Dunia Sementara Akhirat Selamanya

14 Juni 2008

Meraih Sayap Malaikat

Filed under: Seputar kita

    shalihahNamanya Issac. Sebuah gambaran nama yang maskulin dan westernized. Entahlah kenapa ayahnya memberikan nama itu. Padahal jelas, dia seorang perempuan dan tidak tomboy pula. Dia ingat ketika pertama kali dia menanyakan mengapa diberi nama itu. Apakah ayahnya mengagumi Issac Newton? Ayahnya hanya tertawa, “Apakah kamu ingin nama Lucyana?” Giliran dia terdiam. Sudahlah, mau Issac, Lucyana, Dian, Wati, What is the name? pikirnya. Namun tiba-tiba dia teringat Shakespeare, dan Issac bukan nama yang buruk. Tapi, ibunya berbeda pendapat dengan sang ayah. “Nama sangat penting, tahukah kamu di padang mahsyar nanti, setiap muslim akan dipanggil sesuai nama islamnya. Dan Issac? Entahlah, aku yakin malaikat tak akan memanggil nama itu.”

    Itulah kemudian dia diberi nama belakang Hasny, yang berarti kebaikan. Nama lengkapnya Issac Hasny. Paduan nama yang aneh menurutnya, pun menurut teman-temannya. Sepertinya, keanehan ini merupakan produk dari orang tua yang memiliki latar belakang kontras. Ayahnya seorang tentara yang sangat mencintai musik. Bahkan kerap tampil bersama band tentaranya di berbagai “medan pertempuran”. Walau sekarang sudah purnawirawan, tapi kecintaannya akan musik tak pernah padam. Sementara sang Ibu, keturuan keluarga santri. Kakeknya seorang kyai di kampungnya. Sedang aki buyutnya seorang tokoh agama di masa penjajahan Belanda yang memiliki kekuatan sangat berpengaruh di tengah masyarakat, jauh di atas seorang wedana. Itulah kemudian, ia dan saudara-saudaranya tumbuh sebagai sosok-sosok yang punya ‘taste’ bermusik yang baik plus agamis. Setidaknya itulah yang banyak orang katakan.

    Sulit rasanya untuk meyakini kepada dirinya sendiri bahwa sejak usia lima tahun ia sudah mengenal baik lagu-lagu Frank Sinatra, Matt Monroe, Perry Como, Andy Williams, Tom Jones, Tony Bennet, Conny Fransis, Elvis Presley, John Denver dan tentu saja The Beatles. Dan semua itu masih diingatnya sampai sekarang. Ayahnya sering memutar koleksi piringan hitam sambil bermain gitar dan bernyanyi. Sementara kami, anak-anaknya, mendengar dengan riang dan terkagum-kagum. Saat menjelang waktu shalat tiba, ibu akan bercerita tentang pedihnya siksa api neraka apabila kita lalai menjalankan shalat dan malas mengaji. Dan nikmatnya surga sebagai balasan orang-orang yang menjalankan perintah agama. Yang juga selalu teringat dalam kenangan masa kecilnya yaitu setiap kali ibunya menyiapkan sarapan pagi bagi anak-anaknya sebelum pergi  sekolah. Selalu teriring cerita tentang hebat dan mulianya akhlak Rasulullah SAW. Yang membuat saat-saat menunggu sarapan sebagai saat-saat yang menyenangkan penuh emosional.

    Persoalannya kemudian imajinasinya berkembang Beyond she’s age. Selalu ada sesuatu yang kurang ketika teman-teman seusianya asyik bermain boneka, rumah-rumahan, atau petak umpet. Ia tidak pernah merasa enjoy,  tidak pernah merasa puas. Kalau sudah begitu, ia lebih suka mengurung diri di dalam rumah mendengarkan lagu-lagu kegemaran ayahnya. Membiarkan angan-angannya menerawang jauh melintasi savanna di Eropa, sahara di Afrika, laut yang membentang luas, gedung-gedung opera dan ladang-ladang pertanian yang luas seperti di dalam lagu-lagu country. Dan di semua tempat itu ia akan menari-nari sambil berlari-lari, menyatu dengan keindahan alam dan lagu. Imajinasinya semakin membuncah-buncah. Tapi sedetik kemudian, api amarah dalam dadanya bergemuruh. Air matanya tiba-tiba menetes, emosinya mulai gelisah ketika kilasan tayangan di televisi memberitakan pemboman di Libya dan keberanian Jendral Khadafi menantang si congkak Amerika. Sorot mata pemuda-pemuda Palestina akan kezaliman Israel yang penuh kebencian, kematian presiden Anwar Sadat oleh Ikhwanul Muslimin yang disambut suka cita kakak-kakaknya, vonis mati Salman Rusdie oleh Imam Khomeini ….ah ia memejamkan mata, “Ya Rasul, aku rindu padamu. Aku ingin tertidur sambil memegang ujung jubahmu di padang savanna. Atau berjalan beriringan denganmu saat sinar matahari pagi jatuh di atas permukaan air sungai yang jernih seperti dalam lagu Jonh Denver dan bukan di tanah Afganistan  yang menyayat hati.” Ia mendengus, merintih …. dan sebelum sadar sesuatu yang salah bersemayam dalam dirinya, ia sudah tertidur pulas.

   Beranjak dewasa ia sudah mulai menutup auratnya. Ini penting, pikirnya. Ia tidak terlalu berpikir keras kenapa ia harus menutup auratnya, just taken for granted. Ia yakin Tuhan tahu yang terbaik bagi hamba-Nya, karena Dia yang menciptakannya. Tapi kemudian sisi narsisnya muncul juga. Satu hal yang tentu ia benci, karena ia tahu, satu butir zarrah kesombongan akan menghambatnya masuk surga.

     Pernah suatu kali dalam perjalanan Bandung-Jakarta, ia mendengarkan musik pop Amerika klasik sambil membayangkan pemandangan sawah dan gunung yang dilaluinya sebagai panggung musik Broadway, dimana ia menjadi bintangnya. Ha….ha… suatu imajinasi yang konyol sekaligus indah. Bahkan ia berani bersumpah, tak ada satu orangpun dalam mobil itu yang aktifitas imajinya sehebat ia. Hanya saja ia merasa sesuatu yang berkembang dalam pikirannya butuh justifikasi. Semacam pembenaran, karena jauh dalam lubuk hatinya angan-angan yang kadang tak terkontrol melalang buana, akhirnya bermuara pada Tuhan. Selalu pada Tuhan. Karena keindahan suasananya begitu sempurna. Dan bukankah kesempurnaan hanya milik Tuhan. Pastilah ada penjelasan yang masuk akal mengenai hal ini. Mungkin itu sebabnya, ia kemudian tertarik mempelajari ilmu filsafat.

     Berada di lingkungan filsafat, mempertemukannya pada Faya. Sosok perempuan luar biasa. Kegelisahannya sedikit terobati, pada akhirnya. Ia selalu mengindentifikasikan dirinya dengan orang lain. Tak heran bila sejak bertahun lalu, ia selalu kesulitan bersosialisasi. Berbeda dengan Faya. Ia seperti menemukan dunianya. Sama-sama selalu berimajinasi dengan musik. Menyukai sesuatu yang complicated. Memiliki selera yang sama dalam memilih pria. Semua sama? Tidak, ada yang lebih gila dari Faya yang tidak dimilikinya. Faya menguasai hampir sebagian besar kitab-kitab Arab klasik, sementara ia……..buta.

      Faya menilai dirinya sebagai orang yang sangat menghargai waktu Ia hanya terkekeh. “Dari mana kamu menilai saya begitu?”
       “Ada tiga pengalaman manis yang cukup untuk menilai kamu seperti itu.”
        “Pengalaman? Pengalaman apa?”

    Pertama katanya, suatu waktu sepulang kuliah, kami naik mobil angkutan kota. Dan ketika sampai di perempatan lampu merah, mobil yang kami tumpangi berhenti di belakang tiga mobil lainnya. Sementara untuk melanjutkan perjalanan, kami harus berganti mobil yang hanya berjarak dua puluh meter dari lampu merah. Waktu itu ia menghitung perbandingan lamanya waktu antara menunggu lampu hijau dengan segera turun dari angkot dan berjalan untuk naik ke mobil berikutnya. Ternyata menurutnya menunggu lampu hijau menyala memerlukan waktu jauh lebih lama. Kemudian ia mengajak Faya segera turun dan berjalan sepanjang dua puluh meter karena menurutnya, hal itu akan lebih menghemat waktu.

    Pengalaman kedua, ketika bermaksud mengunjungi salah seorang teman yang sakit. Untuk menuju rumahnya, kami harus melewati pemakaman umum. Dan ketika kami berada di tengah pemakamam itu, tiba-tiba secara spontan saya teringat cerita tentang kecemburuan orang yang sudah mati kepada orang yang masih hidup. “Tentu saja cemburu.” kata Faya.

   “Ya, bayangkan, bagi orang yang sudah mati, untuk dapat mengucapkan Alhamdulillah saja lebih baik daripada dunia dengan seisinya.”

      “Ya, itu benar.”

    “Ya, seharusnya setiap detik yang kita lalui, kita isi dengan dzikir, sebelum semuanya menjadi sia-sia.”

      “Ha..ha….” Faya tertawa sambil mendorong punggungku.

      “Dan bagaimana dengan pengalaman ketiga?”

    “Hmm…. kamu ingat ketika kamu bilang dari sekian kumandang adzan yang kamu dengar, hanya kumandang adzan dari stasiun TVRI saja yang kamu suka. Aku tanya apa yang kamu suka dari kumandang adzannya? Kamu jawab karena hanya kumandang adzan orang Mesir itu yang selalu menjadi panggilan kematian bagi kamu!”

    “Ha! Itu kutipan kalimat Rabi’ah al-adawiyah. Baginya, panggilan adzan bagai seruan kematian. Dan aku belum pernah merasakan sedahsyat itu.”

    “Persoalannya, mengapa yang kamu ingat dari seorang Rabi’ah hanya     masalah kumandang adzan itu? Tidak dalam hal lain?”

    “Aku tidak tahu.”

    “Ya itulah masalahnya, kamu ngerti kan maksudku?

     Dan ia hanya terdiam.

    “Bagus juga jadi orang yang menghargai waktu. Tapi kuharap kita bisa lebih smart dalam segala hal.” Tiba-tiba pandangan Faya jauh menerawang.

    “Cobalah lebih fleksibel kalau berhadapan dengan Tuhan. Kamu tahu, para sufi berjalan di atas kepala naga dalam menuju Tuhan, dan para ahli hukum itu berjinjit ketika menuju Tuhan hanya karena takut akan ada semut yang terinjak.”

   Ia memandang Faya cukup lama, dan mata Faya tetap menerawang, ”Kamu tahu Salman al Farisi?”

    ”Ya, kenapa?”

    ”Simak saja cara dia berhubungan dengan Tuhan.”

  Setelah percakapan itu, ia lama tak bertemu Faya lagi. Ya, bagaimanapun hidup akan selalu berubah. Dunia kita, lingkungan kita, perasaan kita, emosi kita, dan tentu saja pikiran kita. Tapi fase perjalanan hidupnya dengan Faya, sedikit banyak telah membuat persoalan dalam dirinya serasa menemukan sebuah titik terang. Sampai akhirnya ia bertemu dengan seorang pria yang kemudian kini jadi suaminya.

   Entah kenapa ia begitu memujanya. Sampai ia sedikit khawatir akal sehatnya akan sirna. Ia seperti menemukan dunia kedua setelah hilangnya Faya. Tapi kemudian, ini menjadi pergulatan kecemasan yang berkepanjangan dan membuat jauh dari dirinya sendiri. Ia tak lagi bisa berpikir ”smart” dan rasional dalam hal ini. Setiap detik, menit dan jam harus selalu bermakna bagi suaminya. Dan ia benar-benar tersiksa. Dengan Faya, semuanya terbingkai dalam persahabatan. Sehingga ia bisa sesukanya memanfaatkan waktu dengan kreativitas. Seseorang juga tidak akan terlalu risau, bila suatu saat kehilangan sahabatnya. Sementara dengan suaminya, semuanya terbingkai atas nama cinta, dengan keterbatasan kreativitas. Aturan cinta begitu jelas, begitu gamblang. Melalaikan waktu satu atau dua jam akan membuatnya tersisih dari cinta, dari asmara dan tentu saja, dari keintiman. Ia akan sangat merana bila kehilangan cinta. Rupanya bingkai inilah yang kadang semakin memperparah keanehan imajinasinya.

  Angan-angannya tetap menjelajahi savanna hingga sahara, dan musiknya tetap mengiringi setiap jengkal langkahnya di udara. Tapi cinta selalu menarik kembali tangan dan kakinya untuk mengisi tiap detik dan menit dengan sesuatu yang bermanfaat dan bermakna. Terkadang kalau sudah sampai titik kulminasi tertentu, ingin rasanya ia menukar isi kepalanya dengan perempuan-perempuan lain di lingkungannya yang cukup bahagia dengan melakukan segala rutinitas kesehariannya tanpa merasa bersalah dan tersiksa bila tiga atau empat jam di hari ini berlalu begitu saja dengan kekosongan atau kehampaan. Tapi kenapa ia akan dihantui rasa bersalah bila mengalaminya.

    Kemudian bila suasananya mulai terkendali dan tenang, ia akan kembali bangga dengan penjelajahan imajinasinya. Sambil sedikit tersenyum kecut bahwa bukankah semua ini pantas disyukurinya. Atau mungkin pernyataan Rene Descartes sedikit memberikan justifikasi bahwa kita semua mempunyai gagasan yang sempurna. Menyatu dalam gagasan itu adalah fakta bahwa wujud sempurna itu pasti ada. Sebab wujud yang sempurna tidak akan sempurna jika ia tidak ada. Pun kita akan memiliki gagasan tentang entitas yang sempurna jika tidak ada entitas yang sempurna. Dan akhirnya kesempurnaan keindahan yang selalu diimajinasikannya pastilah ada, ya pastilah ada. Hal ini melambungkannya kembali akan sosok Faya.

  Saat suaminya menciumnya dengan lembut, selalu ada yang menyejukkan perasaan bila bibir itu menyentuh dirinya. Ia begitu mencair. Dan setiap hal itu terjadi, sebagian dari keindahan imajinasinya mengungkap ke alam nyata. Seolah ia mencapai titik terang yang selalu dikejarnya. Dalam beberapa saat ia kadang-kadang tercengang-cengang sendiri ketika merasakan pengalaman masa inkubasi jiwa dari gagasan imajinasinya beralih menjadi benar-benar berwujud nyata. Dan inkubasi itu dilalui dari dari pergulatan yang sengit antara menjadi istri yang shaleh dan sempurna dengan menjadi perempuan anggun yang menari-nari di atas kepala naga. Kini ia mulai memahami bagaimana keindahan yang diimajinasikannya dapat berubah menjadi nyata, sangat nyata. Inkubasi itu berubah tangga yang menjulang ke atas hingga mencapai langit ke tujuh. Inilah perjuangannya menekan seluruh keberadaan jiwanya ke titik nol. Karena hanya dengan meniadakan keakuan sajalah ia dapat melihat perwujudan semua gagasannya. Setidaknya pria yang kini sangat dicintainya menjadi anak tangga pertama yang akan didakinya untuk meraih salah satu bulu dari ujung sayap malaikat yang akan menunggunya di langit ke tujuh sana. Ia yakin betul di atas sana, ketika semua anak tangga ia daki, seluruh gagasannya betul-betul nyata dan sangat sempurna, indah luar biasa.

Ia bersujud di depan suaminya, mencium kakinya. “Ya Rasul, tak usah dikau risau menyuruh seorang perempuan bersujud di kaki suaminya, karena hati seorang perempuan yang dipenuhi gagasan cinta dan keindahan akan selalu melihat Tuhan di setiap ruang dan masa.”

 

*Cerpen karya Yanti Muchtar dari majalah Alia edisi Mei 2007

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://hanafishahdan.blogsome.com/2008/06/14/meraih-sayap-malaikat/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham