Dunia Sementara Akhirat Selamanya

14 Juni 2007

Sukses Dalam Dakwah Dan Kemajuan Islam

Filed under: Tahukah anta
 
Ketinggian dan kemuliaan manusia adalah terletak pada agamanya. Semakin baik agama seseorang maka akan semakin mulialah manusia di sisi Allah Swt. Kehinaan dan keburukan dunia yang menyebabkan manusia  semakin menjauh dari agama. Karena dunia senantiasa merayu manusia agar manusia mencintai dunia. Begitulah sifat dunia. Bahkan karena sifat dunia yang hina maka dia akan selalu menggoda orang yang di dalam hatinya ada akhirat untuk merebut posisi akhirat agar menyingkir dari hati manusia yang shaleh. Sementara akhirat yang suci tidak mau merebut hati manusia jika di dalam hatinya ada kecintaan kepada dunia, kecuali manusia sendiri yang berusaha mencintai akhirat. Dunia dan akhirat adalah ibarat air dan api sehingga tidak dapat menyatu di dalam hati manusia secara bersama. Keduanya adalah sesuatu yang jauh berbeda dan bertolak belakang. Manusia tidak dapat mencintai dunia secara bersamaan dengan akhirat. Allah Swt. mengisyaratkan hal ini di dalam ayatnya :
 
hati manusia  
 
 
"Allah sekali-kali tidak menjadikan seseorang memilki dua hati di dalam rongga dadanya"  (Al Ahzab  ayat 4 )
 
Untuk mencapai kecintaan kepada akhirat maka mutlak diperlukan agama sebagai jalan satu-satunya menuju kesana. Tanpa agama maka manusia mustahil mencintai kehidupan akhirat. Agama adalah alat yang paling mustahab agar manusia dapat mencintai kehidupan yang baik dan dengannya maka manusia akan mencapai tingkat kehidupan dan kedudukan yang mulia di sisi Allah Swt. Untuk menghadirkan agama yang sempurna ke dalam kehidupan manusia maka diperlukan pikir dan usaha atas agama. Manusia perlu kerja atas agama agar agama dapat hadir dan menjadi sumber kehidupan yang terang dan meraih kebahagiaan yang hakiki.

Asas dakwah adalah adanya pengorbanan atas agama sebagaimana yang telah Rasul buat. Semakin besar pengorbanan atas agama yang kita buat maka akan semakin baik dan semakin mulia kedudukan kita di sisi Allah Swt. Pengorbanan atas agama yang kita buat adalah sesuai dengan contoh Rasul. Jika kita berkorban untuk agama dengan tidak mencontoh Rasul maka natijahnya (hasilnya) akan lain. Bahkan pengorbanan atas agama yang tidak mencontoh Rasul akan merusak islam. Karena Allah Swt. telah menetapkan bahwa usaha dakwah yang dibawa oleh Rasulullah Saw. sebagai sebab turunnya hidayah ke seluruh manusia di seluruh muka bumi. Kehendak dalam dakwah adalah semakin seseorang berjuang untuk agama maka akan semakin baiklah iman dan amalnya. Maka jika ada seseorang yang mengajak orang lain kepada iman dan amal mestinya iman dan amal dia akan Allah Swt perbaiki terlebih dahulu. Keberhasilan seseorang dalam dakwah adalah semakin baik iman dan amalnya dan mati dalam keadaan beriman dan penuh amal. Kegagalan seseorang dalam dakwah adalah jika orang yang dia ajak semakin baik sementara dia sendiri semakin buruk dalam hal iman dan amal. Jadi sebenarnya tolak ukurnya adalah diri sendiri. Karena dakwah hakekat sebenarnya adalah mengajak diri sendiri agar semakin mentaati Allah Swt. Dakwah adalah bukan untuk perbaikan orang lain, melainkan untuk diri sendiri. Orang lain adalah media dakwah saja. Allah Swt telah memberitahukan perkara ini di dalam Al Quran.bermujahadah 

 
"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik". (Al ‘ankabuut ayat 69)

Jika tolak ukur keberhasilan dan kesuksesan dakwah adalah jumlah dan perbaikan orang lain maka akan dengan mudah kita mengatakan bahwa nabi Nuh adalah orang yang pertama kali gagal dalam dakwah. Karena sejarah membuktikan bahwa selama 950 tahun masa dakwah nabi nuh kepada kaumnya hanya segelintir orang saja yang mengikuti seruan nabi Nuh. Allah Swt hanya memberikan hidayah kepada 83 orang kaum nabi Nuh yang mengikuti seruannya. Lalu apakah dengan sedikitnya jumlah orang yang diajak kepada islam oleh nabi Nuh, lalu nabi nuh dikatakan gagal dalam dakwah. Tidak ada satu ayatpun di dalam Al Quran yang menyatakan nabi Nuh gagal dalam dakwah.

Maka barangsiapa yang mau mengemban tugas untuk mendakwahkan agama Allah maka pasti dan pasti Allah Swt. akan berikan hidayah kepada diri kita. "fina" dalam ayat tersebut adalah jalannya para nabi dan rasul. Lalu apakah jalan hidup para nabi dan rasul itu? Ya, dakwah adalah jalan hidup para nabi dan Rasul. Dalam ayat tersebut juga menyiratkan bahwa siapa saja yang mau capek-capek untuk agama Allah maka Allah pasti dan pasti akan memberikan segala pintu kebaikan. Siapa yang mau sungguh-sungguh berjuang untuk agama Allah maka Allah akan berikan jalan-jalan hidayah. Siapa yang mau mendakwahkan agama Allah maka Allah akan memberikan iman dan memperbaiki amal kita. Jadi konsep dasar yang sebenarnya dari dakwah adalah perbaikan diri. Semakin kita mau berusaha dan bersungguh-sungguh untuk memperjuangkan agama Allah maka Allah akan memperbaiki diri kita.

Rasulullah juga pernah menyampaikan perkara ini kepada sahabat-sahabatnya. Dalam satu hadits Rasulullah menyampaikan "Perbaikilah iman kamu sekalian, perbaikilah iman kamu sekalian." Sahabat bertanya "Bagaimana kami memperbaiki iman kami ya Rasulullah?" Jawab Rasulullah "Ucapkanlah Laa ilah a Illallaah." Ulama mengatakan bahwa pengertian dari "ucapkanlah Laa ilaaha illallaah" adalah menyampaikan kalimat Laa ilaaha illallaah. Artinya adalah mengenalkan Allah kepada setiap orang. Dakwah adalah mengajak manusia taat kepada Allah. Bukan taat kepada golongan, kelompok, organisasi majelis, lembaga atau apapun. "Ath’u illallaah" adalah mengajak kepada Allah.

Seseorang yang bersusah payah untuk mendakwahkan agama Allah, maka jika dakwahnya benar maka dia akan menjadi baik di sisi Allah Swt. Walau secara tata lahiriah dia akan mendapatkan beribu-ribu rintangan dan hambatan. Bisa jadi dia akan sering mendapatkan cacian dan makian bahkan hinaan dari orang-orang yang ada di sekitarnya. Bisa jadi tantangan terbesar datang dari keluarga dekat yang begitu dia cintai. Cemoohan dan kebencian dari orang lain akan datang pada dirinya.

Paman Rasulullah Abu Lahab sangat gembira mendapat kabar  atas  kelahiran keponakannya, yakni bayi kecil Muhammad. Ketika itu dia segera menyembelih 100 ekor domba sebagai rasa cinta dan kasih sayang atas kelahiran bayi Muhammad. Ketika nabi Muhammad masih kecil maka Abu Lahab sering sekali menimang-nimang Rasulullah. Kecintaan Abu Lahab kepada nabi Muhammad sangat luar biasa, sehingga ketika Rasulullah menikah dengan Siti Khadijah dan memilki anak, maka Abu Lahab menikahkan dua anaknya yakni Utbah dan Uthaibah dengan putri-putri Rasulullah yakni Ruqayyah dan Ummu Kultsum. Maka ketika Rasulullah mendapat tugas dari Allah Swt. untuk mendakwahkan agama kecintaan Abu Lahab terhadap Rasulullah berubah 180 derajat menjadi kebencian, dan berkata "Tabban laka ya muhammad". (celakalah engkau muhammad) Maka atas perkataanya itu Allah Swt. membalas dan membantah dengan ayat "Tabbat yadaa abii lahabiw watabb" (Maka celakalah kedua tangan Abu Lahab, [Al-lahab ayat 1]) kemudian ia memaksa kedua anaknya untuk menceraikan istri-istri mereka, Ruqayyah dan Ummu Kultsum. Ini adalah bukti nyata bahwa tantangan dakwah bisa berasal dari keluarga sendiri.

Namun karena niat dakwah bukan untuk memperbaiki orang lain melainkan untuk perbaikan diri sendiri maka dia akan mendapatkan tarbiyah (pelajaran) yang berharga untuk menjadi dan memiliki sifat sabar dalam dirinya. Sementara seseorang yang berdakwah dan mendapatkan pujian dan sambutan yang baik hakekatnya adalah ujian untuk dirinya. Apakah dengan begitu dia akan merasa sombong dan timbul sifat takabur karena atas usaha dan jerih payahnya maka orang merasa senang dan menjadi baik. Sesungguhnya dia hanyalah sebagai sebab untuk perbaikan orang lain. Tapi yang memperbaiki orang lain adalah mutlak dalam genggaman tangan Allah Swt Yang Maha Kuasa. Hidayah mutlak dalam genggaman Allah Swt. Jadi sesungguhnya sekali-kali tidak akan pernah merugi orang yang berdakwah. Karena semakin dia berkorban untuk agama ini, maka Allah Swt. lambat laun akan memperbaiki dirinya. Baik dalam iman dan amal. Bahkan jika orang berdakwah dengan istiqomah maka Allah Swt akan berikan sifat-sifat yang baik pada dirinya. Taqwa, tawakal, sabar, tahan uji, tawadhu, rendah hati, memuliakan orang lain, menghargai orang lain, mencintai orang lain, qona’ah, sederhana dan berbagai macam sifat baik akan Allah Swt tanamkan kepada dirinya sehingga nanti ketika dia mati meninggalkan dunia (yang penuh dengan kebohongan) ini, maka dia akan menghadap Allah Swt dengan membawa sifat-sifat baik tersebut dan hanya dipersembahkan kepada Allah Swt. Bukankah sifat-sifat tersebut adalah sifat-sifat para penduduk surga.hijrah dan dakwah
 

 "Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan." 

Allah Swt telah mennashkan bahwa orang-orang yang mau berkorban untuk agamalah yang akan mendapatkan keberuntungan. Lalu apa bentuk pengorbanan yang mesti dibuat? Jelas sekali dalam ayat di atas, bahwa bentuk pengorbanan yang dikehendaki adalah dengan "harta dan diri". Harta dan diri adalah dua kesatuan yang berkaitan erat. Masing-masing tidak bisa dipisahkan. Ibarat sayap burung. Untuk dapat terbang maka burung harus memilki dua sayap, yaitu kanan dan kiri. Jika hanya memilki satu sayap maka burung tidak akan bisa terbang. Jika Allah menghendaki pengorbanan dalam agama boleh salah satunya antara harta atau diri maka ayat di atas tidak akan menggunakan kata "WA" melainkan "AW" yang artinya "atau". Ini adalah rahasia Allah yang diberikan kepada kita ummat islam, jika kita mau mengambil keberuntungan dan kemenangan yang dijanjikan oleh Allah maka kita harus mau berkorban untuk agama dengan harta dan diri kita. Banyak saat ini orang telah merasa berdakwah tapi tanpa mengorbankan harta dan dirinya untuk agama, dengan berbagai macam alasan. Membiarkan orang lain berada pada garis depan perjuangan fisabilillah sementara menjadikan dirinya sebagai penonton adalah suatu kerugian yang besar. Dalam satu hadits Nabi mengatakan bahwa orang yang tertinggal untuk fisabilillah walau hanya beberapa saat saja akan tertinggal untuk memasuki surga selama 500 tahun. Sementara orang lain sudah merasakan kenikmatan surga kita masih menunggu begitu lama dalam antrian panjang menuju jannah. Sungguh suatu penantian yang sangat lama.

Pemahaman kita saat ini mengatakan bahwa islam akan maju apabila islam berkembang dalam segi materi dan fisik semata. jika orang-orang islam telah memilki segala macam kemajuan dalam sisi ekonomi, tekhnologi dan kebendaaan maka kita akan mengatakan bahwa islam telah maju. Pemahaman ini demikian merebak dan menjamur ke dalam diri orang islam. Padahal dalam Islam tidak ada satu ayat atau hadits yang menyatakan bahwa jika islam maju dari sisi keduniawian maka majulah ummat islam. Bahkan justru sebaliknya Rasul di masa-masa terakhir hidupnya selalu mengkhawatirkan akan kemajuan duniawi orang islam. Karena Rasul selalu mengkhawatirkan bahwa nanti orang-orang islam akan berlomba-lomba dalam mengejar duniawi, sehingga kecintaan kepada iman dan amal lenyap dan sirna dari dalam diri kita. Kemajuan islam yang sebenarnya adalah kemajuan dalam hal amaliyah. Jika amal-amal orang islam telah baik maka baiklah islam. Jika ibadah-ibadah orang islam telah membaik dalam hal jumlah dan qualitas maka itulah yang dikatakan maju. Kita tidak akan mengatakan bahwa islam telah maju jika ummat islam telah memiliki masjid yang megah dan berharga milliaran rupiah. Kita tidak akan mengatakan bahwa islam telah maju jika ummat islam telah memilki swalayan yang besar dan mampu memenuhi kebutuhan pokok ummat islam. Itu adalah ujian dan kemudahan yang Allah berikan kepada ummat islam. Majunya kebendaan dalam islam adalah bukan maksud dan tujuan. Ummat islam ini Allah Swt. ciptakan untuk akhirat. Sedangkan untuk mencapai akhirat hanyalah dengan amal bukan dengan kebendaan. Namun saat ini kita memahami bahwa islam akan maju jika ummat islam telah memilki segala macam kebendaan dan fasilitas dunia. Ini adalah tipu daya syaitan dan nafsu belaka. Syaitan telah mempengaruhi logika dan akal kita sehingga kita mengatakan bahwa kita mesti memilki dunia. Lalu apakah kita ingat bahwa sahabat-sahabat Rasulullah Saw.yang kedudukan mereka demikian tinggi di sisi Allah Swt dan dijamin surga bahwa rumah-rumah mereka hampir-hampir rata dengan tanah. Apakah kita ingat bahwa Ummar Bin Khatab r.a. seorang khalifah yang mulia hanya memilki jubah usang dengan 12 tambalan dan satu tambalan berada di balik ketiaknya. Apakah kita mengingat bahwa Rasulullah lebih memilih lapar sehari dan kenyang sehari ketika Allah Swt. menawarkan bukit dan gunung emas. Apakah kita akan mengatakan bahwa islam di jaman Rasulullah dan Sahabat mengalami kemunduran? 
 
Sesungguhnya kemajuan islam yang sebenarnya adalah jika ummat islam mencintai dan berlomba-lomba dalam amal kebaikan. Sehingga jika ummat islam telah menjadikan amal agama sebagai perilaku dalam kehidupan sehari-hari maka agama akan wujud dalam diri ummat islam. Sehingga amal ummat islam dalam hal ibadah, muamalah, muasyarah, dan akhlaq dapat diamalkan secara sempurna. Untuk mewujudkan amal agama secara sempurna maka ummat islam mesti melakukan usaha atas agama. Usaha atas agama adalah dakwah dan berkorban dengan harta dan diri untuk perbaikan diri. Jika semua ummat islam mau berkorban atas agama, maka Allah Swt akan menjadikan islam sebagai khalifah di muka bumi. Kehancuran Bagdad sebagai pusat kekhalifahan adalah karena ummat islam meninggalkan dakwah. Walau pada saat itu Bagdad terdapat banyak sekali orang-orang yang alim dan sebagai pusat keilmuan serta kekhalifahan. Allah telah buktikan ini dalam sejarah ketika Allah mengirim bangsa mongol untuk menghancurkan kota Bagdad karena ummat islam telah meninggikan ilmu dan meninggalkan dakwah. Sekarang jika kita menginginkan islam maju maka hendaknya setiap ummat islam mesti memiliki ghairah dan semangat untuk berkorban dan berjuang atas agama dan meninggikan kalimat iman dengan harta dan diri. "Dakwah adalah sarana tarbiyah ummat guna perbaikan ummat islam guna menuju kesempurnaan islam secara sempurna dan bertahap."  membantu agama Allah
 
 
"Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Muhammad  ayat  7)tawaran Allah1
 
 
"Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?
tawaran Allah2 
 
"(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya,"
tawaran Allah3 
 
"Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga Adn. Itulah keberuntungan yang besar". (As Shaaf ayat 10-12)

4 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://hanafishahdan.blogsome.com/2007/06/14/kesuksesan-dalam-berdakwah-dan-kemajuan-islam/trackback/

  1. Subhanalloh...

    Ya Alloh...
    Tanamkan akar kecintaan yang kuat di hatiku dan kami akan agama-Mu dan Jadikanlah diriku dan kami dalam bagian orang-orang yang memperjuangkan agama-Mu, dengan harta dan jiwa dan janganlah engkau palingkan hatiku dan kami pada kecintaan dunia...

    Ya Alloh...
    Tempatkanlah sahabatku ini kelak pada tempat terbaik ketika hari penghisaban tiba...

    Comment by Fakhrurrozy — June 14, 2007 @ 9:55 am

  2. amin ya robbal 'alamin.. Jazakallah atas do'anya. Semoga demikian juga dengan mas Fakhrur

    Comment by hanafishahdan — June 14, 2007 @ 10:18 pm

  3. apakah pernah berbuat salah

    @nanda : waah sudah pasti saya banyak sekali berbuat salah .. saya juga manusia yang dhaif dan lemah serta banyak dosa

    Comment by nanda — March 23, 2008 @ 7:39 pm

  4. Assalamualaikum..

    Semoga Allah swt istiqomahkan kita di dalam agama.sehingga mati membawa agama.
    Amiin..

    Comment by Taufiq — March 13, 2009 @ 5:04 pm

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham