Dunia Sementara Akhirat Selamanya

April 3, 2008

Besarnya Rahmat dan Ampunan Allah Swt.

Filed under: kisah2 keimanan
Suatu ketika seorang penguasa yang zhalim yang memerintah di Bukhara sedang mengendarai kudanya. Lalu ia melihat seekor anjing kotor menggigil kedinginan. Ia merasa iba kemudian menyuruh pembantunya untuk membawa anjing itu ke rumahnya dan merawatnya hingga ia kembali dari perjalanannya. Setelah itu ia melanjutkan perjalanannya dan kembali pada sore harinya.

Setibanya di rumah, ia mengambil anjing itu dan menambatkannya di sudut rumahnya, kemudian memberinya makanan dan minuman, kemudian menyuruh pembantunya agar memijat anjing itu, meminyakinya dan menyelimutinya agar terlindung dari udara dingin. Ia juga menyalakan api agar anjing itu merasa hangat dan nyaman. Dua hari kemudian penguasa zhalim itu meninggal dunia.

Seseorang lelaki shaleh yang mengetahui kekejaman dan kezhaliman penguasa itu, melihatnya dalam mimpi. Ia bertanya kepadanya, “Bagaimana keadaanmu?”

Penguasa itu berkata, “Aku dihadapkan kepada Allah Swt, dan Dia berkata kepadaku, “Kamu adalah seekor anjing (karena kezhalimannya) dan Kami telah memberi karunia kepadamu (ampunan berkat belas kasihmu) kepada seekor anjing.’ Kemudian Allah dengan rahmat-Nya yang tidak terbatas, mengambil semua kekejaman dan keburukanku dan meletakkannya ke atas orang lain.” (Musamiraat)  

Tidak terhingga karunia Allah, Dialah Raja Penguasa bagi seluruh orang yang bermurah hati kepada yang lain. Tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui hakekat keluasan rahim-Nya. Mungkin dengan kehendak-Nya, Dia mengaruniakan keselamatan kepada seseorang karena ridha atas keterlibatannya dalam perbuatan baik walaupun kecil. Oleh karena itu kita mesti mencari ridha-Nya setiap saat, tanpa memandang remeh kepada suatu kebaikanpun. Karena manusia tidak pernah tahu, yang mana dari perbuatannya yang dapat membuat Allah menyukainya.

July 10, 2007

Kezuhudan Sebagian Sahabat R.hum

Filed under: kisah2 keimanan

Kezuhudan Abu Bakar

Ahmad mengeluarkan dari Aisyah r.ha, dia berkata, "Abu Bakar meninggal dunia tanpa meninggalkan satu dinar maupun satu dirham pun. Sebelum itu dia masih memilikinya, namun kemudian dia mengambilnya dan menyerahkannya ke Baitul-mal." Begitulah yang disebutkan di dalam Al-Kanzu, 3/132.

Kezuhudan Umar bin Al-Khaththab

Ahmad mengeluarkan di dalam Az-Zuhud, Ibnu Jarir dan Abu Nu’aim dari Al-Hasan, dia berkata, "Ketika Umar bin Al-Khaththab sudah menjadi khalifah, di kain mantelnya ada dua belas tambalan. Begitulah yang disebutkan di dalam Al-Kanzu, 4/405.

Kezuhudan Utsman bin Affan

Abu Nu’aiin mengeluarkan di dalam Al-Hilyah, 1/60, dari Abdul-Malik bin Syaddad, dia berkata, "Aku pernah melihat Utsman bin Affan berkhutbab di atas mimbar pada hari Jum’at, sambil mengenakan kain mantel yang tebal (kasar), harganya berkisar empat atau lima dirham. Kain ikat kepalanya juga ada yang robek. Diriwayatkan dari Al-Hasan, dia berkata, "Aku pernah melihat Utsman bin Affan yang datang ke masjid dalam keadaan seperti itu, pada saat dia sudah menjadi khalifah." Ahmad mengeluarkan di dalam Shifatush-Shafwah, 1/116.

Kezuhudan Ali Bin Abu Thalib

Ahmad mengeluarkan dari Abdullah bin Ruzain, dia berkata, "Aku pernah masuk ke rumah Ali bin Abu Thalib pada hari Idul-Adhha. Dia menyuguhkan daging angsa kepadaku. Aku berkata, "Semoga Allah mlimpahkan kebaikan kepadamu. Karena engkau bisa menyuguhkan makanan ini, berarti Allah memang telah melimpahkan kebaikan kepadamu, " Dia berkata, "Wahai Ibnu Ruzain, aku pernah mendengar Rasuluilah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Tidak diperkenankan harta Allah bagi seorang khalifah kecuali sebanyak dua takaran saja, satu takaran yang dia makan bersama keluarganya, dan satu takaran lagi yang harus dia berikan kepada orang-orang." Begitulah yang disebutkan di dalam Al-Bidayah, 8/3.

Kezuhudan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah

Abu Nu’airn mengeluarkan dari Abu Ma’mar, bahwa tatkala Umar mengadakan lawatan ke Syam, maka disambut para pemuka dan pemimpin masyarakat di sana. "Mana saudaraku?" tanya Umar. "Siapa yang engkau maksudkan?’ tanya orang-orang. "Abu Ubaidah. " "Sekarang dia baru menuju ke sini. Ketika Abu Ubaidah sudah tiba, Umar turun dari kendaraannya lalu memeluknya. Kemudian Umar masuk ke rumah Abu Ubaidah dan tidak melihat perkakas apa pun kecuali pedang, perisai dan kudanya. Ahmad mengeluarkan hadits yang serupa seperti yang disebutkan di dalam Shifatush-Shafwah, 1/143. Ibnul-Mubarak juga meriwayatkannya di dalam Az-Zuhd, dari jalan Ma’mar, serupa dengan ini, seperti yang disebutkan di dalam Al-Ishabah, 2/253.

Kezuhudan Mush’ab bin Umair

Al-Bukhary mengeluarkan di dalam Shahih-nya, dari Hibban, bahwa Mush’ab bin Umair meninggal dan hanya meninggalkan selembar kain. Jika orang-orang menutupkan kain itu ke kepalanya, maka kedua kakinya menyembul, dan jika ditutupkan ke kedua kakinya, maka kepalanya yang menyembul. Lalu Rasulullah SAW bersabda, "tutupkan dedaunan ke bagian kakinya." Begitulah yang disebutkan di dalam Al-Ishabah, 3/421.

Kezuhudan Salman Al-Farisy

Abu Nu’aim mengeluarkan dari Athiyah bin Amir, dia berkata, "Aku pernah melihat Salman Al-Farisy ra. menolak makanan yang disuguhkan kepadanya, lalu dia berkata, "Tidak, tldak. Karena aku pemah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

‘Sesungguhnya orang yang lebih sering kenyang di dunia akan lebih lama laparnya di akhirat. Wahai Salman, dunia ini hanyalah penjara orang Mukmin dan surga orang kafir’.

Di dalam Al-Hilyah, 1/198, Bagian terakhir dari hadits di atas, "Dunia ini hanyalah penjara orang Mukmin", merupakan riwayat Muslim.

Kezuhudan Abu Dzarr Al-Ghifary

Ahmad mengeluarkan dari Abu Asma’, bahwa dia pernah masuk ke rumall Abu Dzarr di Rabadzah. Dia mempunyai seorang istri berkulit hitam yang sama sekali tidak memakai hiasan macam apa pun dan tidak pula mengenakan minyak wangi. Abu Dzarr berkata, "Apakah kalian tidak rnelihat apa yang disuruh para wanita berkulit hitam ini? Mereka menyuruhku unluk pergi ke Irak. Namun ketika kami tiba di Irak, mereka justru lebih senang kepada dunia. Padahal kekasihku (Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam) memberitahukan kepadaku bahwa di atas jembatan neraka ada rintangan dan halangannya. Kita akan menyeberangi jembatan itu sambil membawa beban kita. Maka lebih baik bagiku untuk menyeberang dengan selamat tanpa mernbawa beban apa pun." Begitulah yang disebutkan di dalain At-Targhib Wat-Tarhib, 3/93. Ahmad juga meriwayatkannya dan rawi-rawinya shahih.

Kezuhudan Abud-Darda’

Ath-Thabrany mengeluarkan dari Abud-Darda’ Radhiyallahu Anhu, dia berkata, ‘Dahulu sebelum Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menjadi rasul, kami adalah para pedagang. Namun setelah beliau diutus sebagai rasul, aku ingin terjun kembali dalam perniagaan dan sekaligus rajin beribadah. Tapi nyatanya aku tidak bisa mantap dalam ibadah. Akhirnya kutinggalkan perniagaan dan mengkhususkan diri dalam ibadah.’ Menurut Al-Haitsainy, 9/367, rijalnya shahih.

Kezuhudan Al-Lajlaj Al-Ghathafany

Ath-Thabrany mengeluarkan dengan isnad yang tidak diragukan, dari Al-Lajlaj Radhiyallahu Anhu, dia berkata, "Sejak aku masuk Islam di hadapan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, aku tidak pernah makan dan minum kecuali sekedar secukupnya." Begitulah yang disebutkan di dalarn At-Targhib, 31423. Abul-Abbas As-Siraj di dalam Tarikh-nya dan Al-Khathib di dalam Al-Muttafaq, seperti yang disebutkan di dalam Al-Ishabah, 2/328.

Kezubudan Abdullah bin Umar

Abul-Abbas As-Siraj mengeluarkan di dalam Tarikh-nya dengan sanad hasan, dari As-Sary, dia berkata, "Aku pernah melihat sekumpulan orang dari kalangan shahabat, bahwa tak seorang pun di antara mereka yang keadaannya senantiasa mirip dengan keadaan Rasuluilah Shallallahu Alaihi wa Sallam selain dari Ibnu Umar. "Abu Sa’id Al-Mraby mengeluarkan dengan sanad yang shahih, dari Jabir ra., dia berkata, ‘Tidak ada seseorang di antara kami yang mendapatkan kekayaan dunia melainkan dia justru meninggalkannya selain dari Abdullah bin Umar.’ Begitulah yang disebutkan di dalam Al-Ishabah, 21347.

Sumber : Kisah-kisah Sahabat

July 9, 2007

Surat Rasulullah Saw. Kepada Najasyi, Raja Habasyah

Ibnul Ishaq menceritakan, "Rasulullah mengutus Amr bin Umayyah ad-Dhamri r.a. untuk membawa surat kepada raja Najasyi sehubungan dengan keadaan Ja’far bin Abi Thalib dan teman-temannya di sana. Isi surat itu adalah sebagai berikut :

        Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

        Dari Muhammad Rasulullah saw. kepada Najasyi Ash-ham raja Habasyah

        Salam sejahtera bagimu

        Aku memuji engkau kepada Allah Yang Maha Suci lagi Perkasa, dan aku bersaksi bahwa Isa a.s. adalah ruh Allah dan kalimah-Nya yang dicampakkan kepada Mariam seorang perawan suci, bersih, dan terjaga. Mariam mengandung Isa a.s. Kemudian Allah menciptakan Isa a.s. dari ruh-Nya dan ditiupkan-Nya ruh itu (ke dalam jasadnya) sebagaimana Adam a.s. yang diciptakan Allah langsung dengan Tangan-Nya dan ditiupkan-Nya ruh (ke dalam tubuhnya). Kini aku mengajak engkau (untuk menyembah) Allah Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya dan terus-menerus mentaati-Nya serta mengikuti aku. Juga engkau mempercayaiku dan ajaran-ajaran yang diturunkan-Nya padaku bahwa aku adalah utusan-Nya. Aku telah mengutus kepadamu keponakanku yang bernama Ja’far bersama serombongan kaum muslimin. Apabila mereka telah sampai ke hadapanmu, maka layanilah mereka sebaik-baiknya dan tinggalkanlah kesombongan.  Aku mengajak engkau dan seluruh tentaramu kepada (agama) Allah. Sungguh telah aku sampaikan risalah dan nasihatku, maka terimalah ajakan dan nasihatku ini!" 

        Salam sejahtera bagi siapa saja yang mengikuti hidayah

                    Surat Balasan Raja Najasyi kepada Nabi Saw.

Setelah menerima surat dari Nabi Saw. maka raja Najasyi menulis surat balasan kepada beliau sebagai berikut :

       Bismillaahir Rahmaanir rahiim

       Untuk Muhammad Rasulullah saw. dari Najasyi Asham bin Abjar

      Salam sejahtera, rahmat, dan keberkahan dari Allah semoga tercurah kepada engkau, wahai Nabi Allah. 

        Tidak ada tuhan selain Dia yang telah memberikan petunjuk kepada aku untuk masuk islam. Wahai Rasulullah, surat engkau telah sampai padaku yang mana di dalamnya engkau telah menerangkan tentang perkara Isa. Demi Tuhan Pemelihara langit dan bumi, sesungguhnya Isa tidak lebih dari apa yang telah terangkan dalam suratmu. Aku telah mengetahui tentang utusan yang engkau hantarkan kepada kami, dan mengenai keponakan engkau serta teman-temannya, aku telah melayani mereka dengan pelayanan yang baik. Oleh karena itu aku bersaksi bahwasanya  engkau adalah utusan Allah yang benar dan dibenarkan, dan aku berbai’at kepadamu juga kepada keponakanmu serta aku masuk islam ditangannya semata-mata karena Allah Penguasa alam semesta. Wahai Nabi Allah, aku juga telah mengutus kepada engkau Ariha bin Ash-Ham bin Abjar, karena sesungguhnya aku tidak berkuasa kecuali pada diriku sendiri. Tetapi jika engaku untuk menyuruhku untuk datang sendiri kepada engkau, pasti aku bersedia wahai Rasul Allah, karena sesungguhnya aku bersaksi bahwa segala yang engkau katakan itu adalah benar."  ( Hr. Baihaqi, seperti disebutkan dalam kitab al-Bidayah jilid III halaman 87)

Sumber : Hayatush Shahaabah Maulana Muhammad Yusuf al Kandhalawi Rah.a. 

July 8, 2007

Atsar-Atsar Yang Menerangkan Tentang Sifat Para Sahabat R.hum

As-Suddi telah berkata dalam keterangannya tentang firman Allah Swt. :
kuntum khoiro ummat3

 

 

"Kamu sekalian adalah sebaik-baik ummat yang dikeluarkan untuk manusia,….. (Qs. Ali Imran 110)

As-Suddi mengatakan  bahwa Umar bin Khattab r.a. telah berkata (mengenai penafsiran ayat ini), "Apabila Allah Swt. menghendaki, niscaya dia akan mengatakan antum maka (akan tercakup dalam pengertian kata ini) adalah kita seluruhnya. Akan tetapi Allah Swt. mengatakan-Nya dengan kata kuntum yang berarti ditujukan khusus kepada para sahabat Rasulullah Saw. dan orang-orang yang melakukan pekerjaan seperti yang dilakukan para sahabat. Mereka itulah "khairu ummat (sebaik-baik ummat) yang dikeluarkan untuk seluruh manusia." Imam Ibnu Jarir juga telah meriwayatkannya dari Qatadah r.a. yang mana ia berkata, "Telah diceritakan bahwa Umar telah membaca ayat ini (Ali Imran ayat 101) kemudian dia berkata, "Wahai manusia, barangsiapa yang ingin digolongkan dalam ayat ini, maka hendaklah dia menunaikan syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh Allah Swt. dalam ayat tersebut. (Syarat tersebut adalah Amar ma’ruf nahi munkar. Pent)(HR. Ibnu Jarir  dan Ibnu Abi Hatim, seperti yang disebutkan dalam kitab Kanzul ‘Ummaal jilid I halaman 238)

Dari Ibnu Mas’ud r.a. bahwasanya dia berkata, "Sesungguhnya Allah Swt. telah melihat hati-hati hamba-Nya, maka Dia memilih Muhammad Saw. dan menjadikannya sebagai Rasul (utusan) untuk menyampaikan risalah-Nya, juga memberi ilmu (yang khusus) dari-Nya. Kemudian setelah itu Allah Swt. kembali melihat hati seluruh manusia, maka Allah memilih di antara mereka untuk menjadi sahabat-sahabat beliau, lalu dijadikannya mereka sebagai penolong-penolong agama-Nya dan sebagai wakil-wakil-Nya. Oleh karena itu apa saja yang dipandang baik oleh orang-orang yang beriman, maka di sisi Allah hal itu adalah baik, sebaliknya apa saja yang dipandang buruk oleh orang-orang yang beriman, maka di sisi Allah hal itu adalah buruk. (HR. Abu Nu’aim dalam al-Hilyah jilid I halaman 375)

Imam Abdul Baar telah meriwayatkannya dalam al-Istia’ab jilid 1/6 dari Ibnu Mas’ud r.a. yang semakna dengan hadits di atas, hanya saja dia tidak menyebutkan :"Apa saja yang dipandang baik oleh orang-orang beriman…… dst. Ath-Thayalisi juga telah meriwayatkan hadits ini sama seperti yang diriwayatkan oleh imam Abu Nu’aim.

Dari Abdullah Ibnu Umar r.huma bahwasanya dia berkata, "Barangsiapa yang ingin mengambil contoh cara hidup, maka hendaklah ia mengambil contoh cara hidup orang-orang yang telah mati, yaitu sahabat-sahabat Nabi Muhammad Saw.. Mereka adalah sebaik-baik umat ini, paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, dan paling ringan amalannya. Mereka adalah kaum yang telah dipilih oleh Allah Swt. untuk menjadi pendamping nabi-Nya Saw. dan menjadi penyebar agama-Nya. Karena itu, contohlah akhlak dan cara hidup mereka!" Demi Allah Penguasa Ka’bah, mereka adalah sahabat-sahabat Nabi Saw. dan mereka selalu berada di atas petunjuk jalan yang lurus." (HR. Abu Nu’aim dalam al-Hilyah jilid I halaman 305) 

Dari Ibnu Mas’ud r.a. bahwasanya ia pernah berkata (kepada orang-orang pada zaman itu), "Kalian adalah orang yang lebih banyak berpuasa, lebih banyak mengerjakan shalat, dan lebih banyak berijtihad (lelah dan bersusah payah dalam ibadah) daripada sahabat Nabi Saw., tetapi mereka (para sahabat) itu lebih utama daripada kamu sekalian." Mereka bertanya, "Mengapa demikian wahai Abu Abdurrahman?" (Nama panggilan Ibnu Mas’ud). Dia menjawab, "Karena mereka lebih zuhud terhadap dunia dan lebih mencinati akhirat." (HR. Abu Nu’aim dalam al-Hilyah jilid I halaman 136).

Dari Abu Wa’il katanya, "Abdullah bin Mas’ud r.a. pernah mendengar seseorang berkata, "Dimanakah orang-orang yang zuhud (tidak cinta) terhadap dunia dan cinta terhadap akhirat?" Abdullah bin Mas’ud r.a. menjawab, "Mereka adalah Ash-haabul Jaabiyah (orang-orang yang tinggal di Jaabiyah, yaitu sebuah desa di kerajaan Syam. Pada masa kekhalifahan Umar r.a. desa itu dijadikan sebagai pusat tentara islam ketika berperang melawan Kaisar Romawi). Jumlah mereka ada 500 orang dan mereka telah berjanji untuk berjihad terus sampai mereka gugur sabagai syuhada di jalan Allah Swt.. Mereka mencukur semua rambut di kepala mereka, lalu bertempur melawan musuh, sehingga mereka semua gugur sebagai syuhada, kecuali satu orang saja sebagai pembawa berita tentang kesyahidan mereka." (HR. Abu Nu’aim dalam al-Hilyah jilid I halaman 135).

Dari Ibnu Umar r.huma, bahwasanya ia mendengar seseorang berkata, "Dimanakah orang-orang yang zuhud (tidak cinta) terhadap dunia dan lebih mencintai akhirat?" Maka Ibnu Umar r.huma menunjuk ke arah pusara Rasulullah Saw., Abu Bakara r.a., dan Umar r.a.. Kemudian dia berkata, "Orang-orang inikah yang kamu tanyakan?" (HR. Abu Nu’aim dalam al-Hilyah jilid I halaman 135).

Dari Abu Arakah, bahwasanya dia berkata, "Suatu hari aku mengerjakan shalat Shubuh bersama Ali r.a.. Ketika dia menoleh ke sebelah kanan (setelah usai shalat), dia terdiam dan tampak dari wajahnya seperti sedang dirundung kesusahan dan kerisauan. (Demikianlah keadaannya) sehingga sinar matahari naik di atas dinding masjid setinggi tombak, dia pun bangkit untuk mengerjakan shalat Dhuha dua rakaat. Setelah shalat, sambil membalikkan telapak tangannya dia berkata, "Demi Allah, sesungguhnya dahulu aku melihat para sahabat Nabi Saw. tetapi sayang sekarang sudah tidak ada lagi orang-orang yang menyerupai mereka. Mereka adalah orang-orang yang tekun dalam beribadah, sehingga wajah mereka tampak pucat, rambut kusut dan berdebu, di antara kedua mata kaki mereka terdapat tanda hitam bagaikan lutut kambing. Mereka habiskan malam mereka untuk bersujud dan berdiri di hadapan Allah Swt. dan membaca al-Quran. Mereka telah merasakan ketenangan dan kedamaian di dalam sujud dan berdiri. Apabila waktu shubuh telah datang, maka mereka bersama-sama dzikir kepada Allah Swt., tubuh mereka bergerak-gerak seperti sebuah pohon yang bergerak-gerak ditiup angin, dan mereka menangis terisak-isak sehingga pakaian mereka basah oleh air mata. Demi Allah, sungguh kaum (sekarang) mengira seolah-olah mereka menghabiskan malamnya dalam kelalaian. Kemudia Ali r.a. berdiri. Setelah kejadian itu, dia tidak kelihatan lagi tertawa sehingga dia dibunuh oleh Ibnu Muljam, musuh Allah Swt. yang fasiq." (HR. Ibnu Abi Dunya dalam al-Bidayah wan-Nihayah jilid VIII halaman 6, Abu Nu’aim dalam al-Hilyah jilid I halaman 76, ad-Dinawari, al-Askari, dan Ibnu Asakir seperti yang terdapat dalam kitab Kanzul U’mmaal jilid VIII halaman 219).

Dari Abu Shalih, dia berkata, "Dhirar bin Dhamrah al-Kinani r.a. datang ke hadapan Mu’awiyah, lalu  Mu’awiyah berkata kepadanya, "Terangkanlah kepadaku tentang kepribadian Ali r.a.!"  Dhirar berkata, "Apakah engkau akan memarahiku, wahai amirul mukminin?" Mu’awiyah menjawab, "Tidak, aku tidak akan memarahimu." Kemudian Dhirar berkata, "Apabila hal itu yang engkau inginkan, maka dengarkanlah! Demi Allah, sesungguhnya Ali r.a. itu adalah seorang yang berpandangan jauh (berwawasan luas) dan seorang yang sangat kuat. Apabila dia berbicara maka perkataannya jelas, apabila memutuskan suatu hukum, maka ia memutuskannya dengan adil. Terpancar ilmu dari seluruh arah dirinya (yakni segala perbuatan, perkataan, gerak, dan diamnya dapat memberikan manfaat ilmu kepada orang lain), perkataan penuh hikmah juga terpancar dari segala arah dirinya. Dia suka menghindarkan diri dari dunia dan kenikmatannya (zuhud). Dia sangat akrab dengan malam dan kegelapannya (yakni hatinya merasa sangat senang untuk beribadah di malam hari yang gelap). Demi Allah dia adalah orang yang banyak menangis dan selalu berpikir panjang. Dia sering membalikkan telapak tangannya (ditunjukkan pada dirinya) sambil berkata pada dirinya sendiri (sebagai tanda penyesalan dan instropeksi diri). Dia menyenangi pakaian yang kasar dan makanan (roti) yang tebal lagi keras. Demi Allah, keadaannya seperti kami pada umumnya, dia mendekat pada kami jika kami mendatanginya, dia juga menjawab  pertanyaan kami jika kami  bertanya padanya (juga memenuhi permintaan kami jika kami meminta sesuatu kepadanya). Walaupun dia begitu dekat dengan kami dan kami pun begitu dekat dengannya, namun karena kepribadiannya yang penuh wibawa, maka kami tidak berani berbicara di depannya. Apabila dia sedang tersenyum maka giginya terlihat bagaikan untaian mutiara. Dia selalu memuliakan ahli agama (orang yang taat pada agama), menyayangi orang-orang miskin, sehingga orang kuat sekalipun tidak sanggup mencuranginya, dan orang lemah tidak berputus asa dari keadilannya. Demi Allah, aku bersaksi bahwa suatu ketika aku pernah melihat dia berdiri di sebagian sudut tempat dia biasa beribadah malam, sedang  ketika itu  malam  hampir melepas selimut kegelapannya dan bintang-bintang telah tenggelam, lalu dia masuk ke dalam mihrabnya sambil memegang janggutnya dan beliau duduk bersimpuh sambil menangis tersedu-sedu seperti orang yang telah digigit oleh kalajengking, dan menangis seperti seorang yang sedang dirundung kesedihan. Seakan-akan saat ini juga aku (Dhirar) sedang mendengarkan ratapannya. Berkali-kali dia berkata dengan penuh kerendahan di hadapan Allah, "Wahai Tuhan kami, wahai Tuhan kami!" Kemudian dia berkata kepada dunia yang fana ini, "Wahai dunia, mengapa kalian menipuku, mengapa pula kamu selalu muncul mendekatiku? Menjauhlah, menjauhlah kamu dariku! Tipulah orang lain selainku! Sesungguhnya aku sudah menceraikanmu dengan talak tiga. Karena umurmu sangat sebentar, majlismu sangat hina, dan kedudukanmu sangat rendah! … Ah …. ah …. ah! (Apa yang harus aku lakukan, alangkah ruginya aku ini)  karena perbekalan sangat  sedikit , sedangkan  perjalanan amat  panjang dan  penuh bahaya!?"

Mendengar kisah ini, Mu’awiyah tidak bisa lagi membendung air matanya sehingga meleleh dan membasahi janggutnya. Dia pun mengusap air matanya dengan ujung bajunya dan orang-orang yang hadir di dalam majlis itu pun menyadari dan ikut menangis. Akhirnya Mu’awiyah mengakui bahwa apa yang dikatakan oleh Dhirar itu benar, katanya, "Memang sesungguhnya demikianlah sesungguhnya Abul Hasan (Ali r.a.) itu, semoga Allah merahmatinya. Lalu dia bertanya, "Wahai Dhirar, bagaimana kesedihan yang kamu rasakan ketika dia wafat?" Dhirar menjawab, "Kesedihanku seperti seorang wanita yang menyaksikan anaknya yang hanya satu-satunya disembelih di atas pangkuannya, ibunya akan terus menerus menangis dan tidak akan hilang kesedihannya." Kemudian Dhirar pun bangkit dan keluar meninggalkan majlis Mu’awiyah. (HR. Abu Nu’aim dalam al-Hilyah jilid I halaman 84. Kisah seperti ini telah diriwayatkan pula Ibnul Abdil Bar dalam kitab al-Isti’aab jilid III halaman 44 dari al-Hirmazi, seseorang dari suku Hamda, dari Dhirar as-Sudai’)

Bersambung….. 

July 2, 2007

Kisah Putera Khalifah Harun Ar Rasyid

 
Khalifah Harun Ar Rasyid rah.a mempunyai seorang putera sekitar enam belas tahun. Ia sering bergaul dengan para ahli zuhud dan tokoh-tokoh agama pada masa itu. Ia sering mengunjungi tanah kuburan, duduk di tepi kubur dan berkata, "Ada masanya ketika kamu tinggal di dunia ini dan kamu sebagai tuannya, tetapi ternyata dunia tidak melindungimu dan nasibmu berakhir di kubur. Seandainya aku tahu apa yang engkau alami sekarang ini, tentu aku ingin mengetahui apa yang kamu katakan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ditanyakan kepadamu."
 
Ia sering membaca syair :
 
Pemakaman menakutkanku setiap hari dan ratapan wanita-wanita yang berduka cita membuatku sedih.
 
Pada suatu hari, anak itu datang ke istana ayahnya Harun Ar Rasyid, yang sedang duduk bersama ajudan pribadinya, para pejabat dan tamu-tamu terhormat lainnya. Sedangkan puteranya itu berpakaian sangat sederhana, dengan sorban di kepalanya. Ketika orang-orang istana itu melihatnya demikian, mereka berkata, "Keadaan anak ini menghina Amirul Mukminin di hadapan para bangsawan, jika ia dapat memperingatkannya, mungkin anak itu akan menghentikan kebiasaannya."
 
Khalifah mendengar ucapan itu, maka ia berkata kepada anaknya, "Anakku sayang, engkau telah mempermalukanku di hadapan para bangsawan."
 
Anak itu tidak berkata sepatah katapun atas ucapan ayahnya. Bahkan ia memanggil seekor burung yang bertengger di dekat situ, "Wahai burung, aku memohon kepadamu, demi Dzat yang menciptakanmu, datanglah dan duduklah di atas tanganku."
 
Burung itu terbang menghampirinya dan hinggap di atas tangannya. Kemudian anak itu menyuruhnya terbang lagi, dan burung itu pun terbang lagi ke tempat semula. Kemudian ia berkata kepada ayahnya, "Ayahku sayang, sesungguhnya kecintaanmu kepada dunia inilah yang memalukan diriku. Aku telah memutuskan untuk berpisah denganmu." Setelah berkata demikian, ia pergi hanya berbekal Al Quran saja.
 
Ketika ia memohon pamit kepada ibunya, ibunya memberi sebuah cincin yang sangat indah dan mahal, (agar ia dapat menjualnya jika ia memerlukan uang). Anak laki-laki itu pergi ke Basrah, dan bekerja bersama para buruh. Namun ia hanya bekerja pada hari Sabtu saja. Dan ia gunakan upahnya sehari untuk satu minggu, dengan menggunakan (satu danaq) seperenam dirham setiap hari.
 
Kisah selanjutnya diceritakan oleh Abu Amir Bashri rah.a., ia berkata, "Pada suatu ketika, sebelah dinding rumahku roboh dan aku membutuhkan seorang tukang batu untuk memperbaikinya. Ada seseorang yang memberitahuku bahwa ada seorang anak laki-laki yang dapat mengerjakan pekerjaan tukang batu. Maka akupun mencarinya. Di luar kota, aku melihat seorang pemuda tampan sedang duduk di tanah sambil membaca al Quran dengan sebuah tas di sisinya. Aku menanyainya, apakah ia mau bekerja sebagai buruh? Ia menjawab, "Tentu, kita telah diciptakan untuk bekerja. Pekerjaan apakah yang tuan inginkan untukku?"
 
Kukatakan bahwa aku membutuhkan seorang tukang batu untuk mengerjakan bangunan. Ia berkata, "Aku mau asalkan upahku satu dirham dan satu danaq sehari. Dan aku akan berhenti kerja dan pergi ke masjid bila tiba waktu shalat, kemudian kulanjutkan pekerjaan tersebut setelah shalat." Aku menyetujuinya.
 
Akhirnya ia ikut bersamaku dan mulai mengerjakan dinding itu. Pada sore harinya, aku kembali, dan aku sangat terkejut melihat bahwa ia telah melakukan pekerjaan seperti sepuluh orang tukang batu yang mengerjakannya. Akupun memberinya dua dirham. Tetapi ia menolak upah yang melebihi satu dirham dan satu danaq. Kemudian ia pergi hanya dengan upah yang telah disetujui.
 
Keesokan paginya, aku pergi lagi mencarinya, tetapi aku diberi tahu bahwa ia hanya bekerja pada hari Sabtu saja. Dan tiada seorangpun yang dapat menemukannya pada hari-hari lainnya. Karena aku sangat puas dengan pekerjaannya, maka kuputuskan untuk menunda pembangunan dindingku pada Sabtu depan. Pada hari Sabtu itu, aku mencarinya lagi dan kudapati ia di tempat yang sama sedang membaca al Quran sebagaimana biasa. Aku mengucapkan salam kepadanya, "Assalamu Alaikum."
 
"Wa Alaikumus Salam." Balasnya.
 
Ia bersedia bekerja lagi untukku dengan syarat yang sama. Ia pun ikut bersamaku dan mulai mengerjakan dinding itu lagi.
 
Disebabkan rasa heranku, bagaimana ia dapat mengerjakan pekerjaan sepuluh orang pekerja seorang diri seperti pada hari Sabtu yang lalu, maka akupun mengintipnya bekerja tanpa sepengetahuannya. Aku melihatnya dengan sangat takjub, bahwa ketika ia meletakkan adukan semen di dinding, maka batu-batu itu dengan sendirinya menyatu. Akhirnya aku sadar dan meyakini bahwa anak itu adalah kekasih Allah Swt. Sebagaimana hamba-hamba-Nya yang khusus saja yang mendapatkan pertolongan ghaib seperti itu dari Allah Swt.
 
Sore harinya, aku ingin memberinya tiga dirham, tetapi ia hanya mengambil satu dirham dan satu danaq kemudian pergi, sambil berkata, "Aku tidak membutuhkan lebih dari ini." Aku menunggu minggu berikutnya, lalu aku mencarinya pada Sabtu berikutnya, tetapi aku tidak berhasil menemukannya.
 
Aku bertanya kepada orang-orang. Ada seorang laki-laki memberitahuku bahwa anak itu sedang mengalami sakit selama tiga hari dan berbaring di tempat yang sepi. Kemudian aku membayar seseorang untuk mengantarkanku ke tempat itu. Setibanya di sana, ia sedang berbaring di atas tanah tak sadarkan diri. Kepalanya berbantalkan sepotong batu. Aku menyalaminya, tetapi ia tidak membalasnya. Aku berkata, "Assalamu Alaikum." lebih keras lagi. Ia membuka matanya sedikit dan mengenaliku. Aku baringkan kepalanya di pangkuanku, tetapi ia kembali meletakkan kepalanya di atas batu, dan membaca beberapa syair. Dua diantaranya masih kuingat, berbunyi demikian :
 
"Wahai kawanku, janganlah engkau terpedaya dengan kemewahan dunia. Karena hidupku akan berlalu. Kemewahan hanyalah untuk sekejap mata. Dan bila engkau mengusung jenazah ke pemakaman, ingatlah suatu hari engkaupun akan diusung ke pemakaman."
 
Kemudian anak itu berkata kepadaku, "Abu Amir! Jika ruhku telah melayang, mandikanlah aku dan kafanilah aku dengan pakaian yang kupakai sekarang."
 
Sahutku, "Sayangku, aku tidak keberatan membelikan kain baru untuk kafanmu."
 
Ia berkata, "Orang yang masih hidup lebih menginginkan pakaian yang baru daripada yang mati."
 
Anak itu menambahkan, "Kafan (lama ataupun baru) akan segera membusuk. Yang tinggal dengan seseorang setelah kematian adalah amal perbuatannya. Berikan sorban dan kendi airku kepada penggali kuburku dan jika engkau telah memakamkanku, sampaikan al Quran dan cincin ini kepada khalifah Harun Ar Rasyid. Tolonglah agar langsung ke tangannya dan katakan kepadanya, "Benda-benda itu dipercayakan kepadaku oleh seorang lelaki asing yang memintaku untuk menyampaikannya kepada engkau dengan pesan, "Wahai ayah, perhatikanlah, jangan sampai engkau meninggal dalam kelalaian dan terpedaya oleh dunia."
 
Dengan kata-kata itu di bibirnya, anak itu meninggal dunia. Saat itu barulah kusadari bahwa anak itu adalah seorang pangeran.
 
Setelah wafat, akupun memandikannya, mengafaninya dan membaringkannya dalam kubur sesuai dengan pesannya. Lalu kuberikan sorban dan lothanya kepada penggali kuburnya. Kemudia aku pergi ke Baghdad untuk menyampaikan cincin dan al Quran kepada khalifah.
 
Sungguh beruntung, setibanya aku di sana, baru saja iringan khalifah keluar istana. Aku berdiri di sebuah tempat yang agak tinggi sambil memperhatikan pawai itu. Tidak lama kemudian keluarlah satu pasukan terdiri dari seribu orang berkuda, diikuti oleh sepuluh pasukan lagi yang masing-masing terdiri dari seribu orang berkuda.
 
Diantara pasukan yang terakhir, terlihatlah Amirul Mukminin, maka akupun langsung memanggilnya dengan berteriak, "Amirul Mukminin, aku mohon kepadamu, atas nama hubungan kekeluargaan dengan Rasulullah Saw., berhentilah sebentar."
 
Amirul Mukminin berhenti dan melihat sekeliling, lalu aku maju kedepannya dan menyerahkan kedua benda amanat dari almarhum putera pangeran itu, lalu aku berkata, "Benda-benda ini telah dipercayakan kepadaku oleh seorang pemuda asing yang kini telah meninggal dunia, ia berwasiat agar benda-benda ini disampaikan langsung ke tangan tuan."
 
Khalifah memandangi cincin dan al Quran itu sambil menundukkan kepalanya dengan sedih. Aku melihat air matanya mengalir, kemudian ia menyuruh pengurus istana untuk mengantarku ke istananya. Aku tinggal bersama pengurus istana itu.
 
Setelah khalifah kembali pada sore harinya. ia menyuruh agar tirai-tirai istana diturunkan, dan menyuruh pengurus istana agar agar membawaku ke hadapannya, kemudian ia berkata, "Lelaki itu hanya akan menimbulkan kesedihan bagiku."
 
Pengurus istana menemuiku dan berkata, "Amirul Mukminin memanggilmu, namun ingatlah, jiwanya sedang bergoncang. Jika engkau ingin mengatakan sesuatu dalam sepuluh kata, cobalah mengatakannya dengan lima kata saja."
 
Kemudian ia mengantarkanku ke kamar pribadi khalifah. Kulihat khalifah sedang duduk seorang diri, lalu ia menyuruhku untuk duduk di dekatnya. Ia bertanya kepadaku, "Apakah kamu mengenal anakku?"
 
Jawabku, "Ya." 
 
Ia bertanya, "Apa saja yang ia lakukan untuk menafkahi hidupnya?"
 
Kukatakan bahwa ia bekerja sebagai tukang batu. Amirul Mukminin bertanya, "Apakah engkau juga pernah mempekerjakannya sebagai tukang batu?"
 
Aku berkata, "Ya, pernah kulakukan."
 
Amirul Mukminin berkata, "Apakah tidak terpikir olehmu, bahwa ia berhubungan keluarga dengan Rasulullah Saw.?" (Harun Ar Rasyid adalah keturunan Abbas r.a. paman Rasulullah Saw.)
 
Jawabku, "Wahai Amirul Mukminin! Pertama aku memohon ampun kepada Allah Swt. dan aku meminta maaf kepadamu, karena aku mengetahuinya setelah ia meninggal dunia."
 
Khalifah berkata, "Apakah engkau memandikannya dengan tanganmu sendiri?"
 
Aku berkata, "Ya."
 
Ia berkata, "Biarlah kusentuh tanganmu." Kemudian ia memegang tanganku ke dadanya dan mengusap-usap dadanya dengan tanganku, lalu ia membaca beberapa bait syair yang bunyinya :
 
"Wahai engkau yang menjauhkan dariku.
 Hatiku larut dalam kesedihan atasmu.
 Mataku mengalirkan air mata penderitaan.
 Wahai engkau yang jauh pemakamannya.
 Terlalu jauh. Kesedihanmu lebih dekat di hatiku.
 Benar, kematian itu membingungkan kesenangan yang tertinggi di dunia.
 Wahai anakku yang menjauh dariku.
 Engkau bagai bulan yang tergantung di atas dahan perak.
 Bulan telah menetap di kubur, sedang dahan perak menjadi debu."
 
Kemudian Harun Ar Rasyid memutuskan untuk pergi ke Basrah mengunjungi makam puteranya dan aku menemaninya. Ketika berdiri di sisi makam puteranya, Harun Ar Rasyid membaca syair berikut ini :
 
"Wahai pengembara ke alam yang tidak diketahui.
 Tidak akan engkau kembali ke rumah.
 Kematian telah merengutmu di awal masa remajamu.
 Wahai penyejuk mataku, engkaulah pelipur laraku.
 Kediaman hatiku, di kesunyian.
 Engkau telah merasakan racun kematian.
 Yang seharusnya ayahmulah yang minum di usia tuanya.
 Sungguh setiap orang akan merasakan kematian.
 Apakah ia seorang pengembara atau penduduk kota.
 Segala puji bagi Allah Yang Esa. Yang tidak mempunyai sekutu.
 Karena ini adalah bukti dari keputusannya."
 
Pada malam berikutnya setelah menunaikan kebiasaan ibadah harianku, dalam tidurku aku bermimpi melihat sebuah istana berkubah penuh nur. Di atasnya ada awan dari nur yang menaunginya. Dari awan nur itu keluarlah suara almarhum pemuda itu yang berkata, "Abu Amir, Semoga Allah Swt. menganugerahimu pahala terbaik."
 
Aku bertanya kepadanya, "Sahabatku, apa yang telah engkau alami di alam sana?"
 
Ia berkata, "Aku telah diakui di hadapan Tuhanku Yang Maha Pemurah dan Yang merasa senang denganku. Ia telah memberiku karunia yang mata tidak pernah melihatnya, telinga tidak pernah mendengarnya dan akal tidak dapat memikirkannya."
 
Abdullah bin Mas’ud r.a. berkata, "Di dalam Taurat tertulis bahwa Allah Swt. menyiapkan suatu karunia bagi mereka yang meninggalkan tempat tidurnya untuk menangis kepada Tuhan mereka (dalam shalat Tahajjud) yang tidak pernah mata melihatnya, tidak pernah telinga mendengarnya, tidak pernah terpikirkan oleh akal seseorang dan tidak ada seorangpun atau malaikat yang mengetahuinya, dan tidak pernah diketahui oleh siapapun.  Allah Swt. berfirman di dalam al Quran :
AsSajdah
 
 
"Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan."
(As Sajdah ayat 17)
 
Kemudian arwah pemuda itu berkata kepadaku (dalam mimpi), "Allah Swt. telah berjanji kepadaku, bersumpah demi keagungan-Nya. bahwa Ia akan menganugerahi kehormatan dan karunia semacam itu kepada semua yang keluar dari dunia seperti aku, tanpa ternodai olehnya"
 
Penulis Raudh berkata bahwa kisah ini juga telah sampai kepadanya melalui periwayat yang lain. Ditambahkan dalam riwayat ini bahwa seseorang bertanya kepada Harun Ar Rasyid mengenai puteranya. Ia berkata, "Puteraku dilahirkan sebelum aku diangkat sebagai khalifah. Ia diasuh dan diajarkan adab dan sopan santun dengan sangat baik. Ia telah mempelajari al Quran dan ilmu-ilmu agama lainnya. Tetapi ketika aku diangkat menjadi khalifah, ia meninggalkanku dan pergi. Kebesaran duniawiku tidak memberikan kesenangan dalam hidupnya. Dan ia tidak ingin memanfaatkannya sedikitpun. Ketika ia akan pergi, aku meminta ibunya agar memberinya sebuah cincin mutiara yang indah. Namun ia menolak memakainya dan mengirimnya kembali sebelum ia wafat. Anak itu sangat patuh kepada ibunya." (Raudh) 
 
Harun Ar Rasyid rah.a, -yang puteranya tidak menyukai dunia- terkenal sebagai khalifah yang sangat shaleh dan budiman. Biasanya, jika seseorang memilki kekuasaan dan harta kekayaan, suka tergelincir dalam perbuatan-perbuatan buruk, tetapi sejarah membuktikan bahwa ia banyak terjun dalam hal agama. Selama masa kekhalifahannya, ia shalat nafil seratus rakaat setiap hari hingga wafatnya. Ia suka bersedekah dari saku pribadinya seribu dirham setiap hari. Ia juga memimpin pasukan jihad dan beribadah haji dua tahun sekali.
 
Apabila beribadah haji, ia membawa seratus alim ulama dan putera mereka bersamanya. Dan pada tahun-tahun ia berjihad, ia akan mengirim tiga ratus orang rakyatnya untuk pergi haji. Ia menanggung biaya-biaya perjalanan, makanan dan pakaian mereka. Ia memberikan pelayanan dan pakaian yang terbaik untuk mereka. Ia pun biasa memberi hadiah kepada siapapun yang meminta pertolongannya, dan menolong siapapun  atas  kehendaknya tanpa  diminta.  Ia sangat mencintai alim ulama, yang mendapat penghormatan tersendiri di istananya.
 
Suatu ketika, muhaddits terkenal Abu Muawiyah ad Dharir (bermakna yang buta) makan bersama Harun Ar Rasyid. Setelah makan, ketika ulama buta itu berdiri untuk mencuci tangannya, khalifah langsung mengucurkan air ke atas tangannya., dan berkata bahwa ia melakukan itu karena penghormatannya kepada ilmunya.
 
Abu Muawiyah ad Dharir rah.a. berkata, "Suatu ketika, pada saat aku menceritakan kepadanya tentang hadits Rasulullah Saw. tentang perdebatan antara Adam a.s. dan Musa a.s. ada seseorang laki-laki yang duduk di dekatnya berkata, "Di mana mereka telah bertemu?"
 
Mendengar hal ini, Harun Ar Rasyid langsung berseru marah, "Mana pedangku? Biar kupenggal leher orang zindiq ini. Ia berani membantah hadits Rasulullah Saw.?"
 
Dan Harun Ar Rasyid sering menangis keras bila ada nasehat yang ditujukan kepadanya. (Sejarah Baghdad- Al Khatib). 
 
Sumber : Fadhilah Sedekah - Maulana Muhammad Zakariyya Rah.a. 

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Gary Rogers