Dunia Sementara Akhirat Selamanya

07 Desember 2008

Hikmah Dibalik Pengorbanan Sang Khaliullah

Filed under: Tahukah anta

UntaJibril pun bertakbir Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar, Ibrahim pun bertakbir… Laailaha illallaahu Allahu Akbar, Ismail pun bertakbir Allahu Akbar walillaah ilhamdu.. ketika Allah telah mengganti Ismail yang sedianya akan dikorbankan dan disembelih oleh ayahnya Nabi Ibrahim dengan domba sebagai tanda bahwa Ibrahim telah lulus ujian yang berat. Kisah ini telah Allah ceritakan dalam Al Quran sebagai bukti bahwa orang-orang yang selalu mengutamakan perintah Allah diatas segalanya akan mendapat pertolongan Allah. 

"Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar, sebagai tebusan atas Ismail a.s." (surah as-Shaffat ayat 107).

Maka atas pengorbanan dan perjuangan nabi Ibrahim, Allah telah angkat Ibrahim sebagai Khaliullah (kekasih Allah).

"Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama nabi Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya" (QS. An Nisa 125)

Baca kisah selengkapnya di sini

Dari kisah kehidupan Nabi Ibrahim yang panjang, merupakan pelajaran penting yang dapat kita ambil hikmahnya bagi kita umat islam, agar semua itu dapat menjadi teladan, sehingga kita dapat meniru perbuatan dan amalannya, agar kitapun mendapat ridha Allah Swt. Namun untuk mendapatkan ridha Allah tidaklah semudah mengucapkannya. Ridha Allah Adalah sesuatu yang mahal yang mesti kita raih agar kehidupan kita ini tidak menjadi kehidupan yang sia-sia. Ridha Allah adalah mutiara yang mesti kita gali dari lumpur kehidupan ini, Ridha Allah bagaikan batu permata yang sangat tinggi nilainya yang untuk mendapatkannya mesti kita pertaruhkan dengan harta, waktu dan diri kita. Ridha Allah adalah tiket yang luar biasa mahal agar kita dapat menaiki kereta kencana yang bernama agama yang akan membawa kita kepada keselamatan dan kehidupan yang bahagia secara hakiki. Untuk itu dari kisah kehidupan nabi Ibrahim, marilah sama-sama kita ambil hikmah agar kita dapat menirunya sehingga dengan perbuatan itu akan membuat Allah senang kepada kita. Berikut hikmah dari kisah Ibrahim ‘alaihissalam yang dapat saya tuliskan, mudah-mudahan dapat menjadi bahan perenungan kita, agar kitapun dapat lulus uji karena pada hakekatnya hidup ini segalanya penuh dengan ujian dan cobaan. Hikmah ini adalah menurut apa yang saya pahami, oleh karena itu anda boleh saja menyangkal pendapat saya ini. Jika ada kekurangan dari apa yang saya cantumkan disini silahkan dilengkapi dan ditambahkan.

Pertama Kita harus senantiasa merasa yakin sepenuhnya dengan perintah-perintah Allah. Bahwa dalam setiap perintah Allah pasti akan mendatangkan pertolongan, keberkahan dan keselamatan. Bahwa perintah Allah adalah sesuatu yang besar dan harus segera kita laksanakan. Dibalik perintah Allah pasti menyimpan keberkahan dan pertolongan. Dan Allah tidak akan pernah sekalipun menyia-nyiakan hamba-Nya yang senantiasa taat kepada-Nya. Jika kita menganggap besar setiap perintah Allah maka Allahpun akan memuliakan diri kita, dan sebaliknya jika kita menganggap kecil perintah Allah maka Allah pun akan merendahkan diri kita. Walau sesulit apapun perintah Allah itu, mesti kita jalankan. Kita tidak boleh meragukan perintah Allah. Nabi Ibrahim adalah nabi yang berpengalaman. Walau terasa berat perintah itu dijalankan, namun nabi Ibrahim paham bahwa dibalik perintah Allah itu ada janji-janji Allah. Semakin berat kadar perintah Allah maka semakin besar pula janji dan pertolongan Allah. Ketika datang perintah Allah melalui mimpinya, untuk menyembelih anak kesayangannya Ismail, Ibrahim ‘alaihissalam sadar bahwa perintah itu amatlah berat untuk dijalankan. Ujian ini terasa lebih berat ketimbang perintah untuk meninggalkan istri dan anaknya di tanah yang kering dan tandus Makkah Al Mukarromah saat itu. Namun Ibrahim ‘alaihissalam yakin sepenuhnya bahwa semakin berat perintah Allah maka semakin besar pula petolongan Allah. Nabi Ibrahim adalah seorang nabi. Bukanlah nabi jika dia tidak dapat menjalankan perintah Allah. Maka ketika dia dinyatakan lulus ujian Allah yang Maha Berat Allah telah membuat ketetapan dengan kabar melalui malaikat Jibril bahwa Allah akan menjadikan anak dan keturunannya sebagai manusia-manusia mulia. Mereka menjadi nabi-nabi. Ishaq anaknya yang berada di Syam (Palestina) telah Allah angkat menjadi nabi dan menurunkan nabi Yaqub yang kemudian akan menurunkan nabi-nabi bani Israil. Sedangkan Ismail telah Allah angkat pula menjadi nabi yang kemudian akan menurunkan Nabi Besar penghulu segala nabi yaitu Rasulullah Saw. Dan semenjak itu Allah tidak mengangkat nabi dari keturunan lain selain dari keturunan nabi Ibrahim. Bahkan Allah telah jadikan Rasulullah sebagai pemimpin para nabi, manusia paling mulia dan pemimpin seluruh manusia dunia dan akhirat. Allah telah muliakan setingi-tingginya Rasulullah nabi kita sebagai penutup pintu kenabian.

Kedua Kisah penyembelihan kambing merupakan simbolis bahwa kita mesti memyembelih kecintaan kita kepada selain Allah. Karena yang mesti kita cintai hanyalah Allah. Kita patahkan segala macam bentuk kecintaan kita kepada selain Allah. Hanyalah Allah yang mesti kita utamakan. Nabi Ibrahim dinyatakan telah lulus dalam ujian ini. Beliau berhasil menyembelih kecintaan-kecintaan kepada selain Allah walau sang anak tersayang mesti dikorbankan asal demi menyenangkan Allah. Namun pada prakteknya kita ini sudah terlalu sering mengutamakan kepentingan-kepentingan dunia dan kebendaan. Allah selalu menjadi urutan nomor sekian dan sekian dalam praktek pengamalan agama kita. Allah Swt. tuhan kita sudah terlalu sering kita khianati dan kita pungkiri. Kita sering mengatakan bahwa kita cinta Allah, kita rindu Allah, namun kenyataannya berapa banyak kita sudah menyakiti Allah. contoh kecil ketika datang panggilan shalat, berapa kali kita sudah mengindahkan dan mengabaikannya. Apakah pantas kita ini disebut hamba Allah jika dalam setiap praktek kehidupan kita, Allah selalu kita kesampingkan. Kita lihat dalam diri kita masing-masing, lihat sanubari kita yang paling dalam, walau benar kita ini cinta Allah namun prakteknya Allah hanyalah gambar usang yang sudah rapuh dan tidak menjadi perhatian utama dalam kehidupan kita. Allah hanyalah simbol yang ada di dinding-dinding rumah kita tanpa ada ruh agama dalam diri kita. Hati kita ini terlalu sering berselingkuh dan menduakan Allah dan lebih mengutamakan kepentingan-kepentingan dunia kita. Kadar iman kita yang buruk menyebabkan kita selalu menyakiti dan menduakan Allah. Kisah Ibrahim as. dan Ismail as. adalah pelajaran berharga yang mesti kita contoh dan teladani, agar kita dapat benar-benar menjadi hamba Allah yang sesungguhnya. Memang berkata itu mudah yang terpenting adalah mengamalkannya.

Ketiga Dalam mendidik anak agar menjadi anak yang shalih ternyata tidak semudah yang kita bayangkan. Anak yang shalih didapat dari keturunan yang shalih pula. Dan untuk mendapatkan anak yang shalih perlu campur tangan Allah untuk membentuk pribadi dan akhlaknya. Untuk mendapat anak yang shalih kita perlu berkorban dan berjuang untuk agama Allah. Jika kita senantiasa berjuang mendakwahkan agama Allah maka Allah akan menjamin keturunan dan keluarga kita. Sebagaimana nabi Ibrahim yang telah berjuang dan berkorban untuk agama Allah. Sekarang ini berapa banyak orang yang telah resah dikarenakan kenakalan putera puterinya. Kita dalpat melihat sekarang ini hampir sebagian besar anak-anak muda kita tidak mengenal dan mengamalkan agama dengan baik.  Berapa banyak anak-anak muda kita yang rusak akidah dan pengamalannya terhadap islam. Ini dikarenakan waktu dan tenaga kita senantiasa kita curahkan untuk perkara-perkara dunia dan kebendaan. Berapa banyak saat ini anak-anak dari mereka-mereka yang berkecukupan secara materi dan disekolahkan di sekolah-sekolah islam namun ternyata harapannya tidak sesuai dengan kenyataannya. Karena  orang tuanya senantiasa disibukkan dengan pekerjaan dan urusan bisnis semata tanpa melibatkan dirinya secara langsung dalam pendidikan agama dan akhlaq anaknya. Seberapa besar pengorbanan kita untuk suatu perkara maka perkara itulah yang akan kita dapatkan. Jika agama yang menjadi dasar perjuangan dan pengorbanan kita maka Allah akan berikan keturunan kepada kita menjadi anak-anak yang shalih dan senantiasa taat kepada Allah dan orang tua. Jika kita bisa membagi waktu kita untuk urusan agama maka Allah akan berikan anak-anak yang taat kepada kita. Sebaliknya jika kita senantiasa disibukkan dengan perkara-perkara dunia maka anak-anak kita akan menjadi anak-anak ahli dunia. Anda tahu ahli dunia ? Ahli dunia adalah orang yang selalu membesar-besarkan dunia. Kebendaan, materi kekayaan pangkat dan jabatan akan menjadi prioritas utama dalam kehidupan tanpa sedikitpun tahu dan paham akan agama, apalagi mengamalkannya. Ahli-ahli dunia akan menjadi perusak moral dan mental disekelilingnya. Mereka tidak paham apa itu akhirat, apa itu surga dan apa itu neraka. Bahkan merekapun tidak mengenal Allah. Mereka akan menjadi ahli-ahli batil yang akan dengan lantang menentang perintah-perintah Allah. Mereka merasa bangga dan hebat dengan materi dan segala apa yang dimilikinya. Sombong dan takabur akan menjadi sifat yang mendominasi watak mereka. Mereka tak akan kenal hormat dengan orang tua, mereka tak kenal dengan sifat-sifat baik yang menjadi modal dasar  dalam pergaulan dengan orang lain. Anak-anak ahli dunia sangat berpotensi merusak dan merugikan orang lain dan lingkungan.  Kenapa bisa begitu ? Ya, karena kita tak pernah mendidik mereka dengan agama. Kita tak pernah mengenalkan kepada mereka siapa itu Allah. Mereka tak kenal siapa itu Rasulullah. Mereka tak kenal dengan huruf dan bacaan Qur’an. Karena kita selalu disibukkan dengan urusan-urusan dunia. Dengan pekerjaan dan bisnis semata. Kita sendiri yang telah salah menanamkan benih ke dalam hati dan sanubari mereka. Kita tahu bahwa anak ibarat kertas putih yang siap ditulis dengan pena apa saja, dengan tulisan apa saja. Jika kita salah dalam menulis sanubari dan kalbu anak kita maka kerugian yang akan kita dapatkan. Anak adalah asset penting dalam keluarga kita. Kita harus membentuk dan mendidiknya agar menjadi anak yang shalih dan berbakti kepada kita sebagai orang tuanya. Merekalah nanti yang akan mendoakan kita jika sudah tiada. Dengan tangan merekalah nanti yang akan memandikan mayat kita jika kita sudah mati. Merekalah nanti yang akan menshalati kita jika kita meninggal dunia menghadap Allah Swt. Dengan air mata merekalah yang akan meringankan siksa kita di kubur dan di akhirat. Dan mereka akan menjadi saksi bahwa kita telah mengajarkan agama dan akidah dengan benar saat kita ditanya Apakah kita sudah menyampaikan agama kepada keluarga kita. Apa yang akan kita jawab nanti jika kita tidak memulainya sejak sekarang ini. Namun untuk mendapatkan itu semua perlu pengorbanan dan perjuangan. Kita perlu bagi waktu kita untuk urusan agama. Kita perlu bagi tenaga dan harta kita untuk suatu perkara yang paling penting dalam kehidupan kita yakni agama. Nabi Ibrahim adalah seorang nabi yang mulia dan berpengalaman. Dia telah habiskan waktu dan tenaganya untuk urusan agama, karena nabi paham akan keberkahan dan pertolongan Allah. Maka Allah berikan sesuai dengan apa yang dia perjuangkan. Memang kita bukan nabi yang harus senantiasa menghabiskan waktu kita untuk urusan agama. Namun Allah pun paham  dengan kemampuan kita. Cukup kita bagi sedikit saja waktu kita untuk agama maka Allah akan berikan sama seperti yang Allah berikan kepada Nabi Ibrahim, walau kadarnya jauh berbeda dengan yang nabi Ibrahim dapatkan. Anak yang shalih adalah asset penting yang akan menguntungkan kehidupan kita baik di dunia maupun di akhirat.

Keempat untuk mendapatkan anak yang shalih, maka mutlak diperlukan Istri yang shalihah. Karena dari tangan ibu lah anak-anak terbentuk secara kejiwaan dan mental. Anak lebih dekat kepada Ibu karena Ibu yang mengandung, Ibu yang menyusui, yang menggendong dan merawatnya sejak kecil. Anak lebih memiliki kedekatan batin kepada Ibu dari pada Ayah. Maka untuk mendapatkan anak yang shalih mutlak pula diperlukan istri yang shalihah. Di tangan ibulah anak terbentuk dan menjadi apa nantinya. Pangkuan Ibu adalah Madrasatul ‘Ula (sekolah pertama kali) sebelum anak mengenyam bangku pendidikan. Jika kita ingin melihat seperti apa generasi mendatang maka lihatlah wanita-wanita sekarang ini. Jika kebanyakan dari wanita-wanita kita saat ini shalihah dan taat maka insya Allah generasi masa depan akan menjadi generasi yang taat dan mampu untuk diunggulkan, dan jika saat ini wanita-wanita kita tidak taat, maka pasti generasi mendatang juga akan menjadi generasi yang ingkar kepada Allah. Ismail menjadi nabi salah satu faktor utama nya adalah bahwa Siti Hajar adalah wanita yang dijamin ketaatannya kepada Allah SWT. Siti Hajar adalah wanita tangguh, taqwa dan taat kepada suami. Dia memiliki keimanan dan ketqwaan sehingga dengan ketaqwaannya itu Allah berikan pertolongan kepadanya. Lihat bagaimana kata-katanya saat nabi Ibrahim meninggalkannya di Makkah bersama Ismail, "Insya Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan saya"

Kelima Jangan sekali-kali berharap dan meminta pertolongan kepada makhluq. Karena mahkluq sesungguhnya tidak dapat memberikan manfaat dan mudharat. Makhluq tidak dapat berbuat apa-apa tanpa ijin dari Allah Swt. Yang dapat memberikan manfaat dan mudharat hanyalah Allah Swt. Maka banyak-banyaklah berharap dan meminta kepada Allah Swt. Hanya Allah Swt yang dapat menolong kita disaat kita susah. Hanya Allah Swt yang mampu memberikan pertolongan saat kita mengalami kesempitan.  Saat air susu Siti Hajar telah mengering dan bekal makanan sudah tidak ada. Maka yang pertama kali dia pikirkan adalah adanya kafilah atau sekelompok orang yang mungkin ada di sekitar Makkah yang dapat membantu dia. Maka dia berlari-lari dari bukit Safa dan bukit Marwa hingga tujuh kali. Namun dia tidak menjumpai satupun manusia untuk dia meminta tolong. Ketika hati mulai putus asa dan tubuh mulai lelah, barulah Siti Hajar ingat Allah Swt. dan menengadahkan tangan kepada Allah Swt. Ketika hati sudah mulai menaruh harap kepada Allah Swt dan telah habis harapannya kepada manusia, maka Allah pun memberikan pertolongan dengan mengutus malaikat Jibril. Ini adalah pelajaran penting, karena setiap diri kita pasti mempunyai masalah yang berbeda-beda. Dalam hidup kita pasti pernah mengalami masa-masa sulit sehingga tidak ada lagi yang dapat menolong kita, Maka saat masa-masa kesulitan itu datang kepada kita, hendaknya kita senantiasa memutuskan harapan kepada makhluq dan hanya meminta pertolongan kepada Allah Swt. Dengan keyakinan yang benar pasti Allah akan membantu dan membukakan pintu kemudahan kepada kita. Asal kita mau berdoa sungguh-sungguh pasti dan pasti Allah akan berikan pertolongan-Nya kepada kita. 

Keenam Nah ini hikmah yang saya perlu dapatkan dari pembaca semua. Saya yakin para pembaca tahu banyak hikmah-hikmah atas pengorbanan dan perjuangan Nabi Ibrahim. Saya perlu sharing dan butuh pengetahuan dari semua yang berkunjung dan membaca artikel ini. Karena saya juga sebenarnya tidak banyak memahami agama ini. Saya masih lemah dan dhaif serta fakir akan ilmu agama. Tulisan  ini saya buat karena terinspirasi dari sebuah artikel milik Bang Alex yang menggugah hati saya untuk sekadar menulisnya. Tulisan ini pun masih banyak kekurangannya maka sekali lagi silahkan lengkapi dan tambahkan. Semoga kita dapat meneladani apa yang telah nabi Ibrahim korbankan dan mengikuti perjuangan beliau.  Jazakallah.

Selamat Hari Raya Idhul Adha 1429 H

7 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://hanafishahdan.blogsome.com/2008/12/07/hikmah-dibalik-pengorbanan-sang-khaliullah/trackback/

  1. meaningful! artikel yg menginspirasi. makasih sudah mau sharing hal bermanfaat ini.. ^_^

    sama2 mas

    Comment by cantigi™ — December 9, 2008 @ 2:32 pm

  2. semoga Allah senantiasa memberikan hati yang lapang dan ikhlas kepada kita dalam melaksanakan suatu kewajiban

    (saya terkadang merinding dengan background lagunya)tahu kenapa

    amin Allahumma Amin mas... semoga kita selalu istiqomah dalam amal dan kebaikan

    Comment by omiyan — December 11, 2008 @ 4:15 pm

  3. cantigi link exchange updated

    terima kasih banyak atas updatenya mas

    Comment by cantigi™ — December 12, 2008 @ 12:28 pm

  4. hanya mau bilang; Selamat siang,sdh lama gak berkunjung ke blog ini. Bagaimana kbhrnya?

    Alhamdulillah baik mas... Semoga mas juga dalam keadaan baik2 saja..

    Comment by langitjiwa — December 13, 2008 @ 1:46 pm

  5. alhamdulillah sudah mendukung IBSN. selamat bergabung di IBSN. semoga hidup kita semakin bermakna dg berbagi berbagai hal bermanfaat pada sesama, walaupun itu hanya sebaris kalimat. Insya Allah, Allah yg maha ajaib akan membalas segala kebaikan ini. semoga seluruh keluarga selalu diberkahkan kesehatan, kebaikan dan kemudahan. amin ya Rabb. IBSN link exchange updated.. ^_^

    Amin Ya Robbal 'Alamin.. terima kasih banyak atas doanya.. semoga mas Deni begitu juga.. dan terima kasih atas updatenya di IBSN..

    Comment by cantigi™ — December 15, 2008 @ 2:14 pm

  6. selamat hari raya idul adha mas Hanafi...
    semoga semangat idul qurban dapat selalu kita implementasikan dalam kehiduan sehari-hari..

    Selamat hari Raya juga mas... amin semoga doa-doa kita terkabul ya ..

    Comment by oRiDo™ — December 16, 2008 @ 10:26 am

  7. salam kenal balik :)

    terima kasih atas kunjungannya ya mas ... senang rasanya dikunjungi sahabat :)

    Comment by bangzenk — December 18, 2008 @ 9:30 pm

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham