Dunia Sementara Akhirat Selamanya

09 Pebruari 2009

Nizhomul Ghaib

Abu Nu’aim mentakhrij dari Ibnu Rufayl, dia berkata, "Ketika Sa’ad ra. datang ke Bahurasyair, yaitu suatu daerah lembah paling bawah sebelah barat sungai Dijlah (sungai Tigris, sungai yang melalui Baghdad) atau dekat dengan daerah Syair. Sa’ad ra. kemudian meminta dicarikan perahu-perahu untuk memindahkan orang-orang dari daerah di lembah itu ke daerah di seberang yang lebih tinggi. Akan tetapi mereka ditakdirkan tidak mendapatkan perahu atau yang sejenisnya dan mereka mengetahui bahwa perahu-perahu itu telah diambil oleh orang-orang Parsi.

(more…)

03 April 2008

Besarnya Rahmat dan Ampunan Allah Swt.

Filed under: kisah2 keimanan
Suatu ketika seorang penguasa yang zhalim yang memerintah di Bukhara sedang mengendarai kudanya. Lalu ia melihat seekor anjing kotor menggigil kedinginan. Ia merasa iba kemudian menyuruh pembantunya untuk membawa anjing itu ke rumahnya dan merawatnya hingga ia kembali dari perjalanannya. Setelah itu ia melanjutkan perjalanannya dan kembali pada sore harinya.

Setibanya di rumah, ia mengambil anjing itu dan menambatkannya di sudut rumahnya, kemudian memberinya makanan dan minuman, kemudian menyuruh pembantunya agar memijat anjing itu, meminyakinya dan menyelimutinya agar terlindung dari udara dingin. Ia juga menyalakan api agar anjing itu merasa hangat dan nyaman. Dua hari kemudian penguasa zhalim itu meninggal dunia.

Seseorang lelaki shaleh yang mengetahui kekejaman dan kezhaliman penguasa itu, melihatnya dalam mimpi. Ia bertanya kepadanya, “Bagaimana keadaanmu?”

Penguasa itu berkata, “Aku dihadapkan kepada Allah Swt, dan Dia berkata kepadaku, “Kamu adalah seekor anjing (karena kezhalimannya) dan Kami telah memberi karunia kepadamu (ampunan berkat belas kasihmu) kepada seekor anjing.’ Kemudian Allah dengan rahmat-Nya yang tidak terbatas, mengambil semua kekejaman dan keburukanku dan meletakkannya ke atas orang lain.” (Musamiraat)  

Tidak terhingga karunia Allah, Dialah Raja Penguasa bagi seluruh orang yang bermurah hati kepada yang lain. Tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui hakekat keluasan rahim-Nya. Mungkin dengan kehendak-Nya, Dia mengaruniakan keselamatan kepada seseorang karena ridha atas keterlibatannya dalam perbuatan baik walaupun kecil. Oleh karena itu kita mesti mencari ridha-Nya setiap saat, tanpa memandang remeh kepada suatu kebaikanpun. Karena manusia tidak pernah tahu, yang mana dari perbuatannya yang dapat membuat Allah menyukainya.

10 Juli 2007

Kezuhudan Sebagian Sahabat R.hum

Filed under: kisah2 keimanan

Kezuhudan Abu Bakar

Ahmad mengeluarkan dari Aisyah r.ha, dia berkata, "Abu Bakar meninggal dunia tanpa meninggalkan satu dinar maupun satu dirham pun. Sebelum itu dia masih memilikinya, namun kemudian dia mengambilnya dan menyerahkannya ke Baitul-mal." Begitulah yang disebutkan di dalam Al-Kanzu, 3/132.

Kezuhudan Umar bin Al-Khaththab

Ahmad mengeluarkan di dalam Az-Zuhud, Ibnu Jarir dan Abu Nu’aim dari Al-Hasan, dia berkata, "Ketika Umar bin Al-Khaththab sudah menjadi khalifah, di kain mantelnya ada dua belas tambalan. Begitulah yang disebutkan di dalam Al-Kanzu, 4/405.

Kezuhudan Utsman bin Affan

Abu Nu’aiin mengeluarkan di dalam Al-Hilyah, 1/60, dari Abdul-Malik bin Syaddad, dia berkata, "Aku pernah melihat Utsman bin Affan berkhutbab di atas mimbar pada hari Jum’at, sambil mengenakan kain mantel yang tebal (kasar), harganya berkisar empat atau lima dirham. Kain ikat kepalanya juga ada yang robek. Diriwayatkan dari Al-Hasan, dia berkata, "Aku pernah melihat Utsman bin Affan yang datang ke masjid dalam keadaan seperti itu, pada saat dia sudah menjadi khalifah." Ahmad mengeluarkan di dalam Shifatush-Shafwah, 1/116.

Kezuhudan Ali Bin Abu Thalib

Ahmad mengeluarkan dari Abdullah bin Ruzain, dia berkata, "Aku pernah masuk ke rumah Ali bin Abu Thalib pada hari Idul-Adhha. Dia menyuguhkan daging angsa kepadaku. Aku berkata, "Semoga Allah mlimpahkan kebaikan kepadamu. Karena engkau bisa menyuguhkan makanan ini, berarti Allah memang telah melimpahkan kebaikan kepadamu, " Dia berkata, "Wahai Ibnu Ruzain, aku pernah mendengar Rasuluilah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Tidak diperkenankan harta Allah bagi seorang khalifah kecuali sebanyak dua takaran saja, satu takaran yang dia makan bersama keluarganya, dan satu takaran lagi yang harus dia berikan kepada orang-orang." Begitulah yang disebutkan di dalam Al-Bidayah, 8/3.

Kezuhudan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah

Abu Nu’airn mengeluarkan dari Abu Ma’mar, bahwa tatkala Umar mengadakan lawatan ke Syam, maka disambut para pemuka dan pemimpin masyarakat di sana. "Mana saudaraku?" tanya Umar. "Siapa yang engkau maksudkan?’ tanya orang-orang. "Abu Ubaidah. " "Sekarang dia baru menuju ke sini. Ketika Abu Ubaidah sudah tiba, Umar turun dari kendaraannya lalu memeluknya. Kemudian Umar masuk ke rumah Abu Ubaidah dan tidak melihat perkakas apa pun kecuali pedang, perisai dan kudanya. Ahmad mengeluarkan hadits yang serupa seperti yang disebutkan di dalam Shifatush-Shafwah, 1/143. Ibnul-Mubarak juga meriwayatkannya di dalam Az-Zuhd, dari jalan Ma’mar, serupa dengan ini, seperti yang disebutkan di dalam Al-Ishabah, 2/253.

Kezuhudan Mush’ab bin Umair

Al-Bukhary mengeluarkan di dalam Shahih-nya, dari Hibban, bahwa Mush’ab bin Umair meninggal dan hanya meninggalkan selembar kain. Jika orang-orang menutupkan kain itu ke kepalanya, maka kedua kakinya menyembul, dan jika ditutupkan ke kedua kakinya, maka kepalanya yang menyembul. Lalu Rasulullah SAW bersabda, "tutupkan dedaunan ke bagian kakinya." Begitulah yang disebutkan di dalam Al-Ishabah, 3/421.

Kezuhudan Salman Al-Farisy

Abu Nu’aim mengeluarkan dari Athiyah bin Amir, dia berkata, "Aku pernah melihat Salman Al-Farisy ra. menolak makanan yang disuguhkan kepadanya, lalu dia berkata, "Tidak, tldak. Karena aku pemah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

‘Sesungguhnya orang yang lebih sering kenyang di dunia akan lebih lama laparnya di akhirat. Wahai Salman, dunia ini hanyalah penjara orang Mukmin dan surga orang kafir’.

Di dalam Al-Hilyah, 1/198, Bagian terakhir dari hadits di atas, "Dunia ini hanyalah penjara orang Mukmin", merupakan riwayat Muslim.

Kezuhudan Abu Dzarr Al-Ghifary

Ahmad mengeluarkan dari Abu Asma’, bahwa dia pernah masuk ke rumall Abu Dzarr di Rabadzah. Dia mempunyai seorang istri berkulit hitam yang sama sekali tidak memakai hiasan macam apa pun dan tidak pula mengenakan minyak wangi. Abu Dzarr berkata, "Apakah kalian tidak rnelihat apa yang disuruh para wanita berkulit hitam ini? Mereka menyuruhku unluk pergi ke Irak. Namun ketika kami tiba di Irak, mereka justru lebih senang kepada dunia. Padahal kekasihku (Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam) memberitahukan kepadaku bahwa di atas jembatan neraka ada rintangan dan halangannya. Kita akan menyeberangi jembatan itu sambil membawa beban kita. Maka lebih baik bagiku untuk menyeberang dengan selamat tanpa mernbawa beban apa pun." Begitulah yang disebutkan di dalain At-Targhib Wat-Tarhib, 3/93. Ahmad juga meriwayatkannya dan rawi-rawinya shahih.

Kezuhudan Abud-Darda’

Ath-Thabrany mengeluarkan dari Abud-Darda’ Radhiyallahu Anhu, dia berkata, ‘Dahulu sebelum Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menjadi rasul, kami adalah para pedagang. Namun setelah beliau diutus sebagai rasul, aku ingin terjun kembali dalam perniagaan dan sekaligus rajin beribadah. Tapi nyatanya aku tidak bisa mantap dalam ibadah. Akhirnya kutinggalkan perniagaan dan mengkhususkan diri dalam ibadah.’ Menurut Al-Haitsainy, 9/367, rijalnya shahih.

Kezuhudan Al-Lajlaj Al-Ghathafany

Ath-Thabrany mengeluarkan dengan isnad yang tidak diragukan, dari Al-Lajlaj Radhiyallahu Anhu, dia berkata, "Sejak aku masuk Islam di hadapan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, aku tidak pernah makan dan minum kecuali sekedar secukupnya." Begitulah yang disebutkan di dalarn At-Targhib, 31423. Abul-Abbas As-Siraj di dalam Tarikh-nya dan Al-Khathib di dalam Al-Muttafaq, seperti yang disebutkan di dalam Al-Ishabah, 2/328.

Kezubudan Abdullah bin Umar

Abul-Abbas As-Siraj mengeluarkan di dalam Tarikh-nya dengan sanad hasan, dari As-Sary, dia berkata, "Aku pernah melihat sekumpulan orang dari kalangan shahabat, bahwa tak seorang pun di antara mereka yang keadaannya senantiasa mirip dengan keadaan Rasuluilah Shallallahu Alaihi wa Sallam selain dari Ibnu Umar. "Abu Sa’id Al-Mraby mengeluarkan dengan sanad yang shahih, dari Jabir ra., dia berkata, ‘Tidak ada seseorang di antara kami yang mendapatkan kekayaan dunia melainkan dia justru meninggalkannya selain dari Abdullah bin Umar.’ Begitulah yang disebutkan di dalam Al-Ishabah, 21347.

Sumber : Kisah-kisah Sahabat

09 Juli 2007

Surat Rasulullah Saw. Kepada Najasyi, Raja Habasyah

Ibnul Ishaq menceritakan, "Rasulullah mengutus Amr bin Umayyah ad-Dhamri r.a. untuk membawa surat kepada raja Najasyi sehubungan dengan keadaan Ja’far bin Abi Thalib dan teman-temannya di sana. Isi surat itu adalah sebagai berikut :

        Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

        Dari Muhammad Rasulullah saw. kepada Najasyi Ash-ham raja Habasyah

        Salam sejahtera bagimu

        Aku memuji engkau kepada Allah Yang Maha Suci lagi Perkasa, dan aku bersaksi bahwa Isa a.s. adalah ruh Allah dan kalimah-Nya yang dicampakkan kepada Mariam seorang perawan suci, bersih, dan terjaga. Mariam mengandung Isa a.s. Kemudian Allah menciptakan Isa a.s. dari ruh-Nya dan ditiupkan-Nya ruh itu (ke dalam jasadnya) sebagaimana Adam a.s. yang diciptakan Allah langsung dengan Tangan-Nya dan ditiupkan-Nya ruh (ke dalam tubuhnya). Kini aku mengajak engkau (untuk menyembah) Allah Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya dan terus-menerus mentaati-Nya serta mengikuti aku. Juga engkau mempercayaiku dan ajaran-ajaran yang diturunkan-Nya padaku bahwa aku adalah utusan-Nya. Aku telah mengutus kepadamu keponakanku yang bernama Ja’far bersama serombongan kaum muslimin. Apabila mereka telah sampai ke hadapanmu, maka layanilah mereka sebaik-baiknya dan tinggalkanlah kesombongan.  Aku mengajak engkau dan seluruh tentaramu kepada (agama) Allah. Sungguh telah aku sampaikan risalah dan nasihatku, maka terimalah ajakan dan nasihatku ini!" 

        Salam sejahtera bagi siapa saja yang mengikuti hidayah

                    Surat Balasan Raja Najasyi kepada Nabi Saw.

Setelah menerima surat dari Nabi Saw. maka raja Najasyi menulis surat balasan kepada beliau sebagai berikut :

       Bismillaahir Rahmaanir rahiim

       Untuk Muhammad Rasulullah saw. dari Najasyi Asham bin Abjar

      Salam sejahtera, rahmat, dan keberkahan dari Allah semoga tercurah kepada engkau, wahai Nabi Allah. 

        Tidak ada tuhan selain Dia yang telah memberikan petunjuk kepada aku untuk masuk islam. Wahai Rasulullah, surat engkau telah sampai padaku yang mana di dalamnya engkau telah menerangkan tentang perkara Isa. Demi Tuhan Pemelihara langit dan bumi, sesungguhnya Isa tidak lebih dari apa yang telah terangkan dalam suratmu. Aku telah mengetahui tentang utusan yang engkau hantarkan kepada kami, dan mengenai keponakan engkau serta teman-temannya, aku telah melayani mereka dengan pelayanan yang baik. Oleh karena itu aku bersaksi bahwasanya  engkau adalah utusan Allah yang benar dan dibenarkan, dan aku berbai’at kepadamu juga kepada keponakanmu serta aku masuk islam ditangannya semata-mata karena Allah Penguasa alam semesta. Wahai Nabi Allah, aku juga telah mengutus kepada engkau Ariha bin Ash-Ham bin Abjar, karena sesungguhnya aku tidak berkuasa kecuali pada diriku sendiri. Tetapi jika engaku untuk menyuruhku untuk datang sendiri kepada engkau, pasti aku bersedia wahai Rasul Allah, karena sesungguhnya aku bersaksi bahwa segala yang engkau katakan itu adalah benar."  ( Hr. Baihaqi, seperti disebutkan dalam kitab al-Bidayah jilid III halaman 87)

Sumber : Hayatush Shahaabah Maulana Muhammad Yusuf al Kandhalawi Rah.a. 

08 Juli 2007

Atsar-Atsar Yang Menerangkan Tentang Sifat Para Sahabat R.hum

As-Suddi telah berkata dalam keterangannya tentang firman Allah Swt. :
kuntum khoiro ummat3

 

 

"Kamu sekalian adalah sebaik-baik ummat yang dikeluarkan untuk manusia,….. (Qs. Ali Imran 110)

As-Suddi mengatakan  bahwa Umar bin Khattab r.a. telah berkata (mengenai penafsiran ayat ini), "Apabila Allah Swt. menghendaki, niscaya dia akan mengatakan antum maka (akan tercakup dalam pengertian kata ini) adalah kita seluruhnya. Akan tetapi Allah Swt. mengatakan-Nya dengan kata kuntum yang berarti ditujukan khusus kepada para sahabat Rasulullah Saw. dan orang-orang yang melakukan pekerjaan seperti yang dilakukan para sahabat. Mereka itulah "khairu ummat (sebaik-baik ummat) yang dikeluarkan untuk seluruh manusia." Imam Ibnu Jarir juga telah meriwayatkannya dari Qatadah r.a. yang mana ia berkata, "Telah diceritakan bahwa Umar telah membaca ayat ini (Ali Imran ayat 101) kemudian dia berkata, "Wahai manusia, barangsiapa yang ingin digolongkan dalam ayat ini, maka hendaklah dia menunaikan syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh Allah Swt. dalam ayat tersebut. (Syarat tersebut adalah Amar ma’ruf nahi munkar. Pent)(HR. Ibnu Jarir  dan Ibnu Abi Hatim, seperti yang disebutkan dalam kitab Kanzul ‘Ummaal jilid I halaman 238)

Dari Ibnu Mas’ud r.a. bahwasanya dia berkata, "Sesungguhnya Allah Swt. telah melihat hati-hati hamba-Nya, maka Dia memilih Muhammad Saw. dan menjadikannya sebagai Rasul (utusan) untuk menyampaikan risalah-Nya, juga memberi ilmu (yang khusus) dari-Nya. Kemudian setelah itu Allah Swt. kembali melihat hati seluruh manusia, maka Allah memilih di antara mereka untuk menjadi sahabat-sahabat beliau, lalu dijadikannya mereka sebagai penolong-penolong agama-Nya dan sebagai wakil-wakil-Nya. Oleh karena itu apa saja yang dipandang baik oleh orang-orang yang beriman, maka di sisi Allah hal itu adalah baik, sebaliknya apa saja yang dipandang buruk oleh orang-orang yang beriman, maka di sisi Allah hal itu adalah buruk. (HR. Abu Nu’aim dalam al-Hilyah jilid I halaman 375)

Imam Abdul Baar telah meriwayatkannya dalam al-Istia’ab jilid 1/6 dari Ibnu Mas’ud r.a. yang semakna dengan hadits di atas, hanya saja dia tidak menyebutkan :"Apa saja yang dipandang baik oleh orang-orang beriman…… dst. Ath-Thayalisi juga telah meriwayatkan hadits ini sama seperti yang diriwayatkan oleh imam Abu Nu’aim.

Dari Abdullah Ibnu Umar r.huma bahwasanya dia berkata, "Barangsiapa yang ingin mengambil contoh cara hidup, maka hendaklah ia mengambil contoh cara hidup orang-orang yang telah mati, yaitu sahabat-sahabat Nabi Muhammad Saw.. Mereka adalah sebaik-baik umat ini, paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, dan paling ringan amalannya. Mereka adalah kaum yang telah dipilih oleh Allah Swt. untuk menjadi pendamping nabi-Nya Saw. dan menjadi penyebar agama-Nya. Karena itu, contohlah akhlak dan cara hidup mereka!" Demi Allah Penguasa Ka’bah, mereka adalah sahabat-sahabat Nabi Saw. dan mereka selalu berada di atas petunjuk jalan yang lurus." (HR. Abu Nu’aim dalam al-Hilyah jilid I halaman 305) 

Dari Ibnu Mas’ud r.a. bahwasanya ia pernah berkata (kepada orang-orang pada zaman itu), "Kalian adalah orang yang lebih banyak berpuasa, lebih banyak mengerjakan shalat, dan lebih banyak berijtihad (lelah dan bersusah payah dalam ibadah) daripada sahabat Nabi Saw., tetapi mereka (para sahabat) itu lebih utama daripada kamu sekalian." Mereka bertanya, "Mengapa demikian wahai Abu Abdurrahman?" (Nama panggilan Ibnu Mas’ud). Dia menjawab, "Karena mereka lebih zuhud terhadap dunia dan lebih mencinati akhirat." (HR. Abu Nu’aim dalam al-Hilyah jilid I halaman 136).

Dari Abu Wa’il katanya, "Abdullah bin Mas’ud r.a. pernah mendengar seseorang berkata, "Dimanakah orang-orang yang zuhud (tidak cinta) terhadap dunia dan cinta terhadap akhirat?" Abdullah bin Mas’ud r.a. menjawab, "Mereka adalah Ash-haabul Jaabiyah (orang-orang yang tinggal di Jaabiyah, yaitu sebuah desa di kerajaan Syam. Pada masa kekhalifahan Umar r.a. desa itu dijadikan sebagai pusat tentara islam ketika berperang melawan Kaisar Romawi). Jumlah mereka ada 500 orang dan mereka telah berjanji untuk berjihad terus sampai mereka gugur sabagai syuhada di jalan Allah Swt.. Mereka mencukur semua rambut di kepala mereka, lalu bertempur melawan musuh, sehingga mereka semua gugur sebagai syuhada, kecuali satu orang saja sebagai pembawa berita tentang kesyahidan mereka." (HR. Abu Nu’aim dalam al-Hilyah jilid I halaman 135).

Dari Ibnu Umar r.huma, bahwasanya ia mendengar seseorang berkata, "Dimanakah orang-orang yang zuhud (tidak cinta) terhadap dunia dan lebih mencintai akhirat?" Maka Ibnu Umar r.huma menunjuk ke arah pusara Rasulullah Saw., Abu Bakara r.a., dan Umar r.a.. Kemudian dia berkata, "Orang-orang inikah yang kamu tanyakan?" (HR. Abu Nu’aim dalam al-Hilyah jilid I halaman 135).

Dari Abu Arakah, bahwasanya dia berkata, "Suatu hari aku mengerjakan shalat Shubuh bersama Ali r.a.. Ketika dia menoleh ke sebelah kanan (setelah usai shalat), dia terdiam dan tampak dari wajahnya seperti sedang dirundung kesusahan dan kerisauan. (Demikianlah keadaannya) sehingga sinar matahari naik di atas dinding masjid setinggi tombak, dia pun bangkit untuk mengerjakan shalat Dhuha dua rakaat. Setelah shalat, sambil membalikkan telapak tangannya dia berkata, "Demi Allah, sesungguhnya dahulu aku melihat para sahabat Nabi Saw. tetapi sayang sekarang sudah tidak ada lagi orang-orang yang menyerupai mereka. Mereka adalah orang-orang yang tekun dalam beribadah, sehingga wajah mereka tampak pucat, rambut kusut dan berdebu, di antara kedua mata kaki mereka terdapat tanda hitam bagaikan lutut kambing. Mereka habiskan malam mereka untuk bersujud dan berdiri di hadapan Allah Swt. dan membaca al-Quran. Mereka telah merasakan ketenangan dan kedamaian di dalam sujud dan berdiri. Apabila waktu shubuh telah datang, maka mereka bersama-sama dzikir kepada Allah Swt., tubuh mereka bergerak-gerak seperti sebuah pohon yang bergerak-gerak ditiup angin, dan mereka menangis terisak-isak sehingga pakaian mereka basah oleh air mata. Demi Allah, sungguh kaum (sekarang) mengira seolah-olah mereka menghabiskan malamnya dalam kelalaian. Kemudia Ali r.a. berdiri. Setelah kejadian itu, dia tidak kelihatan lagi tertawa sehingga dia dibunuh oleh Ibnu Muljam, musuh Allah Swt. yang fasiq." (HR. Ibnu Abi Dunya dalam al-Bidayah wan-Nihayah jilid VIII halaman 6, Abu Nu’aim dalam al-Hilyah jilid I halaman 76, ad-Dinawari, al-Askari, dan Ibnu Asakir seperti yang terdapat dalam kitab Kanzul U’mmaal jilid VIII halaman 219).

Dari Abu Shalih, dia berkata, "Dhirar bin Dhamrah al-Kinani r.a. datang ke hadapan Mu’awiyah, lalu  Mu’awiyah berkata kepadanya, "Terangkanlah kepadaku tentang kepribadian Ali r.a.!"  Dhirar berkata, "Apakah engkau akan memarahiku, wahai amirul mukminin?" Mu’awiyah menjawab, "Tidak, aku tidak akan memarahimu." Kemudian Dhirar berkata, "Apabila hal itu yang engkau inginkan, maka dengarkanlah! Demi Allah, sesungguhnya Ali r.a. itu adalah seorang yang berpandangan jauh (berwawasan luas) dan seorang yang sangat kuat. Apabila dia berbicara maka perkataannya jelas, apabila memutuskan suatu hukum, maka ia memutuskannya dengan adil. Terpancar ilmu dari seluruh arah dirinya (yakni segala perbuatan, perkataan, gerak, dan diamnya dapat memberikan manfaat ilmu kepada orang lain), perkataan penuh hikmah juga terpancar dari segala arah dirinya. Dia suka menghindarkan diri dari dunia dan kenikmatannya (zuhud). Dia sangat akrab dengan malam dan kegelapannya (yakni hatinya merasa sangat senang untuk beribadah di malam hari yang gelap). Demi Allah dia adalah orang yang banyak menangis dan selalu berpikir panjang. Dia sering membalikkan telapak tangannya (ditunjukkan pada dirinya) sambil berkata pada dirinya sendiri (sebagai tanda penyesalan dan instropeksi diri). Dia menyenangi pakaian yang kasar dan makanan (roti) yang tebal lagi keras. Demi Allah, keadaannya seperti kami pada umumnya, dia mendekat pada kami jika kami mendatanginya, dia juga menjawab  pertanyaan kami jika kami  bertanya padanya (juga memenuhi permintaan kami jika kami meminta sesuatu kepadanya). Walaupun dia begitu dekat dengan kami dan kami pun begitu dekat dengannya, namun karena kepribadiannya yang penuh wibawa, maka kami tidak berani berbicara di depannya. Apabila dia sedang tersenyum maka giginya terlihat bagaikan untaian mutiara. Dia selalu memuliakan ahli agama (orang yang taat pada agama), menyayangi orang-orang miskin, sehingga orang kuat sekalipun tidak sanggup mencuranginya, dan orang lemah tidak berputus asa dari keadilannya. Demi Allah, aku bersaksi bahwa suatu ketika aku pernah melihat dia berdiri di sebagian sudut tempat dia biasa beribadah malam, sedang  ketika itu  malam  hampir melepas selimut kegelapannya dan bintang-bintang telah tenggelam, lalu dia masuk ke dalam mihrabnya sambil memegang janggutnya dan beliau duduk bersimpuh sambil menangis tersedu-sedu seperti orang yang telah digigit oleh kalajengking, dan menangis seperti seorang yang sedang dirundung kesedihan. Seakan-akan saat ini juga aku (Dhirar) sedang mendengarkan ratapannya. Berkali-kali dia berkata dengan penuh kerendahan di hadapan Allah, "Wahai Tuhan kami, wahai Tuhan kami!" Kemudian dia berkata kepada dunia yang fana ini, "Wahai dunia, mengapa kalian menipuku, mengapa pula kamu selalu muncul mendekatiku? Menjauhlah, menjauhlah kamu dariku! Tipulah orang lain selainku! Sesungguhnya aku sudah menceraikanmu dengan talak tiga. Karena umurmu sangat sebentar, majlismu sangat hina, dan kedudukanmu sangat rendah! … Ah …. ah …. ah! (Apa yang harus aku lakukan, alangkah ruginya aku ini)  karena perbekalan sangat  sedikit , sedangkan  perjalanan amat  panjang dan  penuh bahaya!?"

Mendengar kisah ini, Mu’awiyah tidak bisa lagi membendung air matanya sehingga meleleh dan membasahi janggutnya. Dia pun mengusap air matanya dengan ujung bajunya dan orang-orang yang hadir di dalam majlis itu pun menyadari dan ikut menangis. Akhirnya Mu’awiyah mengakui bahwa apa yang dikatakan oleh Dhirar itu benar, katanya, "Memang sesungguhnya demikianlah sesungguhnya Abul Hasan (Ali r.a.) itu, semoga Allah merahmatinya. Lalu dia bertanya, "Wahai Dhirar, bagaimana kesedihan yang kamu rasakan ketika dia wafat?" Dhirar menjawab, "Kesedihanku seperti seorang wanita yang menyaksikan anaknya yang hanya satu-satunya disembelih di atas pangkuannya, ibunya akan terus menerus menangis dan tidak akan hilang kesedihannya." Kemudian Dhirar pun bangkit dan keluar meninggalkan majlis Mu’awiyah. (HR. Abu Nu’aim dalam al-Hilyah jilid I halaman 84. Kisah seperti ini telah diriwayatkan pula Ibnul Abdil Bar dalam kitab al-Isti’aab jilid III halaman 44 dari al-Hirmazi, seseorang dari suku Hamda, dari Dhirar as-Sudai’)

Bersambung….. 

02 Juli 2007

Kisah Putera Khalifah Harun Ar Rasyid

 
Khalifah Harun Ar Rasyid rah.a mempunyai seorang putera sekitar enam belas tahun. Ia sering bergaul dengan para ahli zuhud dan tokoh-tokoh agama pada masa itu. Ia sering mengunjungi tanah kuburan, duduk di tepi kubur dan berkata, "Ada masanya ketika kamu tinggal di dunia ini dan kamu sebagai tuannya, tetapi ternyata dunia tidak melindungimu dan nasibmu berakhir di kubur. Seandainya aku tahu apa yang engkau alami sekarang ini, tentu aku ingin mengetahui apa yang kamu katakan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ditanyakan kepadamu."
 
Ia sering membaca syair :
 
Pemakaman menakutkanku setiap hari dan ratapan wanita-wanita yang berduka cita membuatku sedih.
 
Pada suatu hari, anak itu datang ke istana ayahnya Harun Ar Rasyid, yang sedang duduk bersama ajudan pribadinya, para pejabat dan tamu-tamu terhormat lainnya. Sedangkan puteranya itu berpakaian sangat sederhana, dengan sorban di kepalanya. Ketika orang-orang istana itu melihatnya demikian, mereka berkata, "Keadaan anak ini menghina Amirul Mukminin di hadapan para bangsawan, jika ia dapat memperingatkannya, mungkin anak itu akan menghentikan kebiasaannya."
 
Khalifah mendengar ucapan itu, maka ia berkata kepada anaknya, "Anakku sayang, engkau telah mempermalukanku di hadapan para bangsawan."
 
Anak itu tidak berkata sepatah katapun atas ucapan ayahnya. Bahkan ia memanggil seekor burung yang bertengger di dekat situ, "Wahai burung, aku memohon kepadamu, demi Dzat yang menciptakanmu, datanglah dan duduklah di atas tanganku."
 
Burung itu terbang menghampirinya dan hinggap di atas tangannya. Kemudian anak itu menyuruhnya terbang lagi, dan burung itu pun terbang lagi ke tempat semula. Kemudian ia berkata kepada ayahnya, "Ayahku sayang, sesungguhnya kecintaanmu kepada dunia inilah yang memalukan diriku. Aku telah memutuskan untuk berpisah denganmu." Setelah berkata demikian, ia pergi hanya berbekal Al Quran saja.
 
Ketika ia memohon pamit kepada ibunya, ibunya memberi sebuah cincin yang sangat indah dan mahal, (agar ia dapat menjualnya jika ia memerlukan uang). Anak laki-laki itu pergi ke Basrah, dan bekerja bersama para buruh. Namun ia hanya bekerja pada hari Sabtu saja. Dan ia gunakan upahnya sehari untuk satu minggu, dengan menggunakan (satu danaq) seperenam dirham setiap hari.
 
Kisah selanjutnya diceritakan oleh Abu Amir Bashri rah.a., ia berkata, "Pada suatu ketika, sebelah dinding rumahku roboh dan aku membutuhkan seorang tukang batu untuk memperbaikinya. Ada seseorang yang memberitahuku bahwa ada seorang anak laki-laki yang dapat mengerjakan pekerjaan tukang batu. Maka akupun mencarinya. Di luar kota, aku melihat seorang pemuda tampan sedang duduk di tanah sambil membaca al Quran dengan sebuah tas di sisinya. Aku menanyainya, apakah ia mau bekerja sebagai buruh? Ia menjawab, "Tentu, kita telah diciptakan untuk bekerja. Pekerjaan apakah yang tuan inginkan untukku?"
 
Kukatakan bahwa aku membutuhkan seorang tukang batu untuk mengerjakan bangunan. Ia berkata, "Aku mau asalkan upahku satu dirham dan satu danaq sehari. Dan aku akan berhenti kerja dan pergi ke masjid bila tiba waktu shalat, kemudian kulanjutkan pekerjaan tersebut setelah shalat." Aku menyetujuinya.
 
Akhirnya ia ikut bersamaku dan mulai mengerjakan dinding itu. Pada sore harinya, aku kembali, dan aku sangat terkejut melihat bahwa ia telah melakukan pekerjaan seperti sepuluh orang tukang batu yang mengerjakannya. Akupun memberinya dua dirham. Tetapi ia menolak upah yang melebihi satu dirham dan satu danaq. Kemudian ia pergi hanya dengan upah yang telah disetujui.
 
Keesokan paginya, aku pergi lagi mencarinya, tetapi aku diberi tahu bahwa ia hanya bekerja pada hari Sabtu saja. Dan tiada seorangpun yang dapat menemukannya pada hari-hari lainnya. Karena aku sangat puas dengan pekerjaannya, maka kuputuskan untuk menunda pembangunan dindingku pada Sabtu depan. Pada hari Sabtu itu, aku mencarinya lagi dan kudapati ia di tempat yang sama sedang membaca al Quran sebagaimana biasa. Aku mengucapkan salam kepadanya, "Assalamu Alaikum."
 
"Wa Alaikumus Salam." Balasnya.
 
Ia bersedia bekerja lagi untukku dengan syarat yang sama. Ia pun ikut bersamaku dan mulai mengerjakan dinding itu lagi.
 
Disebabkan rasa heranku, bagaimana ia dapat mengerjakan pekerjaan sepuluh orang pekerja seorang diri seperti pada hari Sabtu yang lalu, maka akupun mengintipnya bekerja tanpa sepengetahuannya. Aku melihatnya dengan sangat takjub, bahwa ketika ia meletakkan adukan semen di dinding, maka batu-batu itu dengan sendirinya menyatu. Akhirnya aku sadar dan meyakini bahwa anak itu adalah kekasih Allah Swt. Sebagaimana hamba-hamba-Nya yang khusus saja yang mendapatkan pertolongan ghaib seperti itu dari Allah Swt.
 
Sore harinya, aku ingin memberinya tiga dirham, tetapi ia hanya mengambil satu dirham dan satu danaq kemudian pergi, sambil berkata, "Aku tidak membutuhkan lebih dari ini." Aku menunggu minggu berikutnya, lalu aku mencarinya pada Sabtu berikutnya, tetapi aku tidak berhasil menemukannya.
 
Aku bertanya kepada orang-orang. Ada seorang laki-laki memberitahuku bahwa anak itu sedang mengalami sakit selama tiga hari dan berbaring di tempat yang sepi. Kemudian aku membayar seseorang untuk mengantarkanku ke tempat itu. Setibanya di sana, ia sedang berbaring di atas tanah tak sadarkan diri. Kepalanya berbantalkan sepotong batu. Aku menyalaminya, tetapi ia tidak membalasnya. Aku berkata, "Assalamu Alaikum." lebih keras lagi. Ia membuka matanya sedikit dan mengenaliku. Aku baringkan kepalanya di pangkuanku, tetapi ia kembali meletakkan kepalanya di atas batu, dan membaca beberapa syair. Dua diantaranya masih kuingat, berbunyi demikian :
 
"Wahai kawanku, janganlah engkau terpedaya dengan kemewahan dunia. Karena hidupku akan berlalu. Kemewahan hanyalah untuk sekejap mata. Dan bila engkau mengusung jenazah ke pemakaman, ingatlah suatu hari engkaupun akan diusung ke pemakaman."
 
Kemudian anak itu berkata kepadaku, "Abu Amir! Jika ruhku telah melayang, mandikanlah aku dan kafanilah aku dengan pakaian yang kupakai sekarang."
 
Sahutku, "Sayangku, aku tidak keberatan membelikan kain baru untuk kafanmu."
 
Ia berkata, "Orang yang masih hidup lebih menginginkan pakaian yang baru daripada yang mati."
 
Anak itu menambahkan, "Kafan (lama ataupun baru) akan segera membusuk. Yang tinggal dengan seseorang setelah kematian adalah amal perbuatannya. Berikan sorban dan kendi airku kepada penggali kuburku dan jika engkau telah memakamkanku, sampaikan al Quran dan cincin ini kepada khalifah Harun Ar Rasyid. Tolonglah agar langsung ke tangannya dan katakan kepadanya, "Benda-benda itu dipercayakan kepadaku oleh seorang lelaki asing yang memintaku untuk menyampaikannya kepada engkau dengan pesan, "Wahai ayah, perhatikanlah, jangan sampai engkau meninggal dalam kelalaian dan terpedaya oleh dunia."
 
Dengan kata-kata itu di bibirnya, anak itu meninggal dunia. Saat itu barulah kusadari bahwa anak itu adalah seorang pangeran.
 
Setelah wafat, akupun memandikannya, mengafaninya dan membaringkannya dalam kubur sesuai dengan pesannya. Lalu kuberikan sorban dan lothanya kepada penggali kuburnya. Kemudia aku pergi ke Baghdad untuk menyampaikan cincin dan al Quran kepada khalifah.
 
Sungguh beruntung, setibanya aku di sana, baru saja iringan khalifah keluar istana. Aku berdiri di sebuah tempat yang agak tinggi sambil memperhatikan pawai itu. Tidak lama kemudian keluarlah satu pasukan terdiri dari seribu orang berkuda, diikuti oleh sepuluh pasukan lagi yang masing-masing terdiri dari seribu orang berkuda.
 
Diantara pasukan yang terakhir, terlihatlah Amirul Mukminin, maka akupun langsung memanggilnya dengan berteriak, "Amirul Mukminin, aku mohon kepadamu, atas nama hubungan kekeluargaan dengan Rasulullah Saw., berhentilah sebentar."
 
Amirul Mukminin berhenti dan melihat sekeliling, lalu aku maju kedepannya dan menyerahkan kedua benda amanat dari almarhum putera pangeran itu, lalu aku berkata, "Benda-benda ini telah dipercayakan kepadaku oleh seorang pemuda asing yang kini telah meninggal dunia, ia berwasiat agar benda-benda ini disampaikan langsung ke tangan tuan."
 
Khalifah memandangi cincin dan al Quran itu sambil menundukkan kepalanya dengan sedih. Aku melihat air matanya mengalir, kemudian ia menyuruh pengurus istana untuk mengantarku ke istananya. Aku tinggal bersama pengurus istana itu.
 
Setelah khalifah kembali pada sore harinya. ia menyuruh agar tirai-tirai istana diturunkan, dan menyuruh pengurus istana agar agar membawaku ke hadapannya, kemudian ia berkata, "Lelaki itu hanya akan menimbulkan kesedihan bagiku."
 
Pengurus istana menemuiku dan berkata, "Amirul Mukminin memanggilmu, namun ingatlah, jiwanya sedang bergoncang. Jika engkau ingin mengatakan sesuatu dalam sepuluh kata, cobalah mengatakannya dengan lima kata saja."
 
Kemudian ia mengantarkanku ke kamar pribadi khalifah. Kulihat khalifah sedang duduk seorang diri, lalu ia menyuruhku untuk duduk di dekatnya. Ia bertanya kepadaku, "Apakah kamu mengenal anakku?"
 
Jawabku, "Ya." 
 
Ia bertanya, "Apa saja yang ia lakukan untuk menafkahi hidupnya?"
 
Kukatakan bahwa ia bekerja sebagai tukang batu. Amirul Mukminin bertanya, "Apakah engkau juga pernah mempekerjakannya sebagai tukang batu?"
 
Aku berkata, "Ya, pernah kulakukan."
 
Amirul Mukminin berkata, "Apakah tidak terpikir olehmu, bahwa ia berhubungan keluarga dengan Rasulullah Saw.?" (Harun Ar Rasyid adalah keturunan Abbas r.a. paman Rasulullah Saw.)
 
Jawabku, "Wahai Amirul Mukminin! Pertama aku memohon ampun kepada Allah Swt. dan aku meminta maaf kepadamu, karena aku mengetahuinya setelah ia meninggal dunia."
 
Khalifah berkata, "Apakah engkau memandikannya dengan tanganmu sendiri?"
 
Aku berkata, "Ya."
 
Ia berkata, "Biarlah kusentuh tanganmu." Kemudian ia memegang tanganku ke dadanya dan mengusap-usap dadanya dengan tanganku, lalu ia membaca beberapa bait syair yang bunyinya :
 
"Wahai engkau yang menjauhkan dariku.
 Hatiku larut dalam kesedihan atasmu.
 Mataku mengalirkan air mata penderitaan.
 Wahai engkau yang jauh pemakamannya.
 Terlalu jauh. Kesedihanmu lebih dekat di hatiku.
 Benar, kematian itu membingungkan kesenangan yang tertinggi di dunia.
 Wahai anakku yang menjauh dariku.
 Engkau bagai bulan yang tergantung di atas dahan perak.
 Bulan telah menetap di kubur, sedang dahan perak menjadi debu."
 
Kemudian Harun Ar Rasyid memutuskan untuk pergi ke Basrah mengunjungi makam puteranya dan aku menemaninya. Ketika berdiri di sisi makam puteranya, Harun Ar Rasyid membaca syair berikut ini :
 
"Wahai pengembara ke alam yang tidak diketahui.
 Tidak akan engkau kembali ke rumah.
 Kematian telah merengutmu di awal masa remajamu.
 Wahai penyejuk mataku, engkaulah pelipur laraku.
 Kediaman hatiku, di kesunyian.
 Engkau telah merasakan racun kematian.
 Yang seharusnya ayahmulah yang minum di usia tuanya.
 Sungguh setiap orang akan merasakan kematian.
 Apakah ia seorang pengembara atau penduduk kota.
 Segala puji bagi Allah Yang Esa. Yang tidak mempunyai sekutu.
 Karena ini adalah bukti dari keputusannya."
 
Pada malam berikutnya setelah menunaikan kebiasaan ibadah harianku, dalam tidurku aku bermimpi melihat sebuah istana berkubah penuh nur. Di atasnya ada awan dari nur yang menaunginya. Dari awan nur itu keluarlah suara almarhum pemuda itu yang berkata, "Abu Amir, Semoga Allah Swt. menganugerahimu pahala terbaik."
 
Aku bertanya kepadanya, "Sahabatku, apa yang telah engkau alami di alam sana?"
 
Ia berkata, "Aku telah diakui di hadapan Tuhanku Yang Maha Pemurah dan Yang merasa senang denganku. Ia telah memberiku karunia yang mata tidak pernah melihatnya, telinga tidak pernah mendengarnya dan akal tidak dapat memikirkannya."
 
Abdullah bin Mas’ud r.a. berkata, "Di dalam Taurat tertulis bahwa Allah Swt. menyiapkan suatu karunia bagi mereka yang meninggalkan tempat tidurnya untuk menangis kepada Tuhan mereka (dalam shalat Tahajjud) yang tidak pernah mata melihatnya, tidak pernah telinga mendengarnya, tidak pernah terpikirkan oleh akal seseorang dan tidak ada seorangpun atau malaikat yang mengetahuinya, dan tidak pernah diketahui oleh siapapun.  Allah Swt. berfirman di dalam al Quran :
AsSajdah
 
 
"Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan."
(As Sajdah ayat 17)
 
Kemudian arwah pemuda itu berkata kepadaku (dalam mimpi), "Allah Swt. telah berjanji kepadaku, bersumpah demi keagungan-Nya. bahwa Ia akan menganugerahi kehormatan dan karunia semacam itu kepada semua yang keluar dari dunia seperti aku, tanpa ternodai olehnya"
 
Penulis Raudh berkata bahwa kisah ini juga telah sampai kepadanya melalui periwayat yang lain. Ditambahkan dalam riwayat ini bahwa seseorang bertanya kepada Harun Ar Rasyid mengenai puteranya. Ia berkata, "Puteraku dilahirkan sebelum aku diangkat sebagai khalifah. Ia diasuh dan diajarkan adab dan sopan santun dengan sangat baik. Ia telah mempelajari al Quran dan ilmu-ilmu agama lainnya. Tetapi ketika aku diangkat menjadi khalifah, ia meninggalkanku dan pergi. Kebesaran duniawiku tidak memberikan kesenangan dalam hidupnya. Dan ia tidak ingin memanfaatkannya sedikitpun. Ketika ia akan pergi, aku meminta ibunya agar memberinya sebuah cincin mutiara yang indah. Namun ia menolak memakainya dan mengirimnya kembali sebelum ia wafat. Anak itu sangat patuh kepada ibunya." (Raudh) 
 
Harun Ar Rasyid rah.a, -yang puteranya tidak menyukai dunia- terkenal sebagai khalifah yang sangat shaleh dan budiman. Biasanya, jika seseorang memilki kekuasaan dan harta kekayaan, suka tergelincir dalam perbuatan-perbuatan buruk, tetapi sejarah membuktikan bahwa ia banyak terjun dalam hal agama. Selama masa kekhalifahannya, ia shalat nafil seratus rakaat setiap hari hingga wafatnya. Ia suka bersedekah dari saku pribadinya seribu dirham setiap hari. Ia juga memimpin pasukan jihad dan beribadah haji dua tahun sekali.
 
Apabila beribadah haji, ia membawa seratus alim ulama dan putera mereka bersamanya. Dan pada tahun-tahun ia berjihad, ia akan mengirim tiga ratus orang rakyatnya untuk pergi haji. Ia menanggung biaya-biaya perjalanan, makanan dan pakaian mereka. Ia memberikan pelayanan dan pakaian yang terbaik untuk mereka. Ia pun biasa memberi hadiah kepada siapapun yang meminta pertolongannya, dan menolong siapapun  atas  kehendaknya tanpa  diminta.  Ia sangat mencintai alim ulama, yang mendapat penghormatan tersendiri di istananya.
 
Suatu ketika, muhaddits terkenal Abu Muawiyah ad Dharir (bermakna yang buta) makan bersama Harun Ar Rasyid. Setelah makan, ketika ulama buta itu berdiri untuk mencuci tangannya, khalifah langsung mengucurkan air ke atas tangannya., dan berkata bahwa ia melakukan itu karena penghormatannya kepada ilmunya.
 
Abu Muawiyah ad Dharir rah.a. berkata, "Suatu ketika, pada saat aku menceritakan kepadanya tentang hadits Rasulullah Saw. tentang perdebatan antara Adam a.s. dan Musa a.s. ada seseorang laki-laki yang duduk di dekatnya berkata, "Di mana mereka telah bertemu?"
 
Mendengar hal ini, Harun Ar Rasyid langsung berseru marah, "Mana pedangku? Biar kupenggal leher orang zindiq ini. Ia berani membantah hadits Rasulullah Saw.?"
 
Dan Harun Ar Rasyid sering menangis keras bila ada nasehat yang ditujukan kepadanya. (Sejarah Baghdad- Al Khatib). 
 
Sumber : Fadhilah Sedekah - Maulana Muhammad Zakariyya Rah.a. 
21 Juni 2007

Ahmad Izzah Al-Andalusy

Filed under: kisah2 keimanan

Suatu sore, ditahun 1525. Penjara tempat tahanan orang-orang di situ terasa hening mencengkam. Jendral Adolf Roberto, pemimpin penjara yang terkenal bengis, tengah memeriksa setiap kamar tahanan. Setiap sipir penjara membungkukkan badannya rendah-rendah ketika ‘algojo penjara’ itu berlalu di hadapan mereka. Kalau tidak, sepatu ‘jenggel’ milik tuan Roberto yang fanatik Kristen itu akan mendarat di wajah mereka. Roberto marah besar ketika dari sebuah kamar tahanan terdengar seseorang mengumandangkan suara-suara yang amat ia benci. "Hai…hentikan suara jelekmu! Hentikan…!" Teriak Roberto sekeras-kerannya sembari membelalakkan mata. Namun apa yang terjadi? Laki-laki di kamar tahanan tadi tetap saja bersenandung dengan khusyu’nya. Roberto bertambah berang. Algojo penjara itu menghampiri kamar tahanan yang luasnya tak lebih sekadar cukup untuk satu orang. Dengan congak ia menyemburkan ludahnya ke wajah renta sang tahanan yang keriput hanya tinggal tulang. Tak puas sampai di situ, ia lalu menyulut wajah dan seluruh badan orang tua renta itu dengan rokoknya yang menyala. Sungguh ajaib… Tak terdengar secuil pun keluh kesakitan. Tahanan lain yang menyaksikan kebiadaban itu serentak bertakbir sambil berkata, "Bersabarlah wahai ustadz… InsyaAllah tempatmu di Syurga." Melihat kegigihan orang tua yang dipanggil ustadz oleh sesama tahanan, ‘algojo penjara’ itu bertambah memuncak amarahnya. Ia diperintahkan pegawai penjara untuk membuka sel, dan ditariknya tubuh orang tua itu keras-keras hingga terjerembab di lantai. "Hai orang tua busuk! Bukankah engkau tahu,aku tidak suka bahasa jelekmu itu?! Aku tidak suka apa-apa yang berhubung dengan agamamu! Ketahuilah orang tua dungu, bumi Spanyol ini kini telah berada dalam kekuasaan bapak kami, Tuhan Yesus. Anda telah membuat aku benci dan geram dengan ’suara-suara’ yang seharusnya tak pernah terdengar lagi di sini. Sebagai balasannya engkau akan kubunuh. Kecuali, kalau engkau mau minta maaf dan masuk agama kami."

Mendengar "khutbah" itu orang tua itu mendongakkan kepala, menatap Roberto dengan tatapan tajam dan dingin. Ia lalu berucap, "Sungguh.. .aku sangat merindukan kematian, agar aku segera dapat menjumpai kekasihku yang amat kucintai, Allah azza wa jalla. Bila kini aku berada di puncak kebahagiaan karena akan segera menemuiNya, patutkah aku berlutut kepadamu, hai manusia busuk? Jika aku turuti kemauanmu, tentu aku termasuk manusia yang amat bodoh." Baru saja kata-kata itu terhenti, sepatu lars Roberto sudah mendarat diwajahnya. Laki-laki itu terhuyung. Kemudian jatuh terkapar di lantai penjara dengan wajah bersimbah darah. Ketika itulah dari saku baju penjaranya yang telah lusuh, meluncur sebuah ‘buku kecil’. Adolf Roberto bermaksud memungutnya. Namun tangan sang Ustadz telah terlebih dahulu mengambil dan menggenggamnya erat-erat. "Berikan buku itu, hai laki-laki dungu!" bentak Roberto. "Haram bagi tanganmu yang kafir dan berlumuran dosa untuk menyentuh barang suci ini!" ucap sang ustadz dengan tatapan menghina pada Roberto. Tak ada jalan lain, akhirnya Roberto mengambil jalan paksa untuk mendapatkan buku itu.

Sepatu lars berbobot dua kilogram itu ia gunakan untuk menginjak jari-jari tangan sang ustadz yang telah lemah. Suara gemeretak tulang yang patah terdengar menggetarkan hati. Namun tidak demikian bagi Roberto. Laki-laki bengis itu malah merasa bangga mendengar gemeretak tulang yang terputus. Bahkan ‘algojo penjara’ itu merasa lebih puas lagi ketika melihat tetesan darah mengalir dari jari-jari musuhnya yang telah hancur. Setelah tangan renta itu tak berdaya, Roberto memungut buku kecil yang membuatnya penasaran. Perlahan Roberto membuka sampul buku yang telah lusuh. Mendadak algojo itu termenung. "Ah…sepertinya aku pernah mengenal buku ini. Tapi kapan? Ya, aku pernah mengenal buku ini." suara hati Roberto bertanya-tanya. Perlahan Roberto membuka lembaran pertama itu.

Pemuda berumur tiga puluh tahun itu bertambah terkejut tatkala melihat tulisan-tulisan "aneh" dalam buku itu. Rasanya ia pernah mengenal tulisan seperti itu dahulu. Namun, sekarang tak pernah dilihatnya di bumi Spanyol. Akhirnya Roberto duduk disamping sang ustadz yang telah melepas nafas-nafas terakhirnya. Wajah bengis sang algojo kini diliputi tanda tanya yang dalam. Mata Roberto rapat terpejam. Ia berusaha keras mengingat peristiwa yang dialaminya sewaktu masih kanak-kanak.

Perlahan, sketsa masa lalu itu tergambar kembali dalam ingatan Roberto. Pemuda itu teringat ketika suatu sore di masa kanak-kanaknya terjadi kericuhan besar di negeri tempat kelahirannya ini. Sore itu ia melihat peristiwa yang mengerikan di lapangan Inkuisisi (lapangan tempat pembantaian kaum muslimin di Andalusia). Di tempat itu tengah berlangsung pesta darah dan nyawa. Beribu-ribu jiwa tak berdosa berjatuhan di bumi Andalusia. Di hujung kiri lapangan,beberapa puluh wanita berhijab (jilbab) digantung pada tiang-tiang besi yang terpancang tinggi. Tubuh mereka bergelantungan tertiup angin sore yang kencang, membuat pakaian muslimah yang dikenakan berkibar-kibar di udara.

Sementara, di tengah lapangan ratusan pemuda Islam dibakar hidup-hidup pada tiang-tiang salib, hanya karena tidak mau memasuki agama yang dibawa oleh para rahib. Seorang bocah laki-laki mungil tampan, berumur tujuh tahunan, malam itu masih berdiri tegak di lapangan Inkuisisi yang telah senyap. Korban-korban kebiadaban itu telah syahid semua. Bocah mungil itu mencucurkan air matanya menatap sang ibu yang terkulai lemah di tiang gantungan. Perlahan-lahan bocah itu mendekati tubuh sang ummi yang sudah tak bernyawa, sembari menggayuti abayanya. Sang bocah berkata dengan suara parau, "Ummi, ummi, mari kita pulang. Hari telah malam. Bukankah ummi telah berjanji malam ini akan mengajariku lagi alif, ba, ta, tsa….? Ummi, cepat pulang ke rumah ummi…" Bocah kecil itu akhirnya menangis keras, ketika sang ummi tak jua menjawab ucapannya. Ia semakin bingung dan takut, tak tahu harus berbuat apa. Untuk pulang ke rumah pun ia tak tahu arah. Akhirnya bocaah itu berteriak memanggil bapaknya "Abi…Abi…Abi…" Namun ia segera terhenti berteriak memanggil sang bapak ketika teringat kemarin sore bapaknya diseret dari rumah oleh beberapa orang berseragam.

"Hai…siapa kamu?!" teriak segerombolan orang yang tiba-tiba mendekati sang bocah. "Saya Ahmad Izzah, sedang menunggu Ummi…" jawab sang bocah memohon belas kasih. "Hah…siapa namamu bocah, coba ulangi!" bentak salah seorang dari mereka. "Saya Ahmad Izzah…" sang bocah kembali menjawab dengan agak grogi. Tiba-tiba "plak! sebuah tamparan mendarat di pipi sang bocah. "Hai bocah…! Wajahmu bagus tapi namamu jelek. Aku benci namamu. Sekarang kuganti namamu dengan nama yang bagus. Namamu sekarang ‘Adolf Roberto’ ..Awas! Jangan kau sebut lagi namamu yang jelek itu. Kalau kau sebut lagi nama lamamu itu, nanti akan kubunuh!" ancam laki-laki itu. Sang bocah meringis ketakutan, sembari tetap meneteskan air mata. Anak laki-laki mungil itu hanya menurut ketika gerombolan itu membawanya keluar lapangan Inkuisisi. Akhirnya bocah tampan itu hidup bersama mereka.

Roberto sedar dari renungannya yang panjang. Pemuda itu melompat ke arah sang tahanan. Secepat kilat dirobeknya baju penjara yang melekat pada tubuh sang ustadz. Ia mencari-cari sesuatu di pusar laki-laki itu. Ketika ia menemukan sebuah ‘tanda hitam’ ia berteriak histeris, "Abi…Abi…Abi…" Ia pun menangis keras, tak ubahnya seperti Ahmad Izzah dulu. Fikirannya terus bergelut dengan masa lalunya. Ia masih ingat betul, bahwa buku kecil yang ada di dalam genggamannya adalah Kitab Suci milik bapanya, yang dulu sering dibawa dan dibaca ayahnya ketika hendak menidurkannya. Ia jua ingat betul ayahnya mempunyai ‘tanda hitam’ pada bahagian pusar. Pemuda beringas itu terus meraung dan memeluk erat tubuh renta nan lemah. Tampak sekali ada penyesalan yang amat dalam atas ulahnya selama ini. Lidahnya yang sudah berpuluh-puluh tahun alpa akan Islam, saat itu dengan spontan menyebut, "Abi… aku masih ingat alif, ba, ta, tsa…" Hanya sebatas kata itu yang masih terekam dalam benaknya.

Sang ustadz segera membuka mata ketika merasakan ada tetesan hangat yang membasahi wajahnya. Dengan tatapan samar dia masih dapat melihat seseorang yang tadi menyiksanya habis-habisan kini tengah memeluknya. "Tunjuki aku pada jalan yang telah engkau tempuhi Abi, tunjukkan aku pada jalan itu…" Terdengar suara Roberto memelas. Sang ustadz tengah mengatur nafas untuk berkata-kata, ia lalu memejamkan matanya. Air matanya pun turut berlinang. Betapa tidak, jika sekian puluh tahun kemudian, ternyata ia masih sempat berjumpa dengan buah hatinya, ditempat ini. Sungguh tak masuk akal. Ini semata-mata bukti kebesaran Allah SWT. Sang Abi dengan susah payah masih bisa berucap. "Anakku, pergilah engkau ke Mesir. Di sana banyak saudaramu. Katakan saja bahwa engkau kenal dengan Syaikh Abdullah Fattah Ismail Al-Andalusy. Belajarlah engkau di negeri itu," Setelah selesai berpesan sang ustadz menghembuskan nafas terakhir dengan berbekal kalimah indah "Asyahadu anla Illaaha ilAllah, wa asyahadu anna Muhammad Rasullullah…’. Beliau pergi dengan menemui Rabbnya dengan tersenyum, setelah sekian lama berjuang dibumi yang fana ini.

Kini Ahmad Izzah telah menjadi seorang alim di Mesir. Seluruh hidupnya dibaktikan untuk agamanya, Islam, sebagai ganti kekafiran yang di masa muda sempat disandangnya. Banyak pemuda Islam dari berbagai penjuru berguru dengannya Al-Ustadz Ahmad Izzah Al-Andalusy.

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, tetaplah atas fitrah ALlah yang telah menciptakan manusia menurut fitrahnya itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS.30:30)

Sumber : Kisah Islam  

01 Juni 2007

Wahyu Terakhir Kepada Rasulullah SAW

Filed under: kisah2 keimanan

Diriwayatkan bahwa surah Al-Maaidah ayat 3 diturunkan pada sesudah waktu ashar yaitu pada hari Jumaat di padang Arafah pada musim haji penghabisan [Wada’].

Pada masa itu Rasulullah SAW berada di Arafah di atas unta. Ketika ayat ini turun Rasulullah SAW tidak begitu jelas penerimaannya untuk mengingati isi dan makna yang terkandung dalam ayat tersebut. Kemudian Rasulullah SAW bersandar pada unta beliau, dan unta beliau pun duduk perlahan-lahan. Setelah itu turun malaikat Jibril AS dan berkata:

"Wahai Muhammad, sesungguhnya pada hari ini telah disempurnakan urusan agamamu, maka terputuslah apa yang diperintahkan oleh Allah SWT dan demikian juga apa yang terlarang olehnya. Oleh itu kamu kumpulkan para sahabatmu dan beritahu kepada mereka bahwa hari ini adalah hari terakhir aku bertemu dengan kamu."

Setelah Malaikat Jibril AS pergi maka Rasulullah SAW pun berangkat ke Mekah dan terus pergi ke Madinah.Setelah Rasulullah SAW mengumpulkan para sahabat beliau, maka Rasulullah SAW pun menceritakan apa yang telah diberitahu oleh malaikat Jibril AS. Apabila para sahabat mendengar hal yang demikian maka mereka pun gembira sambil berkata:

"Agama kita telah sempurna. Agama kila telah sempurna."

Apabila Abu Bakar ra. mendengar keterangan Rasulullah SAW itu, maka ia tidak dapat menahan kesedihannya maka ia pun kembali ke rumah lalu mengunci pintu dan menangis sekuat-kuatnya. Abu Bakar ra. menangis dari pagi hingga ke malam. Kisah tentang Abu Bakar ra. menangis telah sampai kepada para sahabat yang lain, maka berkumpullah para sahabat di depan rumah Abu Bakar ra. dan mereka berkata: "Wahai Abu Bakar, apakah yang telah membuat kamu menangis sehingga begini sekali keadaanmu? Seharusnya kamu merasa gembira sebab agama kita telah sempuma." Mendengarkan pertanyaan dari para sahabat maka Abu Bakar ra. pun berkata, "Wahai para sahabatku, kamu semua tidak tahu tentang musibah yang menimpa kamu, tidakkah kamu tahu bahwa apabila sesualu perkara itu telah sempurna maka akan kelihatanlah akan kekurangannya. Dengan turunnya ayat tersebut bahwa ia menunjukkan perpisahan kita dengan Rasulullah SAW. Hasan dan Husin menjadi yatim dan para isteri nabi menjadi janda."

Selelah mereka mendengar penjelasan dari Abu Bakar ra. maka sadarlah mereka akan kebenaran kata-kata Abu Bakar ra., lalu mereka menangis dengan sekuat-kuatnya. Tangisan mereka telah didengar oleh para sahabat yang lain, maka mereka pun terus memberitahu Rasulullah SAW tentang apa yang mereka lihat itu. Berkata salah seorang dari para sahabat, "Ya Rasulullah SAW, kami baru kembali dari rumah Abu Bakar ra. dan kami dapati banyak orang menangis dengan suara yang kuat di depan rumah beliau." Apabila Rasulullah SAW mendengar keterangan dari para sahabat, maka berubahlah muka Rasulullah SAW dan dengan bergegas beliau menuju ke rumah Abu Bakar ra.. Setelah Rasulullah SAW sampai di rumah Abu Bakar ra. maka Rasulullah SAW melihat kesemua mereka yang menangis dan bertanya, "Wahai para sahabatku, kenapakah kamu semua menangis?." Kemudian Ali ra. berkata, "Ya Rasulullah SAW, Abu Bakar ra. mengatakan dengan turunnya ayat ini membawa tanda bahwa waktu wafatmu telah dekat. Adakah ini benar ya Rasulullah?." Lalu Rasulullah SAW berkata: "Semua yang dikatakan oleh Abu Bakar ra. adalah benar, dan sesungguhnya waktu untuk aku meninggalkan kamu semua telah dekat".

Setelah Abu Bakar ra. mendengar pengakuan Rasulullah SAW, maka ia pun menangis sekuat tenaganya sehingga ia jatuh pingsan. Sementara ‘Ukasyah ra. berkata kepada Rasulullah SAW, ‘Ya Rasulullah, waktu itu saya anda pukul pada tulang rusuk saya. Oleh itu saya hendak tahu apakah anda sengaja memukul saya atau hendak memukul unta baginda." Rasulullah SAW berkata: "Wahai ‘Ukasyah, Rasulullah SAW sengaja memukul kamu." Kemudian Rasulullah SAW berkata kepada Bilal ra., "Wahai Bilal, kamu pergi ke rumah Fathimah dan ambilkan tongkatku ke mari." Bilal keluar dari masjid menuju ke rumah Fathimah sambil meletakkan tangannya di atas kepala dengan berkata, "Rasulullah telah menyediakan dirinya untuk dibalas [diqishash]."

Setelah Bilal sampai di rumah Fathimah maka Bilal pun memberi salam dan mengetuk pintu. Kemudian Fathimah ra. menyahut dengan berkata: "Siapakah di pintu?." Lalu Bilal ra. berkata: "Saya Bilal, saya telah diperintahkan oleh Rasulullah SAW unluk mengambil tongkat beliau."Kemudian Fathimah ra. berkata: "Wahai Bilal, untuk apa ayahku minta tongkatnya." Berkata Bilal ra.: "Wahai Fathimah, Rasulullah SAW telah menyediakan dirinya untuk diqishash." Bertanya Fathimah ra. lagi: "Wahai Bilal, siapakah manusia yang sampai hatinya untuk menqishash Rasulullah SAW?" Bilal ra. tidak menjawab perlanyaan Fathimah ra., Setelah Fathimah ra. memberikan tongkat tersebut, maka Bilal pun membawa tongkat itu kepada Rasulullah SAW Setelah Rasulullah SAW menerima tongkat tersebut dari Bilal ra. maka beliau pun menyerahkan kepada ‘Ukasyah.

Melihatkan hal yang demikian maka Abu Bakar ra. dan Umar ra. tampil ke depan sambil berkata: "Wahai ‘Ukasyah, janganlah kamu qishash baginda SAW tetapi kamu qishashlah kami berdua." Apabila Rasulullah SAW mendengar kata-kata Abu Bakar ra. dan Umar ra. maka dengan segera beliau berkata: "Wahai Abu Bakar, Umar duduklah kamu berdua, sesungguhnya Allah SWT telah menetapkan tempatnya untuk kamu berdua." Kemudian Ali ra. bangun, lalu berkata, "Wahai ‘Ukasyah! Aku adalah orang yang senantiasa berada di samping Rasulullah SAW oleh itu kamu pukullah aku dan janganlah kamu menqishash Rasulullah SAW" Lalu Rasulullah SAW berkata, "Wahai Ali duduklah kamu, sesungguhnya Allah SWT telah menetapkan tempatmu dan mengetahui isi hatimu." Setelah itu Hasan dan Husin bangun dengan berkata: "Wahai ‘Ukasyah, bukankah kamu tidak tahu bahwa kami ini adalah cucu Rasulullah SAW, kalau kamu menqishash kami sama dengan kamu menqishash Rasulullah SAW" Mendengar kata-kata cucunya Rasulullah SAW pun berkata, "Wahai buah hatiku duduklah kamu berdua." Berkata Rasulullah SAW "Wahai ‘Ukasyah pukullah saya kalau kamu hendak memukul."

Kemudian ‘Ukasyah berkata: "Ya Rasulullah SAW, anda telah memukul saya sewaktu saya tidak memakai baju." Maka Rasulullah SAW pun membuka baju. Setelah Rasulullah SAW membuka baju maka menangislah semua yang hadir. Setelah ‘Ukasyah melihat tubuh Rasulullah SAW maka ia pun mencium beliau dan berkata, "Saya tebus anda dengan jiwa saya ya Rasulullah SAW, siapakah yang sanggup memukul anda. Saya melakukan begini adalah sebab saya ingin menyentuh badan anda yang dimuliakan oleh Allah SWT dengan badan saya. Dan Allah SWT menjaga saya dari neraka dengan kehormatanmu." Kemudian Rasulullah SAW berkata, "Dengarlah kamu sekalian, sekiranya kamu hendak melihat ahli syurga, inilah orangnya." Kemudian semua para jemaah bersalam-salaman atas kegembiraan mereka terhadap peristiwa yang sangat genting itu. Setelah itu para jemaah pun berkata, "Wahai ‘Ukasyah, inilah keuntungan yang paling besar bagimu, engkau telah memperolehi derajat yang tinggi dan bertemankan Rasulullah SAW di dalam syurga."

Apabila ajal Rasulullah SAW makin dekat maka beliau pun memanggil para sahabat ke rumah Aisyah ra. dan beliau berkata: "Selamat datang kamu semua semoga Allah SWT mengasihi kamu semua, saya berwasiat kepada kamu semua agar kamu semua bertaqwa kepada Allah SWT dan mentaati segala perintahNya. Sesungguhnya hari perpisahan antara saya dengan kamu semua hampir dekat, dan dekat pula saat kembalinya seorang hamba kepada Allah SWT dan menempatkannya di syurga. Kalau telah sampai ajalku maka hendaklah Ali yang memandikanku, Fadhl bin Abbas hendaklah menuangkan air dan Usamah bin Zaid hendaklah menolong keduanya. Setelah itu kamu kafanilah aku dengan pakaianku sendiri apabila kamu semua menghendaki, atau kafanilah aku dengan kain yaman yang putih. Apabila kamu memandikan aku, maka hendaklah kamu letakkan aku di atas balai tempat tidurku dalam rumahku ini. Setelah itu kamu semua keluarlah sebentar meninggalkan aku. Pertama yang akan menshalatkan aku ialah Allah SWT, kemudian yang akan menshalati aku ialah Jibril AS, kemudian diikuti oleh malaikat Israfil, malaikat Mikail, dan yang akhir sekali malaikat lzrail berserta dengan semua para pembantunya. Setelah itu baru kamu semua masuk bergantian secara berkelompok bershalat ke atasku."

Setelah para sahabat mendengar ucapan yang sungguh menyayat hati itu maka mereka pun menangis dengan nada yang keras dan berkata, "Ya Rasulullah SAW anda adalah seorang Rasul yang diutus kepada kami dan untuk semua, yang mana selama ini anda memberi kekuatan dalam penemuan kami dan sebagai penguasa yang menguruskan perkara kami. Apabila anda sudah tiada nanti kepada siapakah akan kami tanya setiap persoalan yang timbul nanti?." Kemudian Rasulullah SAW berkata, "Dengarlah para sahabatku, aku tinggalkan kepada kamu semua jalan yang benar dan jalan yang terang, dan telah aku tinggalkan kepada kamu semua dua penasihat yang satu daripadanya pandai bicara dan yang satu lagi diam sahaja. Yang pandai bicara itu ialah Al-Quran dan yang diam itu ialah maut. Apabila ada sesuatu persoalan yang rumit di antara kamu, maka hendaklah kamu semua kembali kepada Al-Quran dan Hadits-ku dan sekiranya hati kamu itu berkeras maka lembutkan dia dengan mengambil pelajaran dari mati."

Setelah Rasulullah SAW berkata demikian, maka sakit Rasulullah SAW bermula. Dalam bulan safar Rasulullah SAW sakit selama 18 hari dan sering diziaiahi oleh para sahabat. Dalam sebuah kitab diterangkan bahwa Rasulullah SAW diutus pada hari Senin dan wafat pada hari Senin. Pada hari Senin penyakit Rasulullah SAW bertambah berat, setelah Bilal ra. menyelesaikan azan subuh, maka Bilal ra. pun pergi ke rumah Rasulullah SAW. Sesampainya Bilal ra. di rumah Rasulullah SAW maka Bilal ra. pun memberi salam, "Assalaarnualaika ya Rasulullah." Lalu dijawab oleh Fathimah ra., "Rasulullah SAW masih sibuk dengan urusan beliau." Setelah Bilal ra. mendengar penjelasan dari Fathimah ra. maka Bilal ra. pun kembali ke masjid tanpa memahami kata-kata Fathimah ra. itu. Apabila waktu subuh hampir hendak lupus, lalu Bilal pergi sekali lagi ke rumah Rasulullah SAW dan memberi salam seperti permulaan tadi, kali ini salam Bilal ra. telah di dengar oleh Rasulullah SAW dan baginda berkata, "Masuklah wahai Bilal, sesungguhnya penyakitku ini semakin berat, oleh itu kamu suruhlah Abu Bakar mengimamkan shalat subuh berjemaah dengan mereka yang hadir." Setelah mendengar kata-kata Rasulullah SAW maka Bilal ra. pun berjalan menuju ke masjid sambil meletakkan tangan di atas kepala dengan berkata: "Aduh musibah."

Setelah Bilal ra. sarnpai di masjid maka Bilal ra. pun memberitahu Abu Bakar tentang apa yang telah Rasulullah SAW katakan kepadanya. Abu Bakar ra. tidak dapat menahan dirinya apabila ia melihat mimbar kosong maka dengan suara yang keras Abu Bakar ra. menangis sehingga ia jatuh pingsan. Melihatkan peristiwa ini maka riuh rendah tangisan sahabat dalam masjid, sehingga Rasulullah SAW bertanya kepada Fathimah ra.; "Wahai Fathimah apakah yang telah berlaku?." Maka Fathimah ra. pun berkata: "Kekecohan kaum muslimin, sebab anda tidak pergi ke masjid." Kemudian Rasulullah SAW memanggil Ali ra. dan Fadhl bin Abas ra., lalu Rasulullah SAW bersandar kepada kedua mereka dan terus pergi ke masjid. Setelah Rasulullah SAW sampai di masjid maka beliau pun bershalat subuh bersama dengan para jemaah.

Setelah selesai shalat subuh maka Rasulullah SAW pun berkata, "Wahai kaum muslimin, kamu semua senantiasa dalam pertolongan dan pemeliharaan Allah, oleh itu hendaklah kamu semua bertaqwa kepada Allah SWT dan mengerjakan segala perintahnya. Sesungguhnya aku akan meninggalkan dunia ini dan kamu semua, dan hari ini adalah hari pertama aku di akhirat dan hari terakhir aku di dunia." Setelah berkata demikian maka Rasulullah SAW pun pulang ke rumah beliau. Kemudian Allah SWT mewahyukan kepada malaikat lzrail AS, "Wahai lzrail, pergilah kamu kepada kekasihku dengan sebaik-baik rupa, dan apabila kamu hendak mencabut ruhnya maka hendaklah kamu melakukan dengan cara yang paling lembut sekali. Apabila kamu pergi ke rumahnya maka minta izinlah lerlebih dahulu, kalau ia izinkan kamu masuk, maka masukiah kamu ke rumahnya dan kalau ia tidak mengizinkan kamu masuk maka hendaklah kamu kembali padaku."

Setelah malaikat lzrail mendapat perintah dari Allah SWT maka malaikal lzrail pun turun dengan menyerupai orang Arab Badwi. Setelah malaikat lzrail sampai di depan rumah Rasulullah SAW maka ia pun memberi salam, "Assalaamu alaikum yaa ahla baitin nubuwwati wa ma danir risaalati a adkhulu?" (Mudah-mudahan keselamatan tetap untuk kamu semua sekalian, wahai penghuni rumah nabi dan sumber risaalah, bolehkan saya masuk?) Apabila Fathimah mendengar orang memberi salam maka ia-pun berkata; "Wahai hamba Allah, Rasulullah SAW sedang sibuk sebab sakitnya yang semakin berat." Kemudian malaikat lzrail berkata lagi seperti dipermulaannya, dan kali ini seruan malaikat itu telah didengar oleh Rasulullah SAW dan Rasulullah SAW bertanya kepada Fathimah ra., "Wahai Fathimah, siapakah di depan pintu itu." Maka Fathimah ra. pun berkata, "Ya Rasulullah, ada seorang Arab badwi memanggil mu, dan aku telah katakan kepadanya bahwa anda sedang sibuk sebab sakit, sebaliknya dia memandang saya dengan tajam sehingga terasa menggigil badan saya." Kemudian Rasulullah SAW berkata; "Wahai Fathimah, tahukah kamu siapakah orang itu?." Jawab Fathimah,"Tidak ayah." "Dia adalah malaikat lzrail, malaikat yang akan memutuskan segala macam nafsu syahwat yang memisahkan perkumpulan-perkumpulan dan yang memusnahkan semua rumah serta meramaikan kubur." Fathimah ra. tidak dapat menahan air matanya lagi setelah mengetahui bahwa saat perpisahan dengan ayahandanya akan berakhir, dia menangis sepuas-puasnya. Apabila Rasulullah SAW mendengar tangisan Falimah ra. maka beliau pun berkata: "Janganlah kamu menangis wahai Fathimah, engkaulah orang yang pertama dalam keluargaku akan bertemu dengan aku." Kemudian Rasulullah SAW pun mengizinkan malaikat lzrail masuk. Maka malaikat lzrail pun masuk dengan mengucap, "Assalamuaalaikum ya Rasulullah." Lalu Rasulullah SAW menjawab: "Wa alaikas saalamu, wahai lzrail engkau datang menziarahi aku atau untuk mencabut ruhku?" Maka berkata malaikat lzrail: "Kedatangan saya adalah untuk menziarahimu dan untuk mencabut ruhmu, itupun kalau engkau izinkan, kalau engkau tidak izinkan maka aku akan kembali." Berkata Rasulullah SAW, "Wahai lzrail, di manakah kamu tinggalkan Jibril?" Berkata lzrail: "Saya tinggalkan Jibril di langit dunia, para malaikat sedang memuliakan dia." Tidak beberapa lama kemudian Jibril AS pun turun dan duduk di dekat kepala Rasulullah SAW.

Apabila Rasulullah SAW melihat kedatangan Jibril AS maka Rasulullah SAW pun berkata: "Wahai Jibril, tahukah kamu bahwa ajalku sudah dekat" Berkata Jibril AS, "Ya aku tahu." Rasulullah SAW bertanya lagi, "Wahai Jibril, beritahu kepadaku kemuliaan yang menggembirakan aku disisi Allah SWT" Berkata Jibril AS, "Sesungguhnya semua pintu langit telah dibuka, para malaikat bersusun rapi menanti ruhmu dilangit. Kesemua pintu-pintu syurga telah dibuka, dan kesemua bidadari sudah berhias menanti kehadiran ruhmu." Berkata Rasulullah SAW: "Alhamdulillah, sekarang kamu katakan pula tentang umatku di hari kiamat nanti." Berkata Jibril AS, "Allah SWT telah berfirman yang bermaksud,

"Sesungguhnya aku telah melarang semua para nabi masuk ke dalam syurga sebelum engkau masuk terlebih dahulu, dan aku juga melarang semua umat memasuki syurga sebelum umatmu memasuki syurga."

Berkata Rasulullah SAW: "Sekarang aku telah puas hati dan telah hilang rasa susahku." Kemudian Rasulullah SAW berkata: "Wahai lzrail, mendekatlah kamu kepadaku." Selelah itu Malaikat lzrail pun memulai tugasnya, apabila ruh beliau sampai pada pusat, maka Rasulullah SAW pun berkata: "Wahai Jibril, alangkah dahsyatnya rasa mati." Jibril AS mengalihkan pandangan dari Rasulullah SAW apabila mendengar kata-kata beliau itu. Melihatkan telatah Jibril AS itu maka Rasulullah SAW pun berkata: "Wahai Jibril, apakah kamu tidak suka melihat wajahku?" Jibril AS berkata: "Wahai kekasih Allah, siapakah orang yang sanggup melihat wajahmu dikala kamu dalam sakaratul maut?" Anas bin Malik ra. berkata: "Apabila ruh Rasulullah SAW telah sampai di dada beliau telah bersabda,

"Aku wasiatkan kepada kamu agar kamu semua menjaga shalat dan apa-apa yang telah diperintahkan ke atasmu."

Ali ra. berkata: "Sesungguhnya Rasulullah SAW ketika menjelang saat-saat terakhir, telah mengerakkan kedua bibir beliau sebanyak dua kali, dan saya meletakkan telinga, saya dengar Rasulullah SAW berkata: "Umatku, umatku." Telah bersabda Rasulullah SAW bahwa: "Malaikat Jibril AS telah berkata kepadaku; "Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah SWT telah menciptakan sebuah laut di belakang gunung Qaf, dan di laut itu terdapat ikan yang selalu membaca shalawat untukmu, kalau sesiapa yang mengambil seekor ikan dari laut tersebut maka akan lumpuhlah kedua belah tangannya dan ikan tersebut akan menjadi batu."

28 Mei 2007

Kisah Seorang Hamba Dan Anjingnya

Filed under: kisah2 keimanan

Bismillaahirrohmaanirrohiim..

Saya pernah menyinggung sedikit tentang seorang hamba yang membagikan makanan kepada anjingnya, dalam postingan ‘makanan yang terburuk’. Sekarang saya ingin menceritakan kisah lengkapnya. Berikut kisahnya: 

Suatu hari Abdullah bin Ja’far r.a. melewati sebuah kebun buah-buahan di Madinah Al Munawwarah yang dijaga seorang hamba dari Habasyah. Abdullah bin Ja’far melihat hamba itu sedang makan di hadapan seekor anjing yang duduk di depannya. Setiap kali si hamba itu memasukkan sepotong makanan ke mulutnya, ia melemparkan sepotong yang sama besar kepada anjing itu. Ibnu Ja’far terus memperhatikannya. Setelah selesai makan, ia menghampiri hamba itu lalu bertanya, "Siapa majikanmu?"

Hamba itu menjawab bahwa majikannya adalah keluarga Ustman r.a. Ja’far berkata, "Saya melihatmu berbuat aneh."

"Apa?" kata si hamba itu. 

Kata Ja’far, "Setiap potongan makanan yang kamu makan, lalu kamu memberi sepotong lainnya kepada anjingmu."

Hamba itu berkata,"Anjing ini telah menemani saya bertahun-tahun, maka saya harus memberikan bagian yang adil dari makanan saya."

Ibnu Ja’far r.a. berkata,"Seekor anjing dapat diberi makanan yang lebih rendah mutunya."

Hamba itu berkata,"Saya malu di hadapan Allah, saya makan sementara itu satu mahkluk-Nya memandang saya dengan pandangan lapar." 

Setelah peristiwa itu, Abdullah bin Ja’far menemui keluarga Ustman r.a. dan berkata,"Aku datang untuk memohon kebaikan kalian."

Mereka bertanya,"Beritahu kami kebaikan apa itu?" 

Ia menjawab,"Juallah kebun kalian itu kepadaku."

Mereka berkata, "Kami akan sangat senang jika dapat menghadiahkan kebun itu kepadamu. Terimalah kebun itu sebagai hadiah."

"Tidak, aku harus membelinya." Sahut Ibnu Ja’far.

Akhirnya disepakatilah harga kebun itu dan dibeli oleh Ibnu Ja’far r.a., lalu ia berkata, "Aku juga ingin membeli hamba pekerja kebun itu."

Namun mereka menjawab,"Maafkan kami, hamba itu telah tinggal bersama kami sejak kanak-kanak. Akan sangat sulit bagi kami untuk berpisah dengannya."

Ibnu Ja’far r.a. terus mendesaknya sehingga akhirnya ia mendapatkan hamba itu bersamanya. Setelah selesai melakukan jual beli itu, Ibnu Ja’far berkata kepada hamba itu,"Aku telah membeli  kebun ini juga dirimu."

Hamba itu berkata,"Selamat, semoga Allah Swt. memberkahimu. Saya hanya merasa sedih karena harus berpisah dengan tuan saya yang telah memelihara saya sejak kecil."

Abdullah bin Ja’far berkata, "Aku memerdekakanmu, dan kebun ini pun saya hadiahkan kepadamu."

Mendengar hal itu hamba itu berkata,"Jika demikian, saya mohon agar engkau bersaksi bahwa saya mewakafkan kebun itu bagi keturunan Utsman r.a.." 

Abdullah bin Ja’far r.a. berkata, "Saya sangat terkejut mendengarnya, lalu saya pulang dan mendo’akan agar Allah Swt. memberkahinya." (Musa-miraat)

Dalam kisah tersebut, menurut anda siapakah yang paling dermawan? Abdullah bin Ja’far, Keluarga Ustman ataukah hamba sahaya yang seorang Habsyi? Semoga Allah Swt. melimpahkan kasih sayang-Nya kepada kita semua sehingga kita diberikan sifat dermawan seperti Allah Swt. memberikan kepada orang-orang yang shaleh terdahulu. amin. emoticon

27 Mei 2007

Asy Syawqu Ilaa Al-Jannah (Merindukan Surga)

Thabrani mentakhrijkan dari Ibnu ‘Umar ra. (yang maksudnya kurang lebih -p), dia berkata, " Seorang laki-laki dari Habasyah datang kepada Rasulullah SAW. Maka berkatalah Rasulullah SAW, ‘bertanyalah dan pahamkanlah!’. Ia lalu berkata, ‘Ya Rasulullah! Engkau telah dimuliakan dari kami dengan rupamu, dengan keturunanmu, dengan kenabianmu. Apakah jika aku beriman dengan apa yang engkau telah beriman dan ber’amal dengan apa yang engkau telah amalkan apakah aku akan bersama mu di dalam Jannah?’. Berkata Rasulullah SAW, "na’am, dan orang yang dirinya seperti ini (berkulit hitam) sesungguhnya dia terlihat putih di Jannah sejauh seribu tahun perjalanan".

Kemudian Rasulullah SAW berkata, "barangsiapa mengucapkan laa ilaaha illallaah, bersamanya janji Allah dan siapa yang mengucapkan Subhanallahi wabihamdihi dituliskan baginya seratus duapuluh empat ribu (124.000) hasanah". Maka laki-laki itu berkata, "bagaimana keadaanku setelah ini ya Rasulullah?" Maka berkata Rasulullah SAW, "sesungguhnya seorang lelaki mendatangi hari kiamat dengan ‘amal …". Kemudian dibacakan oleh Rasulullah SAW surah berikut yaitu surah Al-insaan ayat 1 hingga ayat 20.

Orang Habsyi itu bertanya lagi, "dan apakah mata ini akan melihat apa yang akan engkau lihat di dalam Jannah?" Berkatalah Rasulullah, "na’am". Maka orang Habsyi itu menangis sehinggalah ia meninggal dunia (yakni keluarlah ruhnya)…
(Tafsir Ibnu Katsir)

Di dalam riwayat yang lain bersabda Rasulullah SAW terhadap lelaki habsyi tersebut, "Telah keluarlah ruh sahabatmu ini (saudaramu ini) dikarenakan Asy Syauqu ilaa Al-Jannah, rindukan jannah. (HR Ahmad)

Kita sama-sama tahu bahwa surga adalah sebaik-baik tempat sesudah kehidupan dunia ini. Surga adalah sebuah tempat yang dijanjikan Allah Swt. kepada hambaNya yang diijinkan memasukinya kelak, jika manusia memilki syarat sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan oleh Allah Swt. Surga adalah suatu tempat yang ghaib sifatnya, setidaknya pada saat ini kita menganggapnya ghaib, karena tidak nampak oleh mata manusia. Namun dengan sifat ghaib yang dimilki oleh surga manusia musti meyakini keberadaannya. Banyak hadits-hadits dari Rasulullah Saw. yang mengabarkan tentang keberadaan surga dengan segala macam kenikmatan yang tidak pernah sedikitpun terbayangkan dan terbetik dalam pikiran manusia, baik manusia di jaman Rasulullah Saw. dulu atau manusia di jaman modern sekarang ini.  Manusia hanya mampu mengira-ngira dengan akal dan hatinya. Kehebatan alam surga begitu luar biasa sehingga manusia tak mampu menciptakan keindahan surga dalam akal dan pikirannya. Sabda-sabda Rasulullah saw. tentang surga adalah benar adanya. Akan tetapi akal manusia terlalu lemah sehingga kehebatan surga yang sesungguhnya tak pernah bisa membayangkannya. Rasulullah Saw. yang mulia dan tinggi kedudukannya di sisi Allah Swt. pernah di perlihatkan tentang indahnya surga. Bahwa di dalam surga semua serba lezat dan indah. Tak ada sedikitpun kesusahan yang akan menimpa kepada penduduk surga. Semua penduduk surga akan merasakan kenikmatan yang luar biasa tanpa terkecuali. Kenikmatan-kenikmatan yang ada di dalam surga ribuan, jutaan bahkan milyaran kali dari kenikmatan yang pernah manusia rasakan di dunia ini. Sangat pantas dan sangat mungkin jika dulu para sahabat Ra.hum. tercengang dan terheran-heran dengan pengkabaran surga oleh Rasulullah Saw. Hingga ketika mereka mendengar betapa indahnya surga serasa mereka tak mau hidup di dunia lagi. Dalam kisah di atas menceritakan seorang sahabat yang begitu rindu akan indahnya surga. Rasa rindu yang begitu dalam hingga mampu menyebabkan sahabat tersebut meninggal dunia. Kita bisa bayangkan kesan dari cerita Rasulullah saw. kepada sahabat ra.hum. Jika anda bercerita tentang sesuatu yang luar biasa dan sesuatu yang menimbulkan semangat maka orang akan terpengaruh dengan cerita anda. Akan tetapi pengaruh dan kesan cerita anda hanya sebatas kemampuan memberi semangat dan dorongan hingga orang yang mendengar cerita anda akan bergairah melakukan sesuatu yang anda inginkan tanpa menimbulkan kematian. Sebaliknya kisah di atas adalah sesuatu yang sangat luar biasa, dan yang diceritakan pun juga sangat luar biasa, yaitu surga. Dan yang menceritakanpun orang yang sangat luar biasa dan memilki kemuliaan di sisi Allah Swt. yaitu Rasulullah saw. Yang mendengarkanpun juga orang yang luar biasa. Mereka adalah para sahabat, yakni orang-orang yang telah dipilih oleh Allah Swt. untuk menjadi iktibar atau contoh kepada semua manusia.

Satu sahabat pernah datang kepada Rasulullah saw. yaitu sahabat Haritsah r.a. Dia datang kepada Rasulullah Saw, dan menyatakan keimanannya. Dia berkata, "Ya Rasulullah, sesungguhnya aku telah benar-benar beriman." Maka Rasulullah saw. bertanya, "Wahai Haritsah, sesungguhnya dalam setiap sesuatu ada hakekatnya, lalu apa hakekat iman kamu?" Haritsah menjawab, "Ya Rasulullah, di siang hari aku berpuasa dan di malam hari aku menangis kepada Allah Swt. maka seolah-olah aku melihat penduduk surga tengah saling berkunjung dan mengucapkan salam satu sama lain sementara ahli neraka saling menggonggong satu sama lain seperti anjing yang mengonggong" Maka Rasulullah saw. menjawab, "Wahai Haritsah, sesungguhnya  engkau telah benar-benar beriman, maka jagalah iman kamu."

Kehebatan iman para sahabat ra.hum. banyak sekali diceritakan dalam kisah kehidupan para sahabat. Kehebatan iman para sahabat ra.hum mampu meraba dan melihat keadaan alam akhirat. Termasuk surga yang menjadi kerinduan para sahabat, sehingga segala aktivitas kegiatan sehari-hari mereka surga adalah menjadi target dan pilihan dalam menentukan hidup dan cara hidupnya. Dikatakan walau mereka adalah penduduk bumi tapi amalan mereka adalah amalan kampung akhirat. Semua sahabat begitu mencintai akhirat sebagai tempat tujuan hidup mereka. Sehingga gelar mereka adalah gelar dalam hal amalan. Bukan gelar seperti manusia di jaman modern sekarang ini. Mereka adalah ahli dalam hal amal. Mereka adalah ahli sedekah, ahli tahajud, ahli jihad, ahli menangis karena takut Allah, ahli dalam tawakkal, ahli dalam bersyukur, ahli dalam menjaga pandangan, ahli muamalah,ahli dalam bermuasyarah, ahli dalam hal ibadah, ahli dalam akhlaq, ahli dalam hal berbuat adil, ahli dalam mencintai Allah Swt., ahli dalam mencintai Rasulnya Saw., ahli dalam sunnah dan lain sebagainya.  Semua perilaku sahabat menunjukkan keghairahan dalam mengamalkan islam secara sempurna. Sehingga keridhoan Allah swt datang kepada para sahabat. Bahkan banyak ayat-ayat al Quran yang turun berkenaan dengan kehidupan para sahabat. Sahabat ra.hum begitu rindu dengan kampung akhirat. bagaimana dengan kita? Apakah kita selalu merindukan kampung akhirat? Lalu jika sudah rindu, apakah amalan kita sudah menyamai amalan sahabat?

Dikatakan bahwa surga tanahnya subur, pohonnya tumbuh dari ucapan dzikrullah. Satu subhanallah yang kita ucapkan akan menumbuhkan satu pohon, yang besar pohon tersebut apabila ada kuda tercepat yang berlari selama 40 tahun maka belum selesailah kuda tersebut mengitarinya. Rumah ahli surga adalah istana-istana yang terbuat dari batu jamrud dan permata hijau. lantainya terbuat dari emas. Di dalamnya terdapat ranjang-ranjang, gelas serta piring yang terbuat dari emas. Ahli surga akan dilayani oleh pelayan-pelayan surga yang muda lagi tampan. Mereka siap melayani ahli surga dengan  suka rela. Minuman ahli surga adalah susu, madu, arak yang tidak memabukkan. Minuman surga terasa lebih manis dari madu, lebih jernih dari air dunia, lebih dingin dari es. Setiap meneguknya maka tidak akan haus selama-lamanya. Makanan ahli surga adalah daging burung yang nikmat. Kenikmatan makanan surga adalah sekali gigitan terasa nikmat, maka setiap gigitan berikutnya akan terasa lebih nikmat dari gigitan sebelumnya. Semakin dimakan maka semakin nikmatlah makanan surga. Makanan surga tidak menjadi kotoran seperti makanan di dunia. Makanan surga akan menjadi keringat yang baunya wangi. Di surga penuh dengan buah-buahan yang Allah Swt janjikan. Semua penduduk surga bebas menikmati makanan dan minuman serta buah-buahan yang ada di surga. Penduduk surga tidak akan merasakan sakit sedikitpun. Pendek kata tidak ada kesusahan yang menimpa ahli surga. Surga adalah tempat melampiaskan nafsu syahwat. Bidadari-bidadari surga terlihat cantik yang kecantikannya tidak pernah terbayangkan oleh penduduk bumi. Dikatakan jika ujung jari bidadari surga dinampakkan ke muka bumi, maka matahari akan menjadi redup. Setiap bidadari surga mempunyai pelayan-pelayan. Jumlah pelayan bidadari surga adalah 70.000 di sebelah kanan dan 70.000 di sebelah kiri. Jika satu orang pelayan bidadari surga turun ke bumi, maka semua laki-laki di dunia akan berebut untuk mendapatkannya. Setiap bidadari memiliki 70 lapis pakaian sutra dan 70 macam warna yang tembus pandang hingga ke tulang sumsumnya. Bidadari surga diperuntukkan kepada setiap laki-laki ahli surga yang didunia adalah ahli dalam taat dan beribadah kepada Allah Swt.  Setiap laki-laki surga menginginkan untuk berhubungan dengan bidadari surga maka kenikmatannya akan terasa 2,5 juta kali lebih nikmat dari kenikmatan hubungan suami istri di dunia. Ahli surga tidak ada yang tua, semua berusia muda. Berpakaian hijau dari sutera. Suara ahli surga semerdu suara nabi Daud a.s. Ketampanan ahli surga seperti nabi Yusuf a.s.. Ahklaq penduduk surga adalah sebagaimana akhlaq Rasulullah Saw.. Musik di surga adalah gesekan daun-daun pohon yang suaranya jauh lebih indah dari musik yang paling indah yang pernah ada di dunia. Begitulah kira-kira sebagian kecil kenikmatan yang akan dirasakan oleh ahli surga. Wallaahu a’lam..

Jika anda mengetahui lebih banyak lagi tentang keberadaan surga dari kitab-kitab hadits atau apapun, mohon tuliskan di bawah di kolom comment, sebagai tambahan buat kita dan untuk saling mengingatkan betapa indahnya kehidupan di surga nanti. Lalu tanamkan niat dari mulai sekarang amal apa yang akan kita perbaiki untuk memperoleh keridhoan Allah Swt. dan janjiNya kelak. Anda bisa buat catatan kecil dan masukkan dalam kantong saku anda atau pasang di kamar anda. Buat kesungguhan dan niatkan bahwa anda akan berusaha menjadi lebih baik lagi dari sekarang ini. Ya sekarang ini. Anda tidak perlu merasa ragu jika anda masih belum mampu mengusahakan perbaikan diri. Walau dosa kita sudah terlalu banyak tapi ampunan Allah jauh lebih luas dari tujuh samudera. Kerahiman Allah swt. meliputi tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi. Ajak saudara-saudara kita untuk berbuat amal kebaikan. Anda bisa ajak adik, kakak, teman, sahabat tercinta anda, orang tua atau siapapun untuk berlomba-lomba berbuat baik. Yakinlah bahwa Allah Swt. melihat kesungguhan kita dan melihat apa yang kita perbuat. Saya yang masih dhaif ini juga perlu anda ingatkan dengan ajakan-ajakan anda menuju kebaikan. Jangan ragu untuk berbagi pengetahuan anda mengenai janji Allah Swt. tentang surga. Saya yakin anda punya pengetahuan lebih di banding saya. Atau jika tulisan ini ada kesalahan mohon koreksinya…. Saya akan  dengan senang hati menerima koreksi anda. Semoga Allah Swt. membalas kebaikan anda. wassalamu’alaikum… emoticon

 

16 Mei 2007

CAHAYA DI WAJAH NABI SAW.

Filed under: kisah2 keimanan

 
Telah diriwayatkan dari Siti Aishah rha. bahwa ia telah berkata : "Ketika aku sedang menjahit baju pada waktu sahur (sebelum subuh) maka jatuhlah jarum dari tanganku, kebetulan lampu pun padam, lalu masuklah Rasulullah SAW. Ketika itu juga aku dapat mengutip jarum itu kerana cahaya wajahnya, lalu aku berkata, "Ya Rasulullah alangkah bercahayanya wajahmu! Seterusnya aku bertanya: "Siapakah yang tidak akan melihatmu pada hari kiamat?" Jawab Rasulullah SAW: "Orang yang bakhil." Aku bertanya lagi: "Siapakah orang yang bakhil itu?" Jawab baginda : "Orang yang ketika disebut namaku di depannya, dia tidak mengucap shalawat ke atasku."
 
Berkata Al-Barra’ ra. bahwa Nabi SAW. bersabda: "Segala doa itu terdinding (terhalang untuk dikabulkan) dari langit sehingga orang yang berdoa itu mengucapkan shalawat untuk Muhammad dan keluarga Muhammad. "

Diriwayatkan oleh Abu Na’im di dalam kitab ‘Al-Hilyah’ bahwa seorang lelaki lewat di sisi Nabi SAW. dengan membawa seekor kijang yang ditangkapnya, lalu Allah Taala (Yang berkuasa menjadikan semua benda-benda berkata-kata ) telah menjadikan kijang itu berbicara kepada Nabi SAW : "Wahai Pesuruh Allah, sesungguhnya aku mempunyai beberapa ekor anak yang masih menyusu, dan sekarang aku sudah ditangkap sedangkan mereka sedang kelaparan, oleh itu haraplah perintahkan orang ini melepaskan aku supaya aku dapat menyusukan anak-anakku itu dan sesudah itu aku akan kembali ke mari." Bersabda Rasulullah SAW. "Bagaimana kalau engkau tidak kembali kesini lagi?" Jawab kijang itu: "Kalau aku tidak kembali ke mari, nanti Allah Ta’ala akan melaknatku sebagaimana Ia melaknat orang yang tidak mengucapkan shalawat bagi engkau apabila disebut nama engkau disisinya. "Lalu Nabi SAW. pun bersabda kepada orang itu : "Lepaskan kijang itu buat sementara waktu dan aku jadi penjaminnya. "Kijang itu pun dilepaskan dan kemudian ia kembali ke situ lagi. Maka turunlah malaikat Jibril AS dan berkata : "Wahai Muhammad, Allah Ta’ala mengucapkan salam kepada engkau dan Ia (Allah Ta’ala) berfirman:

"Demi KemuliaanKu dan KehormatanKu, sesungguhnya Aku lebih kasihkan umat Muhammad dari kijang itu kasihkan anak-anaknya dan Aku akan kembalikan mereka kepada engkau sebagaimana kijang itu kembali kepada engkau."

10 Mei 2007

Jibril AS, Kerbau, Kelelawar, dan Cacing

Filed under: kisah2 keimanan

Suatu hari Allah SWT memerintahkan malaikat Jibri AS untuk pergi menemui salah satu makhluk-Nya yaitu kerbau dan menanyakan pada si kerbau apakah dia senang telah diciptakan Allah SWT sebagai seekor kerbau. Malaikat Jibril AS segera pergi menemui si Kerbau.

Di siang yang panas itu si kerbau sedang berendam di sungai. Malaikat Jibril AS mendatanginya kemudian mulai bertanya kepada si kerbau, "hai kerbau apakah kamu senang telah dijadikan oleh Allah SWT sebagai seekor kerbau". Si kerbau menjawab, "Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah menjadikan aku sebagai seekor kerbau, dari pada aku dijadikan-Nya sebagai seekor kelelawar yang ia mandi dengan kencingnya sendiri".

Mendengar jawaban itu Malaikat Jibril AS segera pergi menemui seekor kelelawar. Malaikat Jibril AS mendatanginya seekor kelelawar yang siang itu sedang tidur bergantungan di dalam sebuah goa. Kemudian mulai bertanya kepada si kelelawar, "hai kelelawar apakah kamu senang telah dijadikan oleh Allah SWT sebagai seekor kelelawar". "Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah menjadikan aku sebagai seekor kelelawar dari pada aku dijadikan-Nya seekor cacing. Tubuhnya kecil, tinggal di dalam tanah, berjalannya saja menggunakan perutnya", jawab si kelelawar.

Mendengar jawaban itu pun Malaikat Jibril AS segera pergi menemui seekor cacing yang sedang merayap di atas tanah. Malaikat Jibril AS bertanya kepada si cacing, "Wahai cacing kecil apakah kamu senang telah dijadikan Allah SWT sebagai seekor cacing". Si cacing menjawab, " Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah menjadikan aku sebagai seekor cacing, dari pada dijadikaan-Nya aku sebagai seorang manusia. Apabila mereka tidak memiliki iman yang sempurna dan tidak beramal shaleh ketika mereka mati mereka akan disiksa selama-lamanya".

kumpulan kisah-kisah keimanan  

09 Mei 2007

Taqwa

Segala Puji Bagi Allah Tuhan Seru Sekalian Alam. Pada permulaan dibacakan surah Ath-Thuur ayat 1- 7, ketika ayat ini dibaca oleh Rasulullah SAW, Umar Ra apabila mendengar ayat ini matanya basah. Walaupun pernah dikisahkan mengenai Umar RA, begitu keras dan tegasnya dia terhadap perintah Allah SWT. Segala sesuatu yang berhubungan dengan perintah Allah SWT dia keras dan tegas, tidak ada orang boleh menandinginya. Tetapi hati dia begitu lembut dan halus.di hadapan ayat-ayat Allah SWT, sehingga di pipinya ada bekas atau kesan aliran air matanya. Maka Allah SWT bersumpah dalam ayat ini, dan apabila Umar RA mendengar tentang ayat ini, Allah bersumpah dengan apa saja yang dia suka. Tetapi kita tidak boleh bersumpah kecuali dengan nama Allah SWT. "Demi bukit Thuur, dan demi kitab yang ditulis. Kitab ini ada dua, pertama adalah kitab yang tertulis yang boleh dibaca yaitu Al-Qur’an, dan yang kedua adalah kitab manzur, yang boleh ditengok, yaitu ayat-ayat tanda kekuasaan Allah SWT. Daripada kejadian langit, bumi, bulan, bitang, bukit bukau, laut, dan semuanya satu tanda yang boleh dibaca oleh semua orang. Sehingga orang bukan Islam-pun boleh membaca, boleh lihat tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Firman Allah SWT," Sesungguhnya dalam kejadian langit dan bumi dan perubahan siang dan malam adalah tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang yang berakal." Dan Allah SWT berfirman," Apakah kalian tidak ingat bagaimana unta dijadikan? Dan tidakkah mereka lihat kepada langit bagaimana ia ditinggikan? Dan tidakkah mereka lihat bagaimana gunung-gunung ditegakkan? Tidakkah mereka lihat bagaimana bumi dimampatkan. Itulah anda-tanda kebesaran Allah SWT. Allah SWT berfirman, Allah SWT telah meninggikan langit tanpa tiang, itulah tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Maka Allah SWT telah bersumpah dengan mahluk-mahlukNya, dengan kitabNya yang boleh dilihat yang manusia boleh membaca dan melihat kebesaran-kebesaran Allah. Dan arti ayat ketiga dan seterusnya surah Ath-Thuur,"Di atas lembaran yang terbuka; Dan demi baitul Ma’mur, yaitu ka’bah tempat malaikat thawaf di langit dimana setiap harinya turun malaikat untuk thawaf sekitar 70.000 malaikat. Dan selepas thawaf mereka tidak berpeluang lagi untuk thawaf karena banyaknya jumlah malaikat; dan atap yang ditinggikan yaitu langit; dan laut yang di dalam tanahnya ada api. Sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi." Ketakutan kepada Allah SWT ada di dalam perilaku sahabat-sahabat utama dan sahabat-sahabat yang muda atau kecil.

Di jaman Umar RA, ada sahabat yang muda lagi tampan. Ketika dia berjalan, tiba-tiba ada seorang gadis telah melihatnya. Karena gadis tadi tidak menjaga pandangan mata, maka terlihat olehnya seorang pemuda yang tampan, maka syaitan telah menguasai gadis tadi, dan gadis tadi ada niat sesuatu yang tidak baik. Dia telah mencoba memperdayakan pemuda tersebut dengan meminta sesuatu daripadanya seolah-olah dia ada keperluan. Maka pemuda tampan itu datang untuk membantunya. Dan gadis itu telah memperlihatkan kecantikannya dan kejelitaannya. Dan pemuda itu seorang bujangan yang normal. Kadang, iman seorang itu lemah. Maka dia ada perasaan untuk melakukan perbuatan buruk. Dan dia betul-betul berniat untuk melakukan kejahatan. Apabila lelaki dan wanita duduk berduaan maka yang ketiganya adalah syaitan. Syaitan telah menguasainya, dan pemuda itu berniat melakukan kejahatan, dan si gadis sebelum itu memang sudah ada niat yang tidak baik. Apabila saat-saat dia ingin melakukan kejahatan tadi, maka tiba-tiba dia teringat ayat Allah SWT, "Sesungguhnya orang bertaqwa, apabila mereka digoda oleh sekumpulan syaitan maka mereka lupa. Kemudian mereka ingat Allah SWT tiba-tiba mereka melihat". Maka ketika teringat ayat itu, pemuda itu langsung pingsan. Gadis itupun takut. Apa yang telah terjadi? Dia langsung tarik pemuda tersebut ke luar rumah, kemudian mengunci pintu, timbul perasaan takut dan malu. Maka orang-orang  melihat pemuda tersebut di luar rumah dalam keadaan pingsan. Kemudian dibawa, dan sadarlah pemuda tadi dari pingsannya. Lalu bapaknya bertanya, "Apa yang terjadi?" Pemuda itu malu kepada Allah SWT, malu kepada bapaknya. Tapi bapaknya bersumpah dengan nama Allah," Dengan nama Allah engkau harus menceritakan kepada kami." Maka menjadi kewajiban bagi dia menunaikan sumpah ayahnya itu. Maka dia menceritakan kisah dia. Dan dia berkata,"Dalam keadaan begitu, saya teringat satu firman Allah SWT." Maka ayahnya bertanya,"Ayat apa?" Lalu dia berkata,"Saya tak boleh sampaikan, ayah. Saya tak boleh sampaikan." Kemudian Ayahnya bersumpah dengan nama Allah dan bertanya,"Ayat yang mana menyebabkan kamu pingsan?" Kemudian pemuda tadi menangis dan mengulang ayat tadi kemudian dia pingsan kembali dan meninggal. Kisah ini telah sampai kepada Khalifah Umar RA. Apabila mereka telah selesai menguruskan urusan jenazahnya semua, sembahyang jenazah, kemudian menutup kain kafan, dan dikubur di dalam tanah, maka Umar RA berkata," Barangsiapa yang takut akan kekuasaan kudrat Allah SWT baginya dua surga." Pemuda tadi menjawab daripada dalam kubur," Sesungguhnya Allah SWT memberi kedua syrurga itu pada saya."

Ketika di jaman Nabi Saw. sekali Nabi SAW menerangkan akherat kepada para sahabat. Datang Jibrail AS telah mewahyukan kepada Baginda SAW tentang ayat hijab. Hijab bermakna wanita menutup aurat sempurna. Dari segi bahasa Arabnya, hijab artinya sesuatu yang menghalang dari saya dan anda. Bermakna, kalau ada sesuatu penghalang, saya tak dapat melihat anda, dan anda tidak dapat melihat saya. Dan dari segi bahasa Arab, apabila awan datang menutup matahari sehingga tak nampak, atau menutup bulan sehingga tak kelihatan, maka orang arab akan berkata, awan telah menghijabi matahari, atau awan telah menghijabi bulan. Itu maknanya. Tapi jika ada yang masih nampak maka tak dipakai kata hijab. Maka apabila Allah SWT menerangkan tentang hijab, maka suami-suami mereka telah balik menyampaikan kepada isteri-isteri mereka akan ayat hijab. Maka pada keesokan harinya, wanita-wanita tadi datang sholat subuh, maka dalam riwayat hadits, mengatakan mereka hitam seperti burung gagak. Mereka nampak hitam seolah-olah macam burung gagak. Tidak nampak apa-apa. Seluruh bagian tubuh wanita-wanita pada  waktu itu tidak ada yang kelihatan. Walaupun sebelum itu mereka tutup aurat, tetapi ada yang memperlihatkan sebagian daripada kecantikan mereka. Apabila keluar ayat itu, langsung mereka tutup habis. Ada seorang wanita, yang suaminya tak datang sholat isya berjamaah karena sebab tertentu, maka dalam waktu sholat subuh, dia jumpa dengan wanita-wanita yang menutup habis, maka seorang wanita telah bertanya kepada wanita itu,"Apakah tidak sampai ayat Allah SWT?" Kata si wanita itu,"Ayat apa?" Lalu wanita-wanita tadi membaca ayat hijab kepadanya. Maka wanita itu langsung palingkan mukanya ke dinding, ada pintu rumah, dia tidak ingin satu orangpun lihat muka dia. Lalu dia hantar satu orang pergi untuk ambil kain di rumah untuk tutup badan dia dan balik ke rumah. Sewaktu ketemu suaminya, suaminya berkata,  ”Apa salahnya engkau balik sendiri ambil kain?" Kata si wanita tadi," Saya tidak mampu untuk melangkah satu langkah di dalam kemurkaan Allah SWT." Ada takut pada diri wanita tadi.

Jaman tabi tabiin ada satu pemuda yang miskin, dia belajar agama, baca Al-Qur’an. Dia tinggal di kawasan hutan, dan dia tinggal di pondok kecil. Siang dia belajar, malam dia balik baca Al-Qur’an. Pada satu malam, malam hujan. Tiba-tiba dia ada dengar satu orang mengetuk pintu. Maka ketika dibuka pintu, dia lihat ada seorang anak gadis yang amat cantik. Perempuan itu baru lari dari perompak-perompak yang menangkapnya. Maka pemuda itu ketakutan terhadap dirinya. Karena dia adalah seorang anak muda, dan Nabi SAW bersabda,"Tidaklah duduk berduaan seorang lelaki dan wanita yang bukan mahram, kecuali yang ketiga syaitan." Maka pemuda tadi takut. Tapi dia merasa kasihan dengan gadis tadi. Karena hujan, di dalam hutan. Maka dia persilakan anak itu masuk. Dan pemuda itu adalah pemuda normal. Maka saat dia merasakan sesuatu yang dia tak mampu tahan, nafsu syahwat, dia kemudiam membakar tangan dia sampai menitis lemak dagingnya. Jika rasa sakit berkurang, kemudian perasaan syahwatnya datang lagi, dia bakar lagi tangannya. Begitu seterusnya sampai pagi. Maka ketika siang, si gadis tadi pergi. Maka keesokannya, ada orang mengetuk pintu. Ketika dia buka, dan dilihat, ada pengawal, dengan tentera. Kata seseorang itu,"Kamu yang beri tempat tinggal kepada seorang gadis itu, dan kenapa kamu bakar tangan kamu, jari-jari kamu?" Maka pemuda itupun bercerita. Kemudian kata orang itu,"Anak gadis itu adalah anak saya. Dan saya adalah raja. Sekarang saya jemput kamu dan saya nikahkan kamu dengan dia." Maka firman Allah SWT,"Barangsiapa bertawakal kepada Allah SWT, Allah akan beri kepadanya jalan keluar. Dan Allah akan memberi rejeki padanya dari jalan yang tidak disangka-sangka." Maka kemudian pemuda tadi menjadi seorang ulama yang besar dan seorang pemuda yang kaya raya. Karena apa? Karena taqwa kepada Allah SWT.

Penggalan Ceramah Agama Oleh Imam Diraja Qatar 

03 Mei 2007

Fathimah Az-Zahra rha. dan Gilingan Gandum

Filed under: kisah2 keimanan

Suatu hari masuklah Rasulullah SAW menemui anandanya Fathimah az-zahra rha. Didapatinya anandanya sedang menggiling syair (sejenis padi-padian) dengan menggunakan sebuah penggilingan tangan dari batu sambil menangis. Rasulullah SAW bertanya pada anandanya, "apa yang menyebabkan engkau menangis wahai Fathimah?, semoga Allah SWT tidak menyebabkan matamu menangis". Fathimah rha. berkata, "ayahanda, penggilingan dan urusan-urusan rumahtanggalah yang menyebabkan ananda menangis". Lalu duduklah Rasulullah SAW di sisi anandanya. Fathimah rha. melanjutkan perkataannya, "ayahanda sudikah kiranya ayahanda meminta ‘aliy (suaminya) mencarikan ananda seorang jariah untuk menolong ananda menggiling gandum dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan di rumah". Mendengar perkataan anandanya ini maka bangunlah Rasulullah SAW mendekati penggilingan itu. Beliau mengambil syair dengan tangannya yang diberkati lagi mulia dan diletakkannya di dalam penggilingan tangan itu seraya diucapkannya "Bismillaahirrahmaanirrahiim". Penggilingan tersebut berputar dengan sendirinya dengan izin Allah SWT. Rasulullah SAW meletakkan syair ke dalam penggilingan tangan itu untuk anandanya dengan tangannya sedangkan penggilingan itu berputar dengan sendirinya seraya bertasbih kepada Allah SWT dalam berbagai bahasa sehingga habislah butir-butir syair itu digilingnya.

Rasulullah SAW berkata kepada gilingan tersebut, "berhentilah berputar dengan izin Allah SWT", maka penggilingan itu berhenti berputar lalu penggilingan itu berkata-kata dengan izin Allah SWT yang berkuasa menjadikan segala sesuatu dapat bertutur kata. Maka katanya dalam bahasa Arab yang fasih, "ya Rasulullah SAW, demi Allah Tuhan yang telah menjadikan baginda dengan kebenaran sebagai Nabi dan Rasul-Nya, kalaulah baginda menyuruh hamba menggiling syair dari Masyriq dan Maghrib pun niscaya hamba gilingkan semuanya. Sesungguhnya hamba telah mendengar dalam kitab Allah SWT suatu ayat yang berbunyi : (artinya)

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya para malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang dititahkan-Nya kepada mereka dan mereka mengerjakan apa yang dititahkan".

Maka hamba takut, ya Rasulullah kelak hamba menjadi batu yang masuk ke dalam neraka. Rasulullah SAW kemudian bersabda kepada batu penggilingan itu, "bergembiralah karena engkau adalah salah satu dari batu mahligai Fathimah az-zahra di dalam sorga". Maka bergembiralah penggilingan batu itu mendengar berita itu kemudian diamlah ia.

Rasulullah SAW bersabda kepada anandanya, "jika Allah SWT menghendaki wahai Fathimah, niscaya penggilingan itu berputar dengan sendirinya untukmu. Akan tetapi Allah SWT menghendaki dituliskan-Nya untukmu beberapa kebaikan dan dihapuskan oleh Nya beberapa kesalahanmu dan diangkat-Nya untukmu beberapa derajat. Ya Fathimah, perempuan mana yang menggiling tepung untuk suaminya dan anak-anaknya, maka Allah SWT menuliskan untuknya dari setiap biji gandum yang digilingnya suatu kebaikan dan mengangkatnya satu derajat.

Ya Fathimah perempuan mana yang berkeringat ketika ia menggiling gandum untuk suaminya maka Allah SWT menjadikan antara dirinya dan neraka tujuh buah parit. Ya Fathimah, perempuan mana yang meminyaki rambut anak-anaknya dan menyisir rambut mereka dan mencuci pakaian mereka maka Allah SWT akan mencatatkan baginya ganjaran pahala orang yang memberi makan kepada seribu orang yang lapar dan memberi pakaian kepada seribu orang yang bertelanjang. Ya Fathimah, perempuan mana yang menghalangi hajat tetangga-tetangganya maka Allah SWT akan menghalanginya dari meminum air telaga Kautshar pada hari kiamat.


Ya Fathimah, yang lebih utama dari itu semua adalah keridhaan suami terhadap istrinya. Jikalau suamimu tidak ridha denganmu tidaklah akan aku do’akan kamu. Tidaklah engkau ketahui wahai Fathimah bahwa ridha suami itu daripada Allah SWT dan kemarahannya itu dari kemarahan Allah SWT?. Ya Fathimah, apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya maka beristighfarlah para malaikat untuknya dan Allah SWT akan mencatatkan baginya tiap-tiap hari seribu kebaikan dan menghapuskan darinya seribu kejahatan. Apabila ia mulai sakit hendak melahirkan maka Allah SWT mencatatkan untuknya pahala orang-orang yang berjihad pada jalan Allah yakni berperang sabil. Apabila ia melahirkan anak maka keluarlah ia dari dosa-dosanya seperti keadaannya pada hari ibunya melahirkannya dan apabila ia meninggal tiadalah ia meninggalkan dunia ini dalam keadaan berdosa sedikitpun, dan akan didapatinya kuburnya menjadi sebuah taman dari taman-taman sorga, dan Allah SWT akan mengkaruniakannya pahala seribu haji dan seribu umrah serta beristighfarlah untuknya seribu malaikat hingga hari kiamat.

Perempuan mana yang melayani suaminya dalam sehari semalam dengan baik hati dan ikhlas serta niat yang benar maka Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya semua dan Allah SWT akan memakaikannya sepersalinan pakaian yang hijau dan dicatatkan untuknya dari setiap helai bulu dan rambut yang ada pada tubuhnya seribu kebaikan dan dikaruniakan Allah untuknya seribu pahala haji dan umrah. Ya Fathimah, perempuan mana yang tersenyum dihadapan suaminya maka Allah SWT akan memandangnya dengan pandangan rahmat. Ya Fathimah perempuan mana yang menghamparkan hamparan atau tempat untuk berbaring atau menata rumah untuk suaminya dengan baik hati maka berserulah untuknya penyeru dari langit (malaikat), "teruskanlah ‘amalmu maka Allah SWT telah mengampunimu akan sesuatu yang telah lalu dari dosamu dan sesuatu yang akan datang". Ya Fathimah, perempuan mana yang meminyak-kan rambut suaminya dan janggutnya dan memotongkan kumisnya serta menggunting kukunya maka Allah SWT akan memberinya minuman dari sungai-sungai sorga dan Allah SWT akan meringankan sakaratulmaut-nya, dan akan didapatinya kuburnya menjadi sebuah taman dari taman-taman sorga seta Allah SWT akan menyelamatkannya dari api neraka dan selamatlah ia melintas di atas titian Shirat".

02 Mei 2007

Rasullullah SAW Dan Seorang Arab Badui

Filed under: kisah2 keimanan
 
Di waktu Rasulullah SAW. sedang asyik bertawaf di Ka’bah, beliau mendengar seorang di hadapannya bertawaf, sambil berzikir: ‘Ya Karim! Ya Karim!’ Rasulullah s.a.w menirunya membaca ‘Ya Karim! Ya Karim!’ Orang itu lalu berhenti di salah satu sudut Ka’bah, dan berzikir lagi: ‘Ya Karim! Ya Karim!’ Rasulullah SAW yang berada dibelakangnya mengikuti zikirnya ‘Ya Karim! Ya Karim!’ Merasa seperti di olok-olokan, orang itu menoleh kebelakang dan terlihat olehnya seorang laki-laki yang gagah, lagi tampan yang belum pernah dikenalinya. Orang itu lalu berkata: ‘Wahai orang tampan! Apakah engkau memang sengaja memperolok-olokan ku, karena aku ini adalah orang Arab badui? Kalaulah bukan karena ketampananmu dan kegagahanmu, pasti engkau akan aku laporkan kepada kekasihku, Muhammad Rasulullah.’
 
Mendengar bicara orang badui itu, Rasulullah SAWtersenyum, lalu bertanya: ‘Tidakkah engkau mengenali Nabimu, wahai orang Arab?'’Belum,’ jawab orang itu. ‘Jadi bagaimana kau beriman kepadanya?’ ‘Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya, sekalipun saya belum pernah melihatnya, dan saya membenarkan putusannya sekalipun saya belum pernah bertemu dengannya,’ kata orang arab badui itu pula. Rasulullah SAW pun berkata kepadanya: ‘Wahai orang Arab! Ketahuilah aku inilah Nabimu di dunia dan penolongmu nanti di akhirat!’
 
Melihat Nabi di hadapannya, dia tercengang, seperti tidak percaya kepada dirinya.’Tuan ini Nabi Muhammad?!'’Ya,’ jawab Nabi SAW Dia segera tunduk untuk mencium kedua kaki RasulullahSAW Melihat hal itu, Rasulullah SAW menarik tubuh orang Arab itu, seraya berkata kepadanya: ‘Wahai orang Arab! Janganlah berbuat serupa itu.Perbuatan serupa itu biasanya dilakukan oleh hamba sahaya kepada juragannya.Ketahuilah, ALLAH mengutusku bukan untuk menjadi seorang yang takabur yang meminta dihormati, atau diagungkan, tetapi demi berita gembira bagi orang yang beriman, dan membawa berita ancaman bagi yang mengingkarinya.’ Ketika itulah, Malaikat Jibril a.s. turun membawa berita dari langit dia berkata: ‘Ya Muhammad! Rabb As-Salam (puncak keselamatan) menyampaikan salam kepadamu dan bersabda: Katakanlah kepada orang Arab itu, agar tidak terpesona dengan belas kasih ALLAH. Ketahuilah bahwa ALLAH akan menghisabnya di hari Mahsyar nanti, akan menimbang semua amalannya, baik yang kecil maupun yang besar!’.
 
Setelah menyampaikan berita itu, Jibril kemudian pergi. Orang Arab itu pula berkata: ‘Demi keagungan serta kemulian ALLAH, jika ALLAH akan membuat perhitungan atas amalan hamba, maka hamba pun akan membuat perhitungan denganNYA!’ kata orang Arab badui itu. ‘Apakah yang akan engkau perhitungkan dengan ALLAH?’ Rasulullah bertanya kepadanya. ‘Jika ALLAH akan memperhitungkan dosa-dosa hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa besar maghfirahNYA,’ jawab orang itu. ‘Jika DIA memperhitungkan kemaksiatan hamba, maka hamba akan mem perhitungkan betapa keluasan pengampunanNYA. Jika DIA memperhitungkan kekikiran hamba, maka hamba akan memperhitungkan pula betapa kedermawananNYA!’. Mendengar ucapan orang Arab badui itu, maka Rasulullah SAW pun menangis mengingatkan betapa benarnya kata-kata orang Arab badui itu, air mata beliau meleleh membasahi janggutnya. Lantaran itu Malaikat Jibril AS turun lagi seraya berkata: ‘Ya Muhammad! Rabb As-Salam menyampaikan salam kepadamu, dan bersabda: Berhentilah engkau dari menangis! Sungguh karena tangismu, penjaga Arasy lupa dari bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga ia bergoncang. Nah katakan kepada temanmu itu, bahwa ALLAH tak akan menghisab dirinya, juga tak akan memperhitungkan kemaksiatannya. ALLAH sudah mengampuni semua kesalahannya dan ia akan menjadi temanmu di surga nanti!’ Betapa sukanya orang Arab badui itu, apabila mendengar berita tersebut. Ia lalu menangis karena tidak berdaya menahan keharuan dirinya.
 

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham