Mengingat Mati 2
Allah Swt. berfirman :
"Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku"[Ad Dzariyat 56]
Manusia telah diutus Allah ke dunia ini, semata-mata untuk mentaati Allah dan mengikuti perintahnya, diiringi dengan pemberian harta dan diri. Allah Swt. berkali-kali memberi peringatan agar manusia hanya memilki satu tujuan saja di dunia ini, yaitu beribadah kepada Allah Swt. Manusia telah diperingatkan oleh Allah Swt. bahwa kehidupan dunia adalah sebagai ujian, semata-mata untuk mengetahui siapakah yang lebih baik amalnya setelah menikmati segala pemberian Allah Swt. Dan kematian adalah untuk memperlihatkan hasil ujian tersebut. Allah Swt. berfirman : ![]()

"Maha Suci Allah yang di tangan-Nya lah segala kerajaan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dialah yang menjadikan mati dan hidup, Supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. [Al Mulk 1-2]
Jadi dunia ini tempat ujian. Dan tujuan penciptaan jin dan manusia adalah semata-mata untuk beribadah. Oleh sebab itu segala bentuk kemudahan dan kenikmatan yang telah diberikan oleh Allah, hanyalah untuk diambil faedahnya seperlunya saja. Dan selebihnya untuk disimpan di khazanah Allah untuk kemanfaatan dirinya kelak di akhirat. Dengan demikian suatu kelalaian yang sangat besar yang akan mengakibatkan kerugian dan penyesalan yang tidak terhingga, jika kita sibuk dalam urusan kebendaan, dengan melupakan perintah-perintah Allah, dan menutup mata kita dari melihat tujuan pemberian semua kebendaan itu kepada kita. Dalam keadaan seperti itu kita akan sangat menyesal, jika kita meninggalkan seluruh hasil usaha itu untuk orang lain lalu kita sendiri akan pergi ke alam lain.
Jika kita masih memilki akal, maka hendaklah kita duduk sejenak di satu tempat yang sunyi, lalu membayangkan pemandangan seandainya sekarang juga malaikat maut datang mencabut nyawa kita, apakah yang akan terjadi pada diri kita, juga pada harta benda kita yang telah kita kumpulkan dengan sangat susah payah selama bertahun-tahun?
Wahab bin Munabbih rah.a berkata, "Salah seorang raja ingin berjalan dan melihat seluruh kawasan wilayahnya. Dia meminta agar dibawakan pakaian yang terbagus dan terindah. Lalu dibawakan untuknya pakaian, namun pakaian itu tidak disukainya. Dia menyuruh agar ditukar dan dibawa yang lain yang lebih bagus. Namun dengan pakaian yang telah ditukar itu pun raja tetap tidak menyukainya. Berkali-kali raja mengembalikan pakaian yang dibawa oleh pelayannya. Akhirnya, terpilih satu pakaian yang sangat indah dan bagus menurutnya. Kemudian dia meminta agar dibawakan satu kendaraan yang terbaik. Maka kuda yang terbaik, terindah dan terkuat telah dihadapkan kepada raja, tetapi raja tidak menyukainya. Berkali-kali kuda ditukar, namun tetap tidak memuaskan hatinya. Akhirnya semua kuda dihadapkan kepadanya. Dan ia memilih seekor kuda yang sangat indah dan kuat untuk ditungganginya.
Syetan yang terkutuk telah berpeluang besar untuk meniupkan semangat kebesaran diri pada raja itu. Dengan penuh takabur raja menunggang kuda. Para pelayan, pasukan tentara, dan para petugas berada dalam satu barisan yang panjang mengiringinya. Dan karena ketakaburan dan kebanggaan dirinya, ia tidak memperdulikan siapapun di dalam barisan itu. Di tengah perjalanan, raja telah dihadang oleh seorang yang berpakaian buruk lagi hina dan memberi salam kepadanya. Tetapi raja tidak memperdulikannya dan tidak menjawab salamnya. Lalu orang itu memegang tali kudanya. Dengan sangat marah raja menghardiknya, "Lepaskan tali kudaku! Kurang ajar kamu! Berani sekali kamu memegang tali kudaku!"
Dia menjawab, "Ada sesuatu yang penting untukmu."
Raja berkata, "Tunggulah! Jika aku turun dari kuda, baru kamu dapat menyampaikan ucapanmu."
Orang itu berkata, "Tidak! Aku harus meyampaikannya sekarang juga."
Dengan kuat ia menarik tali kuda itu dan merampasnya dari tangan raja, dan rajapun tidak berdaya, lalu berkata, "Baiklah, bicaralah sekarang!"
Orang itu berkata, "Pesan ini sangat rahasia. Aku harus menyampaikan langsung ke telingamu." Maka raja pun mendekatkan telinganya ke mulut orang itu. Lalu orang itu berbisik. "Aku malaikat maut. Sekarang juga aku akan mencabut nyawamu."
Mendengar hal itu, muka raja langsung berubah pucat, lidahnya hampir keluar dari mulutnya. Raja meminta, "Berilah saya sedikit waktu untuk kembali ke istana agar dapat mengurus harta saya dan berjumpa dengan keluarga saya."
Malaikat menjawab, "Tiada waktu sama sekali. Mulai sekarang kamu tidak akan lagi melihat keluarga dan hartamu." Sambil berkata demikian, malaikat maut mencabut nyawanya, sehingga raja pun terjatuh dari kudanya seperti seonggok kayu yang tumbang.
Kemudian malaikat maut pergi menemui salah seorang muslim yang shalih. Ketika itu ia sedang dalam perjalanan menuju suatu tempat. Malaikat maut pun memberi salam kepadanya. Dia menjawab, "Wa’alaikumus Salam."
Malaikat maut berkata, "Aku akan menyampaikan sesuatu di telingamu."
Orang shalih berkata, "Silahkan!"
Lalu malaikat maut berbisik di telinganya, "Aku adalah malaikat maut."
Mendengar hal itu, orang shalih merasa sangat gembira, lalu berkata, "Sungguh baik engkau datang padaku. Sangat berkah kedatanganmu kepadaku. Dari sekian hamba-hamba Allah, kamulah yang paling aku tunggu."
Malaikat maut berkata, "Segeralah kamu selesaikan urusanmu."
Orang shalih itu berkata, "Tidak ada lagi urusan yang lebih aku sukai selain dari berjumpa dengan Allah Swt."
Malaikat maut pun berkata, "Aku ingin mencabut nyawamu dalam keadaan yang paling kamu sukai untuk dirimu sendiri."
Orang shalih menjawab, "Terserah padamu. Namun jika begitu, aku ingin mengambil wudhu dan mendirikan shalat. Lalu aku ingin mati dalam keadaan sujud kepada Allah Swt." Lalu dia pun mulai berwudhu dan shalat. Dalam keadaan sujud ruhnya telah dicabut. (Ihya)
Abu Bakar bin Abdullah Muzzani rah.a berkata, "Ada seorang di kalangan Bani Israil yang telah mengumpulkan banyak harta. Ketika hampir meninggal dunia, ia menyuruh anak-anaknya agar membawa segala hartanya ke hadapannya. Berdasarkan petunjuknya mereka pun cepat-cepat membawa semuanya. Kuda, unta, hamba sahaya, dan lain-lainnya yang berharga diletakkan di hadapannya. Kemudian ia menangis dengan sedih dan penuh penyesalan, karena ia akan kehilangan semua harta itu. Ketika itu lalu tibalah malaikat maut, lalu berkata, "Tiada manfaatnya kamu menangis sekarang! Demi Dzat yang telah memberi segala nikmat ini! Aku akan mencabut nyawamu sekarang juga."
Dia meminta sedikit waktu untuk membagi-bagikan harta tersebut. Malaikat menjawab, "Alangkah menyesalnya! Tiada lagi peluang bagimu. Alangkah baiknya jika kamu membagi-bagikan semua harta ini dari dulu!" Sambil berkata demikian, malaikat maut mencabut nyawanya dari tubuhnya.
Dikisahkan lagi satu peristiwa, seseorang telah mengumpulkan demikian banyak harta, sehingga tiada lagi benda yang belum dikumpulkannya. Dia telah membangun sebuah istana besar. Kedua sisi pintu istana itu dijaga oleh para pengawalnya. Ketika selesai pembangunan istana itu, ia mengundang semua kawannya dalam suatu pesta. Ia membuat sebuah singgasana yang besar dan tinggi. Lalu ia duduk di atasnya, sambil menegakkan sebelah kakinya dan sebelah lagi terbaring di atas tahta. Ketika teman-temannya sedang menyantap hidangan, ia berkata kepada dirinya sendiri, "Sekarang banyak bekal yang telah kita kumpulkan, sehingga tidak perlu membeli apa-apa lagi selama beberapa tahun."
Ketika ia masih memikirkan hal itu, tiba-tiba datang seorang fakir berpakaian buruk dan compang-camping sambil memikul sebuah bungkusan di lehernya seperti seorang pengemis. Di pintu istana, orang fakir itu mengetuk pintu dengan keras, sehingga bunyinya terdengar hingga ke singgasana orang kaya itu. Para pengawal segera berlari keluar untuk mengetahui siapakah orang yang tidak beradab itu. Mereka bertanya, "Ada apa?"
Orang itu berkata, "Suruh tuanmu keluar dan menjumpaiku!"
Pengawal berkata, "Tuan kami harus datang kepadamu untuk berjumpa dengan orang miskin sepertimu?"
"Ya", jawabnya. "Dia harus datang. Suruh ia segera datang kepadaku!"
Para pengawalpun pergi untuk memberitahukan hal itu pada tuannya. Tuannya berkata, "Mengapa kalian tidak memberi kesempatan kepadanya untuk merasakan akibat dari ucapannya itu? (Maksudnya, mengapa kalian tidak menyiksanya)?"
Pengemis itu mengetuk pintu lebih keras lagi, sehingga para pengawal berlarian lagi ke pintu. Pengemis berkata kepada mereka, "Pergi dan beritahukan kepada tuanmu bahwa aku adalah malaikat maut."
Mendengar hal itu, semua pengawal hampir jatuh pingsan. Mereka berlarian menjumpai tuannya dan menyampaikan pesan itu. Mendengar itu tuannya pun hampir pingsan. Ia berkata dengan sangat lembut, "Mintalah padanya agar ia mencabut nyawa orang lain sebagi fidyah (pengganti) nyawaku."
Maka pengemis yang telah berdiri di hadapannya itu berkata, "Selesaikanlah apa yang ingin kamu selesaikan. Aku tidak dapat pergi dari sini sebelum mencabut nyawamu."
Si kaya tersebut berkata kepada hartanya, "Celaka kamu! Laknat Allah untukmu! Kamu dan kesibukan mengurusmu telah menghalangiku dari beribadah kepada Allah. Tidak pernah kamu membiarkan aku bersendirian tanpa terganggu apapun agar aku dapat mengingat Allah."
Lalu dengan qudrat-Nya, Allah Swt. memberi kemampuan berbicara kepada hartanya untuk menjawab, "Mengapa kamu melaknatku? Karena akulah kamu dapat sampai ke istana raja dan orang-orang shalih telah terusir dari pintu mereka. Karena akulah kamu telah menikmati tubuh-tubuh gadis lembut itu. Karena akulah kamu dapat hidup seperti raja. Kamu telah menggunakan aku untuk keburukan, tapi aku tidak dapat membantah. Sekiranya kamu gunakan aku untuk kebaikan, maka pasti hari ini aku dapat menolongmu, memberi manfaat kepadamu." Setelah itu malaikat maut mencabut nyawanya.
Wahab bin Munabbih rah.a berkata, "Suatu ketika malaikat maut mencabut nyawa orang yang dzalim. Tiada seorangpun yang lebih kejam darinya. Ketika malaikat maut sedang membawa nyawanya, di tengah jalan, malaikat-malaikat lain bertanya kepadanya, "Engkau tukang mencabut nyawa orang. Pernahkah engkau merasa kasihan terhadap seseorang yang sedang engkau cabut nyawanya?"
Ia menjawab, "Aku pernah merasa sangat bersedih dan kasihan kepada seorang wanita yang bersendirian di dalam hutan. Setelah ia melahirkan, aku telah diperintah oleh Allah untuk mencabut nyawanya. Maka aku sangat sedih dan kasihan, apa yang akan terjadi kepada anaknya yang baru lahir, di suatu tempat yang tiada seorangpun yang menjaganya."
Para malaikat berkata, "Orang dzalim yang sedang kamu bawa nyawanya adalah bayi tersebut."
Malaikat maut terkejut dan berkata, "Maha Suci Engkau, Wahai Allah yang Maha Penyayang! Apapun yang ingin Engkau lakukan, Engkau mampu melakukannya!"
Hasan Basri rah.a berkata, "Ada seseorang yang meninggal dunia. Lalu ahli rumahnya menangisinya, maka malaikat maut, sambil berdiri di pintu rumahnya berkata, "Aku tidak sedikitpun memakan rejekinya (memang rejekinya telah habis). Aku tidak mengurangi umurnya. Aku akan datang lagi ke rumah ini. Aku akan datang berkali-kali, sehingga semua ahli rumah ini akan tiada."
Hasan Basri rah.a berkata, "Demi Allah! Sekiranya penghuni rumah itu dapat melihat malaikat maut ketika itu serta dapat mendengar kata-katanya, tentu mereka akan lupa menangisi mayit tadi, bahkan masing-masing akan sibuk memikirkan nasibnya sendiri."
Yazid Raqqasyi rah.a berkata, "Suatu ketika seorang yang dzalim dari kalangan Bani Israil, sedang berkumpul dengan istrinya di rumah. Tiba-tiba ia melihat seorang asing memasuki pintu rumahnya dan terus bergerak ke arahnya. Ia sangat marah, lalu mendatanginya sambil bertanya, "Siapa kamu?"
Orang tak dikenal itu menjawab, "Tuan dari rumah ini telah menyuruhku masuk ke dalam rumah ini. Dan hanya akulah yang tidak dapat dihalangi oleh tirai apapun. Aku tidak perlu ijin siapapun untuk menjumpai raja manapun. Aku tidak takut kepada siapapun, apakah orang perkasa atau orang dzalim. Aku tidak ragu untuk menjumpai siapapun, wahai orang sombong yang tertipu!"
Mendengar ucapannya si dzalim itu menjadi takut. Tubuhnya mulai gemetar, sehingga ia jatuh tersungkur. Kemudian dengan penuh kerendahan ia berkata, "Apakah anda malaikat maut?"
Dia menjawab, "Ya. Tidak ragu lagi."
Si dzalim itu memohon, "Tolong, berilah sedikit peluang kepada saya agar dapat menulis wasiat!"
Malaikat maut menjawab, "Peluang itu sudah terlewat dan hilang darimu. Alangkah menyesalnya! Masa hidupmu sudah berakhir, nafasmu sudah habis dan umurmu telah berakhir. Kini kamu tidak berpeluang melakukan lagi untuk melakukan kebaikan apapun walaupun sedikit."
Si dzalim bertanya, "Kemanakah kamu akan membawaku?"
Malaikat maut menjawab, "Kepada amalmu yang telah pergi mendahului (kamu akan diberi tempat tinggal sesuai amalmu)." tempat tinggal seperti yang telah kamu bangun di dunia ini akan kamu dapati di sana."
Dia berkata, "Saya belum melakukan amal kebaikan apapun dan juga tidak pernah membangun tempat tinggal apapun yang baik untuk diri saya."
Malaikat maut menjawab, "Jika begitu, aku akan membawamu kepada neraka. Isyarat pada firman Allah :
"Sekali-kali tidak dapat, sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergejolak yang mengelupaskan kulit kepala." [ Al Ma’aarij 15-16 ]
Kemudian malaikat menyeret dan mencabut nyawanya. Semua ahli rumah itu menjerit dan menangis. Yazid Raqqasyi rah.a. berkata, "Sekiranya ahli rumah dapat mengetahui apa yang terjadi pada mayit, maka mereka akan menangis lebih keras karena mereka meratapi diri sendiri daripada meratapi orang lain ." (Ihya)
Sumber : Fadhilah Sedekah, Maualana Muhammad Zakariyya Rah.a









Assalamualaykum wr.wb
Terus terang ana sedih membaca tulisan ini, memang betul apabila Allah SWT mengijinkan untuk dpt mendengar apa yg dikatakan malaikat maut, mk setiap orang mungkin tak sempat menangis lg, atau menangis lebih keras lg krn memikirkan nasib masing².
Perkataan malaikat maut, saya akan dtg lg berkali² smpi orang di rumah ini habis membuat mbak sedih, krn mbak sekeluarga tinggal bersama, ibu dr papa, ibu dr mama, ayah dari papa, sepupu, dan keseluruhannya meninggal satu persatu, dan pak de mbak jg meninggal thn ini. Semoga Allah menempatkan mereka semua di surgaNya Allah SWT, mengampuni dosa, melapangkan kubur² mereka, dan mengijinkan mbak berjumpa lagi dengan mereka di tempat yg menyenangkan (Surga).....amiiiiin
Syukron atas tulisannya, yg membuat diri semakin yakin bahwa semakin berganti hari, maka semakin dekatlah kita pada lubang kubur.
wassalam,
mbak diah
Comment by Mbak Diah — June 30, 2007 @ 11:27 pm
wa'alaikumus Salam.. wr. wb. oh.. semoga semua keluarga mbak Diah ditempatkan di tempat yang paling baik dan diluaskan kuburnya. Kita semua adalah calon almarhum/ah. Jadi jangan khawatir semua akan mendapat giliran. Smoga do'a mbak Diah dikabulkan Allah Swt.
Comment by hanafishahdan — July 1, 2007 @ 5:14 pm
Ingat mati...ingat mati...ingat mati....
bawa bekal...
bawa bekal...
bawa bekal...
Iman wa taqwa...
amalan....
>>jangan lena akan dunia yg fana , tetep istiqomah..
semoga saat hidup dan mati kita selalu dalam dekapan-Nya
Amiin
Comment by ATIK — July 3, 2007 @ 3:08 pm
Ana adalah orang yang lemah yang sangat membutuhkan doa dan motivasi untuk kembali kepada Alloh Yang Maha Mengetahui, ana minta doanya (dalam kebaikan) dari semuanya yang membaca tulisan ini,
"Semoga kita diwafatkan dalam Islam"
Jazzakallohu Khoir
Comment by IIM NURHASIM — November 2, 2008 @ 5:10 pm