Sukses Dalam Dakwah Dan Kemajuan Islam
Asas dakwah adalah adanya pengorbanan atas agama sebagaimana yang telah Rasul buat. Semakin besar pengorbanan atas agama yang kita buat maka akan semakin baik dan semakin mulia kedudukan kita di sisi Allah Swt. Pengorbanan atas agama yang kita buat adalah sesuai dengan contoh Rasul. Jika kita berkorban untuk agama dengan tidak mencontoh Rasul maka natijahnya (hasilnya) akan lain. Bahkan pengorbanan atas agama yang tidak mencontoh Rasul akan merusak islam. Karena Allah Swt. telah menetapkan bahwa usaha dakwah yang dibawa oleh Rasulullah Saw. sebagai sebab turunnya hidayah ke seluruh manusia di seluruh muka bumi. Kehendak dalam dakwah adalah semakin seseorang berjuang untuk agama maka akan semakin baiklah iman dan amalnya. Maka jika ada seseorang yang mengajak orang lain kepada iman dan amal mestinya iman dan amal dia akan Allah Swt perbaiki terlebih dahulu. Keberhasilan seseorang dalam dakwah adalah semakin baik iman dan amalnya dan mati dalam keadaan beriman dan penuh amal. Kegagalan seseorang dalam dakwah adalah jika orang yang dia ajak semakin baik sementara dia sendiri semakin buruk dalam hal iman dan amal. Jadi sebenarnya tolak ukurnya adalah diri sendiri. Karena dakwah hakekat sebenarnya adalah mengajak diri sendiri agar semakin mentaati Allah Swt. Dakwah adalah bukan untuk perbaikan orang lain, melainkan untuk diri sendiri. Orang lain adalah media dakwah saja. Allah Swt telah memberitahukan perkara ini di dalam Al Quran.
"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik". (Al ‘ankabuut ayat 69)
Jika tolak ukur keberhasilan dan kesuksesan dakwah adalah jumlah dan perbaikan orang lain maka akan dengan mudah kita mengatakan bahwa nabi Nuh adalah orang yang pertama kali gagal dalam dakwah. Karena sejarah membuktikan bahwa selama 950 tahun masa dakwah nabi nuh kepada kaumnya hanya segelintir orang saja yang mengikuti seruan nabi Nuh. Allah Swt hanya memberikan hidayah kepada 83 orang kaum nabi Nuh yang mengikuti seruannya. Lalu apakah dengan sedikitnya jumlah orang yang diajak kepada islam oleh nabi Nuh, lalu nabi nuh dikatakan gagal dalam dakwah. Tidak ada satu ayatpun di dalam Al Quran yang menyatakan nabi Nuh gagal dalam dakwah.
Maka barangsiapa yang mau mengemban tugas untuk mendakwahkan agama Allah maka pasti dan pasti Allah Swt. akan berikan hidayah kepada diri kita. "fina" dalam ayat tersebut adalah jalannya para nabi dan rasul. Lalu apakah jalan hidup para nabi dan rasul itu? Ya, dakwah adalah jalan hidup para nabi dan Rasul. Dalam ayat tersebut juga menyiratkan bahwa siapa saja yang mau capek-capek untuk agama Allah maka Allah pasti dan pasti akan memberikan segala pintu kebaikan. Siapa yang mau sungguh-sungguh berjuang untuk agama Allah maka Allah akan berikan jalan-jalan hidayah. Siapa yang mau mendakwahkan agama Allah maka Allah akan memberikan iman dan memperbaiki amal kita. Jadi konsep dasar yang sebenarnya dari dakwah adalah perbaikan diri. Semakin kita mau berusaha dan bersungguh-sungguh untuk memperjuangkan agama Allah maka Allah akan memperbaiki diri kita.
Rasulullah juga pernah menyampaikan perkara ini kepada sahabat-sahabatnya. Dalam satu hadits Rasulullah menyampaikan "Perbaikilah iman kamu sekalian, perbaikilah iman kamu sekalian." Sahabat bertanya "Bagaimana kami memperbaiki iman kami ya Rasulullah?" Jawab Rasulullah "Ucapkanlah Laa ilah a Illallaah." Ulama mengatakan bahwa pengertian dari "ucapkanlah Laa ilaaha illallaah" adalah menyampaikan kalimat Laa ilaaha illallaah. Artinya adalah mengenalkan Allah kepada setiap orang. Dakwah adalah mengajak manusia taat kepada Allah. Bukan taat kepada golongan, kelompok, organisasi majelis, lembaga atau apapun. "Ath’u illallaah" adalah mengajak kepada Allah.
Seseorang yang bersusah payah untuk mendakwahkan agama Allah, maka jika dakwahnya benar maka dia akan menjadi baik di sisi Allah Swt. Walau secara tata lahiriah dia akan mendapatkan beribu-ribu rintangan dan hambatan. Bisa jadi dia akan sering mendapatkan cacian dan makian bahkan hinaan dari orang-orang yang ada di sekitarnya. Bisa jadi tantangan terbesar datang dari keluarga dekat yang begitu dia cintai. Cemoohan dan kebencian dari orang lain akan datang pada dirinya.
Paman Rasulullah Abu Lahab sangat gembira mendapat kabar atas kelahiran keponakannya, yakni bayi kecil Muhammad. Ketika itu dia segera menyembelih 100 ekor domba sebagai rasa cinta dan kasih sayang atas kelahiran bayi Muhammad. Ketika nabi Muhammad masih kecil maka Abu Lahab sering sekali menimang-nimang Rasulullah. Kecintaan Abu Lahab kepada nabi Muhammad sangat luar biasa, sehingga ketika Rasulullah menikah dengan Siti Khadijah dan memilki anak, maka Abu Lahab menikahkan dua anaknya yakni Utbah dan Uthaibah dengan putri-putri Rasulullah yakni Ruqayyah dan Ummu Kultsum. Maka ketika Rasulullah mendapat tugas dari Allah Swt. untuk mendakwahkan agama kecintaan Abu Lahab terhadap Rasulullah berubah 180 derajat menjadi kebencian, dan berkata "Tabban laka ya muhammad". (celakalah engkau muhammad) Maka atas perkataanya itu Allah Swt. membalas dan membantah dengan ayat "Tabbat yadaa abii lahabiw watabb" (Maka celakalah kedua tangan Abu Lahab, [Al-lahab ayat 1]) kemudian ia memaksa kedua anaknya untuk menceraikan istri-istri mereka, Ruqayyah dan Ummu Kultsum. Ini adalah bukti nyata bahwa tantangan dakwah bisa berasal dari keluarga sendiri.
Namun karena niat dakwah bukan untuk memperbaiki orang lain melainkan untuk perbaikan diri sendiri maka dia akan mendapatkan tarbiyah (pelajaran) yang berharga untuk menjadi dan memiliki sifat sabar dalam dirinya. Sementara seseorang yang berdakwah dan mendapatkan pujian dan sambutan yang baik hakekatnya adalah ujian untuk dirinya. Apakah dengan begitu dia akan merasa sombong dan timbul sifat takabur karena atas usaha dan jerih payahnya maka orang merasa senang dan menjadi baik. Sesungguhnya dia hanyalah sebagai sebab untuk perbaikan orang lain. Tapi yang memperbaiki orang lain adalah mutlak dalam genggaman tangan Allah Swt Yang Maha Kuasa. Hidayah mutlak dalam genggaman Allah Swt. Jadi sesungguhnya sekali-kali tidak akan pernah merugi orang yang berdakwah. Karena semakin dia berkorban untuk agama ini, maka Allah Swt. lambat laun akan memperbaiki dirinya. Baik dalam iman dan amal. Bahkan jika orang berdakwah dengan istiqomah maka Allah Swt akan berikan sifat-sifat yang baik pada dirinya. Taqwa, tawakal, sabar, tahan uji, tawadhu, rendah hati, memuliakan orang lain, menghargai orang lain, mencintai orang lain, qona’ah, sederhana dan berbagai macam sifat baik akan Allah Swt tanamkan kepada dirinya sehingga nanti ketika dia mati meninggalkan dunia (yang penuh dengan kebohongan) ini, maka dia akan menghadap Allah Swt dengan membawa sifat-sifat baik tersebut dan hanya dipersembahkan kepada Allah Swt. Bukankah sifat-sifat tersebut adalah sifat-sifat para penduduk surga.
"Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan."
Allah Swt telah mennashkan bahwa orang-orang yang mau berkorban untuk agamalah yang akan mendapatkan keberuntungan. Lalu apa bentuk pengorbanan yang mesti dibuat? Jelas sekali dalam ayat di atas, bahwa bentuk pengorbanan yang dikehendaki adalah dengan "harta dan diri". Harta dan diri adalah dua kesatuan yang berkaitan erat. Masing-masing tidak bisa dipisahkan. Ibarat sayap burung. Untuk dapat terbang maka burung harus memilki dua sayap, yaitu kanan dan kiri. Jika hanya memilki satu sayap maka burung tidak akan bisa terbang. Jika Allah menghendaki pengorbanan dalam agama boleh salah satunya antara harta atau diri maka ayat di atas tidak akan menggunakan kata "WA" melainkan "AW" yang artinya "atau". Ini adalah rahasia Allah yang diberikan kepada kita ummat islam, jika kita mau mengambil keberuntungan dan kemenangan yang dijanjikan oleh Allah maka kita harus mau berkorban untuk agama dengan harta dan diri kita. Banyak saat ini orang telah merasa berdakwah tapi tanpa mengorbankan harta dan dirinya untuk agama, dengan berbagai macam alasan. Membiarkan orang lain berada pada garis depan perjuangan fisabilillah sementara menjadikan dirinya sebagai penonton adalah suatu kerugian yang besar. Dalam satu hadits Nabi mengatakan bahwa orang yang tertinggal untuk fisabilillah walau hanya beberapa saat saja akan tertinggal untuk memasuki surga selama 500 tahun. Sementara orang lain sudah merasakan kenikmatan surga kita masih menunggu begitu lama dalam antrian panjang menuju jannah. Sungguh suatu penantian yang sangat lama.










Subhanalloh...
Ya Alloh...
Tanamkan akar kecintaan yang kuat di hatiku dan kami akan agama-Mu dan Jadikanlah diriku dan kami dalam bagian orang-orang yang memperjuangkan agama-Mu, dengan harta dan jiwa dan janganlah engkau palingkan hatiku dan kami pada kecintaan dunia...
Ya Alloh...
Tempatkanlah sahabatku ini kelak pada tempat terbaik ketika hari penghisaban tiba...
Comment by Fakhrurrozy — June 14, 2007 @ 9:55 am
amin ya robbal 'alamin.. Jazakallah atas do'anya. Semoga demikian juga dengan mas Fakhrur
Comment by hanafishahdan — June 14, 2007 @ 10:18 pm
apakah pernah berbuat salah
@nanda : waah sudah pasti saya banyak sekali berbuat salah .. saya juga manusia yang dhaif dan lemah serta banyak dosa
Comment by nanda — March 23, 2008 @ 7:39 pm
Assalamualaikum..
Semoga Allah swt istiqomahkan kita di dalam agama.sehingga mati membawa agama.
Amiin..
Comment by Taufiq — March 13, 2009 @ 5:04 pm