal seseorang dan tidak ada seorangpun atau malaikat yang mengetahuinya, dan tidak pernah diketahui oleh siapapun.  Allah Swt. berfirman di dalam al Quran :
AsSajdah
 
 
"Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan."
(As Sajdah ayat 17)
 
Kemudian arwah pemuda itu berkata kepadaku (dalam mimpi), "Allah Swt. telah berjanji kepadaku, bersumpah demi keagungan-Nya. bahwa Ia akan menganugerahi kehormatan dan karunia semacam itu kepada semua yang keluar dari dunia seperti aku, tanpa ternodai olehnya"
 
Penulis Raudh berkata bahwa kisah ini juga telah sampai kepadanya melalui periwayat yang lain. Ditambahkan dalam riwayat ini bahwa seseorang bertanya kepada Harun Ar Rasyid mengenai puteranya. Ia berkata, "Puteraku dilahirkan sebelum aku diangkat sebagai khalifah. Ia diasuh dan diajarkan adab dan sopan santun dengan sangat baik. Ia telah mempelajari al Quran dan ilmu-ilmu agama lainnya. Tetapi ketika aku diangkat menjadi khalifah, ia meninggalkanku dan pergi. Kebesaran duniawiku tidak memberikan kesenangan dalam hidupnya. Dan ia tidak ingin memanfaatkannya sedikitpun. Ketika ia akan pergi, aku meminta ibunya agar memberinya sebuah cincin mutiara yang indah. Namun ia menolak memakainya dan mengirimnya kembali sebelum ia wafat. Anak itu sangat patuh kepada ibunya." (Raudh) 
 
Harun Ar Rasyid rah.a, -yang puteranya tidak menyukai dunia- terkenal sebagai khalifah yang sangat shaleh dan budiman. Biasanya, jika seseorang memilki kekuasaan dan harta kekayaan, suka tergelincir dalam perbuatan-perbuatan buruk, tetapi sejarah membuktikan bahwa ia banyak terjun dalam hal agama. Selama masa kekhalifahannya, ia shalat nafil seratus rakaat setiap hari hingga wafatnya. Ia suka bersedekah dari saku pribadinya seribu dirham setiap hari. Ia juga memimpin pasukan jihad dan beribadah haji dua tahun sekali.
 
Apabila beribadah haji, ia membawa seratus alim ulama dan putera mereka bersamanya. Dan pada tahun-tahun ia berjihad, ia akan mengirim tiga ratus orang rakyatnya untuk pergi haji. Ia menanggung biaya-biaya perjalanan, makanan dan pakaian mereka. Ia memberikan pelayanan dan pakaian yang terbaik untuk mereka. Ia pun biasa memberi hadiah kepada siapapun yang meminta pertolongannya, dan menolong siapapun  atas  kehendaknya tanpa  diminta.  Ia sangat mencintai alim ulama, yang mendapat penghormatan tersendiri di istananya.
 
Suatu ketika, muhaddits terkenal Abu Muawiyah ad Dharir (bermakna yang buta) makan bersama Harun Ar Rasyid. Setelah makan, ketika ulama buta itu berdiri untuk mencuci tangannya, khalifah langsung mengucurkan air ke atas tangannya., dan berkata bahwa ia melakukan itu karena penghormatannya kepada ilmunya.
 
Abu Muawiyah ad Dharir rah.a. berkata, "Suatu ketika, pada saat aku menceritakan kepadanya tentang hadits Rasulullah Saw. tentang perdebatan antara Adam a.s. dan Musa a.s. ada seseorang laki-laki yang duduk di dekatnya berkata, "Di mana mereka telah bertemu?"
 
Mendengar hal ini, Harun Ar Rasyid langsung berseru marah, "Mana pedangku? Biar kupenggal leher orang zindiq ini. Ia berani membantah hadits Rasulullah Saw.?"
 
Dan Harun Ar Rasyid sering menangis keras bila ada nasehat yang ditujukan kepadanya. (Sejarah Baghdad- Al Khatib). 
 
Sumber : Fadhilah Sedekah - Maulana Muhammad Zakariyya Rah.a. 
30 Juni 2007

Dunia Yang Sempit & Orang Yang Cerdas

Filed under: Tahukah anta
 
Dunia ini begitu sempit. Maka barangsiapa yang di dalam hatinya ada kecintaan kepada dunia, hatinya akan disempitkan oleh Allah Swt..walau segala macam kemewahan ada padanya. Sedangkan akhirat begitu luas dan tanpa batas, maka barang siapa yang mencintai akhirat maka hatinya akan dilapangkan dan diluaskan oleh Allah Swt. walau tidak ada sedikit harta di dalam rumahnya. Kekayaan sejati adalah kekayaan hati. "Al ghina ghina ul qulub" Begitu kata nabi.
 
Iman adalah yakin dengan sepenuhnya kepada perkara-perkara yang tidak nampak. Yakin dengan sepenuhnya kepada kepada hal-hal yang ghaib. Yakin akan keberadaan Allah, surga, neraka, shirat, mizan, mashar, kubur. Yakin dengan nikmat dan azab di alam akhirat. Sedangkan pandangan mata selalu menipu. Dunia ini selalu dipenuhi dengan kebohongan-kebohongan dan tipuan-tipuan. Maka barangsiapa yang  tertipu dengan kehidupan dunia maka akan merugilah selama-lamanya. Hari ini manusia selalu tertipu dan terfitnah dengan berita-berita bohong. Hari ini manusia yakin dengan ramalan-ramalan, berita-berita di koran, televisi, radio, dan segala macam berita yang tidak jelas dan tidak pasti. Semua yang ada di dunia ini sifatnya nisbi, bisa iya bisa tidak. Seperti manfaat obat, yang bisa mengobati penyakit atau malah menambah parah suatu penyakit. Banyak orang sakit minum obat kemudian sembuh atau justru bertambah parah dan mengakibatkan kematian. Seperti ramalan cuaca yang bisa tepat atau malah meleset jauh. Jadi dunia ini tidak pantas sekali untuk diyakini dan dijadikan pegangan hidup. Namun manusia hari ini telah begitu yakin dengan dunia dan kebendaan. Manusia  telah menuhankan sesuatu yang sifatnya nisbi dan memilki segala macam keterbatasan. Sedangkan berita-berita mengenai akhirat adalah dijamin kepastiannya. Al Quran mengabarkan bahwa setiap mahkluk pasti mengalami kematian. Sudah berapa banyak kita melihat dan mendengar tentang kematian. Kematian pasti dan pasti akan datang kepada setiap mahkluk. Tinggal menunggu waktu saja. Semua manusia dan jin sedang menunggu di depan gerbang pintu kematian. Tanpa terkecuali.
 
Dan hari ini manusia telah menuhankan akal dan pikiran, dengan logika dan segala macam kebendaan, dengan angan-angan panjang dan nafsu semata. Maka tuhan-tuhan yang penuh dengan segala macam keterbatasan itu sekali-kali TIDAK AKAN PERNAH BISA membantu setiap permasalahan dalam kehidupan manusia. Sekali-kali tidak. Yang bisa mendatangkan manfaat dan mudharat adalah HANYA Allah Swt. HANYA dan HANYA ALLAH SWT. saja yang bisa mendatangkan manfaat dan mudharat. Maka untuk meraih kebahagiaan manusia perlu mendekat kepada Allah Swt. Dan untuk mendekat kepada Allah Swt. maka manusia PERLU MEMILKI keyakinan dan agama yang sempurna.
 
Tuhan-tuhan kecil manusia tidak bisa memberikan dan menjamin kebahagiaan. Dengan harta yang berlimpah manusia tidak akan bahagia jika manusia tidak memilki iman dan agama. Dengan jabatan dan pangkat yang tinggi manusia tidak akan meraih kesuksesan dunia dan akhirat jika tanpa iman dan agama yang sempurna. Sekali-kali tidak. Dengan Rumah yang mewah manusia tidak akan mendapat ketenangan di dalam hatinya jika tidak ada iman dan amal agama. Dengan istri yang cantik manusia tidak akan pernah bisa mencapai kebahagiaan sejati di dalam hatinya jika tanpa iman dan agama yang sempurna. Untuk mencapai kebahagiaan dan kejayaan dunia dan akhirat manusia mutlak membutuhkan iman dan amal agama yang sempurna.  
 
Manusia yang telah menganggap bahwa dengan segala macam kebendaan dan kemewahan dunia dia akan meraih kebahagiaan maka iman nya telah cacat. Iman nya telah rusak. Maka iman nya harus dibetulkan dan diperbaiki. Imannya telah batal jika manusia masih menganggap bahwa dengan segala macam kebendaan dia akan meraih sukses. Sukses bukanlah orang yang memilki segala macam fasilitas dunia. Sukses bukanlah orang yang memilki jabatan yang tinggi. Sukses bukanlah orang yang memilki seribu perusahaan berasset milyaran rupiah. Sukses bukanlah orang yang berhasil menyelesaikan pendidikan S3 dan memiliki status sosial yang baik di masyarakat. Sukses bukanlah orang yang memilki massa dan pengikut yang banyak. Tapi SUKSES adalah mati membawa iman dan amal yang banyak untuk bekal kehidupan akhirat yang tiada akhir dan tanpa batas.
 
Orang yang cerdas bukanlah orang yang memiliki kepintaran dan IQ yang tinggi. Cerdas bukanlah orang yang mampu memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan. Cerdas bukanlah pemimpin yang mampu memajukan masyarakatnya dalam hal ekonomi dan tekhnologi. Cerdas bukanlah orang yang pandai berorasi dan berpidato dan dikagumi banyak orang. Cerdas bukanlah orang yang mampu menyelesaikan rumus-rumus kimia yang sulit dipecahkan para ilmuan. Cerdas bukanlah orang yang mampu membuat dan mendesain bangunan tinggi yang modern.  Cerdas bukanlah orang yang memilki kepintaran dalam ilmu kedokteran dan lulus cumlaude di sebuah universitas modern di luar negeri. Cerdas  bukannlah orang yang mampu merancang sistem jaringan yang rumit dalam dunia IT. TAPI CERDAS adalah orang yang selalu mengingat mati dan selalu menyiapkan bekal untuk kematiannya. Orang yang cerdas adalah orang yang menyadari sepenuhnya bahwa dunia ini akan segera berakhir. Dunia yang fana dan penuh segala macam keterbatasan. Orang yang cerdas adalah orang yang memahami bahwa dunia ini begitu sempit untuk dia tinggal dan mayakini bahwa akhirat adalah kampung yang terbaik untuk kembali. Orang yang cerdas adalah orang yang mencintai akhirat dan berbuat amal sebanyak-banyaknya atas kecintaannya itu. Mari kita belajar menjadi orang yang cerdas.
 
29 Juni 2007

Mengingat Mati 2

Filed under: Tahukah anta

Allah Swt. berfirman :

Addariyat 

"Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku"[Ad Dzariyat 56]

Manusia telah diutus Allah ke dunia ini, semata-mata untuk mentaati Allah dan mengikuti perintahnya, diiringi dengan pemberian harta dan diri. Allah Swt. berkali-kali memberi peringatan agar manusia hanya memilki satu tujuan saja di dunia ini, yaitu  beribadah kepada Allah Swt. Manusia telah diperingatkan oleh Allah Swt. bahwa kehidupan dunia adalah sebagai ujian, semata-mata untuk mengetahui siapakah yang lebih baik amalnya setelah menikmati segala pemberian Allah Swt. Dan kematian adalah untuk memperlihatkan hasil ujian tersebut. Allah Swt. berfirman : Al mulk

 

 Al mulk2

 

"Maha Suci Allah yang di tangan-Nya lah segala kerajaan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dialah yang menjadikan mati dan hidup, Supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. [Al Mulk 1-2]

Jadi dunia ini tempat ujian. Dan tujuan penciptaan jin dan manusia adalah semata-mata untuk beribadah. Oleh sebab itu segala bentuk kemudahan dan kenikmatan yang telah diberikan oleh Allah, hanyalah untuk diambil faedahnya seperlunya saja. Dan selebihnya untuk disimpan di khazanah Allah untuk kemanfaatan dirinya kelak di akhirat. Dengan demikian suatu kelalaian yang sangat besar yang akan mengakibatkan kerugian dan penyesalan yang tidak terhingga, jika kita sibuk dalam urusan kebendaan, dengan melupakan perintah-perintah Allah, dan menutup mata kita dari melihat tujuan pemberian semua kebendaan itu kepada kita. Dalam keadaan seperti itu kita akan sangat menyesal, jika kita meninggalkan seluruh hasil usaha itu untuk orang lain lalu kita sendiri akan pergi ke alam lain.  

Jika kita masih memilki akal, maka hendaklah kita duduk sejenak di satu tempat yang sunyi, lalu membayangkan pemandangan seandainya sekarang juga malaikat maut datang mencabut nyawa kita, apakah yang akan terjadi pada diri kita, juga pada harta benda kita yang telah kita kumpulkan dengan sangat susah payah selama bertahun-tahun?

Wahab bin Munabbih rah.a berkata, "Salah seorang raja ingin berjalan dan melihat seluruh kawasan wilayahnya. Dia meminta agar dibawakan pakaian yang terbagus dan terindah. Lalu dibawakan untuknya pakaian, namun pakaian itu tidak disukainya. Dia menyuruh agar ditukar dan dibawa yang lain yang lebih bagus. Namun dengan pakaian yang telah ditukar itu pun raja tetap tidak menyukainya. Berkali-kali raja mengembalikan pakaian yang dibawa oleh pelayannya. Akhirnya, terpilih satu pakaian yang sangat indah dan bagus menurutnya. Kemudian dia meminta agar dibawakan satu kendaraan yang terbaik. Maka kuda yang terbaik, terindah dan terkuat telah dihadapkan kepada raja, tetapi raja tidak menyukainya. Berkali-kali kuda ditukar, namun tetap tidak memuaskan hatinya. Akhirnya semua kuda dihadapkan kepadanya. Dan ia memilih seekor kuda yang sangat indah dan kuat untuk ditungganginya.

Syetan yang terkutuk telah berpeluang besar untuk meniupkan semangat kebesaran diri pada raja itu. Dengan penuh takabur raja menunggang kuda. Para pelayan, pasukan tentara, dan para petugas berada dalam satu barisan yang panjang mengiringinya. Dan karena ketakaburan dan kebanggaan dirinya, ia tidak memperdulikan siapapun di dalam barisan itu.  Di tengah perjalanan, raja telah dihadang oleh seorang yang berpakaian buruk lagi hina dan memberi salam kepadanya. Tetapi raja tidak memperdulikannya dan tidak menjawab salamnya. Lalu orang itu memegang tali kudanya. Dengan sangat marah raja menghardiknya, "Lepaskan tali kudaku! Kurang ajar kamu! Berani sekali kamu memegang tali kudaku!"

Dia menjawab, "Ada sesuatu yang penting untukmu."

Raja berkata, "Tunggulah! Jika aku turun dari kuda, baru kamu dapat menyampaikan ucapanmu."

Orang itu berkata, "Tidak! Aku harus meyampaikannya sekarang juga."

Dengan kuat ia menarik tali kuda itu dan merampasnya dari tangan raja, dan rajapun tidak berdaya, lalu berkata, "Baiklah, bicaralah sekarang!"

Orang itu berkata, "Pesan ini sangat rahasia. Aku harus menyampaikan langsung ke telingamu." Maka raja pun mendekatkan telinganya ke mulut orang itu. Lalu orang itu berbisik. "Aku malaikat maut. Sekarang juga aku akan mencabut nyawamu."

Mendengar hal itu, muka raja langsung berubah pucat, lidahnya hampir keluar dari mulutnya. Raja meminta, "Berilah saya sedikit waktu untuk kembali ke istana agar dapat mengurus harta saya dan berjumpa dengan keluarga saya."

Malaikat menjawab, "Tiada waktu sama sekali. Mulai sekarang kamu tidak akan lagi melihat keluarga dan hartamu." Sambil berkata demikian, malaikat maut mencabut nyawanya, sehingga raja pun terjatuh dari kudanya seperti seonggok kayu yang tumbang.

Kemudian malaikat maut pergi menemui salah seorang muslim yang shalih. Ketika itu ia sedang dalam perjalanan menuju suatu tempat. Malaikat maut pun memberi salam kepadanya. Dia menjawab, "Wa’alaikumus Salam."

Malaikat maut berkata, "Aku akan menyampaikan sesuatu di telingamu."

Orang shalih berkata, "Silahkan!"

Lalu malaikat maut berbisik di telinganya, "Aku adalah malaikat maut."

Mendengar hal itu, orang shalih merasa sangat gembira, lalu berkata, "Sungguh baik engkau datang padaku. Sangat berkah kedatanganmu kepadaku. Dari sekian hamba-hamba Allah, kamulah yang paling aku tunggu."

Malaikat maut berkata, "Segeralah kamu selesaikan urusanmu."

Orang shalih itu berkata, "Tidak ada lagi urusan yang lebih aku sukai selain dari berjumpa dengan Allah Swt."

Malaikat maut pun berkata, "Aku ingin mencabut nyawamu dalam keadaan yang paling kamu sukai untuk dirimu sendiri."

Orang shalih menjawab, "Terserah padamu. Namun jika begitu, aku ingin mengambil wudhu dan mendirikan shalat. Lalu aku ingin mati dalam keadaan sujud kepada Allah Swt." Lalu dia pun mulai berwudhu dan shalat. Dalam keadaan sujud ruhnya telah dicabut. (Ihya)

Abu Bakar bin Abdullah Muzzani rah.a berkata, "Ada seorang di kalangan Bani Israil yang telah mengumpulkan banyak harta. Ketika hampir meninggal dunia, ia menyuruh anak-anaknya agar membawa segala hartanya ke hadapannya. Berdasarkan petunjuknya mereka pun cepat-cepat membawa semuanya. Kuda, unta, hamba sahaya, dan lain-lainnya yang berharga diletakkan di hadapannya. Kemudian ia menangis dengan sedih dan penuh penyesalan, karena ia akan kehilangan semua harta itu. Ketika itu lalu tibalah malaikat maut, lalu berkata, "Tiada manfaatnya kamu menangis sekarang! Demi Dzat yang telah memberi segala nikmat ini! Aku akan mencabut nyawamu sekarang juga."

Dia meminta sedikit waktu untuk membagi-bagikan harta tersebut. Malaikat menjawab, "Alangkah menyesalnya! Tiada lagi peluang bagimu. Alangkah baiknya jika kamu membagi-bagikan semua harta ini dari dulu!" Sambil berkata demikian, malaikat maut mencabut nyawanya dari tubuhnya.

Dikisahkan lagi satu peristiwa, seseorang telah mengumpulkan demikian banyak harta, sehingga tiada lagi benda yang belum dikumpulkannya. Dia telah membangun sebuah istana besar. Kedua sisi pintu istana itu dijaga oleh para pengawalnya. Ketika selesai pembangunan istana itu, ia mengundang semua kawannya dalam suatu pesta. Ia membuat sebuah singgasana yang besar dan tinggi. Lalu ia duduk di atasnya, sambil menegakkan sebelah kakinya dan sebelah lagi terbaring di atas tahta. Ketika teman-temannya sedang menyantap hidangan, ia berkata kepada dirinya sendiri, "Sekarang banyak bekal yang telah kita kumpulkan, sehingga tidak perlu membeli apa-apa lagi selama beberapa tahun."

Ketika ia masih memikirkan hal itu, tiba-tiba datang seorang fakir berpakaian buruk dan compang-camping sambil memikul sebuah bungkusan di lehernya seperti seorang pengemis. Di pintu istana, orang fakir itu mengetuk pintu dengan keras, sehingga bunyinya terdengar hingga ke singgasana orang kaya itu. Para pengawal segera berlari keluar untuk mengetahui siapakah orang yang tidak beradab itu. Mereka bertanya, "Ada apa?"

Orang itu berkata, "Suruh tuanmu keluar dan menjumpaiku!" 

Pengawal berkata, "Tuan kami harus datang kepadamu untuk berjumpa dengan orang miskin sepertimu?"

"Ya", jawabnya. "Dia harus datang. Suruh ia segera datang kepadaku!" 

Para pengawalpun pergi untuk memberitahukan hal itu pada tuannya. Tuannya berkata, "Mengapa kalian tidak memberi kesempatan kepadanya untuk merasakan akibat dari ucapannya itu? (Maksudnya, mengapa kalian tidak menyiksanya)?"

Pengemis itu mengetuk pintu lebih keras lagi, sehingga para pengawal berlarian lagi ke pintu. Pengemis berkata kepada mereka, "Pergi dan beritahukan kepada tuanmu bahwa aku adalah malaikat maut."

Mendengar hal itu, semua pengawal hampir jatuh pingsan. Mereka berlarian menjumpai tuannya dan menyampaikan pesan itu. Mendengar itu tuannya pun hampir pingsan. Ia berkata dengan sangat lembut, "Mintalah padanya agar ia mencabut nyawa orang lain sebagi fidyah (pengganti) nyawaku."

Maka pengemis yang telah berdiri di hadapannya itu berkata, "Selesaikanlah apa yang ingin kamu selesaikan. Aku tidak dapat pergi dari sini sebelum mencabut nyawamu."

Si kaya tersebut berkata kepada hartanya, "Celaka kamu! Laknat Allah untukmu! Kamu dan kesibukan mengurusmu telah menghalangiku dari beribadah kepada Allah. Tidak pernah kamu membiarkan aku bersendirian tanpa terganggu apapun agar aku dapat mengingat Allah."

Lalu dengan qudrat-Nya, Allah Swt. memberi kemampuan berbicara kepada hartanya untuk menjawab, "Mengapa kamu melaknatku? Karena akulah kamu dapat sampai ke istana raja dan orang-orang shalih telah terusir dari pintu mereka. Karena akulah kamu telah menikmati tubuh-tubuh gadis lembut itu. Karena akulah kamu dapat hidup seperti raja. Kamu telah menggunakan aku untuk keburukan, tapi aku tidak dapat membantah. Sekiranya kamu gunakan aku untuk kebaikan, maka pasti hari ini aku dapat menolongmu, memberi manfaat kepadamu." Setelah itu malaikat maut mencabut nyawanya.

Wahab bin Munabbih rah.a berkata, "Suatu ketika malaikat maut mencabut nyawa orang yang dzalim. Tiada seorangpun yang lebih kejam darinya. Ketika malaikat maut sedang membawa nyawanya, di tengah jalan, malaikat-malaikat lain bertanya kepadanya, "Engkau tukang mencabut nyawa orang. Pernahkah engkau merasa kasihan terhadap seseorang yang sedang engkau cabut nyawanya?"

Ia menjawab, "Aku pernah merasa sangat bersedih dan kasihan kepada seorang wanita yang bersendirian di dalam hutan. Setelah ia melahirkan, aku telah diperintah oleh Allah untuk mencabut nyawanya. Maka aku sangat sedih dan kasihan, apa yang akan terjadi kepada anaknya yang baru lahir, di suatu tempat yang tiada seorangpun yang menjaganya."

Para malaikat berkata, "Orang dzalim yang sedang kamu bawa nyawanya adalah bayi tersebut."

Malaikat maut terkejut dan berkata,  "Maha Suci Engkau, Wahai Allah yang  Maha Penyayang! Apapun yang ingin Engkau lakukan, Engkau  mampu  melakukannya!"

Hasan Basri rah.a berkata, "Ada seseorang yang meninggal dunia. Lalu ahli rumahnya menangisinya, maka malaikat maut, sambil berdiri di pintu rumahnya berkata, "Aku tidak sedikitpun memakan rejekinya (memang rejekinya  telah habis). Aku tidak mengurangi umurnya. Aku akan datang lagi ke rumah ini. Aku akan datang berkali-kali, sehingga semua ahli rumah ini akan tiada."

Hasan Basri rah.a berkata, "Demi Allah! Sekiranya penghuni rumah itu dapat melihat malaikat maut ketika itu serta dapat mendengar kata-katanya, tentu mereka akan lupa menangisi mayit tadi, bahkan masing-masing akan sibuk memikirkan nasibnya sendiri."

Yazid Raqqasyi rah.a berkata, "Suatu ketika seorang yang dzalim dari kalangan Bani Israil, sedang berkumpul dengan istrinya di rumah. Tiba-tiba ia melihat seorang asing memasuki pintu rumahnya dan terus bergerak  ke arahnya.  Ia sangat marah, lalu mendatanginya sambil bertanya, "Siapa kamu?"

Orang tak dikenal itu menjawab, "Tuan dari rumah ini telah menyuruhku masuk ke dalam rumah ini. Dan hanya akulah yang tidak dapat dihalangi oleh tirai apapun. Aku tidak perlu ijin siapapun untuk menjumpai raja manapun. Aku tidak takut kepada siapapun, apakah orang perkasa atau orang dzalim. Aku tidak ragu untuk menjumpai siapapun, wahai orang sombong yang tertipu!"

Mendengar ucapannya si dzalim itu menjadi takut. Tubuhnya mulai gemetar, sehingga ia jatuh tersungkur. Kemudian dengan penuh kerendahan ia berkata, "Apakah anda malaikat maut?"

Dia menjawab, "Ya. Tidak ragu lagi."

Si dzalim itu memohon, "Tolong, berilah sedikit peluang kepada saya agar dapat menulis wasiat!"

Malaikat maut menjawab, "Peluang itu sudah terlewat dan hilang darimu. Alangkah menyesalnya! Masa hidupmu sudah berakhir, nafasmu  sudah habis dan umurmu telah berakhir. Kini kamu tidak berpeluang melakukan lagi untuk melakukan kebaikan apapun walaupun sedikit."

Si dzalim bertanya, "Kemanakah kamu akan membawaku?"

Malaikat maut menjawab, "Kepada amalmu yang telah pergi mendahului (kamu akan diberi tempat tinggal sesuai amalmu)." tempat tinggal seperti yang telah kamu bangun di dunia ini akan kamu dapati di sana."

Dia berkata, "Saya belum melakukan amal kebaikan apapun dan juga tidak pernah membangun tempat tinggal apapun yang baik untuk diri saya."

Malaikat maut menjawab, "Jika begitu, aku akan membawamu kepada neraka. Isyarat pada firman Allah :  almaarij15     

 

 

almaarij16 

"Sekali-kali tidak dapat, sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergejolak yang mengelupaskan kulit kepala." [ Al Ma’aarij 15-16 ]

Kemudian malaikat menyeret dan mencabut nyawanya. Semua ahli rumah itu menjerit dan menangis. Yazid Raqqasyi rah.a. berkata, "Sekiranya ahli rumah dapat mengetahui apa yang terjadi pada mayit, maka mereka akan menangis lebih keras karena mereka meratapi diri sendiri daripada meratapi orang lain ." (Ihya)

Sumber : Fadhilah Sedekah, Maualana Muhammad Zakariyya Rah.a

14 Juni 2007

Sukses Dalam Dakwah Dan Kemajuan Islam

Filed under: Tahukah anta
 
Ketinggian dan kemuliaan manusia adalah terletak pada agamanya. Semakin baik agama seseorang maka akan semakin mulialah manusia di sisi Allah Swt. Kehinaan dan keburukan dunia yang menyebabkan manusia  semakin menjauh dari agama. Karena dunia senantiasa merayu manusia agar manusia mencintai dunia. Begitulah sifat dunia. Bahkan karena sifat dunia yang hina maka dia akan selalu menggoda orang yang di dalam hatinya ada akhirat untuk merebut posisi akhirat agar menyingkir dari hati manusia yang shaleh. Sementara akhirat yang suci tidak mau merebut hati manusia jika di dalam hatinya ada kecintaan kepada dunia, kecuali manusia sendiri yang berusaha mencintai akhirat. Dunia dan akhirat adalah ibarat air dan api sehingga tidak dapat menyatu di dalam hati manusia secara bersama. Keduanya adalah sesuatu yang jauh berbeda dan bertolak belakang. Manusia tidak dapat mencintai dunia secara bersamaan dengan akhirat. Allah Swt. mengisyaratkan hal ini di dalam ayatnya :
 
hati manusia  
 
 
"Allah sekali-kali tidak menjadikan seseorang memilki dua hati di dalam rongga dadanya"  (Al Ahzab  ayat 4 )
 
Untuk mencapai kecintaan kepada akhirat maka mutlak diperlukan agama sebagai jalan satu-satunya menuju kesana. Tanpa agama maka manusia mustahil mencintai kehidupan akhirat. Agama adalah alat yang paling mustahab agar manusia dapat mencintai kehidupan yang baik dan dengannya maka manusia akan mencapai tingkat kehidupan dan kedudukan yang mulia di sisi Allah Swt. Untuk menghadirkan agama yang sempurna ke dalam kehidupan manusia maka diperlukan pikir dan usaha atas agama. Manusia perlu kerja atas agama agar agama dapat hadir dan menjadi sumber kehidupan yang terang dan meraih kebahagiaan yang hakiki.

Asas dakwah adalah adanya pengorbanan atas agama sebagaimana yang telah Rasul buat. Semakin besar pengorbanan atas agama yang kita buat maka akan semakin baik dan semakin mulia kedudukan kita di sisi Allah Swt. Pengorbanan atas agama yang kita buat adalah sesuai dengan contoh Rasul. Jika kita berkorban untuk agama dengan tidak mencontoh Rasul maka natijahnya (hasilnya) akan lain. Bahkan pengorbanan atas agama yang tidak mencontoh Rasul akan merusak islam. Karena Allah Swt. telah menetapkan bahwa usaha dakwah yang dibawa oleh Rasulullah Saw. sebagai sebab turunnya hidayah ke seluruh manusia di seluruh muka bumi. Kehendak dalam dakwah adalah semakin seseorang berjuang untuk agama maka akan semakin baiklah iman dan amalnya. Maka jika ada seseorang yang mengajak orang lain kepada iman dan amal mestinya iman dan amal dia akan Allah Swt perbaiki terlebih dahulu. Keberhasilan seseorang dalam dakwah adalah semakin baik iman dan amalnya dan mati dalam keadaan beriman dan penuh amal. Kegagalan seseorang dalam dakwah adalah jika orang yang dia ajak semakin baik sementara dia sendiri semakin buruk dalam hal iman dan amal. Jadi sebenarnya tolak ukurnya adalah diri sendiri. Karena dakwah hakekat sebenarnya adalah mengajak diri sendiri agar semakin mentaati Allah Swt. Dakwah adalah bukan untuk perbaikan orang lain, melainkan untuk diri sendiri. Orang lain adalah media dakwah saja. Allah Swt telah memberitahukan perkara ini di dalam Al Quran.bermujahadah 

 
"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik". (Al ‘ankabuut ayat 69)

Jika tolak ukur keberhasilan dan kesuksesan dakwah adalah jumlah dan perbaikan orang lain maka akan dengan mudah kita mengatakan bahwa nabi Nuh adalah orang yang pertama kali gagal dalam dakwah. Karena sejarah membuktikan bahwa selama 950 tahun masa dakwah nabi nuh kepada kaumnya hanya segelintir orang saja yang mengikuti seruan nabi Nuh. Allah Swt hanya memberikan hidayah kepada 83 orang kaum nabi Nuh yang mengikuti seruannya. Lalu apakah dengan sedikitnya jumlah orang yang diajak kepada islam oleh nabi Nuh, lalu nabi nuh dikatakan gagal dalam dakwah. Tidak ada satu ayatpun di dalam Al Quran yang menyatakan nabi Nuh gagal dalam dakwah.

Maka barangsiapa yang mau mengemban tugas untuk mendakwahkan agama Allah maka pasti dan pasti Allah Swt. akan berikan hidayah kepada diri kita. "fina" dalam ayat tersebut adalah jalannya para nabi dan rasul. Lalu apakah jalan hidup para nabi dan rasul itu? Ya, dakwah adalah jalan hidup para nabi dan Rasul. Dalam ayat tersebut juga menyiratkan bahwa siapa saja yang mau capek-capek untuk agama Allah maka Allah pasti dan pasti akan memberikan segala pintu kebaikan. Siapa yang mau sungguh-sungguh berjuang untuk agama Allah maka Allah akan berikan jalan-jalan hidayah. Siapa yang mau mendakwahkan agama Allah maka Allah akan memberikan iman dan memperbaiki amal kita. Jadi konsep dasar yang sebenarnya dari dakwah adalah perbaikan diri. Semakin kita mau berusaha dan bersungguh-sungguh untuk memperjuangkan agama Allah maka Allah akan memperbaiki diri kita.

Rasulullah juga pernah menyampaikan perkara ini kepada sahabat-sahabatnya. Dalam satu hadits Rasulullah menyampaikan "Perbaikilah iman kamu sekalian, perbaikilah iman kamu sekalian." Sahabat bertanya "Bagaimana kami memperbaiki iman kami ya Rasulullah?" Jawab Rasulullah "Ucapkanlah Laa ilah a Illallaah." Ulama mengatakan bahwa pengertian dari "ucapkanlah Laa ilaaha illallaah" adalah menyampaikan kalimat Laa ilaaha illallaah. Artinya adalah mengenalkan Allah kepada setiap orang. Dakwah adalah mengajak manusia taat kepada Allah. Bukan taat kepada golongan, kelompok, organisasi majelis, lembaga atau apapun. "Ath’u illallaah" adalah mengajak kepada Allah.

Seseorang yang bersusah payah untuk mendakwahkan agama Allah, maka jika dakwahnya benar maka dia akan menjadi baik di sisi Allah Swt. Walau secara tata lahiriah dia akan mendapatkan beribu-ribu rintangan dan hambatan. Bisa jadi dia akan sering mendapatkan cacian dan makian bahkan hinaan dari orang-orang yang ada di sekitarnya. Bisa jadi tantangan terbesar datang dari keluarga dekat yang begitu dia cintai. Cemoohan dan kebencian dari orang lain akan datang pada dirinya.

Paman Rasulullah Abu Lahab sangat gembira mendapat kabar  atas  kelahiran keponakannya, yakni bayi kecil Muhammad. Ketika itu dia segera menyembelih 100 ekor domba sebagai rasa cinta dan kasih sayang atas kelahiran bayi Muhammad. Ketika nabi Muhammad masih kecil maka Abu Lahab sering sekali menimang-nimang Rasulullah. Kecintaan Abu Lahab kepada nabi Muhammad sangat luar biasa, sehingga ketika Rasulullah menikah dengan Siti Khadijah dan memilki anak, maka Abu Lahab menikahkan dua anaknya yakni Utbah dan Uthaibah dengan putri-putri Rasulullah yakni Ruqayyah dan Ummu Kultsum. Maka ketika Rasulullah mendapat tugas dari Allah Swt. untuk mendakwahkan agama kecintaan Abu Lahab terhadap Rasulullah berubah 180 derajat menjadi kebencian, dan berkata "Tabban laka ya muhammad". (celakalah engkau muhammad) Maka atas perkataanya itu Allah Swt. membalas dan membantah dengan ayat "Tabbat yadaa abii lahabiw watabb" (Maka celakalah kedua tangan Abu Lahab, [Al-lahab ayat 1]) kemudian ia memaksa kedua anaknya untuk menceraikan istri-istri mereka, Ruqayyah dan Ummu Kultsum. Ini adalah bukti nyata bahwa tantangan dakwah bisa berasal dari keluarga sendiri.

Namun karena niat dakwah bukan untuk memperbaiki orang lain melainkan untuk perbaikan diri sendiri maka dia akan mendapatkan tarbiyah (pelajaran) yang berharga untuk menjadi dan memiliki sifat sabar dalam dirinya. Sementara seseorang yang berdakwah dan mendapatkan pujian dan sambutan yang baik hakekatnya adalah ujian untuk dirinya. Apakah dengan begitu dia akan merasa sombong dan timbul sifat takabur karena atas usaha dan jerih payahnya maka orang merasa senang dan menjadi baik. Sesungguhnya dia hanyalah sebagai sebab untuk perbaikan orang lain. Tapi yang memperbaiki orang lain adalah mutlak dalam genggaman tangan Allah Swt Yang Maha Kuasa. Hidayah mutlak dalam genggaman Allah Swt. Jadi sesungguhnya sekali-kali tidak akan pernah merugi orang yang berdakwah. Karena semakin dia berkorban untuk agama ini, maka Allah Swt. lambat laun akan memperbaiki dirinya. Baik dalam iman dan amal. Bahkan jika orang berdakwah dengan istiqomah maka Allah Swt akan berikan sifat-sifat yang baik pada dirinya. Taqwa, tawakal, sabar, tahan uji, tawadhu, rendah hati, memuliakan orang lain, menghargai orang lain, mencintai orang lain, qona’ah, sederhana dan berbagai macam sifat baik akan Allah Swt tanamkan kepada dirinya sehingga nanti ketika dia mati meninggalkan dunia (yang penuh dengan kebohongan) ini, maka dia akan menghadap Allah Swt dengan membawa sifat-sifat baik tersebut dan hanya dipersembahkan kepada Allah Swt. Bukankah sifat-sifat tersebut adalah sifat-sifat para penduduk surga.hijrah dan dakwah
 

 "Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan." 

Allah Swt telah mennashkan bahwa orang-orang yang mau berkorban untuk agamalah yang akan mendapatkan keberuntungan. Lalu apa bentuk pengorbanan yang mesti dibuat? Jelas sekali dalam ayat di atas, bahwa bentuk pengorbanan yang dikehendaki adalah dengan "harta dan diri". Harta dan diri adalah dua kesatuan yang berkaitan erat. Masing-masing tidak bisa dipisahkan. Ibarat sayap burung. Untuk dapat terbang maka burung harus memilki dua sayap, yaitu kanan dan kiri. Jika hanya memilki satu sayap maka burung tidak akan bisa terbang. Jika Allah menghendaki pengorbanan dalam agama boleh salah satunya antara harta atau diri maka ayat di atas tidak akan menggunakan kata "WA" melainkan "AW" yang artinya "atau". Ini adalah rahasia Allah yang diberikan kepada kita ummat islam, jika kita mau mengambil keberuntungan dan kemenangan yang dijanjikan oleh Allah maka kita harus mau berkorban untuk agama dengan harta dan diri kita. Banyak saat ini orang telah merasa berdakwah tapi tanpa mengorbankan harta dan dirinya untuk agama, dengan berbagai macam alasan. Membiarkan orang lain berada pada garis depan perjuangan fisabilillah sementara menjadikan dirinya sebagai penonton adalah suatu kerugian yang besar. Dalam satu hadits Nabi mengatakan bahwa orang yang tertinggal untuk fisabilillah walau hanya beberapa saat saja akan tertinggal untuk memasuki surga selama 500 tahun. Sementara orang lain sudah merasakan kenikmatan surga kita masih menunggu begitu lama dalam antrian panjang menuju jannah. Sungguh suatu penantian yang sangat lama.

Pemahaman kita saat ini mengatakan bahwa islam akan maju apabila islam berkembang dalam segi materi dan fisik semata. jika orang-orang islam telah memilki segala macam kemajuan dalam sisi ekonomi, tekhnologi dan kebendaaan maka kita akan mengatakan bahwa islam telah maju. Pemahaman ini demikian merebak dan menjamur ke dalam diri orang islam. Padahal dalam Islam tidak ada satu ayat atau hadits yang menyatakan bahwa jika islam maju dari sisi keduniawian maka majulah ummat islam. Bahkan justru sebaliknya Rasul di masa-masa terakhir hidupnya selalu mengkhawatirkan akan kemajuan duniawi orang islam. Karena Rasul selalu mengkhawatirkan bahwa nanti orang-orang islam akan berlomba-lomba dalam mengejar duniawi, sehingga kecintaan kepada iman dan amal lenyap dan sirna dari dalam diri kita. Kemajuan islam yang sebenarnya adalah kemajuan dalam hal amaliyah. Jika amal-amal orang islam telah baik maka baiklah islam. Jika ibadah-ibadah orang islam telah membaik dalam hal jumlah dan qualitas maka itulah yang dikatakan maju. Kita tidak akan mengatakan bahwa islam telah maju jika ummat islam telah memiliki masjid yang megah dan berharga milliaran rupiah. Kita tidak akan mengatakan bahwa islam telah maju jika ummat islam telah memilki swalayan yang besar dan mampu memenuhi kebutuhan pokok ummat islam. Itu adalah ujian dan kemudahan yang Allah berikan kepada ummat islam. Majunya kebendaan dalam islam adalah bukan maksud dan tujuan. Ummat islam ini Allah Swt. ciptakan untuk akhirat. Sedangkan untuk mencapai akhirat hanyalah dengan amal bukan dengan kebendaan. Namun saat ini kita memahami bahwa islam akan maju jika ummat islam telah memilki segala macam kebendaan dan fasilitas dunia. Ini adalah tipu daya syaitan dan nafsu belaka. Syaitan telah mempengaruhi logika dan akal kita sehingga kita mengatakan bahwa kita mesti memilki dunia. Lalu apakah kita ingat bahwa sahabat-sahabat Rasulullah Saw.yang kedudukan mereka demikian tinggi di sisi Allah Swt dan dijamin surga bahwa rumah-rumah mereka hampir-hampir rata dengan tanah. Apakah kita ingat bahwa Ummar Bin Khatab r.a. seorang khalifah yang mulia hanya memilki jubah usang dengan 12 tambalan dan satu tambalan berada di balik ketiaknya. Apakah kita mengingat bahwa Rasulullah lebih memilih lapar sehari dan kenyang sehari ketika Allah Swt. menawarkan bukit dan gunung emas. Apakah kita akan mengatakan bahwa islam di jaman Rasulullah dan Sahabat mengalami kemunduran? 
 
Sesungguhnya kemajuan islam yang sebenarnya adalah jika ummat islam mencintai dan berlomba-lomba dalam amal kebaikan. Sehingga jika ummat islam telah menjadikan amal agama sebagai perilaku dalam kehidupan sehari-hari maka agama akan wujud dalam diri ummat islam. Sehingga amal ummat islam dalam hal ibadah, muamalah, muasyarah, dan akhlaq dapat diamalkan secara sempurna. Untuk mewujudkan amal agama secara sempurna maka ummat islam mesti melakukan usaha atas agama. Usaha atas agama adalah dakwah dan berkorban dengan harta dan diri untuk perbaikan diri. Jika semua ummat islam mau berkorban atas agama, maka Allah Swt akan menjadikan islam sebagai khalifah di muka bumi. Kehancuran Bagdad sebagai pusat kekhalifahan adalah karena ummat islam meninggalkan dakwah. Walau pada saat itu Bagdad terdapat banyak sekali orang-orang yang alim dan sebagai pusat keilmuan serta kekhalifahan. Allah telah buktikan ini dalam sejarah ketika Allah mengirim bangsa mongol untuk menghancurkan kota Bagdad karena ummat islam telah meninggikan ilmu dan meninggalkan dakwah. Sekarang jika kita menginginkan islam maju maka hendaknya setiap ummat islam mesti memiliki ghairah dan semangat untuk berkorban dan berjuang atas agama dan meninggikan kalimat iman dengan harta dan diri. "Dakwah adalah sarana tarbiyah ummat guna perbaikan ummat islam guna menuju kesempurnaan islam secara sempurna dan bertahap."  membantu agama Allah
 
 
"Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Muhammad  ayat  7)tawaran Allah1
 
 
"Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?
tawaran Allah2 
 
"(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya,"
tawaran Allah3 
 
"Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga Adn. Itulah keberuntungan yang besar". (As Shaaf ayat 10-12)

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham