Manusia dan Patung
Pada Jaman dahulu, tidak jauh dari masa Nabiulllah Adam Alaihissalam, manusia saat itu masih banyak yang taat dan mengenal Allah. Mereka senantiasa menyembah Allah. Dan diantara mereka masih ada orang-orang yang taqwa dan shaleh. Orang-orang shaleh itulah yang menjadi panutan dan pemimpin mereka. Mereka selalu menjadi tempat meminta nasehat dan tempat untuk bertanya masalah-masalah agama. Namun ketika orang-orang shaleh yang ada diantara mereka wafat, maka mereka tidak mempunyai tempat lagi untuk bertanya. Mereka kehilangan tokoh panutan yang bisa membimbing mereka kepada jalan yang benar. Ketika orang-orang shaleh diantara mereka telah tiada maka mereka dihasut oleh setan laknatullah ‘alaih untuk membuat patung-patung orang shaleh sebagai tempat perantara guna mereka menyembah Allah. Dengan patung-patung itulah mereka akan selalu mengingat nasehat-nasehat orang shaleh yang telah wafat. Dengan patung-patung itulah mereka merasa ibadah-ibadah yang mereka lakukan menjadi lebih khusuk. Perbuatan itu pada akhirnya menjadi kebiasaan yang sering mereka lakukan. Dan pada akhirnya keturunan-keturunan mereka melihat bahwa bapak-bapak mereka dan orang tua-orang tua mereka telah menyembah patung-patung itu sebagai tuhan-tuhan mereka. Pada saat itu lah sudah terjadi pergeseran akidah. Allah SWT. yang seharusnya mereka sembah dan tempat mereka bergantung telah digantikan posisinya oleh patung-patung orang shaleh tadi. Apa yang mereka lihat dari bapak-bapak mereka itulah yang mereka lakukan. Keturunan-keturunan merekapun melakukan hal yang sama. Akhirnya menjadi suatu kebiasaan bahwa mereka telah menyembah patung sebagai ritual yang turun temurun. Hingga Allah telah menghantar nabi Nuh ‘alaihissalam untuk mengingatkan mereka agar mereka meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang mereka kerjakan. Sudah seharusnya mereka menyembah Allah SWT. yang menghidupkan dan mematikan mereka. Hanya Allah Yang Maha Pemberi Rizki. Allah Swt Yang Menciptakan langit dan bumi dan semua mahkluknya. Namun orang-orang itupun telah mengingkari seruan nabiullah Nuh ‘Alaihissalam. Dan hanya sebagian kecil saja yang mengikuti seruan nabi Nuh ‘Alaihissalam.
Diatas adalah sejarah singkat kenapa patung-patung itu ada. Jadi patung-patung itu pada awalnya digunakan oleh umat terdahulu sebagai sarana ibadah dan peyembahan kepada Allah Swt. agar ibadah ibadah mereka bertambah khusuk. Namun sebenarnya ini adalah hasil kerja setan laknatullah ‘alaih yang telah menghasut dan membisiki mereka agar mereka membuat patung-patung itu, dan dengan patung-patung itu manusia senantiasa berpaling dari Allah SWT.
Nah, sekarang inipun keadaannya sama dengan jaman dahulu. Saat ini kita telah membuat patung-patung yang lebih hebat dari patung-patung jaman dahulu. Patung-patung jaman sekarang jauh lebih canggih dari patung-patung jaman dahulu. Patung-patung jaman sekarang seolah-olah terasa jelas memberi keutungan materi buat kita. Dengan patung-patung yang ada sekarang ini, tidak terasa akidah kita telah bergeser dan menuju jalan kepada keyakinan kepada selain Allah. Dengan patung-patung itu akidah kita telah hancur dan rusak. Keyakinan kita kepada Allah telah jauh terpuruk tanpa kita sadari. Karena bapak-bapak kita dan orang tua kita telah mengajari perkara dunia dan kebendaan kepada kita sebagai tujuan hidup kita. Apa yang telah dilakukan oleh orang tua kita itulah apa yang kita kerjakan. Dan celakanya kita tidak merasa berbuat sesuatu yang salah dan fatal. Memang kita melakukan ibadah seperti sholat dan lain sebagainya. Namun ibadah yang kita lakukan tanpa disertai keyakinan dan ruh dalam setiap amalannya. Ibadah yang kita kerjakan hanyalah sebatas rutinitas tanpa kita paham untuk apa kita beribadah. Kekhusukan dalam sholat kita punah jika tak ada uang dikantong kita. Keheningan dan ketawajuhan dalam bacaan quran kita sirna manakala hati kita senang dengan keduniawian kita. Sedekah kita tidak mendapatkan bantuan Allah karena masih ada rasa cinta terhadap harta yang kita sedekahkan. Secara dhahirnya kita beribadah namun hati kita tawajuh dengan dunia kita. Karena hati kita tetap meyakini dengan benda-benda dan segala sesuatu yang ada disekitar kita. Hingga jangan heran jika ada saudara-saudara kita yang dengan rela melepas keislamannya jika ditawari materi dan kebendaan yang tidak seberapa nilainya dibanding dengan iman dan agamanya. Karena saat ini kita telah yakin dengan usaha kita, dengan toko kita, dengan kantor kita, dengan sawah dan ladang kita, dengan perusahaan kita, dengan pabrik kita. Inilah patung-patung yang lebih hebat dan jauh lebih canggih dari patung-patung jaman dahulu. Islam yang ada sekarang ini telah menjadi agama materi dan kebendaan. Inilah agama baru kita. Kita takut jika kita tidak punya toko, tidak punya sawah, tidak punya kantor, tidak menjadi pegawai negeri, tidak punya uang, tidak punya perusahaan dan segala macam ketidakpunyaan. Hati kita senantiasa dirundung kesedihan jika kita tidak punya televisi, tidak punya mobil, tidak punya motor, tidak punya rumah bagus dan mewah, tidak punya handphone dan tidak punya benda-benda seperti yang orang-orang miliki. Padahal itu adalah sebagai sarana dan fasilitas saja. Namun kita telah menjadikan kebendaan sebagai tujuan hidup kita. Sebagian besar uang kita telah kita habiskan untuk membeli barang-barang yang sifatnya sementara saja. Padahal harta kita yang sesungguhnya adalah apa yang telah kita infakkan di jalan Allah. Harta kita yang kekal adalah apa yang telah kita berikan untuk agama dan iman kita.
Inilah keadaanya jika iman telah lemah dan rusak. Iman kita telah menduduki posisi terendah dan terburuk sehingga iman kita rapuh dan mudah sekali digoyahkan dengan benda-benda dunia. Tanpa kita sadari iman kita telah menjadi iman kepada kebendaan. Iman kita cacat dan rusak. Yakin kepada harta, pangkat, jabatan, kedudukan, materi dan lain sebagainya. Dunia menjadi tujuan hidup kita. Dunia menjadi tempat kita untuk menumpuk-numpuk harta dan apa saja yang sesuai dengan nafsu kita. Sebaliknya kita tidak yakin dengan kekuasaan Allah. Kita tidak yakin dengan kehebatan Allah. Kita tidak yakin dengan Allah Yang Maha Pemberi Rejeki dan Kesehatan. Semua ada dalam genggaman Allah. Allah yang telah mengatur segalanya. Segala macam kesusahan dan kesempitan adalah hanya ujian saja. Tidak punya sawah bukan berarti kita tidak bahagia, tidak punya toko bukan berarti kita tidak bahagia, tidak punya mobil dan kendaraan bukan berarti kita kita dapat hidup dengan tenang. Tidak menjadi pegawai negeri bukan berarti kita tidak bisa makan. Karena kita masih punya Allah yang Maha Pemberi segalanya. Kita lupa bahwa Allah lah yang telah mengatur segala hidup kita. Namun kita sekarang ini telah meyakini patung-patung yang lebih canggih dan modern daripada patung-patung jaman dahulu. Padahal jika kita mati selesailah segala urusan dunia kita. Kita tinggalkan segala macam kebendaan dan keduniaan kita. Yang menemani hanyalah iman dan amal kita selama kita di dunia. Bagaimana yakin kita kepada sesuatu itulah yang akan menjadi bekal perjalanan kita yang abadi. Jika kita yakin kepada Allah inilah yang akan menyelamatkan kita. Jika kita mati membawa iman dan yakin kepada Allah ini lah yang akan menerangi cahaya kita dalam kubur. Namun jika kita yakin kepada kebendaan dan keduniaan maka ini pula yang akan menyebabkan kita celaka. Akhirat adalah tempat untuk kita berwisata abadi tiada akhir, kendaraannya adalah apa yang kita miliki sekarang ini. Iman dan amal kitalah yang akan menyelamatkan kehidupan kita sesudah mati. Dunia inilah yang sangat menentukan nasib kita kelak. Maka jangan sia-siakan hidup kita yang sebentar ini. Semua sudah terbukti dan tak perlu dipertanyakan lagi. Perbaiki iman kita segera mungkin karena kita tidak tahu kapan umur kita berakhir. Karena untuk mati membawa kalimat "Laa ilaha Illallah muhammadur rasulullah" tidaklah mudah. Semua tergantung apa yang ada di hati kita. Hati kita seperti handuk yang dicelupkan dengan tinta biru maka jika diperas maka akan keluar tinta warna biru. Seperti gelas yang diisi air susu maka jika dituang akan keluar susu. Dan jika diisi air comberan maka jika dituang maka akan tumpah air comberan. Begitu pula hati kita, jika kita isi dengan iman dan yakin hanya kepada Allah maka matipun membawa iman. Jika hati kita yakin kepada benda-benda dunia, maka matipun yang disebut adalah benda-benda dunia. Seperti pemilik toko emas yang cinta kepada tokonya, maka matipun yang diucapkan adalah "emasku… emasku". Masya Allah. Dunia sementara, akhirat selamanya.









selamat mengikuti 1st IBSN™ Blog Award.. ^_^
Comment by cantigi™ — December 22, 2008 @ 4:41 pm
maaf mas hanafi, kalo boleh saran. backsound lagunya kalo bisa dibuat opsi, engga langsung play. saya barusan aga kaget, karena setiap hari saya menggunakan headphone untuk voice chat dg klien, tadi semua tertutup oleh backsound di blog ini. dan saya ga bisa online untuk menilai artikel ini, jadi saya copy paste, ntar di baca offline aja. sy aga bingung disable backsoundnya. makasih.. ^^
Comment by cantigi™ — December 22, 2008 @ 4:45 pm
Disorientasi hidup yang keliru...
Bukankah begitu ?
Comment by putri — December 23, 2008 @ 11:54 am
Nabi Muhammad S.A.W. saat sakaratul Maut menyebut "Ummati..Ummati.." kalau umat Nabi Muhammad S.A.W yang berima Sakaratul Maut mengucap "Robbi..Robbi" kaau penyembah Dunia Sakaratul Maut mengucap "Sapi..Sapi.." Na'udzubillahi min dzalik..
Comment by Nuruddin — April 15, 2009 @ 6:58 am