Dunia Sementara Akhirat Selamanya

27 Desember 2008

Keislaman Kita

Filed under: Seputar kita

Beberapa tahun lalu saat saya berada di Denpasar Bali, saya pernah diolok-olok oleh kawan-kawan di tempat saya bekerja. Pasalnya hanya sepele dan sederhana saja. Jenggot. Ya hanya janggut atau jenggot yang saya kenakan di dagu saya. Kawan-kawan di kantor saya yang rata-rata beragama Hindu tertawa dan sepertinya menikmati sekali dengan olok-olok mereka kepada saya. Entah apakah itu hanya sekedar gurauan mereka atau mereka memang merasa risih dengan kehadiran saya disana. Karena saya memang orang baru di kantor itu. Kisah yang lain lagi saat saat sedang berkunjung ke apotik dekat tempat kost saya di kota yang sama. 2 orang gadis remaja senyum-senyum saat akan berpapasan dengan saya. Eh saat sudah dekat, mereka bilang, "Mas..mas, Jenggotnya boleh minta nggak ?"  Saya hanya tersenyum geli dan tidak menyangka mereka akan bilang seperti itu.

Bagi saya hal semacam itu bukan sekali dua kali mengalaminya. Guru ngaji saya sendiri pernah mengejek saya walau itu tidak dilakukan didepan saya langsung. Guru ngaji saya sepertinya tidak senang dengan kesukaan saya memelihara jenggot dan aktif menggerakkan orang-orang di tempat saya tinggal untuk sama-sama memakmurkan masjid. Namun bagi saya itu bukan masalah besar. Tantangan dakwah memang seringkali datang dari orang-orang terdekat kita. Saya seringkali menghibur diri dengan bergumam, "Nabi saja mendapat tantangan besar dari kerabatnya sendiri ketika beliau berdakwah, apalagi saya yang penuh dengan dosa, dan tidak paham agama." Namun justru dengan adanya tantangan seperti itu semakin membuat saya yakin dengan agama ini. Dan sungguh saya sangat menikmati kerja dakwah ini. Ayah saya, yang dulu selalu menentang habis-habisan saat saya baru mulai aktif dalam usaha dakwah, bahkan hampir hampir menganggap saya bukan sebagai anaknya, Allah telah bukakan pintu hatinya dengan keikutsertaannya kepada usaha ini. Ayah saya yang dulu jauh dari masjid walau dulu sering ikut dalam pembangunan masjid, telah Allah lapangkan dadanya dengan merestui usaha yang saya ikuti ini. Bahkan beliau sudah ikut pula dalam usaha dakwah. Tidak sia-sia saya mendoakannya selama 8 tahun. Tidak terasa dulu saat ayah saya selalu tertidur saat adzan di masjid dikumandangkan dan enggan untuk shalat berjamaah, sekarang ini sudah aktif pula mengajak orang lain untuk sama-sama memakmurkan masjid di tempat kami. Bagi saya hidayah yang Allah sematkan ke dalam hati ayah saya, jauh lebih mahal dari isi dunia ini. Ya, 5 tahun lalu ayah saya telah Allah gerakkan hatinya untuk sama-sama andil dan ikut bagian dalam usaha dakwah. Saya seringkali merasa iri ketika melihat orang-orang yang sudah berusia lanjut, namun masih semangat dalam usaha perbaikan diri. Mereka bersegera dalam iman dan amal serta pergi jauh untuk mendakwahkan agama ini ke seluruh penjuru dunia. Dengan bekal mereka sendiri tanpa mengharapkan imbalan dan pujian dari orang lain, selain hanya Ridha Allah dan khusnul Khatimah yang mereka harapkan, mereka telah berjuang dengan sungguh-sungguh pergi ke kampung-kampung dan kota-kota yang ada di negara kita ini dan ke seluruh dunia.

Mereka telah tinggalkan untuk sementara segala kesibukan duniawi mereka untuk memikirkan dan mengusahakan agar orang lainpun mendapatkan cahaya keimanan. Agar orang lain dapat merasakan kenikmatan Hidayah dan beribadah kepada-Nya. Agar orang lainpun paham betapa mahal dan nikmatnya iman dan islam yang telah Allah berikan kepada kita. Agar orang lainpun paham dan cinta untuk mengamalkan agama dan sunnah. Agar mereka paham bahwa Rasulullah dan sahabat-sahabatnya telah lakukan perkara yang sama. Rasul dan sahabat-sahabatnya telah berjuang untuk agama dengan mati-matian. Nyawa dan harta telah mereka korbankan untuk agama. Bahkan istri Rasulullah yang mulia Siti Khadijah telah habiskan hartanya untuk kekasihnya untuk dikorbankan agar hidayah tersebar ke seluruh alam. Siti Fatimah telah minum darah dari tubuh Ibundanya karena Siti Khadijah telah kehabisan air susu di dalam tubuhnya. Harta Siti Khadijah- yang waktu itu termasuk saudagar paling kaya, dan disebutkan bahwa kekayaan Khadijah 1/3 dari harta seluruh orang Arab- telah habis untuk agama ini. Dan masih banyak lagi kisah-kisah pengorbanan yang telah sahabat lakukan untuk agama ini hingga Allah telah sebarkan agama ke seluruh penjuru dunia karena perjuangan dan pengorbanan mereka.

Namun saat ini, jika ada orang yang dengan suka rela berkorban untuk agama, kita telah mentertawainya. Kita tak paham dengan perjuangan Rasulullah dan para sahabat. Orang islam kini, tidak cinta dengan bentuk pengorbanan seperti ini. Mekeka lebih cinta berjuang dan berkorban untuk perkara yang lain yang lebih mereka senangi. Hari ini orang islam telah berjuang dan berkorban setiap hari untuk sesuatu perkara yang bakal di tinggal mati. 24 jam waktu kita, telah kita korbankan untuk perkara-perkara yang bakal kita tinggalkan. Hingga kitapun tak paham dengan agama ini. Kita tak paham dengan islam dan keislaman kita. Kita tak paham dengan sunnah Nabi. Hari ini kita, tak paham dengan agama ini. Hingga orang diluar islampun tak paham dengan islam. Jika kita tidak paham dengan agama ini bagaimana orang lain diluar islam akan paham.

Orang islam saat ini tak suka ke masjid hingga masjid-masjid kita kosong. Kenapa orang islam tak suka dan berat untuk melangkahkan kakinya kemasjid karena kita tak kenal apa fungsi dan keutamaan masjid. Kita tak tahu bahwa masjid adalah tempat dimana Rahmat Allah turun. Masjid adalah tempat yang paling Allah cintai. Jika kita ingin dicintai Allah maka cintailah masjidnya. Jika kita ingin menjadi tamu Allah maka datanglah ke masjid dan buat amalan-amalan masjid. Salah satu tanda keimanan kita kepada Allah dan hari akhir adalah dengan kita banyak memakmurkan masjid-masjid. Hampir seluruh sahabat-sahabat nabi telah habiskan waktunya untuk masjid. Sahabat telah buat dakwah di masjid. Sahabat telah belajar ilmu agama dan mendengarkan nasehat-nasehat agama di masjid. Sahabat-sahabat nabi telah tegakkan shalat berjamaah dan ibadah-ibadah lainnya di masjid. Hingga Masjid Nabawi penuh dengan orang-orang yang berdzikir dan baca quran. Dan sahabat sahabat nabi telah belajar akhlaq dimasjid. Masjid nabi dahulu telah hidup 24 jam penuh dengan amalan-amalan agama. Hingga Abdullah bin Ummi Ma’tum telah adzan pada dini hari untuk membangunkan orang-orang untuk Qiyamul Lail. Saat sahabat-sahabat Nabi telah ber-asyik masyuk dan bercumbu dengan kekasihnya, Allah SWT. mereka lupa dengan perkara-perkara dunia. Mereka merintih, menangis, bergetar dan roboh badannya karena takut kepada Allah. Hingga kesan amalan yang telah sahabat buat di masjid sampai diluar masjid. Di jalan-jalan, pasar-pasar, ladang dan sawah, serta rumah-rumah sahabat telah hidup agama 100%. Dirumah sahabat-sahabat nabi telah hidup amalan masjid. Rumah-rumah sahabat nabi telah tumbuh subur menjadi madrasah-madrasah yang melahirkan pejuang-pejuang islam, hafidz dan hafidzah, alim dan alimah, serta abid dan abidah. Dari rumah-rumah sahabat nabi telah hidup ahklaq dengan sempurna hingga menjamu tamu menjadi bagian dari amalan yang mereka sukai. Hingga agama telah mereka amalkan dengan sempurna dan 100%.

Kita lihat keadaannya sekarang ini sungguh berbalik 180 derajat. Masjid-masjid kita kosong, rumah-rumah kita hampa dan kering dari amalan agama. Di jalan-jalan dan pasar-pasar maksiat dimana-mana. Wanita mirip dengan laki-laki dan laki-laki mirip dengan wanita. Orang islam tak mengamalkan islam. Orang islam malu mengamalkan islam. Malu menggunakan peci, malu untuk shalat, malu bersedekah, malu menggunakan janggut, malu menggunakan sorban dan malu menggunakan jubah. Orang islam lebih bangga dan nyaman dengan pakaian diluar islam. Rumah-rumah kita telah tumbuh subur kelalaian kelalaian. Dahulu jaman nenek saya, jika sehabis maghrib maka hampir disetiap rumah terdengar bacaan quran, sekarang sudah jarang dan langka. Televisi menjadi idola yang harus kita tonton dan tak boleh kita lewati. Bayangkan, televisi sekarang sudah ada di rumah-rumah desa dan dipucuk-pucuk gunung dan ditonton secara serentak oleh orang-orang islam. Ditonton dan dicermati tanpa komando. Dan dikamar-kamar dan bilik-bilik orang islam telah menjadi hiburan wajib yang mesti ada. Padalah seringkali acara-acara televisi tidak mendidik dan hanya merusak akidah orang islam. Budaya barat telah membumi di tanah dan negeri kita. Pakaian dan tatacara hidup sudah berubah kini. Hukumnya wajib nonton film, wajib nonton sinetron dan infotainment serta gosip-gosip murahan yang sebenarnya merupakan ghibah. Sementara bacaan Quran dan dzkikir kalah tenar dikalangan kita. Sudah jarang anak-anak mudah yang menekuni Al Quran. Al Quran seolah olah hanya milik orang-orang tertentu yang mondok di pesantren. Hingga rumah-rumah orang islam kering dari suasana dan amalan agama. Kering dari hidayah dan Rahmat. Namun seketika bencana dan adzab datang kita saling menuding satu sama lain. Padahal kita sendiri yang telah merubah keadaan. Kitalah yang telah merubah suasana keadaan kita ini hingga jauh dari agama. 

Dan pernikahan-pernikahan orang islam tak sesederhana jaman Nabi. Pernikahan-pernikahan orang islam sekarang mewah luar biasa. Hingga makanan tumpah dimana-mana. Bahkan demi kemewahan kita rela berhutang untuk mengadakan pesta-pesta pernikahan. Pakaian dan tata cara kita telah jauh dari islam. Ahklaq kita telah jauh dari islam. Keyakinan dan amalan kita telah sirna. Punah dihempas tipuan dunia dan kebohongan. Kita telah menyakiti Allah dan Rasulnya. Hari ini Rasul sedih luar biasa karena melihat kita tak kenal dengan syariah dan akidah yang Rasul bawa. Rasul kita telah kita bohongi dan kita sakiti karena kita lebih cinta kepada keduniawian kita daripada agama kita.

Maka dari itu diperlukan adanya perjuangan dan pengorbanan. Orang islam perlu bangkit dan berbenah diri. Kalau kita ingin dianggap sebagai umat nabi, maka kita mesti senangkan nabi kita. Bukan hanya sekedar tulisan dan kata-kata untuk mengajak kepada kebaikan.  Karena tulisan dan kata-kata kebaikan sudah ada dimana-mana. Yang perlu kita lakukan sekarang adalah pengorbanan untuk agama. Korban dengan harta dan diri kita. Kita perlu korbankan kecintaan kita dan harta kita untuk agama. Karena diri kita ini bukan milik kita. Diri kita ini milik Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya hidup dan mati kita untuk Allah SWT. Allah telah beli harta dan diri kita dengan surga. Untuk mendapatkan Surga kita perlu korban untuk agama ini. 

"Sesungguhnya Shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah Tuhan Semesta Alam" 

5 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://hanafishahdan.blogsome.com/2008/12/27/keislaman-kita/trackback/

  1. "Sesungguhnya Shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah Tuhan Semesta Alam"

    Terima kasih untuk mengingatkan kami, dan juga ingin memberitahukan bahwa

    Kami pindah alamat di http://catatanmuslim.web.id
    Semoga berkenan. terima kasih

    "Terima kasih banyak atas informasinya dan kunjungannya.. Insya Allah akan berkunjung balik... semoga kita selalu dikuatkan untuk berdoa memohon Hidayah."

    Comment by Catatan Muslim — December 27, 2008 @ 10:55 pm

  2. Saya tersentak oleh kearifan rekan saya saat mendapat cobaan melalui rekan lainnya. Bagaimana tidak, rekannya telah berupaya untuk merusak rumah tangga yang telah dibangun sekitar 10 tahun. Tapi apa yang dia bilang pada rekannya itu, "saya bersyukur kepada Allah, karena Ia telah mencobaku melalui kamu. Saya malah tidak tahu, kalau cobaan itu datang melalui orang lain". Subhanallah. Dalam cobaan, rekan saya itu masih bersyukur kepada Allah.

    "itulah kesabaran dan kearifan orang islam yang sebenarnya... jika iman sudah merasuk dan hati selalu ingat akan Allah maka dia akan selalu membawa Allah dalam setiap kehidupannya. Walau itu berupa cobaan dan ujian. Allah selalu ia kaitkan dalam hidup ini. Semua datang dari Allah. dan Yang menyelesaikan pun Allah jua."

    Comment by aqsci — December 28, 2008 @ 11:42 pm

  3. assalamualaikum wr wb

    mencerahkan mas. marilah kita selalu menghidupkan perintah Allah lewat tulisan2 begini, nasehat menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. jazakumullah khairan katsiran.

    Wa'alaikumus salam wr. wb. semoga Allah SWT membalas segala kebaikan yang kita perbuat walaupun kecil, salam hangat dari saya mas Arif

    Comment by arifrahmanlubis — December 30, 2008 @ 8:11 am

  4. assalamu'alaikum

    subhanallah...
    keep istiqamah ya akh.
    perjalanan dakwah tak kan usai sebelum kedua kaki kita menginjak surga

    tetap yakin,
    bahwa janji Allah haq dan pasti.
    biar Allah saja yang menyemangati kita, sehingga tanpa sadar tiap peristiwa menjadi teguran atas kemalasan kita.
    cukup Allah saja yg memelihara ketekunan kita,
    karena perhatian manusia terkadang menghanyutkan keikhlasan.

    ingatlah kawan,
    kebahagian hakiki tidak diukur dari materi,
    tapi kebeningan hati, kesucian jiwa...

    H-a-m-a-s-a-h !
    = never ending dakwah =

    wassalamu'alaikum

    Comment by loveAlloh_atik — January 3, 2009 @ 11:35 am

  5. Waaahhh.. sy sampai bingung mau ngomong apa mas.., very enlightening, inspiring experience..

    Comment by massigit — January 3, 2009 @ 12:14 pm

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham