Atsar-Atsar Yang Menerangkan Tentang Sifat Para Sahabat R.hum
As-Suddi telah berkata dalam keterangannya tentang firman Allah Swt. :
"Kamu sekalian adalah sebaik-baik ummat yang dikeluarkan untuk manusia,….. (Qs. Ali Imran 110)
As-Suddi mengatakan bahwa Umar bin Khattab r.a. telah berkata (mengenai penafsiran ayat ini), "Apabila Allah Swt. menghendaki, niscaya dia akan mengatakan antum maka (akan tercakup dalam pengertian kata ini) adalah kita seluruhnya. Akan tetapi Allah Swt. mengatakan-Nya dengan kata kuntum yang berarti ditujukan khusus kepada para sahabat Rasulullah Saw. dan orang-orang yang melakukan pekerjaan seperti yang dilakukan para sahabat. Mereka itulah "khairu ummat (sebaik-baik ummat) yang dikeluarkan untuk seluruh manusia." Imam Ibnu Jarir juga telah meriwayatkannya dari Qatadah r.a. yang mana ia berkata, "Telah diceritakan bahwa Umar telah membaca ayat ini (Ali Imran ayat 101) kemudian dia berkata, "Wahai manusia, barangsiapa yang ingin digolongkan dalam ayat ini, maka hendaklah dia menunaikan syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh Allah Swt. dalam ayat tersebut. (Syarat tersebut adalah Amar ma’ruf nahi munkar. Pent)(HR. Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim, seperti yang disebutkan dalam kitab Kanzul ‘Ummaal jilid I halaman 238)
Dari Ibnu Mas’ud r.a. bahwasanya dia berkata, "Sesungguhnya Allah Swt. telah melihat hati-hati hamba-Nya, maka Dia memilih Muhammad Saw. dan menjadikannya sebagai Rasul (utusan) untuk menyampaikan risalah-Nya, juga memberi ilmu (yang khusus) dari-Nya. Kemudian setelah itu Allah Swt. kembali melihat hati seluruh manusia, maka Allah memilih di antara mereka untuk menjadi sahabat-sahabat beliau, lalu dijadikannya mereka sebagai penolong-penolong agama-Nya dan sebagai wakil-wakil-Nya. Oleh karena itu apa saja yang dipandang baik oleh orang-orang yang beriman, maka di sisi Allah hal itu adalah baik, sebaliknya apa saja yang dipandang buruk oleh orang-orang yang beriman, maka di sisi Allah hal itu adalah buruk. (HR. Abu Nu’aim dalam al-Hilyah jilid I halaman 375)
Imam Abdul Baar telah meriwayatkannya dalam al-Istia’ab jilid 1/6 dari Ibnu Mas’ud r.a. yang semakna dengan hadits di atas, hanya saja dia tidak menyebutkan :"Apa saja yang dipandang baik oleh orang-orang beriman…… dst. Ath-Thayalisi juga telah meriwayatkan hadits ini sama seperti yang diriwayatkan oleh imam Abu Nu’aim.
Dari Abdullah Ibnu Umar r.huma bahwasanya dia berkata, "Barangsiapa yang ingin mengambil contoh cara hidup, maka hendaklah ia mengambil contoh cara hidup orang-orang yang telah mati, yaitu sahabat-sahabat Nabi Muhammad Saw.. Mereka adalah sebaik-baik umat ini, paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, dan paling ringan amalannya. Mereka adalah kaum yang telah dipilih oleh Allah Swt. untuk menjadi pendamping nabi-Nya Saw. dan menjadi penyebar agama-Nya. Karena itu, contohlah akhlak dan cara hidup mereka!" Demi Allah Penguasa Ka’bah, mereka adalah sahabat-sahabat Nabi Saw. dan mereka selalu berada di atas petunjuk jalan yang lurus." (HR. Abu Nu’aim dalam al-Hilyah jilid I halaman 305)
Dari Ibnu Mas’ud r.a. bahwasanya ia pernah berkata (kepada orang-orang pada zaman itu), "Kalian adalah orang yang lebih banyak berpuasa, lebih banyak mengerjakan shalat, dan lebih banyak berijtihad (lelah dan bersusah payah dalam ibadah) daripada sahabat Nabi Saw., tetapi mereka (para sahabat) itu lebih utama daripada kamu sekalian." Mereka bertanya, "Mengapa demikian wahai Abu Abdurrahman?" (Nama panggilan Ibnu Mas’ud). Dia menjawab, "Karena mereka lebih zuhud terhadap dunia dan lebih mencinati akhirat." (HR. Abu Nu’aim dalam al-Hilyah jilid I halaman 136).
Dari Abu Wa’il katanya, "Abdullah bin Mas’ud r.a. pernah mendengar seseorang berkata, "Dimanakah orang-orang yang zuhud (tidak cinta) terhadap dunia dan cinta terhadap akhirat?" Abdullah bin Mas’ud r.a. menjawab, "Mereka adalah Ash-haabul Jaabiyah (orang-orang yang tinggal di Jaabiyah, yaitu sebuah desa di kerajaan Syam. Pada masa kekhalifahan Umar r.a. desa itu dijadikan sebagai pusat tentara islam ketika berperang melawan Kaisar Romawi). Jumlah mereka ada 500 orang dan mereka telah berjanji untuk berjihad terus sampai mereka gugur sabagai syuhada di jalan Allah Swt.. Mereka mencukur semua rambut di kepala mereka, lalu bertempur melawan musuh, sehingga mereka semua gugur sebagai syuhada, kecuali satu orang saja sebagai pembawa berita tentang kesyahidan mereka." (HR. Abu Nu’aim dalam al-Hilyah jilid I halaman 135).
Dari Ibnu Umar r.huma, bahwasanya ia mendengar seseorang berkata, "Dimanakah orang-orang yang zuhud (tidak cinta) terhadap dunia dan lebih mencintai akhirat?" Maka Ibnu Umar r.huma menunjuk ke arah pusara Rasulullah Saw., Abu Bakara r.a., dan Umar r.a.. Kemudian dia berkata, "Orang-orang inikah yang kamu tanyakan?" (HR. Abu Nu’aim dalam al-Hilyah jilid I halaman 135).
Dari Abu Arakah, bahwasanya dia berkata, "Suatu hari aku mengerjakan shalat Shubuh bersama Ali r.a.. Ketika dia menoleh ke sebelah kanan (setelah usai shalat), dia terdiam dan tampak dari wajahnya seperti sedang dirundung kesusahan dan kerisauan. (Demikianlah keadaannya) sehingga sinar matahari naik di atas dinding masjid setinggi tombak, dia pun bangkit untuk mengerjakan shalat Dhuha dua rakaat. Setelah shalat, sambil membalikkan telapak tangannya dia berkata, "Demi Allah, sesungguhnya dahulu aku melihat para sahabat Nabi Saw. tetapi sayang sekarang sudah tidak ada lagi orang-orang yang menyerupai mereka. Mereka adalah orang-orang yang tekun dalam beribadah, sehingga wajah mereka tampak pucat, rambut kusut dan berdebu, di antara kedua mata kaki mereka terdapat tanda hitam bagaikan lutut kambing. Mereka habiskan malam mereka untuk bersujud dan berdiri di hadapan Allah Swt. dan membaca al-Quran. Mereka telah merasakan ketenangan dan kedamaian di dalam sujud dan berdiri. Apabila waktu shubuh telah datang, maka mereka bersama-sama dzikir kepada Allah Swt., tubuh mereka bergerak-gerak seperti sebuah pohon yang bergerak-gerak ditiup angin, dan mereka menangis terisak-isak sehingga pakaian mereka basah oleh air mata. Demi Allah, sungguh kaum (sekarang) mengira seolah-olah mereka menghabiskan malamnya dalam kelalaian. Kemudia Ali r.a. berdiri. Setelah kejadian itu, dia tidak kelihatan lagi tertawa sehingga dia dibunuh oleh Ibnu Muljam, musuh Allah Swt. yang fasiq." (HR. Ibnu Abi Dunya dalam al-Bidayah wan-Nihayah jilid VIII halaman 6, Abu Nu’aim dalam al-Hilyah jilid I halaman 76, ad-Dinawari, al-Askari, dan Ibnu Asakir seperti yang terdapat dalam kitab Kanzul U’mmaal jilid VIII halaman 219).
Dari Abu Shalih, dia berkata, "Dhirar bin Dhamrah al-Kinani r.a. datang ke hadapan Mu’awiyah, lalu Mu’awiyah berkata kepadanya, "Terangkanlah kepadaku tentang kepribadian Ali r.a.!" Dhirar berkata, "Apakah engkau akan memarahiku, wahai amirul mukminin?" Mu’awiyah menjawab, "Tidak, aku tidak akan memarahimu." Kemudian Dhirar berkata, "Apabila hal itu yang engkau inginkan, maka dengarkanlah! Demi Allah, sesungguhnya Ali r.a. itu adalah seorang yang berpandangan jauh (berwawasan luas) dan seorang yang sangat kuat. Apabila dia berbicara maka perkataannya jelas, apabila memutuskan suatu hukum, maka ia memutuskannya dengan adil. Terpancar ilmu dari seluruh arah dirinya (yakni segala perbuatan, perkataan, gerak, dan diamnya dapat memberikan manfaat ilmu kepada orang lain), perkataan penuh hikmah juga terpancar dari segala arah dirinya. Dia suka menghindarkan diri dari dunia dan kenikmatannya (zuhud). Dia sangat akrab dengan malam dan kegelapannya (yakni hatinya merasa sangat senang untuk beribadah di malam hari yang gelap). Demi Allah dia adalah orang yang banyak menangis dan selalu berpikir panjang. Dia sering membalikkan telapak tangannya (ditunjukkan pada dirinya) sambil berkata pada dirinya sendiri (sebagai tanda penyesalan dan instropeksi diri). Dia menyenangi pakaian yang kasar dan makanan (roti) yang tebal lagi keras. Demi Allah, keadaannya seperti kami pada umumnya, dia mendekat pada kami jika kami mendatanginya, dia juga menjawab pertanyaan kami jika kami bertanya padanya (juga memenuhi permintaan kami jika kami meminta sesuatu kepadanya). Walaupun dia begitu dekat dengan kami dan kami pun begitu dekat dengannya, namun karena kepribadiannya yang penuh wibawa, maka kami tidak berani berbicara di depannya. Apabila dia sedang tersenyum maka giginya terlihat bagaikan untaian mutiara. Dia selalu memuliakan ahli agama (orang yang taat pada agama), menyayangi orang-orang miskin, sehingga orang kuat sekalipun tidak sanggup mencuranginya, dan orang lemah tidak berputus asa dari keadilannya. Demi Allah, aku bersaksi bahwa suatu ketika aku pernah melihat dia berdiri di sebagian sudut tempat dia biasa beribadah malam, sedang ketika itu malam hampir melepas selimut kegelapannya dan bintang-bintang telah tenggelam, lalu dia masuk ke dalam mihrabnya sambil memegang janggutnya dan beliau duduk bersimpuh sambil menangis tersedu-sedu seperti orang yang telah digigit oleh kalajengking, dan menangis seperti seorang yang sedang dirundung kesedihan. Seakan-akan saat ini juga aku (Dhirar) sedang mendengarkan ratapannya. Berkali-kali dia berkata dengan penuh kerendahan di hadapan Allah, "Wahai Tuhan kami, wahai Tuhan kami!" Kemudian dia berkata kepada dunia yang fana ini, "Wahai dunia, mengapa kalian menipuku, mengapa pula kamu selalu muncul mendekatiku? Menjauhlah, menjauhlah kamu dariku! Tipulah orang lain selainku! Sesungguhnya aku sudah menceraikanmu dengan talak tiga. Karena umurmu sangat sebentar, majlismu sangat hina, dan kedudukanmu sangat rendah! … Ah …. ah …. ah! (Apa yang harus aku lakukan, alangkah ruginya aku ini) karena perbekalan sangat sedikit , sedangkan perjalanan amat panjang dan penuh bahaya!?"
Mendengar kisah ini, Mu’awiyah tidak bisa lagi membendung air matanya sehingga meleleh dan membasahi janggutnya. Dia pun mengusap air matanya dengan ujung bajunya dan orang-orang yang hadir di dalam majlis itu pun menyadari dan ikut menangis. Akhirnya Mu’awiyah mengakui bahwa apa yang dikatakan oleh Dhirar itu benar, katanya, "Memang sesungguhnya demikianlah sesungguhnya Abul Hasan (Ali r.a.) itu, semoga Allah merahmatinya. Lalu dia bertanya, "Wahai Dhirar, bagaimana kesedihan yang kamu rasakan ketika dia wafat?" Dhirar menjawab, "Kesedihanku seperti seorang wanita yang menyaksikan anaknya yang hanya satu-satunya disembelih di atas pangkuannya, ibunya akan terus menerus menangis dan tidak akan hilang kesedihannya." Kemudian Dhirar pun bangkit dan keluar meninggalkan majlis Mu’awiyah. (HR. Abu Nu’aim dalam al-Hilyah jilid I halaman 84. Kisah seperti ini telah diriwayatkan pula Ibnul Abdil Bar dalam kitab al-Isti’aab jilid III halaman 44 dari al-Hirmazi, seseorang dari suku Hamda, dari Dhirar as-Sudai’)
Bersambung…..









Assalamualaykum wr.wb
"Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yg telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti Rasul, karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang² yg menjadi saksi (tentang keesaan Allah )" ( Al-Imran :53 )
sambungannya ditunggu ya akhi
wassalam,
mbak diah
Comment by Mbak Diah — July 9, 2007 @ 7:07 pm
Masya Allah.. insya Allah ya mbak.. Ohh.. saya sedih sekali ketika Dhirar r.a. menceritakan tentang keadaan sahabat Ali r.a. akankah kita seperti beliau dan sahabat2 lainnya..
Oh dunia telah begitu memperdayakan kita..
Comment by hanafishahdan — July 9, 2007 @ 7:55 pm
Assalamu'alaikum warahmatullohi wabarakatuh ^_^
sedih.......banyak sbenarnya ibroh yang dapat kita ambil dari cerita tsb,,,sebaik-baik ummat ???yups...
tapi, apakah benar kita sudah melakukan yang terbaik???
saya rasa sebagian kita termasuk saya akan menjawab " BELUM "
tidak hanya terdiam sampai di situ saja, akan tetapi bagaiman proses menuju umat yang baik sesuai harapan kita, dan harapan umat.
Teladan ---> jikalau kita benar2 ga menemukan teladan di komunitas kita, maka jadikanlah diri Anda sebagai teladan untuk komunitas itu. Tapi, saya sepakat bahwa Rasululloh, dan para sahabat adalah teladan yang mulia. Dengan catatan, teladan yang baik bukan???
wallohu a' lam bish- showab
Wassalamu'alaikum warahmatullohi wabarakatuh
Comment by Atik — July 20, 2007 @ 12:14 pm