Dunia Sementara Akhirat Selamanya

September 14, 2008

Indahnya Bacaan Qur'an mu wahai yang diRahmati Allah!

Filed under: Seputar kita

     Sudah dua hari ini saya selalu mendengarkan dan memutar berulang-ulang video mengenai bacaan surah Yasin dan Surah Al Qiyaamah yang dibacakan oleh seorang anak. Saya tak dapat berucap sepatah katapun. Rasanya hati saya seperti terbius oleh indahnya lantunan bacaan Quran tersebut. Bergetar hati ini mendengarnya. Keindahan bacaan Quran itu bagi saya tak dapat digambarkan oleh kata-kata. Begitu menyentuh hati dan membuat mata ini berkaca-kaca. Ketika saya tunjukkan video itu di hadapan sahabat saya, dia hanya berucap,

                   "Masya Allah.. Masya Allah…"

    Saya tahu persis hatinya langsung terkesima dengan bacaan Quran tersebut. Saya melihat, saat itu  kawan  saya seperti dihantam oleh gelombang kekaguman, jiwanya seperti di sihir oleh lantunan Ayat-Ayat Allah yang menggetarkan hati. Saya juga melihat matanya sedikit berkaca-kaca. Apalagi ketika saya bilang padanya .."Andaikata kita mempunyai anak seperti anak tersebut, wahh betapa bahagianya hati ini." "Biarlah, saya ingin kamu pulang dengan membawa tangisan, keinginan dan cita-cita, anak kamu akan seperti ini nantinya ya." sambil saya tersenyum dalam hati. Padahal sebenarnya perkataan itu saya tujukan untuk diri saya sendiri. Andaikata Allah Swt. berikan karunia kepada saya dengan hadiah istimewa seperti ini, ohh betapa bahagianya hati ini.

        "Betapa indahnya bacaan Qur’an mu wahai yang di rahmati Allah..!"

        "Betapa indahnya bacaan Qur’an mu wahai yang di rahmati Allah..!"

Mau lihat video dan mendengarkan suaranya ? lihat di sudut kanan atas blog ini… mungil ya video nya.. emoticon

Oh ya, nama anak itu adalah Hasan bin Abdullah Al ‘Awadh Qari dari BOSNIA.  Ah ah ah.. betapa bahagianya orang tuamu ya akhi al  ‘awadh.

 

June 14, 2008

Meraih Sayap Malaikat

Filed under: Seputar kita

    shalihahNamanya Issac. Sebuah gambaran nama yang maskulin dan westernized. Entahlah kenapa ayahnya memberikan nama itu. Padahal jelas, dia seorang perempuan dan tidak tomboy pula. Dia ingat ketika pertama kali dia menanyakan mengapa diberi nama itu. Apakah ayahnya mengagumi Issac Newton? Ayahnya hanya tertawa, “Apakah kamu ingin nama Lucyana?” Giliran dia terdiam. Sudahlah, mau Issac, Lucyana, Dian, Wati, What is the name? pikirnya. Namun tiba-tiba dia teringat Shakespeare, dan Issac bukan nama yang buruk. Tapi, ibunya berbeda pendapat dengan sang ayah. “Nama sangat penting, tahukah kamu di padang mahsyar nanti, setiap muslim akan dipanggil sesuai nama islamnya. Dan Issac? Entahlah, aku yakin malaikat tak akan memanggil nama itu.”

    Itulah kemudian dia diberi nama belakang Hasny, yang berarti kebaikan. Nama lengkapnya Issac Hasny. Paduan nama yang aneh menurutnya, pun menurut teman-temannya. Sepertinya, keanehan ini merupakan produk dari orang tua yang memiliki latar belakang kontras. Ayahnya seorang tentara yang sangat mencintai musik. Bahkan kerap tampil bersama band tentaranya di berbagai “medan pertempuran”. Walau sekarang sudah purnawirawan, tapi kecintaannya akan musik tak pernah padam. Sementara sang Ibu, keturuan keluarga santri. Kakeknya seorang kyai di kampungnya. Sedang aki buyutnya seorang tokoh agama di masa penjajahan Belanda yang memiliki kekuatan sangat berpengaruh di tengah masyarakat, jauh di atas seorang wedana. Itulah kemudian, ia dan saudara-saudaranya tumbuh sebagai sosok-sosok yang punya ‘taste’ bermusik yang baik plus agamis. Setidaknya itulah yang banyak orang katakan.

    Sulit rasanya untuk meyakini kepada dirinya sendiri bahwa sejak usia lima tahun ia sudah mengenal baik lagu-lagu Frank Sinatra, Matt Monroe, Perry Como, Andy Williams, Tom Jones, Tony Bennet, Conny Fransis, Elvis Presley, John Denver dan tentu saja The Beatles. Dan semua itu masih diingatnya sampai sekarang. Ayahnya sering memutar koleksi piringan hitam sambil bermain gitar dan bernyanyi. Sementara kami, anak-anaknya, mendengar dengan riang dan terkagum-kagum. Saat menjelang waktu shalat tiba, ibu akan bercerita tentang pedihnya siksa api neraka apabila kita lalai menjalankan shalat dan malas mengaji. Dan nikmatnya surga sebagai balasan orang-orang yang menjalankan perintah agama. Yang juga selalu teringat dalam kenangan masa kecilnya yaitu setiap kali ibunya menyiapkan sarapan pagi bagi anak-anaknya sebelum pergi  sekolah. Selalu teriring cerita tentang hebat dan mulianya akhlak Rasulullah SAW. Yang membuat saat-saat menunggu sarapan sebagai saat-saat yang menyenangkan penuh emosional.

    Persoalannya kemudian imajinasinya berkembang Beyond she’s age. Selalu ada sesuatu yang kurang ketika teman-teman seusianya asyik bermain boneka, rumah-rumahan, atau petak umpet. Ia tidak pernah merasa enjoy,  tidak pernah merasa puas. Kalau sudah begitu, ia lebih suka mengurung diri di dalam rumah mendengarkan lagu-lagu kegemaran ayahnya. Membiarkan angan-angannya menerawang jauh melintasi savanna di Eropa, sahara di Afrika, laut yang membentang luas, gedung-gedung opera dan ladang-ladang pertanian yang luas seperti di dalam lagu-lagu country. Dan di semua tempat itu ia akan menari-nari sambil berlari-lari, menyatu dengan keindahan alam dan lagu. Imajinasinya semakin membuncah-buncah. Tapi sedetik kemudian, api amarah dalam dadanya bergemuruh. Air matanya tiba-tiba menetes, emosinya mulai gelisah ketika kilasan tayangan di televisi memberitakan pemboman di Libya dan keberanian Jendral Khadafi menantang si congkak Amerika. Sorot mata pemuda-pemuda Palestina akan kezaliman Israel yang penuh kebencian, kematian presiden Anwar Sadat oleh Ikhwanul Muslimin yang disambut suka cita kakak-kakaknya, vonis mati Salman Rusdie oleh Imam Khomeini ….ah ia memejamkan mata, “Ya Rasul, aku rindu padamu. Aku ingin tertidur sambil memegang ujung jubahmu di padang savanna. Atau berjalan beriringan denganmu saat sinar matahari pagi jatuh di atas permukaan air sungai yang jernih seperti dalam lagu Jonh Denver dan bukan di tanah Afganistan  yang menyayat hati.” Ia mendengus, merintih …. dan sebelum sadar sesuatu yang salah bersemayam dalam dirinya, ia sudah tertidur pulas.

   Beranjak dewasa ia sudah mulai menutup auratnya. Ini penting, pikirnya. Ia tidak terlalu berpikir keras kenapa ia harus menutup auratnya, just taken for granted. Ia yakin Tuhan tahu yang terbaik bagi hamba-Nya, karena Dia yang menciptakannya. Tapi kemudian sisi narsisnya muncul juga. Satu hal yang tentu ia benci, karena ia tahu, satu butir zarrah kesombongan akan menghambatnya masuk surga.

     Pernah suatu kali dalam perjalanan Bandung-Jakarta, ia mendengarkan musik pop Amerika klasik sambil membayangkan pemandangan sawah dan gunung yang dilaluinya sebagai panggung musik Broadway, dimana ia menjadi bintangnya. Ha….ha… suatu imajinasi yang konyol sekaligus indah. Bahkan ia berani bersumpah, tak ada satu orangpun dalam mobil itu yang aktifitas imajinya sehebat ia. Hanya saja ia merasa sesuatu yang berkembang dalam pikirannya butuh justifikasi. Semacam pembenaran, karena jauh dalam lubuk hatinya angan-angan yang kadang tak terkontrol melalang buana, akhirnya bermuara pada Tuhan. Selalu pada Tuhan. Karena keindahan suasananya begitu sempurna. Dan bukankah kesempurnaan hanya milik Tuhan. Pastilah ada penjelasan yang masuk akal mengenai hal ini. Mungkin itu sebabnya, ia kemudian tertarik mempelajari ilmu filsafat.

     Berada di lingkungan filsafat, mempertemukannya pada Faya. Sosok perempuan luar biasa. Kegelisahannya sedikit terobati, pada akhirnya. Ia selalu mengindentifikasikan dirinya dengan orang lain. Tak heran bila sejak bertahun lalu, ia selalu kesulitan bersosialisasi. Berbeda dengan Faya. Ia seperti menemukan dunianya. Sama-sama selalu berimajinasi dengan musik. Menyukai sesuatu yang complicated. Memiliki selera yang sama dalam memilih pria. Semua sama? Tidak, ada yang lebih gila dari Faya yang tidak dimilikinya. Faya menguasai hampir sebagian besar kitab-kitab Arab klasik, sementara ia……..buta.

      Faya menilai dirinya sebagai orang yang sangat menghargai waktu Ia hanya terkekeh. “Dari mana kamu menilai saya begitu?”
       “Ada tiga pengalaman manis yang cukup untuk menilai kamu seperti itu.”
        “Pengalaman? Pengalaman apa?”

    Pertama katanya, suatu waktu sepulang kuliah, kami naik mobil angkutan kota. Dan ketika sampai di perempatan lampu merah, mobil yang kami tumpangi berhenti di belakang tiga mobil lainnya. Sementara untuk melanjutkan perjalanan, kami harus berganti mobil yang hanya berjarak dua puluh meter dari lampu merah. Waktu itu ia menghitung perbandingan lamanya waktu antara menunggu lampu hijau dengan segera turun dari angkot dan berjalan untuk naik ke mobil berikutnya. Ternyata menurutnya menunggu lampu hijau menyala memerlukan waktu jauh lebih lama. Kemudian ia mengajak Faya segera turun dan berjalan sepanjang dua puluh meter karena menurutnya, hal itu akan lebih menghemat waktu.

    Pengalaman kedua, ketika bermaksud mengunjungi salah seorang teman yang sakit. Untuk menuju rumahnya, kami harus melewati pemakaman umum. Dan ketika kami berada di tengah pemakamam itu, tiba-tiba secara spontan saya teringat cerita tentang kecemburuan orang yang sudah mati kepada orang yang masih hidup. “Tentu saja cemburu.” kata Faya.

   “Ya, bayangkan, bagi orang yang sudah mati, untuk dapat mengucapkan Alhamdulillah saja lebih baik daripada dunia dengan seisinya.”

      “Ya, itu benar.”

    “Ya, seharusnya setiap detik yang kita lalui, kita isi dengan dzikir, sebelum semuanya menjadi sia-sia.”

      “Ha..ha….” Faya tertawa sambil mendorong punggungku.

      “Dan bagaimana dengan pengalaman ketiga?”

    “Hmm…. kamu ingat ketika kamu bilang dari sekian kumandang adzan yang kamu dengar, hanya kumandang adzan dari stasiun TVRI saja yang kamu suka. Aku tanya apa yang kamu suka dari kumandang adzannya? Kamu jawab karena hanya kumandang adzan orang Mesir itu yang selalu menjadi panggilan kematian bagi kamu!”

    “Ha! Itu kutipan kalimat Rabi’ah al-adawiyah. Baginya, panggilan adzan bagai seruan kematian. Dan aku belum pernah merasakan sedahsyat itu.”

    “Persoalannya, mengapa yang kamu ingat dari seorang Rabi’ah hanya     masalah kumandang adzan itu? Tidak dalam hal lain?”

    “Aku tidak tahu.”

    “Ya itulah masalahnya, kamu ngerti kan maksudku?

     Dan ia hanya terdiam.

    “Bagus juga jadi orang yang menghargai waktu. Tapi kuharap kita bisa lebih smart dalam segala hal.” Tiba-tiba pandangan Faya jauh menerawang.

    “Cobalah lebih fleksibel kalau berhadapan dengan Tuhan. Kamu tahu, para sufi berjalan di atas kepala naga dalam menuju Tuhan, dan para ahli hukum itu berjinjit ketika menuju Tuhan hanya karena takut akan ada semut yang terinjak.”

   Ia memandang Faya cukup lama, dan mata Faya tetap menerawang, ”Kamu tahu Salman al Farisi?”

    ”Ya, kenapa?”

    ”Simak saja cara dia berhubungan dengan Tuhan.”

  Setelah percakapan itu, ia lama tak bertemu Faya lagi. Ya, bagaimanapun hidup akan selalu berubah. Dunia kita, lingkungan kita, perasaan kita, emosi kita, dan tentu saja pikiran kita. Tapi fase perjalanan hidupnya dengan Faya, sedikit banyak telah membuat persoalan dalam dirinya serasa menemukan sebuah titik terang. Sampai akhirnya ia bertemu dengan seorang pria yang kemudian kini jadi suaminya.

   Entah kenapa ia begitu memujanya. Sampai ia sedikit khawatir akal sehatnya akan sirna. Ia seperti menemukan dunia kedua setelah hilangnya Faya. Tapi kemudian, ini menjadi pergulatan kecemasan yang berkepanjangan dan membuat jauh dari dirinya sendiri. Ia tak lagi bisa berpikir ”smart” dan rasional dalam hal ini. Setiap detik, menit dan jam harus selalu bermakna bagi suaminya. Dan ia benar-benar tersiksa. Dengan Faya, semuanya terbingkai dalam persahabatan. Sehingga ia bisa sesukanya memanfaatkan waktu dengan kreativitas. Seseorang juga tidak akan terlalu risau, bila suatu saat kehilangan sahabatnya. Sementara dengan suaminya, semuanya terbingkai atas nama cinta, dengan keterbatasan kreativitas. Aturan cinta begitu jelas, begitu gamblang. Melalaikan waktu satu atau dua jam akan membuatnya tersisih dari cinta, dari asmara dan tentu saja, dari keintiman. Ia akan sangat merana bila kehilangan cinta. Rupanya bingkai inilah yang kadang semakin memperparah keanehan imajinasinya.

  Angan-angannya tetap menjelajahi savanna hingga sahara, dan musiknya tetap mengiringi setiap jengkal langkahnya di udara. Tapi cinta selalu menarik kembali tangan dan kakinya untuk mengisi tiap detik dan menit dengan sesuatu yang bermanfaat dan bermakna. Terkadang kalau sudah sampai titik kulminasi tertentu, ingin rasanya ia menukar isi kepalanya dengan perempuan-perempuan lain di lingkungannya yang cukup bahagia dengan melakukan segala rutinitas kesehariannya tanpa merasa bersalah dan tersiksa bila tiga atau empat jam di hari ini berlalu begitu saja dengan kekosongan atau kehampaan. Tapi kenapa ia akan dihantui rasa bersalah bila mengalaminya.

    Kemudian bila suasananya mulai terkendali dan tenang, ia akan kembali bangga dengan penjelajahan imajinasinya. Sambil sedikit tersenyum kecut bahwa bukankah semua ini pantas disyukurinya. Atau mungkin pernyataan Rene Descartes sedikit memberikan justifikasi bahwa kita semua mempunyai gagasan yang sempurna. Menyatu dalam gagasan itu adalah fakta bahwa wujud sempurna itu pasti ada. Sebab wujud yang sempurna tidak akan sempurna jika ia tidak ada. Pun kita akan memiliki gagasan tentang entitas yang sempurna jika tidak ada entitas yang sempurna. Dan akhirnya kesempurnaan keindahan yang selalu diimajinasikannya pastilah ada, ya pastilah ada. Hal ini melambungkannya kembali akan sosok Faya.

  Saat suaminya menciumnya dengan lembut, selalu ada yang menyejukkan perasaan bila bibir itu menyentuh dirinya. Ia begitu mencair. Dan setiap hal itu terjadi, sebagian dari keindahan imajinasinya mengungkap ke alam nyata. Seolah ia mencapai titik terang yang selalu dikejarnya. Dalam beberapa saat ia kadang-kadang tercengang-cengang sendiri ketika merasakan pengalaman masa inkubasi jiwa dari gagasan imajinasinya beralih menjadi benar-benar berwujud nyata. Dan inkubasi itu dilalui dari dari pergulatan yang sengit antara menjadi istri yang shaleh dan sempurna dengan menjadi perempuan anggun yang menari-nari di atas kepala naga. Kini ia mulai memahami bagaimana keindahan yang diimajinasikannya dapat berubah menjadi nyata, sangat nyata. Inkubasi itu berubah tangga yang menjulang ke atas hingga mencapai langit ke tujuh. Inilah perjuangannya menekan seluruh keberadaan jiwanya ke titik nol. Karena hanya dengan meniadakan keakuan sajalah ia dapat melihat perwujudan semua gagasannya. Setidaknya pria yang kini sangat dicintainya menjadi anak tangga pertama yang akan didakinya untuk meraih salah satu bulu dari ujung sayap malaikat yang akan menunggunya di langit ke tujuh sana. Ia yakin betul di atas sana, ketika semua anak tangga ia daki, seluruh gagasannya betul-betul nyata dan sangat sempurna, indah luar biasa.

Ia bersujud di depan suaminya, mencium kakinya. “Ya Rasul, tak usah dikau risau menyuruh seorang perempuan bersujud di kaki suaminya, karena hati seorang perempuan yang dipenuhi gagasan cinta dan keindahan akan selalu melihat Tuhan di setiap ruang dan masa.”

 

*Cerpen karya Yanti Muchtar dari majalah Alia edisi Mei 2007

July 8, 2007

Atsar-Atsar Yang Menerangkan Tentang Sifat Para Sahabat R.hum

As-Suddi telah berkata dalam keterangannya tentang firman Allah Swt. :
kuntum khoiro ummat3

 

 

"Kamu sekalian adalah sebaik-baik ummat yang dikeluarkan untuk manusia,….. (Qs. Ali Imran 110)

As-Suddi mengatakan  bahwa Umar bin Khattab r.a. telah berkata (mengenai penafsiran ayat ini), "Apabila Allah Swt. menghendaki, niscaya dia akan mengatakan antum maka (akan tercakup dalam pengertian kata ini) adalah kita seluruhnya. Akan tetapi Allah Swt. mengatakan-Nya dengan kata kuntum yang berarti ditujukan khusus kepada para sahabat Rasulullah Saw. dan orang-orang yang melakukan pekerjaan seperti yang dilakukan para sahabat. Mereka itulah "khairu ummat (sebaik-baik ummat) yang dikeluarkan untuk seluruh manusia." Imam Ibnu Jarir juga telah meriwayatkannya dari Qatadah r.a. yang mana ia berkata, "Telah diceritakan bahwa Umar telah membaca ayat ini (Ali Imran ayat 101) kemudian dia berkata, "Wahai manusia, barangsiapa yang ingin digolongkan dalam ayat ini, maka hendaklah dia menunaikan syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh Allah Swt. dalam ayat tersebut. (Syarat tersebut adalah Amar ma’ruf nahi munkar. Pent)(HR. Ibnu Jarir  dan Ibnu Abi Hatim, seperti yang disebutkan dalam kitab Kanzul ‘Ummaal jilid I halaman 238)

Dari Ibnu Mas’ud r.a. bahwasanya dia berkata, "Sesungguhnya Allah Swt. telah melihat hati-hati hamba-Nya, maka Dia memilih Muhammad Saw. dan menjadikannya sebagai Rasul (utusan) untuk menyampaikan risalah-Nya, juga memberi ilmu (yang khusus) dari-Nya. Kemudian setelah itu Allah Swt. kembali melihat hati seluruh manusia, maka Allah memilih di antara mereka untuk menjadi sahabat-sahabat beliau, lalu dijadikannya mereka sebagai penolong-penolong agama-Nya dan sebagai wakil-wakil-Nya. Oleh karena itu apa saja yang dipandang baik oleh orang-orang yang beriman, maka di sisi Allah hal itu adalah baik, sebaliknya apa saja yang dipandang buruk oleh orang-orang yang beriman, maka di sisi Allah hal itu adalah buruk. (HR. Abu Nu’aim dalam al-Hilyah jilid I halaman 375)

Imam Abdul Baar telah meriwayatkannya dalam al-Istia’ab jilid 1/6 dari Ibnu Mas’ud r.a. yang semakna dengan hadits di atas, hanya saja dia tidak menyebutkan :"Apa saja yang dipandang baik oleh orang-orang beriman…… dst. Ath-Thayalisi juga telah meriwayatkan hadits ini sama seperti yang diriwayatkan oleh imam Abu Nu’aim.

Dari Abdullah Ibnu Umar r.huma bahwasanya dia berkata, "Barangsiapa yang ingin mengambil contoh cara hidup, maka hendaklah ia mengambil contoh cara hidup orang-orang yang telah mati, yaitu sahabat-sahabat Nabi Muhammad Saw.. Mereka adalah sebaik-baik umat ini, paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, dan paling ringan amalannya. Mereka adalah kaum yang telah dipilih oleh Allah Swt. untuk menjadi pendamping nabi-Nya Saw. dan menjadi penyebar agama-Nya. Karena itu, contohlah akhlak dan cara hidup mereka!" Demi Allah Penguasa Ka’bah, mereka adalah sahabat-sahabat Nabi Saw. dan mereka selalu berada di atas petunjuk jalan yang lurus." (HR. Abu Nu’aim dalam al-Hilyah jilid I halaman 305) 

Dari Ibnu Mas’ud r.a. bahwasanya ia pernah berkata (kepada orang-orang pada zaman itu), "Kalian adalah orang yang lebih banyak berpuasa, lebih banyak mengerjakan shalat, dan lebih banyak berijtihad (lelah dan bersusah payah dalam ibadah) daripada sahabat Nabi Saw., tetapi mereka (para sahabat) itu lebih utama daripada kamu sekalian." Mereka bertanya, "Mengapa demikian wahai Abu Abdurrahman?" (Nama panggilan Ibnu Mas’ud). Dia menjawab, "Karena mereka lebih zuhud terhadap dunia dan lebih mencinati akhirat." (HR. Abu Nu’aim dalam al-Hilyah jilid I halaman 136).

Dari Abu Wa’il katanya, "Abdullah bin Mas’ud r.a. pernah mendengar seseorang berkata, "Dimanakah orang-orang yang zuhud (tidak cinta) terhadap dunia dan cinta terhadap akhirat?" Abdullah bin Mas’ud r.a. menjawab, "Mereka adalah Ash-haabul Jaabiyah (orang-orang yang tinggal di Jaabiyah, yaitu sebuah desa di kerajaan Syam. Pada masa kekhalifahan Umar r.a. desa itu dijadikan sebagai pusat tentara islam ketika berperang melawan Kaisar Romawi). Jumlah mereka ada 500 orang dan mereka telah berjanji untuk berjihad terus sampai mereka gugur sabagai syuhada di jalan Allah Swt.. Mereka mencukur semua rambut di kepala mereka, lalu bertempur melawan musuh, sehingga mereka semua gugur sebagai syuhada, kecuali satu orang saja sebagai pembawa berita tentang kesyahidan mereka." (HR. Abu Nu’aim dalam al-Hilyah jilid I halaman 135).

Dari Ibnu Umar r.huma, bahwasanya ia mendengar seseorang berkata, "Dimanakah orang-orang yang zuhud (tidak cinta) terhadap dunia dan lebih mencintai akhirat?" Maka Ibnu Umar r.huma menunjuk ke arah pusara Rasulullah Saw., Abu Bakara r.a., dan Umar r.a.. Kemudian dia berkata, "Orang-orang inikah yang kamu tanyakan?" (HR. Abu Nu’aim dalam al-Hilyah jilid I halaman 135).

Dari Abu Arakah, bahwasanya dia berkata, "Suatu hari aku mengerjakan shalat Shubuh bersama Ali r.a.. Ketika dia menoleh ke sebelah kanan (setelah usai shalat), dia terdiam dan tampak dari wajahnya seperti sedang dirundung kesusahan dan kerisauan. (Demikianlah keadaannya) sehingga sinar matahari naik di atas dinding masjid setinggi tombak, dia pun bangkit untuk mengerjakan shalat Dhuha dua rakaat. Setelah shalat, sambil membalikkan telapak tangannya dia berkata, "Demi Allah, sesungguhnya dahulu aku melihat para sahabat Nabi Saw. tetapi sayang sekarang sudah tidak ada lagi orang-orang yang menyerupai mereka. Mereka adalah orang-orang yang tekun dalam beribadah, sehingga wajah mereka tampak pucat, rambut kusut dan berdebu, di antara kedua mata kaki mereka terdapat tanda hitam bagaikan lutut kambing. Mereka habiskan malam mereka untuk bersujud dan berdiri di hadapan Allah Swt. dan membaca al-Quran. Mereka telah merasakan ketenangan dan kedamaian di dalam sujud dan berdiri. Apabila waktu shubuh telah datang, maka mereka bersama-sama dzikir kepada Allah Swt., tubuh mereka bergerak-gerak seperti sebuah pohon yang bergerak-gerak ditiup angin, dan mereka menangis terisak-isak sehingga pakaian mereka basah oleh air mata. Demi Allah, sungguh kaum (sekarang) mengira seolah-olah mereka menghabiskan malamnya dalam kelalaian. Kemudia Ali r.a. berdiri. Setelah kejadian itu, dia tidak kelihatan lagi tertawa sehingga dia dibunuh oleh Ibnu Muljam, musuh Allah Swt. yang fasiq." (HR. Ibnu Abi Dunya dalam al-Bidayah wan-Nihayah jilid VIII halaman 6, Abu Nu’aim dalam al-Hilyah jilid I halaman 76, ad-Dinawari, al-Askari, dan Ibnu Asakir seperti yang terdapat dalam kitab Kanzul U’mmaal jilid VIII halaman 219).

Dari Abu Shalih, dia berkata, "Dhirar bin Dhamrah al-Kinani r.a. datang ke hadapan Mu’awiyah, lalu  Mu’awiyah berkata kepadanya, "Terangkanlah kepadaku tentang kepribadian Ali r.a.!"  Dhirar berkata, "Apakah engkau akan memarahiku, wahai amirul mukminin?" Mu’awiyah menjawab, "Tidak, aku tidak akan memarahimu." Kemudian Dhirar berkata, "Apabila hal itu yang engkau inginkan, maka dengarkanlah! Demi Allah, sesungguhnya Ali r.a. itu adalah seorang yang berpandangan jauh (berwawasan luas) dan seorang yang sangat kuat. Apabila dia berbicara maka perkataannya jelas, apabila memutuskan suatu hukum, maka ia memutuskannya dengan adil. Terpancar ilmu dari seluruh arah dirinya (yakni segala perbuatan, perkataan, gerak, dan diamnya dapat memberikan manfaat ilmu kepada orang lain), perkataan penuh hikmah juga terpancar dari segala arah dirinya. Dia suka menghindarkan diri dari dunia dan kenikmatannya (zuhud). Dia sangat akrab dengan malam dan kegelapannya (yakni hatinya merasa sangat senang untuk beribadah di malam hari yang gelap). Demi Allah dia adalah orang yang banyak menangis dan selalu berpikir panjang. Dia sering membalikkan telapak tangannya (ditunjukkan pada dirinya) sambil berkata pada dirinya sendiri (sebagai tanda penyesalan dan instropeksi diri). Dia menyenangi pakaian yang kasar dan makanan (roti) yang tebal lagi keras. Demi Allah, keadaannya seperti kami pada umumnya, dia mendekat pada kami jika kami mendatanginya, dia juga menjawab  pertanyaan kami jika kami  bertanya padanya (juga memenuhi permintaan kami jika kami meminta sesuatu kepadanya). Walaupun dia begitu dekat dengan kami dan kami pun begitu dekat dengannya, namun karena kepribadiannya yang penuh wibawa, maka kami tidak berani berbicara di depannya. Apabila dia sedang tersenyum maka giginya terlihat bagaikan untaian mutiara. Dia selalu memuliakan ahli agama (orang yang taat pada agama), menyayangi orang-orang miskin, sehingga orang kuat sekalipun tidak sanggup mencuranginya, dan orang lemah tidak berputus asa dari keadilannya. Demi Allah, aku bersaksi bahwa suatu ketika aku pernah melihat dia berdiri di sebagian sudut tempat dia biasa beribadah malam, sedang  ketika itu  malam  hampir melepas selimut kegelapannya dan bintang-bintang telah tenggelam, lalu dia masuk ke dalam mihrabnya sambil memegang janggutnya dan beliau duduk bersimpuh sambil menangis tersedu-sedu seperti orang yang telah digigit oleh kalajengking, dan menangis seperti seorang yang sedang dirundung kesedihan. Seakan-akan saat ini juga aku (Dhirar) sedang mendengarkan ratapannya. Berkali-kali dia berkata dengan penuh kerendahan di hadapan Allah, "Wahai Tuhan kami, wahai Tuhan kami!" Kemudian dia berkata kepada dunia yang fana ini, "Wahai dunia, mengapa kalian menipuku, mengapa pula kamu selalu muncul mendekatiku? Menjauhlah, menjauhlah kamu dariku! Tipulah orang lain selainku! Sesungguhnya aku sudah menceraikanmu dengan talak tiga. Karena umurmu sangat sebentar, majlismu sangat hina, dan kedudukanmu sangat rendah! … Ah …. ah …. ah! (Apa yang harus aku lakukan, alangkah ruginya aku ini)  karena perbekalan sangat  sedikit , sedangkan  perjalanan amat  panjang dan  penuh bahaya!?"

Mendengar kisah ini, Mu’awiyah tidak bisa lagi membendung air matanya sehingga meleleh dan membasahi janggutnya. Dia pun mengusap air matanya dengan ujung bajunya dan orang-orang yang hadir di dalam majlis itu pun menyadari dan ikut menangis. Akhirnya Mu’awiyah mengakui bahwa apa yang dikatakan oleh Dhirar itu benar, katanya, "Memang sesungguhnya demikianlah sesungguhnya Abul Hasan (Ali r.a.) itu, semoga Allah merahmatinya. Lalu dia bertanya, "Wahai Dhirar, bagaimana kesedihan yang kamu rasakan ketika dia wafat?" Dhirar menjawab, "Kesedihanku seperti seorang wanita yang menyaksikan anaknya yang hanya satu-satunya disembelih di atas pangkuannya, ibunya akan terus menerus menangis dan tidak akan hilang kesedihannya." Kemudian Dhirar pun bangkit dan keluar meninggalkan majlis Mu’awiyah. (HR. Abu Nu’aim dalam al-Hilyah jilid I halaman 84. Kisah seperti ini telah diriwayatkan pula Ibnul Abdil Bar dalam kitab al-Isti’aab jilid III halaman 44 dari al-Hirmazi, seseorang dari suku Hamda, dari Dhirar as-Sudai’)

Bersambung….. 

June 3, 2007

Iman dan Orang Desa

 
Alkisah ada seorang desa yang tinggal di daerah pegunungan. Dia tinggal di daerah yang sulit air. Hampir sepanjang tahun daerahnya selalu dilanda kesulitan air. Berbagai macam upaya diusahakan oleh masyarakat penduduk desa itu untuk mendapatkan air bersih guna memenuhi keperluan sehari-hari. Akan tetapi usaha mereka tidak membuahkan hasil sebagaimana yang mereka inginkan. Maka dibuatlah musyawarah antara penduduk desa tersebut untuk mengusahakan agar kesulitan yang menimpa mereka segera dapat diatasi. Dan diputuslah dalam musyawarah tersebut seseorang untuk pergi ke kota guna meminta bantuan kepada penduduk kota. Maka pergilah utusan desa tersebut ke kota. Singkat cerita orang desa yang diutus tersebut karena lapar singgah di sebuah rumah makan. Ketika di rumah makan tersebut orang desa tersebut heran melihat bahwa begitu mudahnya orang-orang di kota untuk mendapatkan air. Dia melihat setiap orang kota membutuhkan air maka mereka hanya memutar sebuah kran yang menempel di dinding, maka keluarlah air. Sesuatu yang tak pernah dijumpainya di kampungnya. Melihat hal itu dia tersenyum gembira, segera dia bertanya kepada seseorang di rumah makan tersebut di mana dia bisa dapatkan kran yang bisa mengeluarkan air dari dinding.  Pergilah  dia ke toko bangunan dan segera membeli kran seperti yang dia lihat di rumah makan tadi. Dia gembira sekali karena masalah di desanya akan segera dapat teratasi dengan adanya kran yang akan dia bawa dan dia tunjukkan kepada orang-orang dikampungnya.
 
Maka sesampainya di desanya, dia kumpulkan orang-orang dan mengumumkan bahwa dia akan menunjukkan bagaimana mendapatkan air dengan mudah. Dengan penuh semangat dia sampaikan kepada penduduk desa tersebut bahwa mereka sekarang sudah tidak perlu bersusah-susah lagi untuk mendapatkan air. Karena sekarang ini dia sudah membawa suatu alat dari kota yang namanya kran, yang akan mengeluarkan air dengan sendirinya jika diputar. Maka orang-orang di desanya terkagum-kagum dan menyambut dengan gembira atas jerih payahnya pergi ke kota. Maka segeralah orang-orang desa itu beramai-ramai memasang kran itu ke dinding. Dalam waktu yang singkat sudah terpasanglah kran tersebut menempel di dinding dengan baik. Semua sudah sama seperti apa yang utusan desa lihat di kota. Sama persis dengan kran yang ada di rumah makan yang ada di kota.
 
Lalu dimintalah salah seorang ketua kampung tersebut untuk memutar kran tersebut sebagai tanda kehormatan. Sementara penduduk sudah tidak sabar untuk melihat kucuran air deras mengalir dari kran tersebut. Ketika ketua kampung tersebut memutar kran tersebut maka apa yang terjadi? Ternayata air tidak mengalir seperti yang mereka harapkan. Maka mereka mencoba lagi untuk memperbaiki pemasangan kran tersebut. Dilepas lagi dan dipasang lagi. Mereka mencoba lagi, tapi air yang mereka harapkan juga tidak keluar-keluar. Maka penduduk desa tersebut segera memandang kepada si utusan desa. Mereka mulai kecewa dengan si utusan desa tersebut karena ternyata usahanya sia-sia. Padahal untuk pergi ke kota mereka sudah mengumpulkan biaya yang tidak sedikit untuk keperluan transportasi dan biaya makan utusan desa tersebut ke kota.
 
Menurut anda apa hikmah di balik kejadian tersebut? Pasti anda mengerti apa yang saya maksudkan. Ya, anda benar. Orang-orang di kampung tersebut terlalu bodoh dan tidak memahami bahwa ternyata di balik dinding tersebut ada pipa air yang menghubungkan antara kran dengan bak air.  Sehingga air dapat mengalir melalui kran tersebut ternyata tidak sesederhana yang mereka bayangkan. Ada alat lain yang berperan penting sehingga air dapat mengalir dari kran tersebut, yaitu pipa dan bak air. Ini adalah satu tamsil atau perumpamaan kehidupan kita. Bahwa dalam kehidupan, kita selalu melihat apa-apa yang nampak oleh mata kita. Kita selalu yakin dengan asbab (sebab). Kita begitu yakin sekali bahwa usaha kita akan membuahkan hasil. Kita sangat yakin sekali dengan usaha kita. Dengan kerja kita, dengan toko kita, dengan perdagangan kita, dengan pertanian kita, dengan ladang kita, dengan pabrik dan kantor kita, dengan bisnis kita dan dengan jerih payah kita. Apapun bentuknya, bukan hanya asbab untuk mendatangkan rizki saja, tapi semuanya. Segala macam usaha yang kita buat maka kita akan yakin dengan usaha kita. Dan berbagai macam asbab yang kita usahakan dan yang kita ikhtiarkan. Akan tetapi kita lupa bahwa di balik dinding usaha kita ada kudrat Allah swt. Ada kekuasaan Allah. Ada ghazanah Allah Swt yang menjadikan sebab utama usaha kita membuahkan hasil. Jika ada asbab  tanpa adanya Qudrat Allah swt. maka seperti kran tanpa bak air. Hanya sekedar kran yang menempel di dinding tanpa bisa mengeluarkan air. Semua apa yang ada di dunia ini adalah hanya asbab saja sifatnya. Semua bergantung kepada Qudrat Allah Swt Yang Maha Luas dan Maha Segalanya. Bahkan Allah Swt. mampu dan dengan mudah menjadikan sesuatu tanpa asbab atau bahkan berlawanan  dengan asbab. (Anda tentu ingat dengan kisah lahirnya Nabi Isal AL Masih yang tanpa ayah. Tanpa adanya laki-laki di samping Siti Maryam, Allah Swt jadikan Siti Maryam memilki anak. Ingatkah anda dengan kisah Nabi Ibrahim yang hidup nyaman penuh dengan makanan selama 40 hari di dalam lautan api? bertentangan dengan asbab bukan? Allah Swt. kuasa atas segala-galanya). Sedangkan pipanya adalah adalah iman dan semua amal-amal agama. Kita lupa dengan pipa iman dan amal-amal agama yang seharunya kita buat. Karena kita terlalu asyik dan yakin dangan kran usaha kita. Hati kita telah tertutup oleh dinding dunia yang begitu tebal sehingga pipa iman dan amal agama tidak nampak dan terabaikan oleh mata kita. Jika kita tidak membuat pipa iman dan amal agama bagaimana kita akan kenal dengan Allah Swt.. Bagaimana kita akan kenal dengan kekuasaan dan Qudrat Allah Swt., Jika kita hanya mengandalkan kran usaha kita. Sementara penyambung antara usaha kita dengan gudang Qudrat dan gahzanah Allah Swt. adalah iman dan amal agama tersebut. Parahnya lagi setiap kegagalan yang kita buat, maka kita akan beranggapan bahwa usaha kitalah yang perlu mendapat perbaikan. Kita tidak berpikir dan memandang di mana sumber dari segala sumber usaha kita. Kita tidak berpikir kekuasaan Allah Swt. Sehingga setiap perbaikan-perbaikan yang kita buat adalah cenderung kepada usaha kita seperti masyarakat kampung yang dalam cerita tersebut memperbaiki lagi kran airnya. Dan ini kita lakukan berulang-ulang. Bukan saya menafikkan usaha dunia kita, akan tetapi ada skala prioritas dalam melakukan sesuatu dan bertindak. Ada yang lebih utama untuk kita kerjakan terlebih dahulu sebelum kita melakukan suatu usaha. Yakni yakin dan melihat kekuasaan Allah Swt. Semestinya yang pertama kita lakukan adalah perbaiki iman dan amal-amal agama, baru buat usaha atau ikhtiar. Doa dan amal agama yang kita kerjakan baru menyusul usaha dan kesungguhan kita. Bahkan sekarang ini jika kita telah membuat pipa iman dan amal agama maka kebanyakan iman dan amal agama kita banyak yang rusak dan cacat sehingga kita tidak mampu untuk melihat Qudrat Allah Swt.. Iman kita tidak peka terhadap kekuasaan Allah Swt. Iman kita tak mampu meraba Qudrat dan Ghazanah Allah Swt. yang begitu besar  dan luas.
 
Iman kita sebenarnya telah rusak parah, sehingga kita selalu terkesan dengan dunia (kebendaan,  materi, kekuasaan, harta, pangkat, jabatan, kecantikan, ketampanan, kepopuleran dan lain sebagainya yang sifatnya duniawi) dan melupakan kekuasaan Allah Swt. Iman  adalah ibarat pondasi sebuah bangunan yang terpasang dengan kokoh dan lurus. Jika pondasi sebuah bangunan rapuh dan miring maka semuanya akan menjadi rapuh dan miring serta rentan terhadap musibah. Jika pondasi rumah kita miring maka jendela rumah akan ikut miring, dinding rumah akan ikut miring, atapnya akan ikut miring hiasan-hiasannya akan ikut miring dan semua yang terpasang di rumah itu akan ikut miring. Maka jika iman kita miring dan cacat maka semua amal-amal kita akan ikut cacat. Jika iman kita rapuh maka semua amal kita akan rapuh juga. Jika iman rapuh dan lemah maka setiap kita tertimpa musibah dan teguran dari Allah Swt. maka kita bisa jadi akan kufur terhadap Allah swt. dan semakin menjauhi Allah Swt. Serta menyalahkan Allah Swt. Kita akan berburuk sangka kepada Allah dan menganggap Allah Swt. tidak adil. Bahkan bukan hanya musibah saja, jika kita diberi kemewahan dunia yang merupakan kenikmatan, maka kitapun akan melupakan Allah Swt. disebabkan iman kita yang cacat parah. Dan ini adalah kondisi keadaan kita sekarang ini. Ya, sekarang ini. Sehingga jika kita ingin mendapatkan sesuatu dari ghazanah Allah Swt. maka yang pertama-tama sekali akan kita buat adalah usaha/ikhtiar kita, bukan iman dan amal agama. Jadi kondisinya serba terbalik. Apalah artinya usaha tanpa adanya amal agama. Apalah artinya kran air tanpa adanya pipa air. Jika usaha kita membuahkan hasil maka pasti dan pasti kita akan yakin dengan usaha kita bukan dengan Qudrat Allah Swt. Jika kita melupakan Allah Swt. sebagai sumber dari segala sebab dan usaha kita maka Allah Swt akan murka kepada kita. Sehingga nantinya di balik usaha kita yang membuahkan hasil maka akan timbul dan datang berbagai macam musibah kepada kita karena dosa-dosa kita. Bukankah Allah Swt telah memberikan contoh kepada kita melalui kejadian-kajadian buruk yang menimpa kaum-kaum terdahulu sebelum kita. (kaum Madyan, kaum Nuh, kaum Luth, Kaum Saba, kaum Add, Bani Israil, Qorun, Firaun, Namruz). Bagaimana mereka dibinasakan oleh Allah Swt. adalah karena mereka menafikkan Qudrat dan kekuasaan Allah Swt.
 
Sebaliknya jika yang pertama kita buat adalah pipa amal agama, maka sebelum usaha kita membuahkan hasil maka kita sudah kenal dengan Allah Swt, terlebih dahulu. Kita sudah kenal dengan Qudrat Allah Swt. Jika hasilnya banyak maka kita akan menambah rasa syukur kita kepada Allah Swt. Jika hasilnya sedikit maka Allah Swt. akan tumbuhkan perasaan iman, sabar, zuhud, qona’ah,  ke dalam diri kita dan akan semakin dekat dengan Allah Swt..  Dalam kehidupan orang yang beriman bukankah yang pertama sekali kita inginkan adalah keridhoan dan kedekatan kepada Allah Swt.. Orang yang beriman tidak menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya. Ridho Allah Swt. lah yang pertama dia kejar dan usahakan. Mana yang anda akan pilih, separuh harta kekayaan dan putri raja ataukah raja yang anda inginkan? Pasti jika kita adalah penduduk kerajaan yang baik maka rajalah yang akan kita pilih. Sekarang ini kita hanya mengenal harta dan putri raja. Sedangkan kita tidak mengenal dengan raja. Ya, kita pandai dan mengenal serta memahami dunia akan tetapi kita tidak mengenal Qudrat dan kekuasaan Raja diraja Alam Semesta, dunia dan akhirat yakni Allah Swt.. Kita belum mengenal Allah Swt dengan baik. Maka untuk itu kita perlu mengenal Allah Swt. Dan untuk mengenal Allah Swt, maka kita perlu belajar bagaimana sahabat-sahabat Rasulullah saw. mengenal dan menyukakan Allah Swt. Kita perlu belajar bagaimana sahabat-sahabat bersungguh-sungguh melayani dan mencintai Allah Swt. Kita perlu perbaiki iman kita kepada Allah Swt. Sehingga iman kita tidak cacat dan rapuh sebagaimana pondasi rumah yang rapuh. Kita perlu sering menyampaikan kekuasaan Raja diraja Alam ini kepada orang-orang. Kita promosikan Raja diraja alam ini kepada semua manusia. Kita sampaikan kehebatan Raja Alam semesta dunia dan akhirat kepada semua manusia. "Laa ilaha illallah" Tidak ada Tuhan yang pantas untuk disembah selain Allah Swt. "Laa Khaula wala quwwata illa billahil ‘aliyyin ‘adzim" Tidak ada daya dan kekuatan selain daripada idzin Allah Swt.. Semua yang terjadi di dunia ini adalah karena Qudrat Allah Swt. Dunia hanyalah asbab. Tanpa idzin dan Qudrat Allah Swt., maka dunia tidak akan berarti apa-apa. Semua makhluk adalah kecil, yang besar adalah Allah Swt.. Jika kita sering menyampaikan kekuasaan Allah Swt, dengan sungguh-sungguh maka hakekat keimanan akan Allah Swt. berikan kepada diri kita. Allah Swt akan kuatkan dan tingkatkan iman kita sebagaimana Allah Swt tanamkan iman yang sempurna kepada sahabat-sahabat Rasulullah saw.. Berjuanglah dan belajarlah cara hidup sebagaimana sahabat, jangan bersikap sebagaimana orang-orang kampung dalam cerita di atas memahami dan melihat asbab sebagai sumber penyelesaian segala masalah. Semoga Allah Swt, memberi kepahaman dan kekuatan amal agama kepada kita, sehingga kita mampu mengenal dan mencintai Allah Swt. sebagaimana sahabat mencintai Allah Swt. dan Rasul-Nya. Wassalamu’alaikum.. emoticon

May 24, 2007

Akal, dunia dan akhirat

 
 
Dunia ini adalah alam yang fana dan bohong belaka. Keindahan alam dunia Allah Swt ciptakan adalah agar manusia mengenal kepada Allah Swt. Itulah maksud Allah Swt. menciptakan akal. Adanya langit, matahari, bintang, bulan, lautan, gunung-gunung adalah agar manusia paham siapa yang menciptakannya. Agar akal manusia paham bahwa dibalik semua itu ada yang menciptakan dan yang mengaturnya. Maka nanti ketika kita mati maka akal kita akan ditanya untuk apa digunakan selama hidup di dunia. Tanggung jawab akal kita yang pertama harus kita tunaikan adalah bagaimana akal kita ini mengenal dan memahami Allah Swt. 
 
"Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan, dan langit, bagaimana ia ditinggikan?,  Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan?, Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?" (Al Ghaasyiyah 17-20) 
 
Akal adalah karunia yang Allah Swt berikan kepada manusia, yang menjadikan manusia berbeda dengan makhluk Allah Swt yang lain. Ketinggian derajat manusia dibandingkan dengan mahkluk yang lain adalah karena manusia memiliki akal. Namun Allah Swt menghendaki agar akal kita digunakan untuk memikirkan tentang keberadaan dan keEsaan Allah Swt. Jika akal manusia digunakan untuk memikirkan keberadaan dan keEsaan Allah maka manusia akan mengenal Allah Swt. Dan akal manusia akan menjadi bernilai di sisi Allah Swt.. Padahal akal manusia yang Allah ta’ala ciptakan memiliki kapasitas dan kemampuan berpikir yang luar biasa.
 
 
Allah Swt telah menciptakan suatu komponen yang tak terbayangkan di dalam tubuh kita yaitu akal. Dengan kemampuan akal manusia tersebut maka manusia sebenarnya mampu untuk menggunakan akalnya untuk menyimpan jutaan informasi tentang keberadaan dan kebesaran Allah Swt. Akan tetapi saat ini kita sekarang masih menggunakan sebagian kecil akal kita hanya untuk mendalami dan mempelajari tentang keduniawian. Bahkan sebagian orang telah mengotori akal dan pikirannya untuk memikirkan bagaimana bermaksiat kepada Allah Swt.
 
Kita sering melihat langit, matahari, bintang, gunung-gunung, petir dan ciptaan-ciptaan Allah yang lain, tapi akal kita senantiasa jarang menghubungkan bahwa dibalik itu semua ada sesuatu yang Maha Dahsyat yang menciptakannya. Ketika kita melihat laut tidak terpikir dalam akal kita betapa Allah Swt luar biasa sekali menciptakannya dan mensuplai air yang tak pernah habis sejak jaman dulu kala. Ketika kita melihat indahnya warna bunga-bunga kita hanya sanggup mengaguminya tanpa berpikir betapa indahnya Allah ta’ala menciptakan warna-warna pada bunga. Ketika kita melihat api yang panas kita terlalu sering lupa bahwa yang menciptakan sifat panas pada api adalah Allah Swt. Ketika kita melihat petir maka tidak timbul rasa takut dalam diri kita betapa Allah ta’ala menciptakan petir  untuk bertasbih memujiNya. Sekarang ini kebanyakan kita menggunakan akal adalah untuk memenuhi kebutuhan nafsu dan syahwatnya. 
 
Padahal maksud lain Allah ta’ala menciptakan akal juga adalah untuk manusia berpikir bahwa di dunia ini semuanya serba terbatas. Ada kehidupan dan kematian, ada awal dan akhir. Akan tetapi kebanyakan kita sering melupakan hal tersebut. Kebanyakan kita selalu berangan-angan panjang tentang dunia dan selalu memikirkan kesejahteraan hidup di dunia akan tetapi melupakan akhirat. Manusia terlalu sering sibuk dan disibukkan dengan hal-hal yang bersifat dunia. Dibalik kehidupan dunia yang fana ini sebenarnya telah menghadang suatu alam ghaib yang bernama kubur dan akhirat. "Semua yang bernyawa pasti mengalami kematian". Dan jika nanti kita mati maka kita akan terheran-heran melihat keberadaan alam akhirat yang sungguh-sungguh berbeda dengan alam dunia baik dari sisi dimensinya maupun waktunya. Rasulullah saw. adalah manusia satu-satunya yang pernah diperlihatkan tentang alam  akhirat. Beliau mengabarkan bahwa batu neraka yang paling kecil adalah sebesar seluruh gunung yang ada di muka bumi ini. Beliau juga mengabarkan bahwa alam akhirat panjang waktunya adalah 1 hari akhirat sama dengan 1000 tahun dunia untuk orang yang beriman dan 50.000 tahun dunia untuk orang yang mengingkarinya. Dan alam akhirat adalah abadi. Tidak ada batasan waktu mengenai alam akhirat. Dikatakan oleh alim ulama bahwa perbandingan besarnya alam dunia dengan alam akhirat ini adalah seperti alam kandungan dengan dunia ini. Jika alam dunia ibarat  kandungan seorang wanita maka alam akhirat seperti alam dunia ini. Begitulah perbandingannya. Namun ini mungkin saja hanya sekedar gambaran supaya manusia mudah memahami besaran dan panjangnya waktu alam akhirat. Sesungguhnya alam akhirat tidak pernah terbayangkan besar dan lamanya oleh akal manusia. Maka maksud sebenarnya Allah menciptakan dunia adalah sebagai tempat persinggahan agar manusia banyak-banyak mempersiapkan bekal untuk alam akhirat.
 
Sayang sekali potensi akal manusia yang begitu luar biasa tidak dipergunakan untuk memikirkan keberadaan alam akhirat. Dunia ini adalah ibarat sebuah lubang kecil yang menghubungkan antara alam ruh dengan alam akhirat. Alam dunia diapit oleh dua alam yang memiliki dimensi yang besar sekali yaitu alam ruh dan alam akhirat. Alam ruh adalah alam dimana kita pernah tinggal dan berjanji dan mengakui bahwa Allah swt adalah tuhan semesta alam. Ketika kita dihadirkan oleh Allah Swt. ke alam dunia, maka kebanyakan manusia lupa akan janjinya. Dunia adalah tempat persinggahan sementara yang sangat singkat waktunya. Dahulu Rasulullah Saw sering menasehatkan kepada para sahabatnya agar para sahabat senantiasa takut dan menangis akan kedahsyatan alam akhirat. Sehingga ketika Rasulullah menceritakan kedahsyatan alam akhirat para sahabat seperti benar-benar melihat alam akhirat dan kebanyakan mereka berjatuhan pingsan mendengarnya. Para sahabat senantiasa takut akan alam akhirat, sehingga mereka giat dan berlomba-lomba untuk berbuat amal shaleh agar mereka dapat selamat dari azab alam akhirat. Sholat mereka senantiasa membawa rasa takut dan cemas yang luar biasa. Sehingga tak jarang para sahabat dalam sholatnya dijumpai menangis menggigil karena takut akan Allah Swt dan alam akhirat. Sebaliknya kita sholat menangis karena takut akan miskin di dunia.
 
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal". (AL ANFAAL (Rampasan perang) ayat 2) 

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Gary Rogers